Biografi Syekh Muhammad Nasiruddin al Albani Rahimahullah
Pendahuluan
Syekh Muhammad Nasiruddin al Albani Rahimahullah merupakan salah seorang ulama yang dikenal luas karena ketekunannya dalam mempelajari, meneliti dan mengembangkan kajian hadis. Perjalanan hidupnya merupakan perjalanan panjang seorang penuntut ilmu yang tumbuh dari keluarga sederhana di Albania, kemudian berhijrah ke Damaskus ketika masih kecil, mempelajari bahasa Arab, mendalami ilmu ilmu keislaman dan akhirnya dikenal sebagai salah seorang tokoh penting dalam kajian hadis pada abad ke 20.
Kehidupan al Albani Rahimahullah tidak berlangsung melalui jalur pendidikan formal yang panjang. Sebagian besar kemampuan ilmiahnya berkembang melalui proses belajar yang tekun, membaca kitab secara terus menerus, menghadiri majelis ilmu, bertemu dengan para ulama dan melakukan penelitian secara mandiri. Kecintaan terhadap ilmu tersebut membuatnya mampu mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk hadis dan sunnah.
Perhatian al Albani Rahimahullah terhadap hadis sangat besar. Ia meneliti berbagai riwayat, membandingkan jalur periwayatan, memperhatikan keadaan para perawi dan menilai kualitas hadis berdasarkan penelitian yang dilakukannya. Dari perjalanan panjang tersebut lahir banyak karya dalam bidang takhrij, tahqiq dan penelitian hadis yang kemudian tersebar luas di berbagai negeri.
Nama, Kunyah dan Nisbah
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdurrahman Muhammad Nasir al Din bin Nuh Najati bin Adam al Albani . Ia lebih dikenal dengan nama Muhammad Nasir al Din al Albani . Kunyahnya adalah Abu Abdurrahman yang diambil dari nama salah seorang putranya. Adapun nisbah al Albani menunjukkan keterkaitannya dengan Albania, negeri tempat ia dilahirkan dan tempat asal keluarganya.
Nama al Albani kemudian semakin dikenal dalam dunia keilmuan Islam karena perhatiannya yang besar terhadap sunnah dan ilmu hadis. Ia banyak melakukan takhrij, tahqiq dan penelitian terhadap karya karya ulama terdahulu sehingga namanya sangat erat dengan kajian kualitas hadis.
Kelahiran dan Latar Belakang Keluarga
Muhammad Nasiruddin al Albani Rahimahullah dilahirkan di kota Aşqodra, Albania, yang pada waktu itu merupakan ibu kota Albania. Mengenai tahun kelahirannya terdapat perbedaan dalam bahan yang digunakan. Sebagian menyebut tahun 1332 H yang bertepatan dengan 1914 M, sementara ada juga yang megatakan 1333 H dengan tahun Masehi yang sama. Al Albani Rahimahullah sendiri menjelaskan bahwa tahun 1914 M merupakan tahun yang tercantum dalam dokumen identitas keluarganya.
Ia tumbuh dalam keluarga sederhana yang memiliki perhatian besar terhadap agama dan ilmu. Ayahnya bernama Nuh Najati al Albani . Sang ayah pernah belajar di lembaga lembaga syariat di Istanbul yang pada masa itu merupakan ibu kota Kesultanan Utsmaniyah. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia kembali ke Albania dan mengabdikan dirinya untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat hingga menjadi tempat rujukan bagi orang orang yang datang untuk belajar dan meminta bimbingan.
Lingkungan keluarga tersebut memberikan dasar yang penting bagi perkembangan al Albani . Kehidupan yang sederhana tidak menghalanginya untuk dekat dengan agama dan ilmu. Pendidikan dari keluarga kemudian menjadi dasar yang berkembang lebih jauh setelah mereka menetap di Damaskus.
Hijrah ke Damaskus
Perubahan besar dalam kehidupan al Albani Rahimahullah terjadi ketika ayahnya memutuskan untuk meninggalkan Albania dan berhijrah ke negeri Syam. Keputusan tersebut berkaitan dengan perubahan keadaan sosial dan politik di Albania yang dikhawatirkan akan memberikan pengaruh buruk terhadap kehidupan keagamaan keluarganya. Kota Damaskus kemudian menjadi tempat tinggal baru mereka. Saat itu al Albani masih berusia sekitar sembilan tahun.
Perpindahan ke Damaskus memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perjalanan hidupnya. Di kota itulah ia mulai belajar bahasa Arab dan mengenal lingkungan keilmuan Islam yang kemudian membentuk perjalanan ilmiahnya. Ia sendiri memandang hijrah tersebut sebagai salah satu sebab yang membuka jalan baginya untuk menguasai bahasa Arab dan kemudian memahami ilmu hadis dan sunnah.
Ketika pertama kali datang ke Damaskus, al Albani Rahimahullah belum menguasai bahasa Arab dengan baik. Ia kemudian masuk ke sekolah dasar dan mulai belajar bahasa Arab melalui pendidikan dan lingkungan pergaulan. Kemampuannya berkembang dengan cepat hingga ia dikenal memiliki kemampuan yang baik dalam bahasa Arab.
Pendidikan Masa Kecil
Al Albani Rahimahullah menempuh pendidikan dasar di Madrasah al Isaf al Khairiyyah di Damaskus. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia tidak melanjutkan ke sekolah menengah formal. Keputusan tersebut berkaitan dengan pandangan ayahnya terhadap sekolah formal pada masa itu, terutama dalam hal pendidikan agama.
Sebagai gantinya, ayahnya menyusun program pendidikan khusus. Al Albani mempelajari Al Quran, tajwid, sharaf dan fikih mazhab Hanafi. Ia juga mempelajari ilmu ilmu bahasa yang diperlukan untuk memahami kitab kitab keislaman. Ia menyelesaikan hafalan Al Quran dengan riwayat Hafsh dari Ashim.
Selain kepada ayahnya, ia belajar kepada Syekh Said al Burhani. Dari beliau Rahimahullah mempelajari kitab Maraqi al Falah dalam fikih Hanafi, beberapa kitab nahwu dan ilmu balaghah. Ia juga memperoleh ijazah hadis dari Syekh Muhammad Raghib al Tabbakh yang dikenal sebagai salah seorang ulama Aleppo pada masanya.
Pendidikan yang diterimanya menjadi dasar penting untuk memasuki dunia hadis. Pengetahuan tentang bahasa Arab dan ilmu alat membantunya memahami kitab kitab klasik, sedangkan dasar fikih dan ilmu agama membuatnya mampu membaca hadis tidak hanya sebagai teks, tetapi juga dalam hubungannya dengan persoalan keilmuan lainnya.
Kecintaan terhadap Membaca
Sejak usia muda al Albani Rahimahullah memiliki kegemaran membaca yang sangat kuat. Pada masa awal ia tidak hanya membaca buku agama, tetapi juga membaca cerita, sastra dan berbagai karya berbahasa Arab. Kebiasaan tersebut secara perlahan memperkuat kemampuan bahasanya.
Seiring bertambahnya usia, kegiatan membaca berubah menjadi kegiatan ilmiah yang semakin serius. Waktu luangnya hampir selalu digunakan untuk membaca, mencatat dan menelaah. Kebiasaan ini menjadi salah satu ciri utama dalam kehidupannya.
Ia tidak memandang belajar sebagai aktivitas yang hanya dilakukan di sekolah atau di hadapan guru. Baginya, setiap kitab dapat menjadi sarana belajar dan setiap waktu luang dapat digunakan untuk memperluas pengetahuan. Pola hidup seperti inilah yang kemudian mengantarkannya kepada penelitian hadis secara mendalam.
Kehidupan sebagai Tukang Kayu dan Reparasi Jam
Perjalanan hidup al Albani Rahimahullah juga diwarnai dengan pekerjaan. Pada awalnya ia bekerja sebagai tukang kayu. Setelah itu ia mengikuti pekerjaan ayahnya sebagai tukang reparasi jam.
Pekerjaan reparasi jam memberikan kesempatan baginya untuk terus belajar. Ia tidak bekerja sepanjang hari sehingga memiliki cukup waktu untuk membaca dan meneliti. Waktu yang tersisa digunakan untuk mempelajari kitab hadis, termasuk berbagai kitab cetak dan manuskrip yang tersedia di perpustakaan.
Pekerjaan ini juga membuatnya terbiasa dengan ketelitian. Memperbaiki sebuah jam membutuhkan perhatian terhadap bagian bagian kecil yang harus diperiksa dengan teliti. Sikap demikian kemudian terlihat dalam kegiatan ilmiahnya ketika ia meneliti sanad, nama perawi, jalur periwayatan dan berbagai perbedaan lafaz hadis.
Awal Ketertarikan kepada Ilmu Hadis
Ketertarikan al Albani Rahimahullah terhadap ilmu hadis semakin kuat ketika ia membaca majalah Al Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rashid Rida. Tulisan tulisan yang membahas hadis dan memberikan kritik terhadap sejumlah riwayat menarik perhatiannya dan mendorongnya untuk memasuki dunia hadis secara lebih serius.
Salah satu pengalaman yang sangat penting dalam perjalanan ilmiahnya adalah ketika ia menemukan kitab Al Mughni an Haml al Asfar fi Takhrij ma fi al Ihya min al Akhbar karya al Hafizh al Iraqi. Karena keadaan ekonominya tidak memungkinkan membeli kitab tersebut, ia menyewanya. Setelah itu ia menyalin kitab tersebut dengan tangannya sendiri dan memberikan catatan terhadap bagian bagian yang dianggap perlu.
Hasil pekerjaannya mencapai sekitar dua ribu halaman dalam tiga jilid. Kegiatan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam kehidupan ilmiahnya karena sejak saat itu perhatian terhadap hadis semakin mendominasi waktunya.
Perpustakaan al Zahiriyyah
Perpustakaan al Zahiriyyah di Damaskus menjadi salah satu tempat paling penting dalam perjalanan ilmiah al Albani . Ia menghabiskan waktu yang panjang di sana untuk membaca berbagai kitab dan manuskrip.
Ketekunannya membuat pihak perpustakaan memberikan ruangan khusus untuk kegiatan penelitian dan memberinya akses yang luas terhadap koleksi perpustakaan. Dengan fasilitas tersebut ia dapat melakukan penelitian secara lebih leluasa dan membandingkan berbagai sumber yang berhubungan dengan hadis.
Perpustakaan tersebut menjadi semacam ruang kerja ilmiah baginya. Di antara kitab kitab itulah ia melakukan penelusuran, pencatatan dan perbandingan yang kemudian menjadi dasar bagi banyak karya yang dihasilkannya.
Perkembangan Keilmuan dan Aktivitas Mengajar
Seiring berkembangnya kemampuan al Albani , ia mulai mengajar hadis dan berbagai ilmu keislaman lainnya. Ia membuka majelis yang membahas hadis, tauhid, fikih dan tafsir. Majelis tersebut dihadiri oleh para pelajar dan orang orang yang ingin memperdalam ilmu agama.
Aktivitas mengajar membuat hubungan al Albani Rahimahullah dengan para penuntut ilmu semakin luas. Ia tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membiasakan para murid untuk memperhatikan dalil, membaca sumber dan memeriksa kualitas riwayat.
Ia kemudian mengajar di Universitas Islam Madinah pada tahun 1381 sampai 1383 H dan menjadi anggota dewan tinggi universitas. Ia juga memperoleh berbagai kepercayaan dari lembaga pendidikan dan lembaga ilmiah lainnya.
Selain penelitian dan pengajaran, al Albani Rahimahullah juga aktif dalam dakwah. Ia mengajak masyarakat untuk memperhatikan Al Quran dan sunnah serta berusaha memahami keduanya berdasarkan pemahaman generasi awal umat Islam.
Perjalanan dakwahnya membawanya ke berbagai negeri, di antaranya Mesir, Maroko, beberapa negara Teluk, Inggris dan Spanyol. Aktivitas tersebut memperluas hubungan keilmuannya dengan para ulama dan penuntut ilmu.
Pada tahun 1419 H atau 1999 M, al Albani Rahimahullah memperoleh Penghargaan Internasional King Faisal untuk Studi Islam atas usaha ilmiahnya dalam bidang hadis, terutama dalam takhrij, tahqiq dan penelitian hadis.
Karya Karya Ilmiah
Produktivitas al Albani Rahimahullah dalam bidang penelitian dan penulisan sangat besar. Karya karyanya meliputi takhrij, tahqiq, penelitian, komentar dan penyuntingan terhadap berbagai kitab.
Di antara karya yang dikenal luas adalah:
- Silsilat al Ahadits al Sahihah wa Syai min Fiqhiha wa Fawaidiha.
- Silsilat al Ahadits al Dhaifah wa al Maudhuah wa Atsaruha al Sayyi fi al Ummah.
- Irwa al Ghalil fi Takhrij Ahadits Manar al Sabil.
- Tahdhir al Sajid min Ittikhadh al Qubur Masajid.
- Shifat Shalat al Nabi.
- Tamam al Minnah fi al Taliq ala Fiqh al Sunnah.
- Tahqiq Mishkat al Mashabih.
- Berbagai karya takhrij terhadap kitab kitab hadis, termasuk Sunan Abi Dawud dan karya lainnya.
Karya karya tersebut menunjukkan keluasan bidang yang ia tekuni. Ada karya yang khusus mengumpulkan hadis sahih, ada yang membahas hadis dhaif dan maudhu, dan ada pula yang berupa tahqiq serta takhrij terhadap kitab ulama terdahulu.
Pengabdian dalam Takhrij dan Penelitian Hadis
Takhrij menjadi salah satu bidang yang sangat menonjol dalam kegiatan ilmiah al Albani . Melalui takhrij, sebuah hadis dapat ditelusuri sumbernya, diteliti jalur periwayatannya, diperiksa keadaan para perawinya dan ditentukan kualitasnya.
Selama puluhan tahun ia mengabdikan hidupnya untuk penelitian hadis. Ribuan riwayat diperiksa dan dikaji. Ia berusaha menjelaskan kedudukan hadis berdasarkan jalur periwayatan dan berbagai sumber yang tersedia.
Perhatian tersebut terlihat jelas dalam karya Silsilat al Ahadits al Sahihah dan Silsilat al Ahadits al Dhaifah wa al Maudhuah. Melalui karya karya tersebut, pembaca dapat memperoleh gambaran mengenai penilaian al Albani Rahimahullah terhadap berbagai hadis.
Pujian dan Kesaksian Para Ulama
Keluasan ilmu al Albani Rahimahullah kemudian mendapatkan perhatian dari banyak ulama. Pujian yang datang kepadanya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan dalam hadis, tetapi juga menyentuh ketekunan, pengabdian terhadap sunnah, keluasan ilmu dan manfaat karya karyanya.
Salah seorang ulama yang memberikan kesaksian adalah Muhibb al Din al Khatib. Ia menggambarkan al Albani Rahimahullah sebagai bagian dari para pendakwah yang mengabdikan hidupnya untuk menghidupkan sunnah. Ia mengatakan:
من دعاة السنة، الذين وقفوا حياتهم على العمل لإحيائها
“Ia termasuk para penyeru sunnah yang mengabdikan hidup mereka untuk menghidupkannya.”
Pujian lain datang dari Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, salah seorang ulama yang dikenal dalam bidang hadis dan fikih. Ia berkata:
ما رأيت تحت أديم السماء عالما بالحديث في العصر الحديث مثل العلامة محمد ناصر الدين الألباني
“Aku tidak pernah melihat di bawah langit ini seorang ulama hadis pada zaman modern seperti al Allamah Muhammad Nasir al Din al Albani .”
Kesaksian tersebut menunjukkan tingginya penghargaan Ibn Baz terhadap penguasaan al Albani Rahimahullah dalam bidang hadis.
Sementara itu, Syekh Muhammad bin Shalih al Utsaimin memberikan penilaian yang lebih rinci tentang kemampuan al Albani . Ia berkata:
فالذي عرفته عن الشيخ من خلال اجتماعي به وهو قليل، أنه حريص جدا على العمل بالسنة، ومحاربة البدعة، سواء كان في العقيدة أم في العمل، أما من خلال قراءتي لمؤلفاته فقد عرفت عنه ذلك، وأنه ذو علم جم في الحديث، رواية ودراية، وأن الله تعالى قد نفع فيما كتبه كثيرا من الناس، من حيث العلم ومن حيث المنهاج والاتجاه إلى علم الحديث، وهذه ثمرة كبيرة للمسلمين ولله الحمد، أما من حيث التحقيقات العلمية الحديثية فناهيك به
“Adapun yang saya ketahui tentang Syekh melalui beberapa kali pertemuan dengan beliau adalah bahwa beliau sangat bersungguh sungguh dalam mengamalkan sunnah dan memerangi bidah, baik dalam masalah akidah maupun amalan. Adapun melalui pembacaan saya terhadap karya karyanya, saya mengetahui hal yang sama, dan saya melihat bahwa beliau memiliki ilmu yang sangat luas dalam hadis, baik dari sisi riwayat maupun dirayah. Allah telah memberikan banyak manfaat kepada manusia melalui karya karyanya, baik dalam bidang ilmu, metode maupun perhatian terhadap ilmu hadis. Ini merupakan manfaat yang besar bagi kaum Muslimin. Adapun mengenai penelitian ilmiahnya dalam bidang hadis, maka keahliannya sangat menonjol.”
Pujian tersebut memperlihatkan bahwa kontribusi al Albani Rahimahullah dipandang bukan hanya dari jumlah karya yang dihasilkan, tetapi juga dari pengaruh karya tersebut terhadap kajian hadis.
Adapun Syekh Bakr bin Abdullah Abu Zaid menggambarkan posisi ilmiah al Albani Rahimahullah di tengah para ahli ilmu dengan mengatakan:
وارتسام علمية الألباني في نفوس أهل العلم، ونصرته للسنة وعقيدة السلف أمر لا ينازع فيه إلا عدو جاهل
“Kedalaman keilmuan al Albani yang tertanam dalam diri para ahli ilmu, serta pembelaannya terhadap sunnah dan akidah salaf, merupakan sesuatu yang tidak diperdebatkan kecuali oleh orang yang tidak mengetahui atau memiliki permusuhan.”
Pujian pujian tersebut memberikan gambaran bahwa al Albani Rahimahullah dikenal oleh sejumlah ulama karena ketekunannya terhadap sunnah dan keluasan pengetahuannya dalam hadis. Pengakuan terhadap dirinya juga tidak hanya berasal dari satu lingkungan. Ia mendapatkan penghargaan dari ulama yang mengenalnya secara langsung maupun dari mereka yang mempelajari karya karyanya.
Murid Murid dan Pengaruh Keilmuan
Aktivitas mengajar al Albani Rahimahullah menghasilkan banyak murid yang kemudian melanjutkan kegiatan ilmiah di berbagai tempat. Di antara nama yang disebut adalah Ihsan Ilahi Zahir, Basyir Faisal al Jawabirah, Husain Audah al Awayisyah, Rabi bin Hadi al Madkhali, Ali Hasan al Halabi, Muqbil bin Hadi al Wadi, Masyhur Hasan Al Salman dan Muhammad Jamil Zainu.
Para murid tersebut menjadi bagian dari mata rantai penyebaran ilmu yang telah dibangun oleh al Albani . Hubungan guru dan murid tersebut membuat pengaruh keilmuannya tidak berhenti pada karya tertulis saja, tetapi juga berkembang melalui kegiatan pengajaran dan pembinaan para penuntut ilmu.
Tahun Tahun Terakhir dan Wafat
Pada tahun 1400 H, al Albani Rahimahullah meninggalkan Damaskus dan kemudian menetap di Amman, Yordania bersama keluarganya. Di kota tersebut ia menjalani masa akhir kehidupannya sambil tetap melanjutkan kegiatan ilmiah dan pengajaran.
Ia wafat pada hari Sabtu, 22 Jumada al Akhirah 1420 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M. Ia wafat di Amman dan dimakamkan pada hari yang sama setelah salat Isya.
Dengan wafatnya al Albani , berakhirlah perjalanan hidup seorang ulama yang selama puluhan tahun menghabiskan waktunya dalam membaca, meneliti, mengajar dan berdakwah. Namun karya karya yang ditinggalkannya terus dipelajari dan menjadi bagian dari kajian hadis di berbagai tempat.
Sumber :
- Muhammad bin Ibrahim al Shaybani, Hayat al Albani Rahimahullah wa Atsaruhu wa Tsana al Ulama Alaihi, Maktabat al Sarawi, Kairo, cetakan pertama, 1407 H atau 1987 M.
- Ibrahim Abu Shadi, al Ikhtiyarat al Fiqhiyyah li al Imam al Albani , Dar al Ghad al Jadid, Kairo, cetakan pertama, 1427 H atau 2006 M.
- Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah al Sad han, al Imam al Albani : Durus wa Mawaqif wa Ibar, Dar al Tauhid, Riyadh, cetakan pertama, 1429 H atau 2008 M.
- Ashim Abdullah al Qaryuti, Tarjamah Mujazah li Fadhilat al Muhaddits al Shaykh Abi Abdurrahman Muhammad Nasir al Din al Albani , Dar al Madani, Jeddah.
- Abdurrahman bin Muhammad bin Shalih al Ayzari, Juhud al Shaykh al Albani Rahimahullah fi al Hadits Riwayatan wa Dirayatan, Maktabat al Rushd, Riyadh, cetakan pertama, 1427 H atau 2006 M.
- Jamal Azzun, Hushul al Tahani bi al Kutub al Muhdah ila Muhaddits al Sham Muhammad Nasir al Din al Albani , Maktabat al Maarif, Riyadh, cetakan pertama, 1428 H.
- al Durar al Mutalaliah bi Naqd al Imam al Allamah Muhammad Nasiruddin al Albani Rahimahullah Rahimahullah fi Furayyah Muwafaqatihi al Murjiah, Maktabat al Furqan, Uni Emirat Arab, cetakan pertama, 1423 H atau 2002 M.
- Bakr bin Abdullah Abu Zaid, al Rudud, Dar al Ashimah.
- Isham Musa Hadi, al Rawdh al Dani fi al Fawaid al Haditsiyyah li al Allamah Muhammad Nasir al Din al Albani .
- Muhammad Nasir al Din al Albani , Silsilat al Ahadits al Sahihah.
- Muhammad Nasir al Din al Albani , Silsilat al Ahadits al Dhaifah wa al Maudhuah wa Atsaruha al Sayyi fi al Ummah.
- Abu Asma al Mishri Atiyah bin Shidqi Ali Salim Audah, Shafahat Baidha min Hayat al Imam Muhammad Nasir al Din al Albani , Dar al Atsar, Mesir, cetakan kedua, 1422 H atau 2001 M.
- Ibrahim Muhammad al Ali, Muhammad Nasir al Din al Albani : Muhaddits al Ashr wa Nashir al Sunnah, Dar al Qalam, Damaskus, cetakan kedua, 2003 M.
- Muhammad Bayumi, al Imam al Albani : Hayatuhu, Da watuhu, Juhuduhu fi Khidmat al Sunnah.
- Isham Hadi, Muhaddits al Ashr al Imam Muhammad Nasiruddin al Albani Rahimahullah Kama Araftuhu.
- Abdullah bin Khamis, Syahr fi Dimasyq.
- Muhammad Rashid Rida, tulisan tulisan dalam majalah Al Manar.
- Al Iraqi, al Mughni an Haml al Asfar fi Takhrij ma fi al Ihya min al Akhbar.
- Al Suyuthi, Tadrib al Rawi.
