Atheisme: Pengertian dan Sejarah Perkembangan
Atheisme merupakan salah satu aliran pemikiran yang berkaitan dengan persoalan paling mendasar dalam kehidupan manusia: apakah alam semesta memiliki Pencipta, dari mana kehidupan berasal, apa hakikat manusia, dan apakah kehidupan berakhir dengan kematian atau berlanjut setelahnya. Dalam perkembangannya, atheisme tidak hanya tampil sebagai penolakan terhadap keberadaan Tuhan, tetapi juga berkembang menjadi pandangan tertentu tentang alam, manusia, ilmu pengetahuan, moralitas, dan kehidupan.
Pembahasan tentang atheisme karena itu tidak cukup hanya dengan menyebut bahwa atheisme berarti tidak percaya kepada Tuhan. Di baliknya terdapat sejarah pemikiran yang panjang. Gagasan tentang penolakan terhadap Tuhan telah dikenal dalam berbagai bentuk sejak masa kuno, lalu mengalami perkembangan pada masa filsafat Yunani dan Romawi, muncul dalam berbagai bentuk di dunia Arab dan Islam, kemudian berkembang semakin luas di Eropa modern hingga menjadi salah satu arus pemikiran yang berpengaruh dalam kehidupan era modern saat ini.
Pengertian Atheisme
Istilah atheisme dalam bahasa Arab dikenal dengan kata الإلحاد (al-ilhad). Secara bahasa, kata ilhad berasal dari akar kata لَحَدَ) ) yang berarti menyimpang, berpaling, atau keluar dari suatu jalan.
Ibn Manzur dalam Lisan al-Arab menjelaskan bahwa lahada bermakna mala wa hada, yaitu berpaling dan menyimpang. Kata tersebut juga digunakan untuk menunjukkan tindakan berpaling dari agama Allah dan meninggalkan jalan yang benar.
Makna yang serupa juga dijelaskan dalam Mukhtar al-Sihah. Al-Razi menerangkan bahwa lahada berarti berpaling dan menyimpang dari sesuatu.
Sedangkan al-Mujam al-Wasit mendefinisikan mulhid sebagai orang yang menyimpang dari agama dan mencelanya.
Dalam penggunaan istilah keagamaan, makna tersebut berkembang menjadi penyimpangan dari kebenaran dan dari jalan keimanan. Al-Tabari menjelaskan bahwa ilhad fi al-din merupakan tindakan berpaling dari agama dan meninggalkannya.
Adapun dalam pengertian modern, atheisme secara khusus berarti mengingkari keberadaan Tuhan. Atheisme modern memandang bahwa alam semesta tidak memiliki Pencipta, materi bersifat azali dan abadi, sedangkan perubahan yang terjadi di dalam alam berlangsung karena kebetulan atau karena tabiat dan hukum materi itu sendiri. Kehidupan, kesadaran, serta pemikiran manusia dipandang sebagai hasil perkembangan materi secara mandiri.
Abd al-Rahman Hasan Habankah al-Maydani menjelaskan bahwa kaum ateis modern adalah orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan yang menciptakan alam, mengatur segala sesuatu dengan ilmu dan hikmah, serta menjalankannya dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Mereka memandang alam atau materi pertama sebagai sesuatu yang azali, perubahan-perubahan alam berlangsung karena kebetulan atau hukum materi, dan kehidupan beserta kesadaran manusia merupakan hasil perkembangan materi itu sendiri.
Dengan demikian, atheisme modern pada dasarnya berdiri di atas penolakan terhadap Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur alam, serta usaha menjelaskan realitas melalui materi dan hukum-hukum alam semata.
Atheisme dalam Sejarah Yunani
Gagasan tentang alam yang tidak membutuhkan Pencipta telah dikenal sejak masa filsafat Yunani.
Salah satu tokoh yang terkenal dalam sejarah ini adalah Demokritus. Ia dikenal dengan pandangan atomisme yang menjelaskan alam sebagai materi dan gerak yang terdiri dari atom-atom. Atom-atom tersebut dipandang sebagai sesuatu yang azali dan bergerak dengan sendirinya sejak dahulu.
Demokritus termasuk tokoh paling awal yang disebut dalam pembahasan mengenai pemikiran ateistik atau materialistik. Namanya dicatat bersama Epikuros dalam daftar tokoh yang memiliki pengaruh dalam perkembangan pemikiran tersebut. Demokritus disebut hidup pada 470–361 SM, sedangkan Epikuros hidup pada 341–270 SM.
Atheisme pada Masa Romawi
Pada masa Romawi muncul Lukretius, ia berusaha menghidupkan kembali pemikiran Demokritus. Ia berpendapat bahwa jiwa dan akal merupakan hasil materi semata dan menolak adanya Pencipta alam semesta.
Dengan demikian, pemikiran materialistik terus bertahan dan mengalami perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dahriyyah di Jazirah Arab
Pemikiran yang mengingkari kehidupan akhirat dan menganggap alam tidak memiliki permulaan juga telah dikenal di Jazirah Arab sebelum Islam.
Kelompok yang dikenal dengan istilah Dahriyyah disebut memiliki pandangan bahwa alam tidak memiliki awal dan bahwa kehidupan manusia hanya terbatas pada kehidupan dunia. Al-Quran menggambarkan ucapan mereka:
﴿وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ﴾
“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’ Padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu; mereka hanyalah menduga-duga.” (QS. al-Jathiyah: 24).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa gagasan yang membatasi kehidupan hanya pada dunia dan menolak kehidupan setelah kematian bukanlah gagasan baru dalam sejarah manusia.
Atheisme pada Masa Abbasiyah
Setelah Islam berkembang, perdebatan tentang dasar-dasar keimanan juga muncul dalam lingkungan kaum muslimin. Berbagai kelompok pemikiran lahir dan sebagian di antaranya mempertanyakan persoalan kenabian, wahyu, dan keberadaan Tuhan.
Salah satu tokoh yang terkenal dalam pembahasan ini adalah Abu al-Hasan Ahmad ibn Yahya ibn Ishaq al-Rawandi, yang dikenal sebagai Ibn al-Rawandi. Ia lahir sekitar tahun 210 H dan wafat sekitar tahun 250 H. Ia pernah hidup dalam lingkungan pendidikan Islam dan pada masa awal kehidupannya digambarkan sebagai orang yang menjaga kewajiban agama. Namun kemudian ia dikenal karena pemikiran yang sangat kritis terhadap ajaran Islam, termasuk pengingkaran terhadap kenabian dan keberadaan Tuhan.
Pemikirannya mendapat bantahan dari para ulama dan intelektual pada zamannya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa perdebatan mengenai masalah ketuhanan dan kenabian telah dikenal dalam khazanah intelektual Islam sejak masa awal.
Atheisme dan Kondisi Eropa Abad Pertengahan
Perkembangan atheisme modern tidak dapat dipisahkan dari perubahan sejarah Eropa.
Pada masa pertengahan, kehidupan keagamaan Eropa mengalami berbagai persoalan. Di antaranya adalah munculnya pandangan asketisme yang ekstrem, penyalahgunaan otoritas keagamaan, fanatisme dalam perbedaan, dan berbagai praktik yang dinilai telah menjauhkan agama dari tujuan moralnya.
Kondisi tersebut berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang. Dan berbagai penyimpangan tersebut berkembang sejak sekitar 486 hingga 1495 M.
Kritik terhadap keadaan tersebut kemudian semakin kuat. Sebagian pemikir Eropa mulai memandang bahwa agama telah menjadi sumber konflik dan penghambat perkembangan akal dan pengetahuan. Dari sinilah lahir kecenderungan untuk memisahkan agama dari kehidupan intelektual, sosial, dan politik.
Perubahan tersebut menjadi salah satu latar penting bagi perkembangan sekularisme dan kemudian atheisme modern.
Perkembangan Atheisme pada Era Modern
Memasuki era Modern, atheisme mengalami perkembangan yang jauh lebih besar. Ia tidak lagi hanya menjadi pandangan individual, melainkan berkembang menjadi filsafat, metode berpikir, dan bagian dari peradaban kelompok tertentu.
Perkembangan ilmu pengetahuan, industrialisasi, perubahan sosial, dan kritik terhadap agama membuat semakin banyak pemikir mencoba menjelaskan alam semesta dan kehidupan manusia tanpa menggunakan konsep Tuhan sebagai bagian utama dari penjelasan.
Sejak abad ke-19, materialisme berkembang semakin kuat. Pada masa tersebut berbagai ilmu dan pemikiran modern semakin sering dibangun di atas dasar materialistik dan penjelasan yang tidak memasukkan Tuhan sebagai faktor dalam menjelaskan alam.
Tokoh-Tokoh Penting dalam Perkembangan Pemikiran Ateistik Modern
Di antara tokoh-tokoh perkembangan atheisme modern adalah Thomas Hobbes (1588–1679), David Hume (1711–1776), Arthur Schopenhauer (1788–1860), Karl Marx (1818–1883), Ludwig Buchner (1824–1899), Friedrich Nietzsche (1844–1900), Herbert Spencer (1820–1903), dan Bertrand Russell (1873–1970).
Mereka berasal dari latar belakang dan bidang yang berbeda. Sebagian bergerak dalam filsafat, sebagian dalam ilmu sosial, sebagian dalam pemikiran ekonomi, sedangkan yang lain berpengaruh dalam pemikiran tentang manusia dan masyarakat.
Karena itu, perkembangan atheisme modern tidak dapat dianggap sebagai hasil pemikiran satu tokoh. Ia merupakan hasil akumulasi berbagai gagasan yang berkembang selama berabad-abad.
Schopenhauer dan Kritik terhadap Agama
Salah satu gagasan penting yang berkembang pada masa modern adalah pandangan bahwa agama merupakan hasil ciptaan manusia untuk menjelaskan sesuatu yang belum mereka pahami.
Pandangan seperti ini disebut dalam pembahasan tentang Arthur Schopenhauer. Agama dipandang sebagai produk manusia untuk menjelaskan berbagai fenomena alam, psikologi, dan kehidupan sosial yang belum mampu dijelaskan dengan cara lain.
Cara pandang tersebut kemudian menjadi salah satu dasar penting dalam kritik filsafat modern terhadap agama.
Karl Marx dan Materialisme Sosial
Karl Marx merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perkembangan materialisme modern. Pemikirannya berfokus pada kondisi material manusia, hubungan ekonomi, struktur masyarakat, dan perkembangan sejarah.
Pengaruh Marx kemudian melampaui dunia filsafat. Pemikirannya menjadi salah satu dasar ideologi komunisme dan diterapkan dalam berbagai sistem politik pada abad ke-20.
Dalam pembahasan mengenai perkembangan atheisme, komunisme menjadi salah satu bentuk penting karena keyakinan ateistik tidak lagi hanya berada dalam ranah individu, tetapi masuk ke dalam sistem politik dan kehidupan negara.
Darwin, Nietzsche, dan Freud
Perkembangan atheisme modern juga dikaitkan dengan Charles Darwin, Friedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud.
Darwin memberikan teori tentang evolusi biologis. Nietzsche mengembangkan kritik tajam terhadap agama dan sejumlah nilai tradisional. Freud mengembangkan pendekatan psikologis terhadap manusia dan agama.
Ketiga tokoh tersebut berasal dari bidang yang berbeda, tetapi gagasan mereka kemudian menjadi bagian dari perdebatan besar mengenai hubungan antara manusia, agama, alam, dan kehidupan. Naskah menyebut bahwa perkembangan mereka turut membentuk pola pemikiran modern yang berusaha menjelaskan fenomena alam, psikologi, dan masyarakat tanpa menjadikan keberadaan Tuhan sebagai bagian utama dari penjelasannya.
Atheisme sebagai Sistem Ideologi
Salah satu perubahan terbesar dalam sejarah atheisme adalah ketika ia berubah dari pemikiran menjadi ideologi.
Pada masa modern, materialisme tidak hanya memengaruhi filsafat, tetapi juga memasuki bidang politik. Komunisme menjadi contoh paling jelas dari hal tersebut.
Dalam pembahasan mengenai perkembangan atheisme di dunia Timur, Uni Soviet disebut sebagai salah satu negara besar yang berdiri di atas ideologi komunisme. Sistem tersebut menolak perkara gaib dan memandang kehidupan terutama dalam kerangka material.
Perubahan ini menjadikan atheisme memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada sekadar pandangan pribadi.
Pada tahap tertentu, atheisme bahkan berubah menjadi ideologi negara, sebagaimana terjadi dalam sejarah komunisme.
Karakteristik Atheisme Modern
Atheisme modern memiliki sejumlah karakteristik utama.
Pertama, pengingkaran terhadap keberadaan Tuhan sebagai Pencipta dan Pengatur alam.
Kedua, pandangan bahwa materi merupakan realitas dasar, bahkan dalam sebagian pandangan materialistik materi dianggap azali dan tidak bermula.
Ketiga, penjelasan terhadap kehidupan melalui proses material, tanpa menjadikan penciptaan oleh Tuhan sebagai penjelasan.
Keempat, pengingkaran terhadap kehidupan akhirat dan pembatasan kehidupan manusia pada dunia.
Kelima, penolakan terhadap realitas gaib, termasuk mukjizat dan wahyu, ketika perkara tersebut dianggap tidak dapat dijelaskan oleh hukum alam.
Keenam, pemahaman terhadap manusia sebagai bagian dari alam material, sehingga kesadaran dan pemikiran manusia dipandang sebagai hasil perkembangan materi.
kesimpulan
Persoalan yang dibawa oleh atheisme tetap merupakan persoalan yang sangat mendasar. Apakah alam semesta memiliki Pencipta? Apakah materi benar-benar azali? Apakah kehidupan dapat dijelaskan sepenuhnya oleh proses material? Dari mana kesadaran manusia berasal? Apa dasar moralitas? Apakah manusia memiliki tujuan hidup? Dan apakah kematian benar-benar menjadi akhir dari keberadaan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai atheisme pada hakikatnya adalah perdebatan mengenai asal-usul alam, hakikat manusia, dasar nilai, dan tujuan kehidupan.
Bagi seorang Muslim, jawaban atas persoalan tersebut berangkat dari tauhid. Alam semesta memiliki Pencipta, kehidupan manusia memiliki tujuan, manusia tidak diciptakan tanpa maksud, dan kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan. Ada kehidupan setelah kematian, kebangkitan, hisab, surga, dan neraka.
Karena itu, menghadapi atheisme tidak cukup dengan celaan atau penolakan tanpa pengetahuan. Pemikiran tersebut perlu dipahami akar sejarahnya, dikenal argumentasinya, kemudian dijawab dengan ilmu, argumentasi yang kuat, dan petunjuk wahyu.
Daftar Sumber dan Maraji
Ibn Manzur, Jamal al-Din al-Misri al-Afriqi, Lisan al-Arab, cet. 2, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1418 H/1998 M, jil. 11, hlm. 112, مادة «لحد».
Muhammad ibn Abi Bakr ibn Abd al-Qadir al-Razi, Mukhtar al-Sihah, cet. 1, Beirut: Dar Ihya al-Turath al-Arabi, 1419 H/1999 M, hlm. 344–345, مادة «لحد».
Ibrahim Mustafa dkk., Al-Mujam al-Wasit, jil. 2, hlm. 823, مادة «لحد».
Al-Tabari, Abu Jafar Muhammad ibn Jarir, Jami al-Bayan an Tawil Ay al-Quran, tahqiq Ahmad Muhammad Shakir, cet. 1, Beirut: Muassasat al-Risalah, 1420 H/2000 M, jil. 15, hlm. 233; jil. 17, hlm. 152.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Badai al-Fawaid, jil. 1, hlm. 169–170; Madarij al-Salikin, jil. 1, hlm. 29–30.
Al-Raghib al-Asfahani, Al-Mufradat, hlm. 737.
Ibn Abi Hatim, Abu Muhammad Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Idris, Tafsir Ibn Abi Hatim, tahqiq Asad Muhammad al-Tayyib, cet. 3, Makkah: Maktabat Nizar Mustafa al-Baz, 1419 H/1999 M, jil. 4, hlm. 127.
Abd al-Rahman ibn Muhammad al-Dawsari, Al-Ajwibah al-Mufidah li Muhimmat al-Aqidah, hlm. 40.
Abd al-Rahman Hasan Habankah al-Maydani, Kawashif Zuyuf fi al-Madhahib al-Fikriyyah al-Muasirah, hlm. 409–411, 419–420.
Muhammad Qutb, Madhahib Fikriyyah Muasirah, hlm. 605.
Al-Mawsuah al-Falsafiyyah, hlm. 426.
Abd al-Rahman Abd al-Khaliq, Al-Ilhad: Asbab Hadhihi al-Zahirah wa Turuq Ilajiha, Riyadh, cet. 2, 1404 H, hlm. 5–8.
Muhammad Ahmad Bashmil, Kayfa Nuharib al-Ilhad, cet. 1, 1387 H/1967 M, hlm. 5–8.
Abd al-Aziz Husayn, Bayna al-Ilhad wa al-Tawhid: Qadiyyat Difa, cet. 1, Kairo: Matbaat al-Saadah, 1389 H/1969 M, hlm. 18–19.
Muhammad Taqi ibn Ismail al-Amir al-Yamani al-Sanani, Asr al-Ilhad: Khalfiyyatuhu al-Tarikhiyyah wa Bidayat Nihayatihi, cet. 1, Beirut: al-Maktabah al-Thaqafiyyah, 1411 H/1991 M, hlm. 69–71.
Umar Rida Kahhalah, Mu’jam al-Muallifin, cet. 2, Beirut: Dar Sadir, 1997 M, jil. 2, hlm. 106.
Will Durant, Qissat al-Falsafah, hlm. 388 dan seterusnya.
Sarah bint Abd al-Muhsin, Qadiyyat al-Inayah wa al-Musadafah fi al-Fikr al-Gharbi, hlm. 37 dan seterusnya.




