Perkembangan Syi’ah Dari Perselisihan Politik Menjadi Sekte Akidah – Part 1
Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Pada masa Rasulullah ﷺ (w. 11 H), istilah Syi’ah belum dikenal sebagai nama sebuah mazhab akidah. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, kaum muslimin dipimpin oleh Abu Bakar (w. 13 H), kemudian Umar (w. 23 H), Utsman (w. 35 H), dan Ali (w. 40 H) radhiyallahu ‘anhum. Di masa inilah terjadi berbagai fitnah besar yang akhirnya melahirkan kelompok-kelompok yang berbeda pandangan.
Insyaallah artikel ini membahas perkembangan tersebut secara ringkas.
Fitnah Setelah Wafatnya Utsman bin Affan
Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dibunuh pada tahun 35 H. Peristiwa ini menjadi awal fitnah besar di tengah kaum muslimin. Faktor-faktor yang melatarbelakangi yang disebutkan para ulama antara lain:
- Meluasnya wilayah Islam sehingga muncul berbagai kepentingan politik. (baca: Al-Bidayah wa An-Nihayah, Jilid 7, pembahasan peristiwa tahun 30–35 H);
- Adanya provokasi dari kelompok-kelompok pemberontak. (baca: Al-Bidayah wa An-Nihayah,Jilid 7, bab Peristiwa Pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan);
- Penyebaran berita dan tuduhan terhadap Utsman. (baca: Al-‘Awashim min Al-Qawashim,
Bab Pembelaan untuk ‘Utsman bin ‘Affan); - Berkumpulnya para pemberontak dari Mesir, Kufah, dan Bashrah. (Al-Bidayah wa An-Nihayah,Jilid 7, bab Peristiwa Pembunuhan ‘Utsman bin ‘Affan)
Setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H), terbunuh, kaum muslimin membaiat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) sebagai khalifah.
Perang Jamal
Sebagian sahabat, di antaranya Ummul Mukminin ‘Aisyah (w. 58 H), Thalhah bin Ubaidillah (w. 36 H), Zubair bin al-Awwam (w. 36 H) radhiyallahu ‘anhum, berpendapat bahwa para pembunuh Utsman radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H), harus segera ditangkap dan dihukum.
Sementara Ali radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) memandang bahwa kondisi negara belum stabil sehingga penegakan hukum terhadap para pelaku membutuhkan persiapan dan penertiban keamanan terlebih dahulu.
Terjadinya Perang
Kedua pihak sebenarnya berusaha mencari jalan damai. Namun para provokator yang khawatir akan tertangkap, diduga memicu peperangan pada malam hari sehingga terjadilah Perang Jamal pada tahun 36 H.
Sikap Ahlus Sunnah
Ahlus Sunnah meyakini bahwa semua sahabat yang terlibat adalah orang-orang yang memiliki keutamaan, mereka berijtihad. Yang benar mendapat dua pahala dan yang keliru mendapat satu pahala, kita menahan lisan dari mencela mereka. Allah ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu…” (QS. Al-Hasyr: 10).
Perang Shiffin
Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu (w. 60 H), gubernur Syam sekaligus kerabat Utsman radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H), menuntut agar para pembunuh Utsman radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H) segera diserahkan. Ali radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) tetap berpendapat bahwa stabilitas pemerintahan harus ditegakkan terlebih dahulu. Perselisihan ini akhirnya berujung pada Perang Shiffin pada tahun 37 H.
Tahkim (Arbitrase / Perundingan Damai)
Ketika peperangan berlangsung sengit, dilakukan proses Tahkim (Arbitrase / Perundingan Damai) antara kedua pihak. Dari sinilah muncul kelompok yang kemudian dikenal sebagai Khawarij.
Munculnya Khawarij
Khawarij adalah kelompok yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) setelah peristiwa tahkim. Mereka menganggap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) dan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma (w. 60 H) telah berhukum kepada manusia dan bukan kepada Allah.
Mereka mengangkat slogan “Tidak ada hukum selain milik Allah.” Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) menjawab bahwa kalimat tersebut benar, tetapi digunakan untuk tujuan yang batil.
Diantara ciri-ciri Khawarij
Rasulullah ﷺ telah mengabarkan kemunculan mereka dalam banyak hadits sahih, di antaranya:
يَخْرُجُ فِيْكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ
“Akan muncul di tengah kalian suatu kaum. Kalian akan menganggap shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan amal kalian dibanding amal mereka. Mereka membaca Al-Qur’an, namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah melesat menembus buruannya.” (HR. Bukhari no. 5058).
Juga hadits berikut:
يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ
“Mereka membunuh kaum Muslimin dan membiarkan para penyembah berhala.” (HR. Bukhari no. 3344, 6930, 7432 dan Muslim no. 1064).
Abdullah bin Saba’
Dalam sejumlah kitab sejarah klasik, seperti Ansab Al-Asyraf karya Al-Baladzuri (w. 279 H), Tarikh Ar-Rusul wa Al-Muluk karya Ath-Thabari (w. 310 H), dan Al-Bidayah wa An-Nihayah karya Ibnu Katsir (w. 774 H), disebutkan adanya seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam bernama Abdullah bin Saba’. Ia dinisbatkan sebagai penyebar berbagai pemikiran ghuluw (berlebihan) terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) dan dikaitkan dengan munculnya berbagai fitnah pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu (w. 35 H).
Namun, dalam kajian historiografi modern, rincian kisah Abdullah bin Saba’ masih menjadi bahan perdebatan. Sebagian peneliti menerima keberadaan tokohnya sebagaimana disebutkan dalam berbagai sumber klasik, sedangkan sebagian lainnya meragukan banyak detail mengenai peran dan pengaruhnya karena narasi terpanjang dalam Tarikh Ath-Thabari bersumber dari Saif bin Umar, seorang perawi yang dinilai lemah oleh mayoritas ahli hadits.
Kesimpulan yang lebih hati-hati yang banyak dipilih para peneliti adalah:
- Keberadaan Abdullah bin Saba’ kemungkinan besar memang ada.
- Namun tidak semua rincian kisah yang tersebar tentang dirinya dapat dipastikan shahih.
- Perkembangan Syi’ah tidak dapat dijelaskan hanya dengan satu tokoh saja; ia merupakan proses sejarah yang melibatkan banyak faktor politik, sosial, dan pemikiran.
Perkembangan Sekte-Sekte Syi’ah
Seiring waktu, Syi’ah terpecah menjadi banyak kelompok.
1. Kaisaniyah
Kelompok yang menganggap Muhammad bin al-Hanafiyyah rahimahullah (w. 81 H) sebagai imam setelah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H).
2. Zaidiyah & Rafidhah
Pengikut Zaid bin Ali rahimahullah (w. 122 H). Ciri-ciri mereka:
- Mengutamakan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H).
- Tetapi tidak mengkafirkan Abu Bakar Ash Shiddiq (w. 13 H), dan Umar bin Khaththab (w. 23 H).
- Tidak meyakini imam ma’shum sebagaimana Imamiyah.
Karena itu, Zaidiyah secara umum lebih dekat kepada Ahlus Sunnah dibanding Imamiyah dalam banyak masalah, sedangkan “Rafidhah” adalah mereka adalah kebalikan dari kelompok ini, hanya saja tetap mengutamakan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (w. 40 H) (akan ada pembahasan tersendiri).
3. Ismailiyah
Mereka mengikuti Ismail bin Ja’far rahimahullah (w. ±138 H) dan kemudian berkembang menjadi berbagai cabang seperti Fatimiyah, Nizariyah dan Musta’liyah. Sebagian cabangnya memiliki ajaran batiniah yang sangat berbeda dari Islam.
4. Imamiyah (Itsna ‘Asyariyah)
Kelompok ini meyakini adanya dua belas imam yang ditunjuk secara ilahi.
Wallahu a’lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.





