Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,
Pembahasan tentang Syiah bukan semata-mata pembahasan mengenai perbedaan kelompok atau perselisihan politik yang telah lama berlalu.
Di baliknya terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar: penyimpangan dalam memahami kedudukan para sahabat, konsep imamah, sikap berlebihan terhadap Ahlul Bait, serta fanatisme kelompok yang dalam beberapa periode sejarah berubah menjadi kekuatan politik dan melahirkan penderitaan besar bagi kaum muslimin.
Sejarah telah mencatat bagaimana sebagian kelompok dan dinasti yang berafiliasi kepada Syiah pernah terlibat dalam penumpahan darah, penghinaan terhadap para sahabat, tekanan terhadap ulama Ahlus Sunnah, pemaksaan mazhab, penodaan Tanah Haram, hingga kekerasan terhadap masyarakat muslim yang berbeda keyakinan dengan mereka.
Karena itu, mengenal sejarah Syiah bukan sekadar membuka kembali konflik masa lalu. Ia merupakan bagian dari memahami bahwa penyimpangan akidah tidak selalu berhenti sebagai gagasan di dalam kitab. Ketika bertemu fanatisme, kekuasaan, dan ambisi politik, penyimpangan itu dapat berubah menjadi kebijakan, intimidasi, bahkan pertumpahan darah.
Tulisan ini hendak ditunjukkan adalah sesuatu yang lebih penting: bagaimana sejumlah ajaran, fanatisme, dan gerakan politik Syiah dalam perjalanan sejarah telah melahirkan konsekuensi serius terhadap Islam dan kaum muslimin.
Melalui tulisan ini kita sedang membaca jejak sejarah. Siapa yang menghina para sahabat, dicatat. Siapa yang menekan ulama, dicatat. Siapa yang memaksakan mazhab dengan kekuasaan, dicatat. Siapa yang menumpahkan darah kaum muslimin, dicatat. Siapa yang menodai kehormatan Tanah Haram, juga dicatat.
Sebab salah satu cara menjaga umat adalah dengan mengenali sejarah penyimpangan agar kesalahan yang sama tidak kembali dianggap sebagai sesuatu yang ringan.
Dengan kerangka ini, mari kita membuka beberapa lembaran sejarah tentang tindakan kelompok dan dinasti Syiah yang meninggalkan luka panjang dalam perjalanan umat Islam.
1. Qaramithah Membantai Jamaah Haji dan Mencuri Hajar Aswad
Di antara tragedi paling mengerikan dalam sejarah Tanah Haram terjadi pada tahun 317 H/930 M.
Abu Thahir al-Jannabi, pemimpin Qaramithah Bahrain, menyerbu Makkah ketika musim haji. Mereka membantai jamaah haji di sekitar Ka’bah, merampas harta mereka, dan membawa pergi Hajar Aswad.
Ibnu Katsir ketika menceritakan peristiwa tahun 317 H menyebut bahwa mereka membunuh manusia di berbagai penjuru Makkah, bahkan di Masjidil Haram dan di sekitar Ka’bah. Sebagian jenazah korban dimasukkan ke sumur Zamzam.
Kemudian Hajar Aswad dicabut dari tempatnya dan dibawa ke wilayah kekuasaan Qaramithah.
Peristiwa ini tercatat sangat kuat dalam sumber-sumber sejarah klasik.
Imam adz-Dzahabi ketika menyebut Abu Thahir Sulaiman al-Qarmathi menulis,
الذي سار إلى مكة في سبع مائة فارس، فاستباح الحجيج كلهم في الحرم، واقتلع الحجر الأسود، وردم زمزم بالقتلى
“Ia yang bergerak menuju Makkah bersama 700 pasukan berkuda, menghalalkan darah jamaah haji, mencabut Hajar Aswad, dan memenuhi Zamzam dengan orang-orang yang terbunuh.”
(Siyar A‘lam an-Nubala’, biografi Abu Thahir al-Qarmathi).
Hajar Aswad baru dikembalikan sekitar dua puluh tahun kemudian. Encyclopaedia Iranica juga mencatat serangan tahun 930 M tersebut, pembantaian terhadap jamaah haji dan penduduk Makkah, serta dibawanya Hajar Aswad menuju al-Ahsa.
Qaramithah tumbuh dari lingkungan dakwah Ismailiyah awal, tetapi kemudian mempunyai perkembangan ideologi dan politik sendiri. Karena itu, tindakan Qaramithah tidak boleh secara serampangan dibebankan kepada seluruh penganut Syiah, apalagi Syiah Imamiyah kontemporer.
Namun secara sejarah, keterkaitan Qaramithah dengan gerakan Batini-Ismaili merupakan perkara yang dikenal dalam literatur sejarah.
2. Dinasti Fatimiyah dan Pembunuhan Imam Abu Bakr an-Nabulsi
Peristiwa berikutnya terjadi pada masa kekuasaan Fatimiyah-Ismailiyah.
Salah satu kisah yang sangat terkenal adalah pembunuhan Imam Abu Bakr Muhammad bin Ahmad an-Nabulsi, seorang ulama Sunni dari Palestina.
Imam adz-Dzahabi memberikan judul biografinya dengan:
الشَّهِيْدُ
“Seorang syahid.”
Adz-Dzahabi meriwayatkan dari Abu Dzarr al-Hafizh,
سجنه بنو عبيد ، وصلبوه على السنة
“Bani Ubaid memenjarakannya dan menyalibnya karena Sunnah.”
Kemudian disebutkan bahwa tubuh beliau dikuliti.
Dalam riwayat tersebut, ketika penguasa mempertanyakan sikap keras beliau terhadap Fatimiyah, an-Nabulsi menjelaskan bahwa menurutnya mereka telah:
فإنكم غيرتم الملة ، وقتلتم الصالحين
“Kalian telah mengubah agama dan membunuh orang-orang saleh.”
(Siyar A‘lam an-Nubala’, 16/148–149 dalam sebagian cetakan).
Kisah kematian an-Nabulsi juga disebut oleh para ahli sejarah sesudahnya, di antaranya Ibnu Katsir dan al-Maqrizi.
Namun perlu dicatat: pemerintahan Fatimiyah berlangsung lama dan kebijakannya terhadap kaum Sunni tidak selalu sama pada setiap khalifah. Mayoritas masyarakat Mesir bahkan tetap Sunni sepanjang sebagian besar masa Fatimiyah. Karena itu, tidak tepat menggambarkan seluruh dua abad kekuasaan Fatimiyah sebagai satu pola penindasan yang seragam.
3. Al-Hakim bi Amrillah dan Politik Penghinaan terhadap Para Sahabat
Di antara penguasa Fatimiyah yang paling kontroversial adalah al-Hakim bi Amrillah (memerintah 386–411 H/996–1021 M).
Adz-Dzahabi mencatat bahwa di antara kebijakannya adalah perintah agar celaan terhadap para sahabat ditulis di tempat-tempat umum.
Beliau menulis,
أمر بسب الصحابة – رضي الله عنهم -، وبكتابة ذلك على أبواب المساجد والشوارع
“Dia memerintahkan pencelaan terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan memerintahkan agar hal itu ditulis di pintu-pintu masjid dan jalan-jalan.”
(Siyar A‘lam an-Nubala’, biografi al-Hakim bi Amrillah).
Penelitian modern juga menunjukkan bahwa hubungan pemerintahan al-Hakim dengan kaum Sunni mengalami beberapa fase: represi, toleransi, upaya rekonsiliasi, kemudian kembali kepada kebijakan represif. Dengan demikian gambaran sejarahnya memang lebih kompleks daripada sekadar satu warna.
Ini penting dicatat.
Keadilan ilmiah menuntut kita mengatakan keburukan ketika memang ada bukti, tetapi juga tidak menambahinya dengan cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
4. Dinasti Buwaihiyah dan Munculnya Konflik Sektarian Terbuka di Baghdad
Pada tahun 334 H/945 M, Dinasti Buwaihiyah yang berafiliasi kepada Syiah menguasai Baghdad. Khalifah Abbasiyah tetap dipertahankan, namun kekuasaan politik sesungguhnya berada di tangan para amir Buwaihiyah.
Di masa Mu‘izz ad-Daulah, ritual-ritual identitas Syiah mulai memperoleh dukungan resmi negara.
Pada tahun 352 H/963 M, ia memerintahkan penutupan pasar pada hari Asyura dan mengatur penyelenggaraan perkabungan Husain secara terbuka.
Sumber sejarah menyebut,
ألزم معزّ الدولة الناس بغلق الأسواق
“Mu‘izz ad-Daulah mewajibkan masyarakat menutup pasar.” (Tarikh Al-Khulafa’, hal. 431)
Kemudian diselenggarakan berbagai ekspresi perkabungan secara publik.
Masalahnya bukan semata-mata peringatan Asyura.
Ketika simbol sektarian memperoleh dukungan penguasa dan ruang publik menjadi arena saling provokasi, bentrokan Sunni–Syiah semakin sering terjadi.
Encyclopaedia Iranica mencatat kerusuhan sektarian di Baghdad pada beberapa tahun seperti 949, 951, 959, 962, dan 964 M, dan menjelaskan bahwa prosesi keagamaan menjadi salah satu titik pertemuan konflik tersebut.
5. Benarkah Ibn al-‘Alqami Menyerahkan Baghdad kepada Hulagu?
Ini salah satu cerita yang paling sering disebut ketika membahas sejarah Syiah.
Tahun 656 H/1258 M, pasukan Mongol di bawah Hulagu Khan menghancurkan Baghdad. Khalifah al-Musta‘shim dibunuh dan kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad berakhir.
Sejumlah sejarawan Sunni klasik menuduh wazir Abbasiyah, Muayyaduddin Ibn al-‘Alqami, yang bermazhab Syiah, berperan melemahkan pertahanan Baghdad dan melakukan komunikasi dengan Mongol.
Ibnu Katsir termasuk ulama yang sangat keras mengkritik Ibn al-‘Alqami dalam al-Bidayah wa an-Nihayah pada peristiwa tahun 656 H.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga menggunakan kasus hubungan sebagian tokoh Rafidhah dengan Mongol sebagai argumentasi dalam Minhaj as-Sunnah.
Namun dalam artikel yang ingin bertanggung jawab secara ilmiah, ada catatan penting:
Tuduhan detail “Ibn al-‘Alqami sengaja menyerahkan Baghdad” masih diperdebatkan.
Penelitian sejarah modern menunjukkan bahwa kisah tersebut berkembang sangat kuat dalam memori konflik Sunni–Syiah, sementara tingkat keterlibatan dan motivasi Ibn al-‘Alqami tidak sesederhana narasi populer.
Kajian mengenai sumber-sumber Syiah sendiri juga menunjukkan adanya riwayat yang mengakui beberapa bentuk kerja sama tokoh Syiah dengan Mongol, sementara sumber lainnya membantah tuduhan tersebut.
Karena itu, yang lebih aman secara akademik adalah mengatakan:
Keberadaan Ibn al-‘Alqami sebagai wazir Syiah pada saat jatuhnya Baghdad adalah fakta. Tuduhan bahwa ia menjadi aktor utama pengkhianatan merupakan pendapat yang terdapat dalam sejumlah sumber klasik Sunni, tetapi detail dan bobot tanggung jawabnya masih diperdebatkan para sejarawan.
Ini lebih ilmiah daripada mengulang setiap kisah polemik sebagai fakta yang pasti.
6. Dinasti Safawi: Ketika Syiah Itsna ‘Asyariyah Dijadikan Mazhab Negara dengan Kekuasaan
Jika ada satu periode yang dokumentasinya sangat kuat mengenai pemaksaan identitas Syiah terhadap masyarakat Sunni, maka salah satunya adalah berdirinya Dinasti Safawi di Iran.
Tahun 907 H/1501 M, Shah Ismail I menguasai Tabriz dan menetapkan Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sebagai agama resmi kerajaan.
Sebelumnya, sebagian besar wilayah Iran merupakan masyarakat Muslim Sunni.
Encyclopaedia Iranica menyebut berdirinya Safawi sebagai titik balik penting sejarah Iran, salah satunya karena penegakan Syiah sebagai agama negara.
Penelitian akademik tentang Safawi menunjukkan bahwa Shah Ismail melakukan kekerasan terhadap kelompok-kelompok agama yang menolak doktrin resmi negara.
Sebuah penelitian di Modern Asian Studies menyebut bahwa ketika mengambil kekuasaan, Shah Ismail:
- membantai sebagian kelompok agama,
- memenjarakan,
- melakukan intimidasi,
- terutama terhadap kelompok yang mempunyai kecenderungan Sunni dan menolak doktrin resmi kerajaan.
Pencelaan ritual terhadap tokoh-tokoh yang dimuliakan kaum Sunni juga dipakai sebagai simbol loyalitas politik-keagamaan.
Tetapi ada hal yang juga perlu diluruskan.
Tidak benar bahwa seluruh rakyat Iran berubah menjadi Syiah dalam semalam karena pedang.
Proses Syiahisasi berlangsung beberapa generasi.
Penelitian Rosemary Stanfield Johnson menunjukkan bahwa komunitas Sunni masih bertahan lama, bahkan terdapat catatan mengenai penganiayaan terhadap Sunni sampai tahun 1608 M.
Jadi proses tersebut merupakan gabungan:
- tekanan politik,
- penguasaan lembaga keagamaan,
- pendidikan,
- insentif sosial-ekonomi,
- propaganda,
- ritual negara,
- dan dalam beberapa keadaan, kekerasan fisik.
Ini lebih dekat kepada gambaran sejarah yang sebenarnya.
7. Milisi Syiah Irak dan Kekerasan terhadap Warga Sunni pada Era Modern
Sejarah sektarian ternyata belum berakhir.
Ketika ISIS menguasai sebagian besar Irak pada 2014, masyarakat Syiah sendiri menjadi korban kekejaman luar biasa dari ISIS. Ribuan orang dibunuh, termasuk tragedi Camp Speicher.
Kejahatan ISIS terhadap Syiah, Yazidi, Kristen, dan masyarakat Sunni yang menentangnya tidak boleh ditutupi.
Namun dosa ISIS juga tidak menghalalkan pembalasan terhadap warga Sunni yang tidak terlibat.
Pada periode perang melawan ISIS, sejumlah milisi pro-pemerintah Irak yang mayoritas Syiah melakukan pelanggaran berat terhadap masyarakat Sunni.
Human Rights Watch menyebut kelompok seperti:
- Badr Brigades,
- Asa’ib Ahl al-Haq,
- Imam Ali Battalions,
dan kelompok lain melakukan berbagai pelanggaran, termasuk penghancuran rumah dan pertokoan di daerah Sunni yang direbut kembali.
Human Rights Watch juga mendokumentasikan:
- pembunuhan tanpa proses hukum,
- penghilangan paksa,
- penyiksaan,
- penghancuran rumah,
- serta tindakan balas dendam terhadap penduduk sipil.
Amnesty International bahkan menerbitkan laporan berjudul:
Absolute Impunity: Militia Rule in Iraq
Dalam laporan tersebut Amnesty menyatakan bahwa milisi Syiah yang didukung pemerintah Irak menculik dan membunuh puluhan warga sipil Sunni, dengan indikasi kejahatan perang.
Sekali lagi:
Yang bertanggung jawab adalah pelaku dan organisasi yang melakukan kejahatan tersebut, bukan seluruh orang Syiah di Irak.
Kesimpulan
Di antara peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah adalah:
- 317 H — Qaramithah menyerbu Makkah, membantai jamaah haji dan membawa Hajar Aswad.
- abad ke-4 H — sejumlah penguasa Fatimiyah melakukan represi terhadap tokoh Sunni; Abu Bakr an-Nabulsi dibunuh dengan cara yang sangat kejam.
- masa al-Hakim — kebijakan pencelaan terhadap sahabat dan fase-fase represi sektarian.
- masa Buwaihiyah — identitas mazhab memperoleh dukungan politik negara dan konflik sektarian Baghdad meningkat.
- 656 H — keterlibatan Ibn al-‘Alqami dalam jatuhnya Baghdad menjadi tuduhan besar dalam sumber Sunni klasik, namun kadar tanggung jawabnya masih diperdebatkan penelitian modern.
- abad ke-10 H/16 M — Safawi menetapkan Syiah Imamiyah sebagai mazhab negara dan melakukan tekanan serta kekerasan terhadap sebagian komunitas Sunni.
- abad ke-21 — sebagian milisi Syiah Irak melakukan penculikan, pembunuhan, penghilangan paksa, dan penghancuran wilayah Sunni, sebagaimana didokumentasikan Amnesty International dan Human Rights Watch.
Allahu a‘lam.
Referensi Utama
- Ibnu Katsir, al-Bidayah wa an-Nihayah, terutama peristiwa tahun 317 H dan 656 H.
- adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubala’, biografi Abu Thahir al-Qarmathi, Abu Bakr an-Nabulsi, dan al-Hakim bi Amrillah.
- Ibnu al-Atsir, al-Kamil fi at-Tarikh, peristiwa Qaramithah dan pemerintahan Buwaihiyah.
- Ibnu al-Jauzi, al-Muntazham fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam.
- al-Maqrizi, Itti‘azh al-Hunafa bi Akhbar al-A’immah al-Fatimiyyin al-Khulafa’.
- al-Maqrizi, al-Muqaffa al-Kabir.
- Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah — terutama sebagai sumber mengenai penilaian ulama Sunni terhadap Rafidhah dan peristiwa Mongol; penggunaannya perlu dibedakan dari penelitian sejarah modern.
- Roger Savory, Iran Under the Safavids.
- Farhad Daftary, kajian sejarah Ismailiyah dan Qaramithah.
- Paul E. Walker, Caliph of Cairo: Al-Hakim bi-Amr Allah, 996–1021.
- Rula Jurdi Abisaab, penelitian mengenai ulama Jabal ‘Amil dan pembentukan Syiah Safawi.
- Rosemary Stanfield Johnson, “Sunni Survival in Safavid Iran: Anti-Sunni Activities during the Reign of Tahmasp I.”
- Christine D. Baker, Medieval Islamic Sectarianism, khususnya pembahasan Buwaihiyah di Baghdad.
- Encyclopaedia Iranica, “Carmatians”, “Safavid Dynasty”, dan “Shi‘ites of Iraq”.
- Amnesty International, Absolute Impunity: Militia Rule in Iraq (2014).
- Human Rights Watch, laporan Irak 2015–2016 mengenai pelanggaran milisi pro-pemerintah.
Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.



