• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Apakah (Rebo Wekasan) Benar-Benar Hari Sial?

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
August 13, 2026
in Halal-Haram
Reading Time: 4 mins read

Shalat Rebo Wekasan

Di tengah masyarakat masih dikenal sebuah keyakinan yang disebut Rebo Wekasan, yaitu anggapan bahwa Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari turunnya berbagai musibah, sehingga sebagian orang melakukan shalat tertentu, mandi khusus, membuat doa-doa tertentu, atau mengadakan ritual agar terhindar dari bala.

Terlepas dari berbagai bentuk praktik yang berkembang, seorang muslim perlu mengetahui bahwa Islam mengajarkan agar setiap keyakinan dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, bukan kepada tradisi ataupun cerita yang tidak memiliki landasan.

Hakikatnya, seluruh kejadian di alam semesta berada di bawah ketentuan Allah Ta’ala, bukan karena hari, bulan, ataupun waktu tertentu.

Allah-lah yang menciptakan sebab dan akibat, mengatur malam dan siang, serta menetapkan seluruh peristiwa yang terjadi di alam ini.

Karena itu, tidak boleh meyakini bahwa suatu hari atau bulan mempunyai kekuatan sendiri untuk mendatangkan manfaat ataupun musibah.

Inilah makna yang dijelaskan para ulama ketika membahas larangan mencela zaman (سب الدهر).

Sebab ad-dahr (masa atau waktu) hanyalah tempat berlangsungnya berbagai peristiwa, sedangkan yang mengatur seluruhnya hanyalah Allah.

Oleh karena itu kita boleh mengatakan:

“Peristiwa itu terjadi pada hari ini.”

“Musibah itu terjadi pada bulan ini.”

Namun kita tidak boleh mengatakan:

“Hari ini membawa sial.”

atau

“Bulan terrtentu mendatangkan musibah.”

Apalagi meyakini bahwa waktu tertentu mempunyai pengaruh sendiri terhadap nasib manusia.

Allah Ta’ala mengabadikan ucapan orang-orang kafir:

﴿وَمَا يُهْلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهْرُ﴾

“Tidak ada yang membinasakan kami selain masa (zaman).” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

Mereka menyandarkan berbagai musibah kepada waktu, padahal waktu sama sekali tidak memiliki kekuasaan.

Nabi ﷺ kemudian memperingatkan umatnya melalui hadis qudsi:

«يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ، وَأَنَا الدَّهْرُ، بِيَدِيَ الأَمْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ»

“Anak Adam menyakiti-Ku. Ia mencela zaman, padahal Aku-lah Pengatur zaman. Di tangan-Kulah seluruh urusan. Aku yang membolak-balikkan malam dan siang.” (HR. Al-Bukhari no. 4826 dan Muslim no. 2246)

Hadis ini bukan berarti Allah adalah “zaman”, tetapi maksudnya Allah adalah Pengatur seluruh kejadian yang berlangsung di dalamnya. Maka siapa saja yang mencela waktu atau meyakini bahwa waktu memiliki pengaruh sendiri terhadap berbagai kejadian, hakikatnya ia telah keliru dalam memahami tauhid.

Inilah sebabnya keyakinan seperti Rebo Wekasan, apabila diyakini bahwa hari tersebut memang secara khusus membawa bala atau memiliki pengaruh gaib, termasuk keyakinan yang bertentangan dengan kesempurnaan iman kepada takdir Allah.

Islam mengajarkan bahwa yang menciptakan seluruh kejadian hanyalah Allah Ta’ala. Adapun hari, bulan, tahun, malam, dan siang hanyalah makhluk-Nya yang dijadikan sebagai tempat berlangsungnya berbagai peristiwa.

Karena itu, mengaitkan suatu musibah kepada waktu tertentu merupakan kebiasaan yang dahulu dilakukan oleh orang-orang Arab jahiliah.

Al-Imam Al-Khaththabi rahimahullah menjelaskan hadis qudsi di atas berkata:

“معناه: أنا صاحب الدهر، ومدبر الأمور التي ينسبونها إلى الدهر؛ فمن سب الدهر من أجل أنه فاعل هذه الأمور عاد سبُّه إلى ربه الذي هو فاعلها، وإنما الدهرُ زمانٌ جُعل ظرفًا لمواقع الأمور. وكانت عادتُهم إذا أصابهم مكروه أضافوه إلى الدهر فقالوا: بؤسًا للدهر وتبًّا للدهر.”

“Maknanya adalah: Aku adalah Penguasa zaman dan Pengatur segala urusan yang mereka nisbatkan kepada zaman. Siapa yang mencela zaman karena menganggap zamanlah yang melakukan berbagai peristiwa itu, maka celaannya kembali kepada Rabb yang benar-benar melakukan semuanya. Padahal zaman hanyalah waktu yang dijadikan sebagai tempat terjadinya berbagai peristiwa. Kebiasaan mereka dahulu, apabila ditimpa sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka berkata: ‘Celakalah zaman!’ atau ‘Binasalah zaman!’.” (Dinukil dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 8/438)

Oleh sebab itu, apabila seseorang meyakini bahwa Rabu terakhir bulan Safar memang merupakan hari turunnya bala, sehingga ia merasa harus melakukan amalan tertentu untuk menolak musibah pada hari itu, maka keyakinan tersebut tidak berbeda dengan asal keyakinan masyarakat jahiliah yang mengaitkan berbagai kejadian kepada waktu.

Disebutkan dalam Hasyiyah Ibnu Qasim ‘ala Kitab at-Tauhid:

“كانت العرب في جاهليتها من شأنها ذم الدهر، أي: سبه عند النوازل؛ فكانوا إذا أصابهم شدَّة أو بلاءٌ أو ملامة قالوا: أصابتهم قوارع الدهر، وأبادهم الدهر، وقالوا: يا خيبة الدهر؛ فيسندون تلك الأفعال إلى الدهر ويسبونه، وإنما فاعل ذلك هو الله. فإذا أضافوا ما نالهم من الشدائد إلى الدهر فإنما سبوا الله عز وجل لأن الله هو الفاعل لذلك حقيقة؛ فنهى الله عن سب الدهر بهذا الاعتبار.”

“Orang-orang Arab pada masa jahiliah memiliki kebiasaan mencela zaman ketika ditimpa musibah. Jika mereka tertimpa kesulitan, bencana, atau sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka berkata: ‘Ini adalah hantaman zaman’, ‘Zaman telah membinasakan kami’, atau ‘Betapa sialnya zaman’. Mereka menisbatkan semua kejadian itu kepada zaman, padahal yang sebenarnya melakukan semuanya adalah Allah. Maka ketika mereka menyandarkan berbagai musibah kepada zaman, pada hakikatnya celaan mereka kembali kepada Allah, karena Dialah yang benar-benar menghendakinya. Oleh sebab itu Allah melarang mencela zaman dari sisi ini.” (Hasyiyah Ibnu Qasim ‘ala Kitab at-Tauhid, hlm. 312)

Demikian pula Nabi ﷺ telah mencabut seluruh keyakinan jahiliah yang mengaitkan kesialan dengan sesuatu selain kehendak Allah. Beliau ﷺ bersabda:

«لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ»

“Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada tathayyur (anggapan sial), tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada (anggapan sial pada) bulan Safar.” (HR. Al-Bukhari no. 5757 dan Muslim no. 2220)

Para ulama menjelaskan bahwa salah satu makna sabda Nabi ﷺ “ولا صفر” adalah meniadakan keyakinan masyarakat Arab jahiliah yang menganggap bulan Safar sebagai bulan sial. Mereka meyakini bahwa bulan tersebut membawa kesialan, sehingga enggan menikah, bepergian, berdagang, bahkan menunda berbagai urusan penting karena menganggap Safar adalah bulan yang penuh malapetaka.

Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

“أن المراد بالصفر: شهر صفر، لأنهم كانوا في الجاهلية يتشاءمون بهذا الشهر، فلا يتزوّجون فيه، ولا يسافرون، ولا يتاجرون، وربما امتنعوا عن النكاح فيه ويعتقدون أنه شهرٌ مشؤوم.”

“Yang dimaksud dengan ‘Safar’ adalah bulan Safar, karena orang-orang Arab pada masa jahiliah dahulu menganggap bulan ini membawa kesialan. Mereka tidak mau menikah pada bulan itu, tidak bepergian, tidak berdagang, bahkan terkadang menghindari pernikahan sama sekali karena meyakini bahwa Safar adalah bulan yang membawa sial.” (Latha’if al-Ma’arif, hlm. 74)

Dengan demikian, keyakinan yang berkembang di sebagian masyarakat bahwa Rabu terakhir bulan Safar (Rebo Wekasan) adalah hari turunnya berbagai musibah, lalu karenanya harus dilakukan amalan tertentu seperti shalat, doa, mandi, atau ritual tertentu untuk menolak bala, tidak memiliki dasar dalam syariat. Bahkan keyakinan tersebut sejalan dengan bentuk tathayyur yang telah dibatalkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabda beliau, «ولا صفر».

Salah satu sebab Islam sangat keras melarang mengaitkan musibah kepada hari, bulan, atau waktu tertentu adalah karena hal itu dapat merusak kesempurnaan tauhid seorang muslim.

Seorang mukmin meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak, takdir, dan hikmah Allah Ta’ala. Tidak ada satu hari pun yang mampu mendatangkan manfaat atau menolak mudarat dengan sendirinya. Demikian pula bulan Safar, Rabu, atau waktu-waktu lainnya; semuanya hanyalah makhluk Allah yang berjalan sesuai ketetapan-Nya.

Karena itu, keyakinan bahwa Rebo Wekasan adalah hari turunnya bala, lalu seseorang melakukan amalan khusus untuk menghindarinya, berarti ia telah memberikan kepada suatu waktu pengaruh yang tidak pernah Allah maupun Rasul-Nya tetapkan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:

“قال المحققون: من نسب شيئًا من الأفعال إلى الدهر حقيقة كفر، ومن جرى هذا اللفظ على لسانه غير معتقد لذلك فليس بكافر، لكنه يكره له ذلك، لشبهه بأهل الكفر في الإطلاق. وهو نحو التفصيل الماضي في قولهم: مطرنا بكذا.”

“Para ulama muhaqqiqin mengatakan: Barang siapa benar-benar meyakini bahwa berbagai perbuatan (buruk) berasal dari zaman, maka ia telah kafir. Adapun orang yang mengucapkan ungkapan seperti itu tanpa meyakininya, maka ia tidak kafir, namun ucapan tersebut tetap dimakruhkan karena menyerupai ucapan orang-orang kafir. Hal ini sebagaimana rincian yang telah dijelaskan mengenai ucapan: ‘Kami diberi hujan karena bintang ini’.” (Fathul Bari, 10/566)

Oleh sebab itu, jika seseorang benar-benar meyakini bahwa Rabu terakhir bulan Safar memiliki kekuatan khusus sehingga pada hari itu turun ratusan ribu bala, maka keyakinan tersebut termasuk keyakinan batil yang bahkan dapat menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan.

Seorang Muslim Menggantungkan Hatinya kepada Allah, Bukan kepada Hari atau Bulan. Hari, bulan, malam, dan siang tidak memiliki kekuatan sedikit pun untuk mendatangkan manfaat ataupun menolak mudarat. Semuanya hanyalah makhluk Allah yang berjalan sesuai kehendak dan ketetapan-Nya.

Oleh karena itu, keyakinan bahwa Rabu terakhir bulan Safar (Rebo Wekasan) merupakan hari turunnya bala, atau bahwa pada hari itu terdapat ibadah khusus untuk menolak musibah, tidak memiliki landasan yang sahih dari Al-Qur’an maupun Sunnah. Keyakinan semacam ini justru membuka pintu kepada anggapan bahwa waktu memiliki pengaruh terhadap takdir manusia, padahal seluruh urusan berada di tangan Allah semata. Walahua’lam…

SummarizeShare234
Previous Post

Akidah Menyimpang Menjadi Gerakan Politik, Ini Bahaya!

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

hukum tahlilan

Hukum Tahlilan Untuk Mayit: Benarkah Sesuai dengan Tuntunan Syariat?

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
August 5, 2026
0

Tahlilan untuk Mayit: Benarkah Sesuai dengan Tuntunan Syariat? Kematian adalah musibah yang pasti akan dialami setiap manusia. Ketika seorang muslim meninggal dunia, Islam tidak membiarkan umatnya tanpa tuntunan....

Suka Kepada Sesama Jenis, Apakah Berdosa?

Suka Kepada Sesama Jenis, Apakah Berdosa?

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
July 27, 2026
0

PUNYA KETERTARIKAN SESAMA JENIS, APAKAH SAYA BERDOSA‎? Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan budaya global, pembahasan tentang ‎ketertarikan sesama jenis menjadi salah satu isu yang sering...

SEMUA BERAWAL DARI SATU KLIK “KONTEN PORNOGRAFI”

SEMUA BERAWAL DARI SATU KLIK “KONTEN PORNOGRAFI”

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
July 7, 2026
0

SEMUA BERAWAL DARI SATU KLIK Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Pornografi sering dianggap sekadar “konten pribadi” yang tidak berdampak ke siapa pun. Padahal, berbagai kajian psikologi dan pendidikan menunjukkan bahwa ia bisa...

Homoseksualitas Bukan Bawaan Lahir

Homoseksualitas Bukan Bawaan Lahir

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
July 6, 2026
0

APAKAH HOMOSEKSUALITAS BAWAAN LAHIR? Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi tentang homoseksualitas adalah: apakah homoseksualitas merupakan bawaan lahir? Sebagian orang beranggapan bahwa seseorang terlahir sebagai...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Apakah (Rebo Wekasan) Benar-Benar Hari Sial?
  • Akidah Menyimpang Menjadi Gerakan Politik, Ini Bahaya!
  • Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Firqah
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official