• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Tafsir Surat An-Naba’ : 34

Ustadz Dhiaurrahman, Lc by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
September 29, 2026
in An-Naba'
Reading Time: 4 mins read

Tafsir Surat An-Naba’ : 34 – Mengapa Allah Menyebut Gelas Surga “Penuh”?

Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Allah Ta’ala berfirman:

وَكَأْسًا دِهَاقًا

“Dan (disediakan) gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).” (QS. An-Naba’: 34).

Tafsir: 

Sekilas ayat ini tampak sederhana. Namun, para ahli tafsir menjelaskan bahwa satu kata دِهَاقًا (dihaqan) mengandung makna yang sangat kaya. Kata ini bukan sekadar menunjukkan “gelas yang penuh”, tetapi juga menggambarkan kesempurnaan nikmat yang Allah sediakan bagi penghuni Surga.

Gelas yang Penuh dan Terus Disuguhkan

Kata دِهَاقًا (dihaqan) menunjukkan sesuatu yang penuh dan berlimpah. Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah gelas yang penuh dan terus-menerus disuguhkan kepada para peminumnya. Beliau berkata:

وَكَأْسًا مَلْأَى مُتَتَابِعَةً عَلَى شَارِبِيهَا بِكَثْرَةٍ وَامْتِلَاءٍ، وَأَصْلُهُ مِنَ الدَّهْقِ، وَهُوَ مُتَابَعَةُ الضَّغْطِ عَلَى الْإِنْسَانِ بِشِدَّةٍ وَعُنْفٍ، وَكَذَالِكَ الْكَأْسُ الدِّهَاقُ: مُتَابَعَتُهَا عَلَى شَارِبِيهَا بِكَثْرَةٍ وَامْتِلَاءٍ

“Ialah gelas-gelas yang penuh, yang terus-menerus disuguhkan kepada para peminumnya dalam jumlah yang banyak dan berlimpah. Asal makna kata ‘Ad-Dihaq’ adalah tekanan yang dilakukan secara terus-menerus dengan kuat dan keras. Demikian pula gelas yang ‘Dihaq’ maknanya gelas tersebut terus-menerus disuguhkan kepada para peminumnya dalam keadaan penuh dan berlimpah.” (Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, QS. An-Naba’: 34).

Penjelasan ini diperkuat oleh sejumlah ulama salaf. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu (w. 68 H) menafsirkannya dengan مَلْأَى (mal’a), yaitu “penuh”. Dalam riwayat lain, beliau menjelaskanدِهَاقًا dengan maknaمُمْتَلِئًا  (mumtali’an), “dalam keadaan penuh”. Mujahid rahimahullah (w. 104 H) juga menafsirkannya dengan مَلْأَى, sementara Qatadah rahimahullah (w. 117 H) mengatakan مُتْرَعَةٌ مَلْأَى, yaitu “penuh dan melimpah”. Ada pula riwayat dari sebagian ulama salaf yang menafsirkannya dengan makna “terus-menerus disuguhkan” atau “berturut-turut”. Imam Ath-Thabari rahimahullah (w. 310 H) kemudian menghimpun berbagai penafsiran tersebut, sehingga ayat ini menggambarkan minuman surga yang disediakan dalam keadaan penuh, berlimpah, dan terus disuguhkan kepada penghuninya. (Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, QS. An-Naba’: 34).

Yang menarik, kenikmatan ini disebutkan setelah Allah menyebutkan kebun-kebun, anggur, dan gadis-gadis yang sebaya, kemudian Allah menyebutkan كَأْسًا دِهَاقًا, gelas-gelas yang penuh. Ini menunjukkan betapa sempurnanya kenikmatan yang Allah persiapkan bagi orang-orang yang bertakwa. Namun, kenikmatan tersebut tentu tidak boleh disamakan dengan minuman dunia. Minuman yang diharamkan di dunia karena memabukkan sama sekali berbeda dengan minuman surga yang Allah halalkan dan sempurnakan kenikmatannya. Kenikmatan surga adalah sesuatu yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia, sehingga hakikatnya jauh melampaui gambaran yang mampu kita bayangkan.

Minuman yang Penuh, Berlimpah, dan Berturut-turut

Imam Al-Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) juga menjelaskan bahwa kata دِهَاقًا (dihaqan) memiliki beberapa penafsiran dari ulama salaf. Beliau menukil dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma (w. 68 H), Hasan Al-Bashri (w. 110 H), Qatadah (w. 117 H), dan Ibnu Zaid (w. 182 H) rahimahumullah bahwa maknanya adalah مُتْرَعَةٌ مَمْلُوءَةٌ, yaitu “penuh dan terisi dengan sempurna”. Al-Qurthubi berkata:

كَأْسًا دِهَاقًا، قَالَ الْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَابْنُ زَيْدٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ: مُتْرَعَةً مَمْلُوءَةً؛ يُقَالُ: أَدْهَقْتُ الْكَأْسَ، أَيْ مَلَأْتُهَا، وَكَأْسٌ دِهَاقٌ أَيْ مُمْتَلِئَةٌ

“Firman Allah, ‘gelas-gelas yang penuh’. Al-Hasan, Qatadah, Ibnu Zaid, dan Ibnu ‘Abbas mengatakan: maksudnya adalah gelas yang penuh dan terisi. Dikatakan: adhaqtu al-ka’sa, artinya ‘aku memenuhi gelas tersebut’. Maka ka’sun dihaq berarti gelas yang penuh.” (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, QS. An-Naba’: 34)

Al-Qurthubi juga menyebutkan penafsiran lain dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma (w. 68 H), Sa’id bin Jubair (w. 95 H), ‘Ikrimah (w. 105 H), dan Mujahid (w. 104 H) rahimahumullah, yaitu مُتَتَابِعَةٌ, “berturut-turut” atau “terus-menerus disuguhkan”; satu gelas mengikuti gelas yang lainnya. Dengan demikian, makna ayat ini bukan hanya menggambarkan gelas yang penuh, tetapi juga adanya kenikmatan yang terus mengalir dan diberikan kepada penghuni surga. Imam Al-Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan:

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ وَعِكْرِمَةُ وَمُجَاهِدٌ وَابْنُ عَبَّاسٍ أَيْضًا: مُتَتَابِعَةٌ، يَتْبَعُ بَعْضُهَا بَعْضًا

“Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Mujahid, dan Ibnu ‘Abbas juga mengatakan: maknanya adalah berturut-turut; sebagian mengiringi sebagian yang lainnya.” (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, QS. An-Naba’: 34).

Beliau juga menukil pendapat ‘Ikrimah (w. 105 H) dan Zaid bin Aslam (w. 136 H) rahimahumallah bahwa دِهَاقًا berarti صَافِيَةٌ, yaitu “jernih” atau “bersih”. Namun, penafsiran yang paling banyak dinukil menunjukkan, bahwa maknanya ialah minuman yang penuh, melimpah, dan disuguhkan secara berturut-turut. Hal ini memberikan gambaran kepada kita tentang kesempurnaan kenikmatan di surga: tidak ada kekurangan, tidak ada kehabisan, dan tidak ada rasa khawatir bahwa kenikmatan tersebut akan berhenti. (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, QS. An-Naba’: 34).

Penuh, Jernih, dan Terus Mengalir

Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) juga menjelaskan ayat ini dengan menghimpun beberapa penafsiran dari ulama salaf. Beliau berkata:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: مَمْلُوءَةٌ مُتَتَابِعَةٌ، وَقَالَ عِكْرِمَةُ: صَافِيَةٌ، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَالْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَابْنُ زَيْدٍ: «دِهَاقًا» الْمَلْأَى الْمُتْرَعَةُ، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: هِيَ الْمُتَتَابِعَةُ

“Ibnu ‘Abbas mengatakan: ‘penuh dan berturut-turut.’ ‘Ikrimah mengatakan: ‘jernih.’ Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa dihāqan berarti ‘penuh dan melimpah’. Mujahid dan Sa’id bin Jubair mengatakan: ‘berturut-turut.’” (Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim, QS. An-Naba’: 34)

Dari penjelasan para ulama tersebut, dapat dipahami bahwa kata دِهَاقًا tidak sekadar menggambarkan sebuah gelas yang berisi minuman, tetapi menggambarkan minuman yang penuh, melimpah, jernih, dan terus-menerus disuguhkan. Ini merupakan salah satu gambaran kesempurnaan kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka tidak hanya mendapatkan kenikmatan yang lezat, tetapi juga mendapatkannya dalam keadaan sempurna dan tanpa kekurangan.

Menariknya, para ulama salaf memberikan beberapa ungkapan yang berbeda untuk menjelaskan kata دِهَاقًا, tetapi maknanya saling melengkapi, bukan saling bertentangan. Ada yang menekankan makna penuh, ada yang menekankan berturut-turut, dan ada yang menjelaskan jernih. Ini menunjukkan keluasan bahasa Al-Qur’an dalam menggambarkan kenikmatan surga yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia.

Minuman Surga yang Penuh Kenikmatan

Syaikh As-Sa’di rahimahullah (w. 1376 H) memberikan penjelasan yang ringkas namun indah tentang firman Allah وَكَأْسًا دِهَاقًا. Beliau berkata:

﴿وَكَأْسًا دِهَاقًا﴾ أَيْ: مَمْلُوءَةً مِنْ رَحِيقٍ، لَذَّةً لِلشَّارِبِينَ

“Dan gelas-gelas yang penuh, yaitu gelas-gelas yang dipenuhi rahiq, minuman yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya.” (Taysir Al Karim Ar Rahman, tafsir QS. An-Naba’: 34).

Penjelasan Syaikh As-Sa’di rahimahullah (w. 1376 H) menunjukkan bahwa yang dimaksud bukan sekadar gelas yang penuh secara kuantitas, tetapi gelas yang dipenuhi dengan رَحِيقٌ, yaitu minuman surga yang memberikan kenikmatan bagi para peminumnya. Dengan demikian, ketika Allah menyebut كَأْسًا دِهَاقًا, ayat ini menggambarkan kenikmatan surga yang sempurna: minumannya tersedia dalam keadaan penuh dan kenikmatannya benar-benar menjadi kelezatan bagi orang yang meminumnya.

Ayat ini menggambarkan kesempurnaan kenikmatan surga. Para ulama salaf menafsirkannya dengan makna penuh, melimpah, jernih, dan terus disuguhkan. Semua ini menunjukkan bahwa kenikmatan surga jauh lebih sempurna daripada kenikmatan dunia.

Karena itu, jangan sampai kita hanya sibuk mengejar kenikmatan dunia yang sementara, sementara melupakan kenikmatan surga yang kekal. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang bertakwa yang mendapatkan kenikmatan tersebut. Wallahu a’lamu bishshawab.

Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Tags: gambaran surga dalam al-qurangelas penuh di surgagelas surgakajian Islamkajian tafsirkenikmatan penghuni surgakenikmatan surgaminuman penghuni surgasurat an-naba ayat 34surga dalam al qurantafsir al qurantafsir an-naba ayat 34tafsir surat an-nabaustadz minanurrohman
SummarizeShare234
Previous Post

Menutup Celah dalam Shaf saat Shalat

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc

Ustadz Dhiaurrahman, Lc. S1 Hadits Al Azhar - Mesir. Pengajar diniyah di Gistrav Islamia School

Related Stories

Tafsir Surat An-Naba’ : 33

Tafsir Surat An-Naba’ : 33

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
August 16, 2026
0

Tafsir Surat An-Naba' : 33  Rahasia Bidadari Surga yang Jarang Dijelaskan Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Allah ﷻ berfirman: وَكَوَاعِبَ أَتْرَابًا “Dan gadis-gadis remaja yang sebaya.” Ketika Allah ﷻ menggambarkan surga dalam...

Tafsir Surat An-Naba’ 32

Tafsir Surat An-Naba’ 32

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
June 16, 2026
0

Surah an Naba’: 32 - Keindahan Makna Hadaiq dalam Gambaran Surga bagi Orang Bertakwa Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ﴿ “(Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.”  ...

Tafsir Surat An-Naba’ 31

Tafsir Surat An-Naba’ 31

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
June 11, 2026
0

Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31 Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan...

Tafsir Surat An-Naba’ 30

Tafsir Surat An-Naba’ 30

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 17, 2026
0

Tafsir Surah an Naba’: 30 - Ketika Azab Tidak Pernah Berhenti Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba'du. Allah ﷻ berfirman:  فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا “Karena itu rasakanlah. Dan Kami sekali-kali tidak akan...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Tafsir Surat An-Naba’ : 34
  • Menutup Celah dalam Shaf saat Shalat
  • Biografi Syekh Muhammad Nasiruddin al Albani  Rahimahullah

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Biografi
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Firqah
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official