Dinasti-Dinasti Syi’ah
1. Buwaihiyah (334–447 H)
Dinasti Persia yang menguasai Baghdad dan memberikan pengaruh besar terhadap penyebaran Syi’ah Imamiyah.
2. Fatimiyah (297–567 H)
Dinasti Ismailiyah yang berpusat di Afrika Utara lalu Mesir. Mereka mendirikan kota Kairo dan Universitas Al-Azhar pada masa awalnya.
3. Safawiyah (907–1135 H)
Dinasti Safawi di Persia menjadikan Syi’ah Imamiyah Dua Belas sebagai mazhab resmi negara. Peristiwa ini sangat penting karena:
- Menyebarkan Imamiyah secara luas di Iran.
- Membentuk identitas keagamaan Persia modern.
- Menguatkan institusi ulama Imamiyah.
Banyak sejarawan memandang masa Safawi sebagai titik kebangkitan besar Imamiyah.
Lahirnya Imamiyah Dua Belas
Rangkaian Dua Belas Imam
Menurut keyakinan Imamiyah:
- Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H);
- Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhu (w. 50 H);
- Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhu (w. 61 H);
- Ali bin Al-Husain Zainal Abidin rahimahullah (w. 94 H);
- Muhammad Al-Baqir rahimahullah (w. 114 H);
- Ja‘far Ash-Shadiq rahimahullah (w. 148 H);
- Musa Al-Kazhim rahimahullah (w. 183 H);
- Ali Ar-Ridha rahimahullah (w. 203 H);
- Muhammad Al-Jawad rahimahullah (w. 220 H);
- Ali Al-Hadi rahimahullah (w. 254 H);
- Hasan Al-‘Askari rahimahullah (w. 260 H);
- Muhammad Al-Mahdi.
Masalah Besar Setelah Wafat Hasan Al-‘Askari
Ketika Hasan Al-‘Askari wafat pada tahun 260 H, muncul pertanyaan: Siapakah imam berikutnya?
Sebagian pengikutnya mengatakan bahwa beliau memiliki seorang putra bernama Muhammad yang disembunyikan. Dari sinilah berkembang doktrin:
- Imam kedua belas masih hidup.
- Ia masuk ke dalam ghaibah.
- Ia akan muncul kembali sebagai Al-Mahdi pada akhir zaman.
Dua Masa Ghaibah
Dalam teologi Imamiyah dikenal:
- Ghaibah Shughra (kecil): Imam berkomunikasi melalui para wakil.
- Ghaibah Kubra (besar): Komunikasi tersebut terputus dan berlangsung hingga sekarang.
Doktrin ini menjadi salah satu pilar utama Syi’ah Imamiyah Dua Belas.
Dari Syi’ah Politik Menuju Rafidhah
Apa Itu Rafidhah?
Kata ‘Rafidhah’ berasal dari kata ‘Rafadha’ yang berarti menolak.
Menurut riwayat sejarah, ketika Zaid bin Ali rahimahullah (w. 122 H) ditanya tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq (w. 13 H) dan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma (w. 23 H), beliau memuji keduanya. Sebagian pengikutnya menolak sikap tersebut lalu meninggalkannya. Zaid berkata:
“Kalian telah menolakku (rafadhtumuni).” (lihat: Al-Milal wa an-Nihal, Juz 1, bab “Ar-Rafidhah”).
Sejak itu, istilah Rafidhah digunakan untuk sebagian kelompok yang:
- Menolak kepemimpinan Abu Bakar (w. 13 H) dan Umar radhiyallahu ‘anhuma (w. 23 H).
- Mencela sebagian sahabat.
- Menganggap Ali radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) sebagai imam yang ditetapkan secara khusus.
Perbedaan Syi’ah Awal dan Rafidhah
| Syi’ah Awal | Rafidhah |
| Dukungan politik kepada Ali (w. 40 H) | Menjadikan imamah sebagai pokok agama |
| Masih menghormati Abu Bakar (w. 13 H) dan Umar (w. 23 H) | Menolak legitimasi keduanya |
| Tidak memiliki doktrin imam ma’shum | Mengembangkan konsep kemaksuman imam |
| Belum memiliki keyakinan ghaibah | Mengembangkan doktrin ghaibah |
Inilah titik penting transformasi dari gerakan politik menjadi sekte akidah.
Bagaimana Transformasi Ini Terjadi?
Secara ringkas, perjalanan sejarahnya dapat digambarkan sebagai berikut:
Fase Pertama: Dukungan Politik
- Mendukung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) dalam konflik politik.
- Belum menjadi mazhab akidah yang tersusun.
Fase Kedua: Pengagungan Ahlul Bait
- Muncul kecintaan yang berlebihan kepada sebagian tokoh Ahlul Bait.
- Sebagian kelompok mulai mencela lawan-lawan politik Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H).
Fase Ketiga: Doktrin Imamah
- Imamah dianggap penetapan ilahi.
- Imam diyakini memiliki otoritas khusus dalam agama.
Fase Keempat: Kemaksuman Imam
- Imam dipandang ma’shum dari kesalahan.
- Perkataan imam dijadikan sumber agama.
Fase Kelima: Ghaibah dan Penantian Imam
- Diyakini imam kedua belas menghilang.
- Muncul konsep penantian kemunculan kembali Al-Mahdi.
Pada fase inilah Syi’ah Imamiyah berkembang menjadi sistem teologi yang lengkap dan berbeda secara mendasar dari Ahlus Sunnah.
Kesimpulan
Perkembangan Syi’ah berlangsung melalui proses sejarah yang panjang:
- Bermula dari dukungan politik kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H).
- Terjadi fitnah besar setelah terbunuhnya Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H).
- Muncul Perang Jamal (36 H) dan Perang Shiffin (37 H).
- Lahir kelompok Khawarij akibat peristiwa tahkim.
- Sebagian pengikut Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) berkembang menjadi kelompok Rafidhah.
- Syi’ah kemudian terpecah menjadi berbagai sekte seperti Kaisaniyah, Zaidiyah, Ismailiyah, dan Imamiyah.
- Dinasti-dinasti Syi’ah seperti Buwaihiyah, Fatimiyah, dan Safawiyah memperkuat penyebarannya.
- Akhirnya terbentuklah Syi’ah Imamiyah Dua Belas dengan doktrin imamah, kemaksuman imam, dan ghaibah.
Ahlus Sunnah wal Jamaah mencintai Ahlul Bait Nabi ﷺ, menghormati seluruh sahabat, serta meyakini bahwa sumber agama adalah Al-Qur’an dan Sunnah yang dipahami menurut pemahaman para sahabat dan generasi terbaik umat ini. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.


