• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
June 22, 2026
in Adab & Akhlak
Reading Time: 7 mins read

Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam

Di antara prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menjaga hati dan lisan terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Hati dijaga dari kebencian, dendam, dan prasangka buruk kepada mereka. Demikian pula lisan dijaga dari celaan, penghinaan, serta tuduhan yang merendahkan kedudukan mereka.

Sikap ini bukan sekadar bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu, tetapi bagian dari adab seorang Muslim terhadap orang-orang yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya ﷺ, membela agama-Nya, dan menyampaikan Islam kepada umat setelah mereka.

Allah Ta‘ala menggambarkan sikap orang-orang beriman yang datang setelah para sahabat dengan firman-Nya:

﴿ وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴾

“Orang-orang yang datang sesudah mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10).

Mencela sahabat bukan perkara ringan. Mereka adalah generasi pilihan Allah yang menemani Nabi ﷺ, menyaksikan turunnya wahyu, membela Islam, meriwayatkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta menyampaikan agama kepada umat setelahnya. Karena itu, mencela sahabat bukan sekadar merendahkan pribadi mereka, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap generasi yang menjadi perantara sampainya agama Islam kepada kita.

Sikap mencela sahabat juga bukan perkara baru. Dalam sejarah Islam, celaan terhadap sahabat telah muncul sejak masa awal, terutama dari sebagian kelompok yang menyimpan kebencian kepada para pembela Rasulullah ﷺ. Mereka tidak berani mencela Nabi ﷺ secara langsung, karena hal itu akan menampakkan keburukan mereka dengan jelas. Maka mereka berusaha merusak citra para sahabat dengan tuduhan-tuduhan buruk, seolah-olah Rasulullah ﷺ dikelilingi oleh orang-orang yang tidak baik. Padahal Allah sendiri telah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

“فمن طعن فيهم أو سبهم، فقد خرج من الدين، ومرق من ملة المسلمين؛ لأن الطعن لا يكون إلا عن اعتقاد مساوئهم، وإضمار الحقد فيهم، وإنكار ما ذكره الله تعالى في كتابه من ثنائه عليهم، وفضائلهم ومناقبهم وحبهم.

ولأنهم أرضى الوسائل المأثورة، والوسائط من المنقول، والطعن في الوسائط طعن في الأصل، والازدراء بالناقل ازدراء بالمنقول، وهذا ظاهر لمن تدبره وسلم من النفاق والزندقة والإلحاد في عقيدته”

”Maka siapa yang mencela mereka atau mencaci mereka, sungguh ia telah keluar dari agama dan lepas dari agama kaum Muslimin. Sebab celaan itu tidak muncul kecuali dari keyakinan buruk terhadap mereka, menyimpan kedengkian kepada mereka, serta mengingkari apa yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya berupa pujian, keutamaan, kemuliaan, dan kecintaan kepada mereka.

Karena mereka adalah perantara paling diridai dalam riwayat dan perantara dalam penyampaian agama. Mencela perantara berarti mencela asalnya. Merendahkan pembawa riwayat berarti merendahkan apa yang diriwayatkan. Ini jelas bagi orang yang merenunginya dan selamat dari kemunafikan, kezindikan, serta penyimpangan akidah.” (Al-Kaba’ir, hlm. 276).

Kedudukan dan Keadilan Para Sahabat dalam Al-Qur’an

Termasuk akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa seluruh sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang adil. Maksud adil di sini adalah bahwa mereka merupakan generasi terpercaya dalam membawa dan menyampaikan agama. Mereka memiliki keutamaan yang sangat besar, meskipun derajat masing-masing sahabat berbeda-beda.

Cukuplah menjadi kemuliaan bagi para sahabat bahwa Allah memilih mereka untuk menemani Rasulullah ﷺ. Nama, sifat, dan keutamaan mereka disebutkan dalam Al-Qur’an dan dibaca oleh umat Islam sampai hari kiamat.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴾

“Sungguh, Allah benar-benar telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18).

Dalam ayat ini, Allah memuji para sahabat yang ikut dalam Bai‘atur Ridwan. Allah mengabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, menurunkan ketenangan kepada mereka, dan meridai mereka.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

“فمن أخبرنا الله عز وجل أنه علم ما في قلوبهم، ورضي عنهم، وأنزل السكينة عليهم، فلا يحل لأحد التوقف في أمرهم، أو الشك فيهم البتة”

“Siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla telah kabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, meridai mereka, dan menurunkan ketenangan kepada mereka, maka tidak halal bagi siapa pun untuk ragu terhadap keadaan mereka atau meragukan mereka sama sekali.” (Al-Fashl fil Milal wan Nihal, 4/148).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴾

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“فرَضِيَ عن السابقين عن غير اشتراط إحسان، ولم يرضَ عن التابعين إلا أن يتبعوهم بإحسان”

“Allah meridai orang-orang yang terdahulu tanpa mensyaratkan ihsan. Adapun terhadap orang-orang yang mengikuti mereka, Allah tidak meridai kecuali jika mereka mengikuti para sahabat dengan ihsan.” (Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 572).

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para sahabat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Mereka adalah generasi yang Allah pilih untuk mendampingi Rasulullah ﷺ, membela beliau, menjaga sunnah beliau, dan menyampaikan agama kepada umat setelah mereka.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

“وكُلُّهم عُدولٌ رَضِيَ اللهُ عنهم، ومتأوِّلون في حُروبِهم وغَيرِها، ولم يُخرِجْ شَيءٌ من ذلك أحدًا منهم عن العدالةِ،… ولهذا اتَّفَق أهلُ الحَقِّ ومن يُعتَدُّ به في الإجماعِ على قَبولِ شَهاداتِهم ورواياتِهم، وكَمالِ عَدالتِهم رَضِيَ اللهُ عنهم أجمعين”

“Semua sahabat adalah orang-orang yang adil, semoga Allah meridai mereka. Mereka berijtihad dalam peperangan dan selainnya. Tidak ada satu pun dari hal itu yang mengeluarkan mereka dari keadilan. Karena itu, Ahlul Haq dan para ulama yang diperhitungkan dalam ijma‘ sepakat menerima persaksian dan riwayat mereka, serta menetapkan kesempurnaan keadilan mereka, semoga Allah meridai mereka semua.” (Syarh Muslim, 15/149).

Larangan Mencela Sahabat dalam Sunnah Nabi ﷺ

Sebagaimana Al-Qur’an memuji para sahabat, Rasulullah ﷺ juga memuji mereka dan melarang umatnya mencela mereka.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم”

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka…” (HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2534 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبًا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه”

“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, hal itu tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula separuhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540).

Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan para sahabat. Amal orang setelah mereka tidak bisa menyamai amal mereka, karena para sahabat memiliki keistimewaan dalam iman, pengorbanan, perjuangan, dan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ.

Hukum Mencela Sahabat

Mencela sahabat tidak berada pada satu tingkatan. Hukumnya berbeda-beda sesuai bentuk celaan, objek yang dicela, dan kandungan tuduhannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 586–587:

“وبالجملة فمن أصناف السابة من لا ريب في كفره، ومنهم من لا يحكم بكفره ومنهم من تردد فيه”

“Secara umum, di antara jenis orang yang mencela sahabat ada yang tidak diragukan kekafirannya, ada yang tidak dihukumi kafir, dan ada yang diperselisihkan.”

Kemudian beliau merinci hal tersebut menjadi tiga keadaan.

Pertama: Mencela Seluruh Sahabat atau Mayoritas Mereka

Orang yang mencela seluruh sahabat, atau menuduh mereka kafir, murtad, fasik, atau menyatakan mayoritas mereka menyimpang, telah melakukan perkara yang sangat berat. Para ulama menyebutkan bahwa ini termasuk kekufuran, karena mengandung konsekuensi besar.

Pertama, hal itu merupakan celaan terhadap para pembawa Al-Qur’an dan Sunnah. Konsekuensinya, celaan tersebut juga kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri.

Kedua, hal itu mendustakan nash Al-Qur’an yang menyatakan keridaan Allah kepada para sahabat.

Ketiga, Imam Malik dan para imam lainnya rahimahumullah mengambil kesimpulan dari firman Allah Ta‘ala tentang para sahabat:

﴿ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ﴾

“Agar Allah membuat jengkel orang-orang kafir dengan kekuatan mereka.” (QS. Al-Fath: 29).

Al-Haitami rahimahullah berkata:

“وَمن هَذِه الْآيَة أَخذ الإِمَام مَالك فِي رِوَايَة عَنهُ بِكفْر الروافض الَّذين يبغضون الصَّحَابَة قَالَ لِأَن الصَّحَابَة يغيظونهم وَمن غاظه الصَّحَابَة فَهُوَ كَافِر وَهُوَ مَأْخَذ حسن يشْهد لَهُ ظَاهر الْآيَة وَمن ثمَّ وَافقه الشَّافِعِي رَضِي الله تَعَالَى عَنْهُمَا فِي قَوْله بكفرهم وَوَافَقَهُ أَيْضا جمَاعه من الْأَئِمَّة”.

“Dari ayat ini, Imam Malik dalam salah satu riwayat darinya mengambil kesimpulan tentang kafirnya kaum Rafidhah yang membenci para sahabat. Ia berkata, ‘Karena para sahabat membuat mereka marah. Siapa saja yang dibuat marah oleh para sahabat, maka ia kafir.’

Kesimpulan ini merupakan dasar pengambilan hukum yang baik, yang didukung oleh makna lahiriah ayat tersebut. Oleh karena itu, Imam Syafi‘i, semoga Allah Ta‘ala meridai keduanya, menyetujui pendapatnya tentang kafirnya mereka. Sejumlah imam lainnya juga menyetujui pendapat tersebut.” (Ash-Shawa‘iq Al-Muhriqah, hlm. 317; lihat juga: Tafsir Ibnu Katsir, 4/204).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

“وأما من جاوز ذلك إلى أن زعم أنهم ارتدوا بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم – إلا نفرًا قليلًا لا يبلغون بضعة عشر نفسًا – أو أنهم فسقوا عامتهم، فهذا لا ريب أيضًا في كفره؛ لأنه مكذب لما نصه القرآن في غير موضع، من الرضا عنهم، والثناء عليهم، بل من يشك في كفر مثل هذا فإن كفره متعين… إلى أن قال: وكفر هذا مما يعلم بالاضطرار من دين الإسلام”

“Adapun orang yang melampaui hal itu sampai mengklaim bahwa para sahabat telah murtad setelah Rasulullah ﷺ — kecuali sedikit orang yang tidak mencapai belasan orang — atau mengklaim bahwa mayoritas mereka fasik, maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Sebab ia mendustakan apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an di banyak tempat, berupa keridaan Allah kepada mereka dan pujian-Nya terhadap mereka. Bahkan orang yang meragukan kekafiran orang seperti ini, maka kekafirannya menjadi pasti…”

Hingga beliau berkata:

“Kekafiran orang seperti ini termasuk perkara yang diketahui secara pasti dalam agama Islam.” (Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 586).

Kedua: Mencela Sebagian Sahabat dengan Celaan yang Menyerang Agama Mereka

Jika seseorang mencela sebagian sahabat dengan tuduhan yang menyerang agama mereka, seperti menuduh kafir atau fasik, maka para ulama berbeda pendapat dalam rinciannya. Sebagian ulama mengafirkan pelakunya, sebagian menyatakan fasik, dan sebagian membedakan antara sahabat yang keutamaannya telah disebutkan secara mutawatir dengan sahabat yang tidak sampai pada tingkatan tersebut.

Yang jelas, jika celaan itu ditujukan kepada sahabat yang keutamaannya disebutkan secara mutawatir, seperti para khalifah, lalu pelakunya menghalalkan celaan tersebut atau meyakini benarnya tuduhan itu, maka hal tersebut termasuk kekufuran. Sebab, di dalamnya terdapat pendustaan terhadap perkara yang telah pasti.

Diriwayatkan dari Abu Bakar Al-Marudzi, ia berkata:

“سألت أبا عبد الله عن من يشتم أبا بكر وعمر وعائشة قال: ما أراه على الإسلام قال: وسمعت أبا عبد الله يقول: قال مالك: الذين يشتمون أصحاب رسول الله ليس لهم سهم أو قال: نصيب في الإسلام”

“Aku bertanya kepada Abu Abdullah, yaitu Imam Ahmad, tentang orang yang mencaci Abu Bakar, Umar, dan Aisyah. Beliau menjawab: Aku tidak melihatnya berada di atas Islam. Aku juga mendengar Abu Abdullah berkata: Malik berkata, ‘Orang-orang yang mencaci sahabat Rasulullah tidak memiliki bagian — atau beliau berkata: tidak memiliki jatah — dalam Islam.’” (Masa’il Abdullah, hlm. 431).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

“ومن خص بعضهم بالسب، فإن كان ممن تواتر النقل في فضله وكماله؛ كالخلفاء، فإن اعتقد أحقية سبه أو إباحته فقد كفر؛ لتكذيبه ما ثبت قطعا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ومكذبه كافر، وإن سبه من غير اعتقاد أحقية سبه أو إباحته، فقد تفسق؛ لأن سباب المسلم فسوق. وقد حكم البعض فيمن سب الشيخين بالكفر مطلقا – والله أعلم -“

“Siapa yang mengkhususkan sebagian sahabat dengan celaan, jika sahabat tersebut termasuk orang yang keutamaan dan kesempurnaannya disebutkan secara mutawatir, seperti para khalifah, lalu ia meyakini benarnya celaan terhadapnya atau bolehnya mencelanya, maka ia kafir. Sebab ia mendustakan sesuatu yang telah pasti dari Rasulullah ﷺ, dan orang yang mendustakan beliau adalah kafir. Namun jika ia mencelanya tanpa meyakini benarnya celaan tersebut atau kebolehannya, maka ia fasik. Sebab mencela seorang Muslim adalah kefasikan. Sebagian ulama menghukumi kafir secara mutlak orang yang mencela dua syaikh, yaitu Abu Bakar dan Umar. Wallahu a‘lam.”

Beliau juga berkata:

“وإن كان ممن لم يتواتر النقل في فضله وكماله، فالظاهر أن سابه فاسق إلا أن يسبه من حيث صحبته لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فإنه يكفر”

“Jika sahabat tersebut termasuk orang yang keutamaan dan kesempurnaannya tidak disebutkan secara mutawatir, maka yang tampak adalah bahwa orang yang mencelanya adalah fasik, kecuali jika ia mencelanya dari sisi persahabatannya dengan Rasulullah ﷺ, maka ia kafir.” (Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah, hlm. 19).

Ketiga: Mencela Sahabat dengan Celaan yang Tidak Menyerang Agama dan Keadilan Mereka

Adapun jika seseorang mencela sebagian sahabat dengan celaan yang tidak sampai menyerang agama dan keadilan mereka, seperti menyebut sebagian mereka pelit, pengecut, sedikit ilmu, kurang zuhud, lemah pendapat, lalai, atau semisalnya, maka pelakunya tetap melakukan perbuatan haram. Ia berhak mendapatkan hukuman ta‘zir serta perlu diberi penjelasan dan pemahaman tentang kedudukan para sahabat. Namun, ia tidak langsung dihukumi kafir hanya karena celaan seperti itu.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

“واعلم أن سب الصحابة رضي الله عنهم حرام، من فواحش المحرمات، سواء من لابس الفتن منهم وغيره؛ لأنهم مجتهدون في تلك الحروب متأولون، قال القاضي: وسب أحدهم من المعاصي الكبائر، ومذهبنا ومذهب الجمهور أنه يعزر ولا يقتل، وقال بعض المالكية: يقتل”

“Ketahuilah bahwa mencela para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah haram dan termasuk perbuatan haram yang sangat keji, baik terhadap sahabat yang terlibat dalam fitnah maupun selainnya. Sebab mereka adalah para mujtahid dalam peperangan-peperangan tersebut dan memiliki takwil. Al-Qadhi berkata: Mencela salah seorang dari mereka termasuk dosa besar. Mazhab kami dan mazhab jumhur menyatakan bahwa pelakunya diberi hukuman ta‘zir dan tidak dibunuh. Sebagian ulama Malikiyah berkata bahwa ia dibunuh.” (Syarh Muslim, 5/400).

Sikap yang Wajib bagi Seorang Muslim

Kewajiban seorang Muslim adalah mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ, memuliakan mereka, mendoakan mereka, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang layak. Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak pula membenci atau berlepas diri dari salah seorang di antara mereka.

Kita menyebut kebaikan mereka, menahan lisan dari perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik umat ini. Mereka adalah manusia terbaik setelah para nabi. Merekalah pembawa agama, penolong dakwah, penjaga sunnah, dan perantara sampainya Islam kepada kita.

Karena itu, mencintai mereka adalah bagian dari agama. Membenci mereka adalah tanda penyimpangan. Menyebut mereka dengan kebaikan adalah adab Ahlus Sunnah. Adapun mencela mereka adalah dosa besar dan jalan yang sangat berbahaya.

Imam Ath-Thahawi rahimahullah berkata:

“ونحب أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا نفرط في حب أحد منهم، ولا نتبرأ من أحد منهم، ونبغض من يبغضهم، وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلا بخير، وحبهم دين وإيمان وإحسان، وبغضهم كفر ونفاق وطغيان”

“Kita mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka dan menyebut mereka dengan selain kebaikan. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan pelampauan batas.” (Syarh Ath-Thahawiyah, hlm. 414).

Semoga Allah meridai seluruh sahabat Rasulullah ﷺ, membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka kepada umat Islam, dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya, bersama Nabi Muhammad ﷺ, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Aamiin.

Continue Reading
SummarizeShare234
Previous Post

Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

husnul khatimah

Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
June 12, 2026
0

Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan Kehidupan dunia, sepanjang apa pun usianya dan sebanyak apa pun kesenangannya, pasti akan berakhir. Setiap manusia akan meninggalkan dunia...

masuk kota mekkah

Langkah Pertama Saat Tiba Di Mekkah

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 23, 2026
0

Langkah Pertama Saat Tiba Di Mekkah Antara Sunnah Nabi ﷺ Dan Kesalahan Jamaah Masa Kini Datang ke Makkah untuk Apa? Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du.  Tidak sedikit jamaah haji dan umrah yang...

panduan muallaf, muallaf belajar islam, dasar islam bagi muallaf, islam pemula, masuk islam, syahadat, akidah islam, ibadah dasar islam, belajar shalat, hijrah, dakwah islam, bimbingan muallaf

Panduan Awal bagi Seorang Muallaf

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
January 10, 2026
0

Tuntunan Dasar Masuk Islam Berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Masuk Islam bukan sekadar perubahan status agama, melainkan awal perjalanan hidup yang sepenuhnya baru, perjalanan menuju tauhid, ketaatan dan...

adab masuk kamar mandi

Adab-adab Masuk Kamar Mandi Sesuai Sunnah

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
November 30, 2025
0

Adab ke Kamar Mandi dalam Islam: Panduan Lengkap Berdasarkan Sunnah Adab memasuki kamar mandi merupakan bagian penting dari akhlak seorang muslim. Syariat memberikan tuntunan agar seorang hamba terjaga...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam
  • Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia
  • Tafsir Surat An-Naba’ 32

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official