• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Untukmu yang Baru Pulang Berhaji

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
June 7, 2026
in Haji & Umrah
Reading Time: 6 mins read
untukmu yang pulang haji

Untukmu yang Baru Pulang Berhaji

Betapa cepat hari-hari berlalu. Rasanya baru sekejap kita menanti datangnya Dzulhijjah, lalu hari-hari agung itu pun telah pergi. Musim ketaatan datang membawa peluang amal, lalu berlalu meninggalkan catatan yang kelak akan dibuka di hadapan Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾

“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan catatan amalnya di lehernya. Dan pada Hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” [QS. Al-Isra’: 13–14]

Sungguh, kaum muslimin baru saja melewati hari-hari yang mulia: sepuluh hari pertama Dzulhijjah, hari Arafah, hari Nahr, dan hari-hari Tasyriq. Pada hari-hari itu, lisan kaum muslimin basah dengan takbir, tahlil, talbiyah, doa, dan zikir. Hati mereka diarahkan untuk mengagungkan Allah, mentauhidkan-Nya, dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.

Di hari-hari itu pula, para jamaah haji menunaikan salah satu ibadah terbesar. Mereka berihram dari miqat, berdiri di Arafah dengan penuh harap dan ketundukan, bermalam di Muzdalifah, melontar jumrah, thawaf di Baitullah, dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Itulah perjalanan iman; perjalanan seorang hamba yang datang dengan kelemahan dirinya, lalu berharap pulang membawa rahmat dan ampunan Rabb-nya.

Maka siapa yang dimudahkan oleh Allah untuk berhaji, hendaklah ia bergembira dengan karunia itu; bukan gembira karena bangga, tetapi gembira karena syukur karena sadar itu semua berkat kemudahan dan karunia dari Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” [QS. Yunus: 58]

Haji adalah amal yang sangat utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling utama. Beliau menjawab:

“إِيمان بالله ورسوله، قال: ثم ماذا؟ قال: جِهادٌ في سبيل الله، قال: ثم ماذا؟ ‌قال: ‌حَجٌّ ‌مبرورٌ”

“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Dikatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.”

Dikatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

«مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»

“Barang siapa menunaikan haji, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dan beliau bersabda:

«الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»

“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (Muttafaqun ‘alaih).

Jika haji memiliki kedudukan sedemikian agung, maka nikmat dapat menunaikannya harus disambut dengan syukur dengan banyak memuji dan menyebut nama nama Allah dan dijaga dengan istiqamah. Sebab nikmat yang disyukuri akan mengundang tambahan karunia, sedangkan nikmat yang dilalaikan dapat menjadi sebab kerugian.

Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan penyelesaian manasik:

﴿فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا﴾

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu.” [QS. Al-Baqarah: 200]

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

»إِنَّ النِّعْمَةَ مَوْصُولَةٌ بِالشُّكْرِ، وَالشُّكْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْمَزِيدِ، وَهُمَا مَقْرُونَانِ فِي قَرَنٍ، فَلَنْ يَنْقَطِعَ الْمَزِيدُ مِنَ اللهِ حَتَّى يَنْقَطِعَ الشُّكْرُ مِنَ الْعَبْدِ«

“Sesungguhnya nikmat itu tersambung dengan syukur. Syukur berkaitan erat dengan bertambahnya nikmat. Keduanya terikat dalam satu ikatan. Maka tambahan karunia dari Allah tidak akan terputus, sampai syukur dari seorang hamba itu terputus.” (‘Uddatush Shabirin, hlm. 123).

Maka pertanyaan besar setelah haji adalah: apa yang berubah dalam diri kita?

Apakah setelah talbiyah berhenti, hati juga berhenti mengingat Allah? Apakah setelah ihram ditanggalkan, ketakwaan juga ikut ditanggalkan? Apakah setelah kembali dari Tanah Suci, seorang hamba kembali kepada kebiasaan lamanya, atau justru memulai hidup baru yang lebih dekat kepada Allah?

Sesungguhnya musim ketaatan bukanlah sekadar hari-hari yang datang lalu pergi. Ia adalah madrasah bagi hati, pintu taubat, dan kesempatan untuk memperbarui janji dengan Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung.” [QS. An-Nur: 31]

Tanda seseorang mengambil manfaat dari musim ketaatan adalah ketika bekasnya tampak setelah musim itu berlalu. Salatnya lebih terjaga. Lisannya lebih bersih. Hatinya lebih lembut. Akhlaknya lebih baik. Ia lebih berhati-hati dari dosa, lebih mudah bersimpuh dihadapan Allah, kembali kepada Allah, dan lebih takut menyia-nyiakan amalnya.

Adapun orang yang giat di musim ibadah, lalu setelah itu kembali kepada kelalaian dan maksiat, maka ia seperti orang yang membongkar kembali tenunan yang telah ia pintal sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا﴾

“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya yang telah dipintal dengan kuat, sehingga tercerai-berai kembali.” [QS. An-Nahl: 92]

Karena itu, setelah haji seorang hamba membutuhkan dua hal besar: istiqamah dan istighfar. Istiqamah agar ia tetap berjalan di atas ketaatan. Istighfar karena ia sadar bahwa amalnya selalu memiliki kekurangan.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ﴾

“Maka istiqamahlah kalian menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” [QS. Fussilat: 6]

Orang beriman tidak hanya beramal, tetapi juga takut amalnya tidak diterima. Ia tidak tertipu oleh ibadahnya. Ia tidak merasa aman karena banyaknya ketaatan. Ia beramal dengan harap, tetapi juga membawa rasa takut yang mendidik hatinya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ﴾

“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” [QS. Al-Mu’minun: 60–61]

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat tersebut, apakah yang dimaksud adalah orang yang mencuri, berzina, dan meminum khamar, sementara ia takut kepada Allah? Maka beliau bersabda:

»لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ«

“Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, namun mereka takut amal-amal itu tidak diterima dari mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3175, dan Ibnu Majah, no. 4198).

Maka janganlah seorang hamba tertipu oleh banyaknya amal. Sebab amal hanya diterima apabila ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” [QS. Al-Kahfi: 110]

Maka perkara pertama yang harus dijaga setelah haji adalah tauhid kepada Allah. Tidak ada yang disembah selain Allah. Tidak ada yang dimintai doa selain Allah. Tidak ada tempat bergantung dan bertawakal kecuali kepada Allah. Tauhid adalah pokok agama; dengannya amal diterima, dan dengan rusaknya tauhid, amal menjadi terancam.

Setelah tauhid, jagalah tanda-tanda haji yang mabrur: salat yang lebih terjaga, hati yang lebih lembut, akhlak yang lebih baik, lisan yang lebih bersih, harta yang lebih hati-hati, hubungan keluarga yang lebih tersambung, dan kehidupan yang lebih dekat kepada akhirat.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya, “Apa tanda haji mabrur?” Beliau menjawab:

«آيَةُ ذَلِكَ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الآخِرَةِ»

“Tandanya adalah seseorang kembali dalam keadaan lebih zuhud terhadap dunia dan lebih merindukan akhirat.” (Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 125).

Mendawamkan ketaatan memiliki pengaruh besar bagi hati. Ia menyambungkan hati dengan Allah, melatih jiwa di atas kebaikan, dan membuka pintu cinta Allah kepada hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:

»وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِي لَأُعِيذَنَّهُ«

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502).

Seorang hamba harus selalu bertakwalah kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepadaNya, menjaga ibadah baik yang wajib maupun sunnahnya. Jangan sampai Allah melihat kita berada di tempat yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapati kita di tempat yang Dia perintahkan. Sesungguhnya Allah mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada.

Selain itu, seorang mukmin harus berbaik sangka kepada Allah. Ia berharap amalnya diterima, dosanya diampuni, dan rahmat Allah meliputi dirinya.

Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (Muttafaqun ‘alaih).

Namun husnuzan kepada Allah bukan alasan untuk terus bermaksiat. Husnuzan yang benar adalah yang melahirkan taubat dan amal saleh. Adapun orang yang tenggelam dalam dosa, melampaui batas Allah, lalu berkata, “Aku berbaik sangka kepada Rabb-ku,” maka itu bukan husnuzan, melainkan angan-angan yang menipu.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

»إِنَّ قَوْمًا أَلْهَتْهُمُ الأَمَانِيُّ حَتَّى خَرَجُوا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا لَهُمْ مِنْ حَسَنَةٍ، يَقُولُ أَحَدُهُمْ: إِنِّي أُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّي. وَكَذَبَ… وَلَوْ أَحْسَنَ الظَّنَّ لَأَحْسَنَ العَمَلَ«

“Sesungguhnya ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan, hingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan tidak memiliki satu pun kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku.’ Ia telah berdusta. Seandainya ia benar-benar berbaik sangka kepada Allah, niscaya ia akan memperbaiki amalnya.” (At-Tadzkirah bi Ahwāl al-Mautā wa Umūr al-Ākhirah, hlm. 128).

Musim haji mungkin telah berlalu, tetapi ibadah tidak pernah selesai selama nyawa masih berada di badan. Seorang mukmin adalah hamba Allah di setiap waktu: dalam salatnya, zikirnya, akhlaknya, amanahnya, pekerjaannya, keluarganya, lisannya, hartanya, dan seluruh jalan hidupnya.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Maka alangkah indahnya bila seseorang pulang dari haji dengan hati yang lebih tunduk, akhlak yang lebih lembut, pikiran yang lebih jernih, dan hidup yang lebih dekat kepada Allah. Itulah buah haji yang berbekas.

Karena itu, tetaplah bermuhasabah. Perbanyaklah istighfar setelah amal, sebagaimana Allah memerintahkan istighfar di akhir rangkaian haji:

﴿ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak, yaitu Arafah, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Baqarah: 199]

Maka teguhlah di atas ketaatan setelah berhaji. Jagalah tauhid. Rawatlah salat. Lembutkan hati. Bersihkan lisan. Perbaiki akhlak. Perbanyak zikir, syukur, dan istighfar. Mohonlah kepada Allah agar amal diterima dan hati diteguhkan.

Sebab ukuran sebenarnya bukanlah seberapa besar semangat seorang hamba di awal perjalanan, tetapi seberapa jujur ia menjaga ketaatan hingga akhir kehidupan.

SummarizeShare234
Previous Post

Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

Apa perbedaan haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad? Simak penjelasan lengkap tentang pengertian, tata cara, kelebihan masing-masing jenis haji, serta mana yang paling utama menurut para ulama.

Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
May 4, 2026
0

Apa Perbedaan Tamattu’, Qiran, dan Ifrad dalam Haji, Dan Manakah Yang Utama ? Dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang jamaah tidak hanya dituntut memahami rangkaian manasik secara umum, tetapi...

Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram

Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 28, 2026
0

Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Semangat beribadah adalah hal yang mulia. Namun dalam Islam, niat...

Miqat Haji dan Umrah

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
October 29, 2025
0

Miqat Haji dan Umrah Mawāqīt (batas/waktu & tempat) adalah termasuk perkara penting dalam syariat Islam; haji dan umrah bergantung sepenuhnya pada mawāqīt baik yang bersifat zaman (waktu) maupun...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Untukmu yang Baru Pulang Berhaji
  • Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?
  • Ketika Puasa Arafah Bertepatan dengan Hari Jum’at

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official