<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Redaksi - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/author/redaksi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Sun, 30 Nov 2025 12:58:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.2</generator>

<image>
	<url>https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2026/07/cropped-logo-icon-32x32.png</url>
	<title>Redaksi - Tanya Islam</title>
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Doa Mukmin Pasti akan Diijabah?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2326/doa-mukmin-pasti-akan-diijabah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2326/doa-mukmin-pasti-akan-diijabah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 May 2025 07:40:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2326</guid>

					<description><![CDATA[<p>Doa Mukmin Pasti akan Diijabah? Apakah doa kita pasti akan diijabah? Ataukah kita hanya memohon yang belum pasti? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du, Allah berfirman, وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ &#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2326/doa-mukmin-pasti-akan-diijabah/">Doa Mukmin Pasti akan Diijabah?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Doa Mukmin Pasti akan Diijabah?</strong></h2>
<p><em>Apakah doa kita pasti akan diijabah? Ataukah kita hanya memohon yang belum pasti?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du,</em></p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ</p>
<p><em>&#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah: 186)</p>
<p>Al-Baghawi menyebutkan,</p>
<p class="arab">ومعنى قوله {أجيب} أي أسمع، ويقال ليس في الآية أكثر من إجابة الدعوة، فأما إعطاء المنية فليس بمذكور فيها، وقد يجيب السيد عبده، والوالد ولده ثم لا يعطيه سؤله فالإجابة كائنة لا محالة عند حصول الدعوة</p>
<p>Makna firman Allah {أجيب} (&#8220;Aku mengabulkan&#8221;) adalah Aku mendengar. Dikatakan bahwa ayat ini tidak menyebutkan lebih dari sekadar menjawab doa. Adapun pemberian sesuai keinginan pemohon, itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat tersebut.</p>
<p>Seorang tuan bisa saja menjawab panggilan budaknya, dan seorang ayah bisa saja merespons permintaan anaknya, namun itu tidak selalu berarti mereka akan memberikan apa yang diminta. Demikian pula, Allah pasti menjawab doa setiap hamba yang berdoa, tetapi cara dan waktu pemberiannya sesuai dengan hikmah-Nya. (Tafsir al-Baghawi)</p>
<p>Allah juga berfirman,</p>
<p class="arab">وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ</p>
<p><em>&#8220;Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.&#8221;</em> (QS. Ghafir: 60)</p>
<h3><strong>Doa Dikabulkan dengan 3 Pilihan</strong></h3>
<p>Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">ما من مسلم يدعو الله بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث: إما أن يعجل له دعوته، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها، قالوا: إذن نكثر، قال: الله أكثر وأطيب. &#8211; رواه أحمد وغيره</p>
<p>&#8220;Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah dengan doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan silaturahmi, melainkan Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan doanya, (2) Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat, atau (3) Allah akan menghindarkan darinya keburukan yang setara dengan doanya.&#8221;</p>
<p>Para sahabat berkata, &#8220;Kalau begitu, kami akan banyak berdoa!&#8221;</p>
<p>Nabi ﷺ bersabda, &#8220;Allah lebih banyak (memberi) dan lebih baik.&#8221; (HR. Ahmad dan lainnya)</p>
<p>Isti’jal Dalam Berdoa (Mutung karena tidak dikabulkan)</p>
<p>Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p>ما مِن رجلٍ يَدعو اللَّهَ بدعاءٍ إلَّا استُجيبَ لَهُ ، فإمَّا أن يعجَّلَ له في الدُّنيا ، وإمَّا أن يُدَّخرَ لَهُ في الآخرةِ ، وإمَّا أن يُكَفَّرَ عنهُ من ذنوبِهِ بقدرِ ما دعا ، ما لم يَدعُ بإثمٍ أو قَطيعةِ رحمٍ أو يستعجِلْ . قالوا : يا رسولَ اللَّهِ وَكَيفَ يستَعجلُ ؟ قالَ : يقولُ : دعوتُ ربِّي فما استجابَ لي</p>
<p>&#8220;Tidaklah seseorang berdoa dengan suatu doa kecuali akan dikabulkan. Bisa jadi, (1) doa itu segera dikabulkan di dunia, (2) disimpan untuknya di akhirat, atau (3) Allah akan menghapus dosa-dosanya sesuai dengan kadar doanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa atau untuk memutuskan silaturahmi, serta tidak tergesa-gesa.&#8221;</p>
<p>Para sahabat bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, bagaimana seseorang bisa dikatakan tergesa-gesa?&#8221;</p>
<p>Beliau ﷺ menjawab, &#8220;Ia berkata, ‘Aku telah berdoa kepada Tuhanku, tetapi Dia belum mengabulkannya.’” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)</p>
<p>Dalam riwayat lain, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ، يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي</p>
<p><em>&#8220;Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: ‘Aku telah berdoa, tetapi belum dikabulkan.’”</em> (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<h3><strong>Harta Haram Sebab Doa Tertolak</strong></h3>
<p>Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam menyebutkan,</p>
<p class="arab">وذَكرَ الرَّجلَ يُطيلُ السَّفرَ أشعثَ أغبرَ يمدُّ يدَه إلى السَّماءِ يا ربِّ يا ربِّ ومطعمُه حرامٌ ومشربُه حرامٌ وملبسُه حرامٌ وغذِّيَ بالحرامِ فأنَّى يستجابُ لذلِك</p>
<p><em>&#8220;Seorang lelaki melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu. Ia mengangkat tangannya ke langit dan berkata, ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari sesuatu yang haram. Maka, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?&#8221;</em> (HR. Muslim)</p>
<h3><strong>Gak Yakin Bakal Dikabulkan</strong></h3>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">ادْعُوا اللَّهَ ‌وَأَنْتُمْ ‌مُوقِنُونَ ‌بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ</p>
<p><em>&#8220;Berdoalah kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak bersungguh-sungguh.&#8221;</em> (HR. Tirmidzi)</p>
<h3><strong>Hikmah Doa Tertunda</strong></h3>
<p>Ibnul Jauzi menjelaskan,</p>
<p class="arab">اعلم أن دعاء المؤمن لا يرد غير أنه قد يكون الأولى له تأخير الإجابة، أو يعوض بما هو أولى له عاجلاً أو آجلاً ، فينبغي للمؤمن أن لا يترك الطلب من ربه، فإنه متعبد بالدعاء كما هو متعبد بالتسليم والتفويض</p>
<p>&#8220;Ketahuilah bahwa doa seorang mukmin tidak akan ditolak. Hanya saja, mungkin yang lebih baik baginya adalah ditundanya pengabulan doa, atau ia diganti dengan sesuatu yang lebih baik baginya, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya tidak meninggalkan permohonan kepada Tuhannya. Sebab, ia diperintahkan untuk beribadah dengan berdoa, sebagaimana ia juga diperintahkan untuk berserah diri dan bertawakal kepada-Nya.&#8221; (Mir’atul Mafatih)</p>
<p>Ibnul Qoyim menjelaskan,</p>
<p class="arab">على العبد أن يعلم أن منع الله سبحانه لعبده المؤمن به، المحب له: عطاء، وابتلاءه إياه عافية</p>
<p>&#8220;Seorang hamba harus mengetahui bahwa ketika Allah menahan sesuatu dari hamba-Nya yang beriman dan mencintai-Nya, itu sebenarnya adalah pemberian. Dan ketika Allah mengujinya, itu sebenarnya adalah bentuk kesehatan (kebaikan) baginya.&#8221;</p>
<p>Lanjutan,</p>
<p class="arab">قال سفيان الثوري: منع الله عطاء، لأنه يمنع عن غير بخل ولا عدم، ‌فمنعه اختيار وحسن نظر. وهذا كما قال، فإنه سبحانه لا يقضي لعبده المؤمن قضاء إلا كان خيرا له، ساءه ذلك القضاء أو سره، فقضاؤه لعبده المؤمن عطاء وإن كان في صورة المنع، ونعمة وإن كان في صورة محنة، وعافية وإن كانت في صورة بلية.</p>
<p>Sufyan Ats-Tsauri berkata: &#8220;Ketika Allah menahan sesuatu, itu sebenarnya adalah pemberian. Sebab, Allah menahan bukan karena kikir atau kekurangan, melainkan karena pilihan-Nya yang penuh hikmah dan kasih sayang.&#8221;</p>
<p>Demikianlah yang beliau katakan, karena sesungguhnya Allah tidak menetapkan suatu ketetapan bagi hamba-Nya yang beriman kecuali itu adalah kebaikan baginya, baik keputusan itu menyenangkan maupun menyedihkan. Maka, keputusan Allah bagi seorang mukmin adalah pemberian, meskipun tampaknya seperti penolakan; itu adalah nikmat, meskipun tampaknya seperti ujian; dan itu adalah kesehatan (keselamatan), meskipun tampaknya seperti musibah.</p>
<p>Lanjutan,</p>
<p class="arab">ولكن لجهل العبد وظلمه لا يعد العطاء والنعمة والعافية إلا ما التذ به في العاجل، وكان ملائما لطبعه. ولو رزق من المعرفة حظا وافرا لعد نعمة الله عليه فيما يكرهه أعظم من نعمته عليه فيما يحبه</p>
<p>&#8220;Namun, karena kebodohan dan ketidakadilan dirinya sendiri, seorang hamba sering kali tidak menganggap sesuatu sebagai pemberian, nikmat, atau keselamatan kecuali jika itu segera menyenangkannya dan sesuai dengan keinginannya. Padahal, jika ia dikaruniai ilmu dan pemahaman yang mendalam, ia akan menyadari bahwa nikmat Allah dalam hal-hal yang ia benci sebenarnya lebih besar daripada nikmat-Nya dalam hal-hal yang ia sukai.&#8221; (Madarijus Salikin)</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Ditulis Oleh Ustadz Ammi Nur Baits, ST. BA</strong></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2326/doa-mukmin-pasti-akan-diijabah/">Doa Mukmin Pasti akan Diijabah?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2326/doa-mukmin-pasti-akan-diijabah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Saya Mukmin insyaaAllah&#8230; Bolehkah Mengatakan Seperti Ini?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2304/saya-mukmin-insyaaallah-bolehkah-mengatakan-seperti-ini/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2304/saya-mukmin-insyaaallah-bolehkah-mengatakan-seperti-ini/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 28 Apr 2025 22:52:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2304</guid>

					<description><![CDATA[<p>Saya Mukmin insyaaAllah..? Jika kita ditanya, ‘Apakah anda mukmin?’ Bolehkah kita menjawab, ‘Saya mukmin insyaaAllah’. Apakah jawaban seperti ini benar? ** Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du, Abu Bakr al-Khallal menyebutkan keterangan dari Ahmad bin Ashram al-Muzani, bahwa Imam Ahmad ditanya: ‘Jika seseorang bertanya kepadaku: Apakah kamu seorang mukmin?’ Jawab Imam Ahmad: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2304/saya-mukmin-insyaaallah-bolehkah-mengatakan-seperti-ini/">Saya Mukmin insyaaAllah… Bolehkah Mengatakan Seperti Ini?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Saya Mukmin insyaaAllah..?</strong></h2>
<p>Jika kita ditanya, ‘<em>Apakah anda mukmin?’</em></p>
<p>Bolehkah kita menjawab, ‘<em>Saya mukmin insyaaAllah’.</em> Apakah jawaban seperti ini benar?</p>
<p>**</p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu &#8216;ala Rasulillah, wa ba&#8217;du,</em></p>
<p>Abu Bakr al-Khallal menyebutkan keterangan dari Ahmad bin Ashram al-Muzani, bahwa Imam Ahmad ditanya:</p>
<p>‘Jika seseorang bertanya kepadaku: Apakah kamu seorang mukmin?’</p>
<p>Jawab Imam Ahmad:</p>
<p class="arab">سُؤالُه إيَّاك بِدعةٌ، لا يُشَكُّ في إيمانِك، أو قال: لا نشُكُّ في إيمانِنا</p>
<p>‘Pertanyaannya itu sendiri adalah bid’ah. Tidak ada keraguan dalam keimananmu.’ Atau beliau berkata: ‘Kami tidak meragukan keimanan kami.’</p>
<p>Al-Muzani berkata: Aku mengingat bahwa Imam Ahmad berkata:</p>
<p class="arab">أقولُ كما قال طاووسٌ: آمَنْتُ باللهِ، وملائِكتِه، وكُتبِه، ورُسلِه</p>
<p>‘Aku berkata sebagaimana yang dikatakan oleh Thawus: Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.’” (as-Sunah, al-Khallal, 3/601)</p>
<p>Ibnu Taimiyah menjelaskan maksud keterangan Imam Ahmad ini,</p>
<p class="arab">قد كان أحمَدُ وغَيرُه مِن السَّلفِ معَ هذا يكرَهونَ سُؤالَ الرَّجلِ لغَيرِه: أمُؤمِنٌ أنت؟ ويكرَهونَ الجوابَ؛ لأنَّ هذه بِدعةٌ أحدَثها المُرجِئةُ ليحتجُّوا بها لقولِهم؛ فإنَّ الرَّجلَ يعلَمُ مِن نَفسِه أنَّه ليس بكافِرٍ</p>
<p>Dulu, Imam Ahmad dan para ulama salaf lainnnya membenci seseorang yang bertanya kepada orang lain: ‘Apakah engkau seorang mukmin?’ dan mereka juga membenci jawaban atas pertanyaan tersebut. Sebab, hal itu adalah bid’ah yang dibuat oleh Murji&#8217;ah untuk mendukung pendapat mereka.</p>
<p>Karena sesungguhnya orang itu tahu dari dirinya sendiri bahwa dia bukanlah seorang kafir. (Majmu’ al-Fatawa, 7/448)</p>
<p>Kendati demikian, para ulama memberikan rincian berkaitan dengan hukum mengucapkan ‘Saya mukmin insyaAllah’</p>
<p>[1] Jika mengucapkan ‘insyaaAllah’ karena alasan ragu dengan imannya, ini tidak boleh.</p>
<p>[2] Jika mengucapkan ‘insyaaAllah’ karena alasan agar tidak terjadi tazkiyah menyucikan diri sendiri, hukumnya boleh.</p>
<p>Al-Ajurry menjelaskan hal ini,</p>
<p class="arab">مِن صفةِ أهلِ الحقِّ ممَّن ذكَرْنا مِن أهلِ العِلمِ: الاستِثناءُ في الإيمانِ، لا على جِهةِ الشَّكِّ، نعوذُ باللهِ مِن الشَّكِّ في الإيمانِ، ولكن خوفَ التَّزكيةِ لأنفُسِهم مِن الاستِكمالِ للإيمانِ</p>
<p>&#8220;Di antara sifat Ahlul Haq dari kalangan ulama yang telah kami sebutkan adalah mereka melakukan istitsna&#8217; dalam iman (menguapkan insyaaAllah), bukan dalam bentuk keraguan—kita berlindung kepada Allah dari ragu terhadap keimanan—tetapi karena mereka takut menyucikan diri sendiri (dengan mengklaim) telah mencapai kesempurnaan iman.&#8221; (as-Syariah, 2/656)</p>
<p><strong>Pilihan jawaban yang tepat</strong></p>
<p>Kebiasaan para ulama masa silam ketika ada pertanyaan semacam ini adalah dengan mengatakan, ‘Saya beriman kepada Allah, para malaikat, para rasul, kitab-kitab…’</p>
<p>Imam al-Ajurry mengatakan,</p>
<p class="arab">إذا قال لك رجُلٌ: أنت مُؤمِنٌ؟ فقُلْ: آمَنْتُ باللهِ، وملائِكتِه، وكُتبِه، ورُسلِه، واليومِ الآخِرِ، والموتِ، والبَعثِ مِن بَعدِ الموتِ، والجنَّةِ والنَّارِ</p>
<p>&#8220;Jika seseorang bertanya kepadamu: ‘Apakah engkau seorang mukmin?’ maka jawablah: ‘Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, <a href="https://tanyaislam.com/2256/tips-mengatasi-galau/" target="_blank" rel="noopener">kematian</a>, kebangkitan setelah mati, surga, dan neraka.’” (as-Syariah, 2/667)</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Ditulis Oleh Ustadz Ammi Nur Baits, ST. BA.</strong></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2304/saya-mukmin-insyaaallah-bolehkah-mengatakan-seperti-ini/">Saya Mukmin insyaaAllah… Bolehkah Mengatakan Seperti Ini?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2304/saya-mukmin-insyaaallah-bolehkah-mengatakan-seperti-ini/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Mengatasi Galau</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2256/tips-mengatasi-galau/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2256/tips-mengatasi-galau/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 09:39:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[galau]]></category>
		<category><![CDATA[tips anti galau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2256</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tips Mengatasi Galau Bagaimana nasehat dalam islam untuk mengatasi galau? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Sebelum kita membahas tentang galau, kita perlu buat kesamaan definisi untuk kata galau. Jika kita googling, ada banyak versi keterangan tentang pengertian galau, Ada yang bilang, “galau itu adalah perasaan kacau dalam hati, bingung harus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2256/tips-mengatasi-galau/">Tips Mengatasi Galau</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tips Mengatasi Galau </strong></h2>
<p><em>Bagaimana nasehat dalam islam untuk mengatasi galau?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Sebelum kita membahas tentang galau, kita perlu buat kesamaan definisi untuk kata galau.</p>
<p>Jika kita googling, ada banyak versi keterangan tentang pengertian galau,</p>
<p>Ada yang bilang, “galau itu adalah perasaan kacau dalam hati, bingung harus memilih, bisa juga ragu-ragu.”</p>
<p>Ada juga yang bilang, “Galau itu ketika orang itu tengah kosong, dan itu berasal dari hati.”</p>
<p>Ada yang mengatakan, “Perasaan kacau gara-gara cinta.”</p>
<p>Sementara jika kita merujuk KBBI, galau diartikan dengan kacau, tidak karuan.</p>
<p>Menyimak banyak definisi malah bikin kita galau untuk memahami kata galau. Tapi pada intinya kita bisa menyimpulkan, galau adalah perasaan kacau, tidak jelas, karena memikirkan masa depan, gagal mendapatkan harapan atau bingung menentukan pilihan.</p>
<h3><strong>Obsesi Manusia</strong></h3>
<p>Bagian dari karakter manusia, mereka memiliki obsesi dan harapan. Dan karena karakternya yang tamak, obsesi itu selalu berkembang. Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا ، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ</p>
<p>Jika manusia memiliki dua lembah penuh dengan harta, pasti dia akan mencari lembah harta ketiga. Tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam, selain tanah. (HR. Bukhari 6436 &amp; Muslim 2462)</p>
<p>Tidak ada yang bisa menghentikan manusia untuk selalu mengejar obsesinya, selain kematian.</p>
<p>Fisik bisa saja melemah, namun obsesi tidak pernah pisah darinya. Dalam hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam bersabda,</p>
<p class="arab">يهرمُ ابنُ آدمَ ، ويبقَى معه اثنتانَ : الحرصُ والأملُ</p>
<p>Anak Adam menjadi tua, namun dua hal tetap bersamanya: ketamakan dan harapan. (HR. Bukhari 6421 &amp; Muslim 1047)</p>
<p>Anda bisa perhatikan ilustrasi berikut,</p>
<p>Sahabat Ibnu Mas’ud pernah menceritakan penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang karakter manusia,</p>
<p class="arab">خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا، وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ خَارِجًا مِنْهُ، وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ، وَقَالَ: هَذَا الْإِنْسَانُ، وَهَذَا أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ، أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ، وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ أَمَلُهُ، وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ، فَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا، وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا</p>
<p>Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat bangun segi empat, lalu beliau membuat garis lurus di tengahnya yang menembus bangun segi empat itu. Kemudian beliau membuat garis kecil-kecil menyamping di antara garis tengah itu. Lalu beliau bersabda,</p>
<p>“Ini manusia. Dan ini ajalnya, mengelilinginya. Dan garis yang menembus bangun ini adalah obsesinya. Sementara garis kecil-kecil ini adalah rintangan hidup. Jika dia berhasil mengatasi rintangan pertama, dia akan tersangkut rintangan kedua. Jika dia berhasil lolos rintangan kedua, dia tersangkut rintangan berikutnya.” (HR. Bukhari 6417).</p>
<p>Jika kita buat gambar, kurang lebih seperti ini:</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone wp-image-2257" src="https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2025/04/tips-anti-galau.webp" alt="tips anti galau" width="390" height="227" srcset="https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2025/04/tips-anti-galau.webp 227w, https://tanyaislam.com/wp-content/uploads/2025/04/tips-anti-galau-150x87.webp 150w" sizes="(max-width: 390px) 100vw, 390px" /></p>
<p>Hadis ini menggambarkan bahwa sejatinya semua manusia berpotensi mengalami galau. Mereka memiliki keinginan dan obsesi, namun mereka selalu dihantui dengan kondisi masa depan yang tidak jelas. Karena tidak ada satupun manusia yang tahu masa depannya.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p class="arab">وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا</p>
<p>“Tidak ada satupun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)</p>
<p>Di saat yang sama, manusia selalu memikirkan obsesinya yang belum pasti, namun mereka sering melupakan sesuatu yang pasti, yaitu kematian.</p>
<p>Karena itu, yang menjadi masalah utama bukan semata mengalami galau, pikiran kacau, bingung dalam menentukan arah hidup, bingung dengan nasib dirinya atau keluarganya di masa depan. Sebab hampir semua manusia mengalaminya, meskipun tensinya berbeda-beda.</p>
<p>Namun masalah yang sejatinya adalah bagaimana cara kita mengatasi galau, sehingga tidak sampai menyeret kita ke jurang maksiat atau keadaan yang membuat kita jadi tidak produktif.</p>
<p>Ada beberapa saran yang bisa kita lakukan, untuk mengurangi rasa galau,</p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, Sibukkan Diri dengan Semua yang Bermanfaat</p>
<p>Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan panduan secara global, agar manusia selalu maju menuju lebih baik dalam menghadapi hidup.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ, وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ, وَلَا تَعْجَزْ, وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا, وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ; فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ اَلشَّيْطَانِ</p>
<p>Bersemangatlah untuk mendapatkan apa yang manfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika kalian mengalami kegagalan, jangan ucapkan, ‘Andai tadi saya melakukan cara ini, harusnya akan terjadi ini…dst.’ Namun ucapkanlah, ‘Ini taqdir Allah, dan apa saja yang dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena berandai-andai membuka peluang setan. (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).</p>
<p>Mari kita bedah setiap bagian dari hadis di atas,</p>
<p>[1] Sibukkan diri untuk selalu mengerjakan yang manfaat.</p>
<p>Beliau tidak memberikan batasan apa hal manfaat yang harus dikerjakan, sehingga berlaku untuk hal manfaat appaun baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Karena ketika kita sibuk dengan  segala yang bermanfaat, kita tidak memiliki waktu luang untuk melakukan perbuatan yang tidak manfaat, apalagi berbahaya.</p>
<p>Ibnul Qoyim mengatakan,</p>
<p class="arab">من أعظم الأشياء ضرراً على العبد بطالته وفراغه، فإن النفس لا تقعد فارغة، بل إن لم يشغلها بما ينفعها شغلته بما يضره ولا بد</p>
<p>Bahaya terbesar yang dialami seorang hamba, adalah adanya waktu nganggur dan waktu luang. Karena jiwa tidak akan pernah diam. Ketika dia tidak disibukkan dengan yang manfaat, pasti dia akan sibuk dengan hal yang membahayakannya. (Thariq al-Hijratain, hlm. 413)</p>
<p>Seorang mukmin tidak perlu merasa kesulitan untuk mencari apa yang manfaat baginya. Karena semua yang ada di sekitarnya, bisa menjadi kegiatan yang bermanfaat baginya. Jika dia belum bisa melakukan kegiatan yang manfaatnya luas, dia bisa awali dengan kegiatan yang manfaatnya terbatas. Setidaknya dia gerakkan lisannya untuk berdzikir atau membaca al-Quran. Atau berusaha menghafal al-Quran atau membaca buku yang bermanfaat.</p>
<p>Tidak ada istilah nganggur bagi seorang mukmin. Karena setiap mukmin selalu memiliki kesibukan dengan semua kegiatan yang manfaat bagi hidupnya.</p>
<p>Ibnu Mas’ud mengatakan,</p>
<p class="arab">إني لأمقت أن أرى الرجل فارغا لا في عمل دنيا ولا آخرة</p>
<p>Sungguh aku marah kepada orang yang nganggur. Tidak melakukan amal dunia maupu amal akhirat. (HR. Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, 8539).</p>
<p>[2] Jangan lupa diiringi dengan doa</p>
<p>Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam menyebutkan,</p>
<p class="arab">وَاسْتَعِنْ بِاَللَّهِ</p>
<p>“mintalah pertolongan kepada Allah”</p>
<p>Pesan ini mengingatkan agar kita tidak hanya bersandar dengan kemampuan yang kita punya atau usaha yang kita lakukan. Tetapi semua itu harus diiringi dengan tawakkal kepada Allah. Karena keberhasilan tidak mungkin bisa kita raih, tanpa pertolongan dari Allah.</p>
<p>Inilah kelebihan orang mukmin yang tidak dimiliki selain mukmin. Setiap mukmin memiliki kedekatan hati dengan Rabnya. Karena mereka meyakini sang Pencipta yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga mereka yakin, di balik semua usaha itu, ada takdir yang akan menentukan semua hasil. Di saat itulaj, seorang mukmin bisa mendapatkan pahala tambahan, dengan rasa tawakal yang dia lakukan.</p>
<p>[3] Jangan gampang menyerah</p>
<p>Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam menyebutkan,</p>
<p class="arab">وَلَا تَعْجَزْ</p>
<p>“dan jangan lemah”</p>
<p>Dalam melakukan hal yang terbaik dalam hidup, bisa dipastikan, kita akan mengalami rintangan. Bagi seorang mukmin, rintangan bukan sebab untuk putus asa. Karena dia paham, rintangan pasti akan selalu ada di sepanjang perjalanan hidupnya.</p>
<p>[4] Jangan berandai-andai ketika gagal</p>
<p>Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam menyebutkan,</p>
<p class="arab">وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا</p>
<p>“Jika kalian mengalami kegagalan, jangan ucapkan, ‘Andai tadi saya melakukan cara ini, harusnya akan terjadi ini…dst.’”</p>
<p>Tidak semua yang kita usahakan akan berujung keberhasilan. Sebab kita bukan Tuhan yang bisa mewujudkan semua yang kita inginkan. Manusia bisa berusaha, namun Allah yang menentukan hasil. Gagal sekali bukan berarti anda akan gagal untuk selamanya. Gagal hari ini, juga bukan akhir dari kehidupan kita.</p>
<p>Karena itu, saat gagal, jangan membuka peluang bagi setan untuk menyesatkan kita. Diantaranya dengan berandai-andai karena menyesali kegagalan.</p>
<p>[5] Kembalikan kepada takdir, agar anda bisa ridha</p>
<p>Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa Sallam menuturkan,</p>
<p class="arab">وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اَللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ</p>
<p>“Namun ucapkanlah, ‘Ini taqdir Allah, dan apa saja yang dia kehendaki pasti terjadi.’”</p>
<p>Saat anda sadar bahwa anda tidak bisa menarik waktu yang sudah berlalu, anda perlu yakin bahwa itu semua telah ditakdirkan oleh Allah. Sehingga anda hanya butuh untuk menerima.. ya, perasaan menerima.</p>
<p>Di sinilah kelebihan seorang muslim saat dia gagal. Dia mungkin kehilangan apa yang dia harapkan, namun dia tidak kehilangan peluang pahala dari sikap ridha yang dia lakukan. Menjaga perasaan termasuk amal, jika anda bisa menkondisikannya dengan baik, anda akan tetap bisa mendapatkan keberuntungan.</p>
<p>Hidup ini hakekatnya berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain. Dan seorang mukmin dituntut untuk bisa bersikap dengan tepat. Bersyukur saat berhasil, agar dia tidak menjadi orang yang ujub dengan prestasinya. Dan bersabar saat gagal, agar tidak dia tidak emosi dengan ketetapan takdir Allah yang terjadi pada dirinya.</p>
<p><strong><em>Kedua</em></strong>, Hindari Panjang Angan-angan</p>
<p>Terlalu ambisius menjadi orang sukses, memperparah kondisi galau yang dialami manusia. Dia berangan-angan panjang, hingga terbuai dalam bayangan kosong tanpa makna. Karena itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mencela panjang angan-angan.</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">لاَ يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِى اثْنَتَيْنِ فِى حُبِّ الدُّنْيَا ، وَطُولِ الأَمَلِ</p>
<p>Hati orang tua akan seperti anak muda dalam dua hal: dalam cinta dunia dan panjang angan-angan. (HR. Bukhari 6420)</p>
<p>Ali bin Abi Thalib mengatakan,</p>
<p class="arab">إنّ أخوف ما أخاف عليكم اتّباع الهوى وطول الأمل، فأمّا اتّباع الهوى فيصدّ عن الحقّ، وأمّا طول الأمل فينسي الآخرة. ألا وإنّ الدّنيا ارتحلت مدبرة</p>
<p>“Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu bisa menjadi penghalang untuk memihak kebenaran. Panjang angan-angan bisa melupakan akhirat. Ketahuilah bahwa dunia akan berlalu.</p>
<p><strong><em>Ketiga</em></strong>, Jangan Merasa Didzalimi Taqdir</p>
<p>Ketika Anda merasa lebih gagal dibandingkan teman Anda,</p>
<p>ketika Anda  merasa lebih miskin dibandingkan rekan Anda,</p>
<p>Ketika Anda terkatung-katung di dunia kuliah, sementara teman Anda telah sukses di dunia kerja dan keluarga,</p>
<p>Anda tidak perlu berduka, karena duka Anda tidak akan mengubah nasib Anda. Yang lebih penting kendalikan hati agar tidak hasad dan dengki. Anda perlu mengingat hadis ini,</p>
<p>Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ</p>
<p>Perhatikanlah orang yang lebih rendah keadaannya dari pada kalian, dan jangan perhatikan orang yang lebih sukses dibandingkan kalian. Karena ini cara paling efektif, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah bagi kalian. (HR. Ahmad 7657, Turmudzi 2703, dan Ibn Majah 4142)</p>
<p>Ketika Anda melihat ada orang kafir yang bergelimang nikmat, anda perlu ingat bahwa nikmat iman yang Anda miliki.</p>
<p>Ketika Anda melihat orang muslim ahli maksiat lebih sukses,Anda perlu ingat, Allah lebih mengunggulkan Anda dengan taat.</p>
<p><strong><em>Keempat</em></strong>, Jangan Lupakan Doa Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat</p>
<p>Di antara doa yang bisa Anda rutinkan,</p>
<p class="arab">اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ</p>
<p>Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan. (HR. Muslim no. 2720).</p>
<p>Semoga Allah selalu membimbing kita untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits, ST. BA. </strong></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2256/tips-mengatasi-galau/">Tips Mengatasi Galau</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2256/tips-mengatasi-galau/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ambil Dulu, Bayar Belakangan</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2251/ambil-dulu-bayar-belakangan/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2251/ambil-dulu-bayar-belakangan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 07:36:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2251</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ambil Dulu, Bayar Belakangan Apa hukumnya jual beli di sebuah toko sembako, dimana konsumen dibebaskan mengambil sembako apapun yang dia inginkan, kemudian dilaporkan setiap pengambilan, lalu tagihannya disampaikan di akhir bulan, sesuai total barang yang diambil. Apakah ini boleh? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Model jual beli dengan cara konsumen [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2251/ambil-dulu-bayar-belakangan/">Ambil Dulu, Bayar Belakangan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ambil Dulu, Bayar Belakangan<br />
Apa hukumnya jual beli di sebuah toko sembako, dimana konsumen dibebaskan mengambil sembako apapun yang dia inginkan, kemudian dilaporkan setiap pengambilan, lalu tagihannya disampaikan di akhir bulan, sesuai total barang yang diambil. Apakah ini boleh?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</p>
<p>Model jual beli dengan cara konsumen mengambil barang dari penjual, lalu di akhir periode dibayar total seluruh harganya, disebut dengan jual beli istijrar.</p>
<p>Istilah istijrar diambil dari kata jarra – yajurru [جر يجر] yang artinya menyeret atau menarik. Karena konsumen mengambil barang dari penjual sedikit demi sedikit, kemudian ditotal di akhir waktu yang disepakati. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 4/516).</p>
<p>Istilah jual beli istijrar banyak digunakan dalam madzhab Hanafi dan Syafiiyah (Nihayatul Muhtaj, ar-Ramli, 3/375). Sementara dalam madzhab Maliki, jual beli ini diistilahkan dengan ‘bai’ ahli Madinah’. (al-Bayan wa at-Tahshil, 7/208).</p>
<p>Hukum Jual Beli Istijrar<br />
Ulama sepakat, jual beli istijrar diperbolehkan jika harganya pasti atau telah diketahui. (Hasyiyah Ibnu Abidin, 5/183; Mughni al-Muhtaj, as-Syarbini, 2/326)</p>
<p>Misalnya, toko A menyediakan aneka sembako. Di masing-masing produk yang dijual, ada harga yang tertera. Setiap konsumen yang mengambil barang, dia sudah tahu berapa harga barang yang dia ambil.</p>
<p>Ulama berbeda pendapat jika harganya tidak diketahui oleh pembeli ketika mengambil barang. Pembeli baru tahu harga setelah ditotal di akhir, ketika hendak melakukan pembayaran.</p>
<p>Pendapat pertama, jual belinya dilarang</p>
<p>Ini merupakan pendapat jamahir ulama (hampir semua ulama) dari 4 madzhab. Bahkan an-Nawawi menyatakan bahwa para ulama sepakat jual beli tanpa diketahui harganya adalah batal.</p>
<p>Alasannya,</p>
<p>Bahwa ketika akad dilakukan, harga barang harus jelas. Jika harga barang tidak diketahui kedua pihak, maka termasuk jual beli gharar. dan islam melarang jual beli gharar.</p>
<p>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan,</p>
<p>نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ، وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli dengan lemparan kerikil dan jual beli gharar. (HR. Muslim)</p>
<p>An-Nawawi mengatakan,</p>
<p>اما إذا أخذ منه شيئا ولم يعطه شيئا ولم يتلفظا ببيع بل نويا أخذه بثمنه المعتاد كما يفعله كثير من الناس؛ فهذا باطل بلا خلاف لانه ليس ببيع لفظي ولا معاطاة ولا يعد بيعا</p>
<p>Adapun praktek, dimana konsumen mengambil barang, dan tidak membayar apapun, juga tidak mengucapkan kalimat jual beli, namun sebatas niat mengambil barang berdasarkan harga standar umum sebagaimana yang dilakukan umumnya masyarakat, maka ini jual beli yang batil dengan sepakat ulama. Karena praktek ini tidak bisa disebut jual beli baik dengan ijab qabul maupun tanpa ijab qabul (ba’i mu’athah), dan tidak disebut jual beli.</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan,</p>
<p>ولا نغتر بكثرة من يفعله فان كثيرا من الناس يأخذ الحوائج من البياع مرة بعد مرة من غير مبايعة ولا معاطاة ثم بعد مدة يحاسبه ويعطيه العوض وهذا باطل بلا خلاف</p>
<p>Dan kita tidak tertipu dengan praktek yang dilakukan umumnya masyarakat, dimana mereka mengambil barang yang mereka butuhkan dari penjual sedikit demi sedikit, tanpa ada pernyataan transaksi. Kemudian setelah berlalu sekian waktu, dihitung dan dibayar uangnya. Dan transaksi ini batil dengan sepakat ulama. (al-Majmu’, 9/164)</p>
<p>Pendapat kedua, jual belinya sah dan diperbolehkan selama ada harga pasar (as-Si’rul Mitsl) yang berlaku umum.</p>
<p>Ini adalah salah satu pendapat ulama syafiiyah. Salah satu riwayat dalam madzhab Hambali, dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qoyim.</p>
<p>Salah satu pendapat dalam madzhab as-Syafii, dinyatakan oleh An-Nawawi,</p>
<p>وحكى الرافعى وجها ثالثا أنه يصح مطلقا للتمكن من معرفته كما لو قال بعت هذه الصبرة كل صاع بدرهم يصح البيع وإن كانت جملة الثمن في الحال مجهولة وهذا ضعيف شاذ</p>
<p>Ar-Rafi’i menyebutkan pendapat ketiga, sah secara mutlak, karena memungkinkan untuk diketahui total harganya. Seperti seorang penjual mengatakan, ‘Saya jual makanan ini, harganya 1 dirham/sha’. Jual beli semacam ini sah, meskipun berapa total harga dari semua makanan yang diambil konsumen tidak jelas.</p>
<p>Kemudian an-Nawawi berkomentar,</p>
<p>Pendapat ini lemah, aneh. (al-Majmu’, 9/333)</p>
<p>Syaikhul Islam menjelaskan transaksi yang total harganya diketahui belakangan,</p>
<p>كما يشترون الخبز والأدم والفاكهة واللحم وغير ذلك من الخباز واللحام والفومي وغير ذلك وقد رضوا أن يعطيهم ثمن المثل وهو السعر الذي يبيع به للناس وهو ما ساغ به مثل تلك السلعة في ذلك المكان والزمان وهذا البيع صحيح نص عليه أحمد وإن كان في مذهبه نزاع فيه</p>
<p>Seperti masyarakat membeli roti, lauk, buah, daging, atau komoditas lainnya dari tukang roti, penjual daging, atau penjual buah, atau yang lainnya, dan mereka ridha untuk membayar harga pasar, yaitu harga yang umum berlaku di masyarakat, dan itu sesuai standar normal yang berlaku untuk barang tersebut di waktu tersebut dan di tempat tersebut. Jual beli seperti ini sah, sebagaimana keterangan Imam Ahmad, meskipun dalam madzhab beliau ada perbedaan pendapat. (Majmu’ Fatawa, 29/345).</p>
<p>Dan diantara alasan yang sering disampaikan oleh Syaikhul Islam adalah qiyas dengan mahar akad nikah. Ketika terjadi akad nikah, sementara suami belum menyebutkan mahar, maka istri berhak mendapatkan mahar mitsl. Dan ulama menegaskan bahwa pernikahan semacam ini sah. Sehingga, jika dalam pernikahan yang nilai maharnya dikembalikan kepada mahar umumnya yang berlaku (mahar mitsl) terhitung sah, maka dalam jual beli dengan harga yang dikembalikan kepada harga umum (tsaman mitsl) juga sah. (Nadzariyat al-Aqd, 145 – 155)</p>
<p>Dan insyaaAllah pendapat kedua ini yang lebih mendekati.</p>
<p>Allahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2251/ambil-dulu-bayar-belakangan/">Ambil Dulu, Bayar Belakangan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2251/ambil-dulu-bayar-belakangan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hewan Qurban Cacat Ketika Turun dari Kendaraan</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2249/hewan-qurban-cacat-ketika-turun-dari-kendaraan/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2249/hewan-qurban-cacat-ketika-turun-dari-kendaraan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 07:35:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2249</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hewan Qurban Cacat Ketika Turun dari Kendaraan Jika ada sapi yang pincang pada saat diturunkan dari kendaraan, apakah sah digunakan untuk qurban? Jawaban: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Hewan yang siap qurban, ada dua: [1] Hewan yang sudah ditegaskan akan digunakan untuk qurban. Para ulama menyebutnya sudah ‘dita’yin’. Sudah dita’yin untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2249/hewan-qurban-cacat-ketika-turun-dari-kendaraan/">Hewan Qurban Cacat Ketika Turun dari Kendaraan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Hewan Qurban Cacat Ketika Turun dari Kendaraan<br />
Jika ada sapi yang pincang pada saat diturunkan dari kendaraan, apakah sah digunakan untuk qurban?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</p>
<p>Hewan yang siap qurban, ada dua:</p>
<p>[1] Hewan yang sudah ditegaskan akan digunakan untuk qurban.</p>
<p>Para ulama menyebutnya sudah ‘dita’yin’. Sudah dita’yin untuk qurban artinya hewan itu sudah ditegaskan untuk dijadikan hewan qurban.</p>
<p>[2] Hewan yang belum ditegaskan untuk hewan qurban.</p>
<p>Sebagai contoh:</p>
<p>Si A menjual 10 ekor kambing, semunya siap untuk dijadikan hewan qurban. Di tanggal 7 Dzulhijjah (H-4), si B membeli seekor kambing untuk qurban. Kambing itu diberi tanda dan dititipkan ke tempat si A, yang nantinya akan dikirim di hari H.<br />
Maka kambing yang diberi tanda ini disebut kambing yang sudah dita’yin untuk qurban. Sementara 9 kambing lainnya, belum dita’yin untuk qurban.</p>
<p>Ketika hari H, kambing si B dikirim. Pada saat turun dari kendaraan, kambing itu jatuh dan pincang.</p>
<p>Bolehkah kambing ini diqurbankan?</p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa hewan qurban yang sudah dita’yin, statusnya hewan amanah bagi pemilik, agar dijaga sampai disembelih. Sehingga status hewan ini seperti wadiah. Artinya, jika terjadi cacat di luar keteledoran pemilik, maka dia tidak wajib mengganti.</p>
<p>Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,</p>
<p>لأنها لما تعيَّنت صارت أمانة عنده كالوديعة ، وإذا كانت أمانة ولم يحصل تعيُّبها بفعله أو تفريطه فإنه لا ضمان عليه وتجزئه</p>
<p>Karena hewan ketika sudah dita’yin maka statusnya amanah, sebagaimana wadiah. Jika itu harta amanah, sementara mengalami cacat di luar keteledorannya, maka tidak ada ganti rugi, dan sah untuk diqurbankan. (as-Syarh al-Mumthi’, 7/475).</p>
<p>Karena itu, binatang yang sudah dita’yin ketika beli, lalu mengalami cacat di luar keteledoran manusia, maka sah dijadikan sebagai hewan qurban.</p>
<p>Ibnu Qudamah menjelaskan,</p>
<p>إذا أوجب أضحية صحيحة سليمة من العيوب , ثم حدث بها عيب يمنع الإجزاء , ذبحها , وأجزأته. روي هذا عن عطاء والحسن والنخعي والزهري والثوري ومالك والشافعي وإسحاق</p>
<p>Ketika seseorang telah memilih hewan qurban yang sehat, terbebas dari cacat, kemudian dia mengalami aib yang menyebabkan tidak sah jika diqurbankan, dia tetap boleh menyebelihnya dan sah sebagai qurban. Pendapat ini diriwayatkan dari Atha’, Hasan al-Bashri, Ibrahin an-Nakha’I, az-Zuhri, at-Tsauri, Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Ishaq bin Rahuyah. (al-Mughni, 13/373).</p>
<p>Dalil mengenai hal ini adalah pernyataan Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhu, bahwa pernah melihat ada onta hadyu yang buta sebelah matanya.</p>
<p>Kemudian beliau mengatakan,</p>
<p>إن كان أصابها بعد ما اشتريتموها فأمضوها ، وإن كان أصابها قبل أن تشتروها فأبدلوها</p>
<p>Jika dia buta setelah kalian beli, lanjutkan untuk disembelih. Namun jika dia buta sebelum kalian beli, ganti dengan onta yang lain. (HR. al-Baihaqi dalam as-Shugra, 1419 dan sanadnya dishahihkan an-Nawawi).</p>
<p>Oleh karena itu, cacat ketika proses pengiriman hewan qurban, tidak mempengaruhi keabsahan berqurban, selama itu terjadi di luar keteledoran manusia.</p>
<p>Untuk itu, yang perlu diwaspadai, pada saat menurut hewan, harus dilakukan dengan baik sesuai standar yang berlaku. Dikhawatirkan, jika penurunan hewan dilakukan dengan cara tidak normal, lalu mengalami cacat, maka itu menjadi cacat karena tindakan manusia, sehingga wajib diganti.</p>
<p>Demikian, Allahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2249/hewan-qurban-cacat-ketika-turun-dari-kendaraan/">Hewan Qurban Cacat Ketika Turun dari Kendaraan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2249/hewan-qurban-cacat-ketika-turun-dari-kendaraan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2247/orang-shalat-isya-sendirian-apakah-bacaannya-dikeraskan/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2247/orang-shalat-isya-sendirian-apakah-bacaannya-dikeraskan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 07:33:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Shalat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2247</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan? Jika kita melaksanakan shalat maghrib maupun isya sendirian, apakah dianjurkan untuk mengeraskan bacaan? Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-fatihah dan surat setelahnya dengan keras pada dua rakaat pertama shalat maghrib, dua rakaat pertama shalat isya, dan shalat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2247/orang-shalat-isya-sendirian-apakah-bacaannya-dikeraskan/">Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?<br />
Jika kita melaksanakan shalat maghrib maupun isya sendirian, apakah dianjurkan untuk mengeraskan bacaan?</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-fatihah dan surat setelahnya dengan keras pada dua rakaat pertama shalat maghrib, dua rakaat pertama shalat isya, dan shalat subuh. Dan ini berdasarkan riwayat secara turun-temurun dari generasi ke generasi, sebagaimana keterangan an-Nawawi dalam al-Majmu’ (3/389)</p>
<p>Demikian pula, dianjurkan bagi imam mengeraskan bacaan ketika shalat jumat, shalat id, istisqa, dan shalat gerhana. (HR. Bukhari)</p>
<p>Sehingga anjuran ini berlaku bagi umatnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</p>
<p>وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى</p>
<p>“Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari 631 dan yang lainnya).</p>
<p>Bagaimana jika shalat sendirian?</p>
<p>Dr. Abdul Karim Zaidan mengatakan,</p>
<p>ويجهر بقراءته في الركعتين الأوليين من المغرب والعشاء وفي فريضة الصبح ، ويسر في الركعة الثالثة من المغرب وفي الركعتين الأخيرتين من صلاة العشاء ، وهذا الإسرار والجهر في القراءة في موضعه مستحب في حق المنفرد عند الإمام الشافعي وغيره ، وقال الحنابلة : للمنفرد الخيار في الجهر في موضعه ، فإن شاء جهر وإن شاء خافت</p>
<p>Dianjurkan mengeraskan bacaan di dua rakaat pertama shalat maghrib, dua rakaat pertama shalat isya, dan shalat subuh. Dan memelankan bacaan di rakaat ketiga shalat maghrib dan dua rakaat terakhir shalat isya. Anjuran untuk mengeraskan atau memelankan bacaan ini berlaku bagi orang yang shalat sendirian menurut Imam as-Syafi’i dan yang lainnya. Sementara menurut Hambali, bagi orang yang shalat jahriyah sendirian, dia memiliki pilihan, boleh mengeraskan atau memelankan bacaan. (al-Mufashal li Ahkam al-Mar’ah, hlm. 220)</p>
<p>Keterangan yang semisal juga disampaikan Imam Ibnu Baz – rahimahullah –,</p>
<p>الأفضل الجهر في المغرب والعشاء والفجر، الأفضل الجهر وإن كنت وحدك كالمريض، وهكذا المرأة تقرأ جهراً في المغرب والعشاء والفجر</p>
<p>Yang afdhal, mengeraskan bacaan ketika shalat maghrib, isya dan subuh. Yang afdhal dikeraskan, meskipun anda shalat sendirian, seperti orang yang sedang sakit. Demikian pula wanita, dia bisa membaca dengan keras untuk shalat maghrib, isya dan subuh. (binbaz.org.sa/fatwas/8628/حكم-الجهر-بالقراءة-لمن-صلى-منفردا-صلاة-جهرية)</p>
<p>Demikian, Allahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2247/orang-shalat-isya-sendirian-apakah-bacaannya-dikeraskan/">Orang Shalat Isya Sendirian, Apakah Bacaannya Dikeraskan?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2247/orang-shalat-isya-sendirian-apakah-bacaannya-dikeraskan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2245/tradisi-pecah-kendi-di-acara-peresmian/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2245/tradisi-pecah-kendi-di-acara-peresmian/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 07:32:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2245</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian Mohon pencerahan mengenai tradisi pecah kendi ketika melepas jamaah haji. Jawab: Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du, Terkait pecah kendi, kita sepakat ini berangkat dari budaya. Islam sama sekali tidak pernah mengajarkannya, baik dalam bentuk dalil tegas maupun isyarat. Selanjutnya kita akan bicara masalah budaya. Dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2245/tradisi-pecah-kendi-di-acara-peresmian/">Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian<br />
Mohon pencerahan mengenai tradisi pecah kendi ketika melepas jamaah haji.</p>
<p>Jawab:</p>
<p>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</p>
<p>Terkait pecah kendi, kita sepakat ini berangkat dari budaya. Islam sama sekali tidak pernah mengajarkannya, baik dalam bentuk dalil tegas maupun isyarat.</p>
<p>Selanjutnya kita akan bicara masalah budaya.</p>
<p>Dalam melakukan sebuah budaya, ada dua motivasi yang menjadi pertimbangan bagi pelakunya,</p>
<p>[1] Karena disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan selera masyarakat.<br />
Seperti budaya pakaian, jenis makanan, bentuk tempat tinggal, jenis pekerjaan, dan seterusnya.</p>
<p>Melakukan kegiatan budaya semacam ini, pada asalnya tidak dilarang selama tidak melanggar syariat.</p>
<p>Sebagaimana dinyatakan dalam hadis,</p>
<p>أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ</p>
<p>“Kalian lebih paham tentang urusan dunia kalian.” (HR. Muslim 6277)</p>
<p>Dan seperti yang kita maklumi, sebab keberadaan hadis ini berkaitan dengan masalah pekerjaan. Di mana para sahabat asli Madinah, mereka mengkawinkan kurma, yang itu membutuhkan banyak effort dalam melakukannya. Karena petani harus naik ke kurma jantan, ambil benang sari, lalu turun, kemudian naik lagi ke pohon kurma betina, untuk menaruhnya di putik.</p>
<p>Melihat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang aslinya penduduk Mekah merasa terheran, dan menurut beliau itu tindakan yang terlalu banyak buang-buang tenaga. Sehingga beliau sarankan kepada mereka untuk dibiarkan saja, jika memang sudah ditaqdirkan berbuah, pasti akan berbuah.</p>
<p>Walhasil, di tahun itu, banyak kurma gagal berbuah. Dari situlah, beliau menyatakan bahwa urusan dunia, masyarakat lebih paham.</p>
<p>Budaya semacam ini sangat mungkin mengalami perubahan seiring dengan perkembangan interaksi masyarakat dan asimilasi budaya diantara mereka.</p>
<p>[2] Karena dorongan keyakinan tertentu.<br />
Kita menyebutnya dengan filosofi budaya. Lalu dianggap sebagai bagian dari kearifan lokal.</p>
<p>Mengingat berangkat dari filosofi budaya, masing-masing daerah bisa jadi berbeda-beda, tergantung budaya masing-masing.</p>
<p>Pamali yang berlaku di Jogja, berbeda dengan pamali yang berlaku di Sumatra, berbeda pula dengan yang berlaku di Papua atau Lombok.</p>
<p>Demikian pula yang kaitannya dengan sebab keberuntungan. Di Solo, sebab keberuntungan adalah kerbau. Di Papua, sebab keberuntungan adalah babi. Dan mungkin akan berbeda dengan sebab keberuntungan yang berlaku di Lombok ataupun Bali.</p>
<p>Itulah efek dari keberadaan mitos mereka yang berbeda-beda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain.</p>
<p>Dan umumnya budaya semacam ini tidak mengalami perubahan. Dari dulu sampai sekarang, sama.</p>
<p>Sekalipun orang menyebut zaman IT, masyarakat sudah modern, budaya dengan latar belakang mitos ini, protap-nya tetap sama.</p>
<p>Yang menjadi persoalan adalah budaya semacam ini seringnya dikait-kaitkan dengan takdir, baik berupa keberuntungan maupun kecelakaan.</p>
<p>Di masyarakat Jogja misalnya, mengadakan hajatan saat bulan Suro (Muharram) adalah sumber ciloko (kecelakaan). Sehingga dijadikan pantangan. Rumah menghadap ke utara dianggap lambang keberkahan, dan seterusnya. Pecah kendi dianggap mendatangkan rizki, dan seterusnya.</p>
<p>Padahal bagi seorang muslim, kita meyakini bahwa takdir adalah ketetapan Allah, di mana tidak ada satupun makhluk yang tahu. Sehingga ketika takdir itu dikaitkan dengan budaya tertentu, kita bisa sebut, ini seperti nekad meraba ‘perbuatan Allah’ dengan aktivitas makhluk-Nya.</p>
<p>Dari mana anda tahu melakukan hajatan saat bulan Muharram adalah sumber musibah?</p>
<p>Dari mana anda tahu saat melepas merpati lalu terbang lurus adalah tanda berkah?</p>
<p>Dari mana anda tahu pecah kendi akan membuka pintu rizki?</p>
<p>Karena itulah, melestarikan budaya semacam ini tidak diperkenankan dalam Islam. Dalam kajian aqidah, ini disebut tiyaroh, meyakini keberuntungan dan kesialan disebabkan kejadian tertentu.</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، الطِّيَرَةُ شِركٌ ، وما منا إلا ، ولكنَّ اللهَ يُذهِبُه بالتَّوَكُّلِ</p>
<p>“Thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan.”</p>
<p>Kata Ibnu Mas’ud, “dan setiap kita pasti pernah mengalaminya. Namun Allah hilangkan itu dengan memberikan tawakkal (dalam hati)” (HR. Abu Daud no. 3910).</p>
<p>Sebab Musibah adalah Durhaka<br />
Bukan berarti tidak ada sebab musibah. Islam juga mengajarkan adanya sebab musibah bagi manusia, yaitu durhaka kepada Sang Pencipta. Sebaliknya sebab keberuntungan adalah ketaatan kepada Sang Pencipta.</p>
<p>Dari mana anda tahu hal ini?</p>
<p>Al-Quran yang menyebutkan itu.</p>
<p>Allah berfirman,</p>
<p>وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ</p>
<p>“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. as-Syuro: 30)</p>
<p>Mengenai sebab keberuntungan, Allah berfirman,</p>
<p>وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ</p>
<p>“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. al-A’raf: 96)</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat…</p>
<p>Allahu a’lam.</p>
<p>Dijawab oleh: Ustadz Ammi Nur Baits</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2245/tradisi-pecah-kendi-di-acara-peresmian/">Tradisi Pecah Kendi di Acara Peresmian</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2245/tradisi-pecah-kendi-di-acara-peresmian/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Booking Hotel yang Ada Patungnya</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2243/hukum-booking-hotel-yang-ada-patungnya/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2243/hukum-booking-hotel-yang-ada-patungnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2025 07:30:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Muamalah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2243</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pertanyaan: Assalamu’alaykum ustadz Ammi, ana mau bertanya. Semisal kita sedang safar ke daerah mayoritas non-muslim, kemudian di villa tempat kita menginap ada patung sesembahan agama lain di bagian halamannya, namun di dalam villanya tidak ada. Misalnya patung budha, atau patung yesus atau patung dewa-dewi dll. Pertanyaannya, bagaimana hukum menginap di villa tersebut, mengingat di daerah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2243/hukum-booking-hotel-yang-ada-patungnya/">Hukum Booking Hotel yang Ada Patungnya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan:</p>
<p>Assalamu’alaykum ustadz Ammi, ana mau bertanya. Semisal kita sedang safar ke daerah mayoritas non-muslim, kemudian di villa tempat kita menginap ada patung sesembahan agama lain di bagian halamannya, namun di dalam villanya tidak ada. Misalnya patung budha, atau patung yesus atau patung dewa-dewi dll. Pertanyaannya, bagaimana hukum menginap di villa tersebut, mengingat di daerah tersebut memang rata-rata penginapan kondisinya demikian. Bagaimana juga status sholat kita di dalam villa tersebut di bagian yang tidak ada patungnya? Apakah sah?</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Bismillah wasshalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,</p>
<p>Sebelumnya kita akan menyimak beberapa riwayat berikut, untuk kita jadikan sebagai rujukan dalam memahami kasus ini,</p>
<p>Pertama, hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>أنَّ المَلَائِكَةَ لا تَدْخُلُ بَيْتًا فيه صُورَةٌ</p>
<p>Sesungguhnya malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada gambar. (HR. Bukhari 3224)</p>
<p>Gambar yang dimaksud dalam hadis ini adalah gambar makhluk bernyawa, baik 2 dimensi maupun 3 dimensi.</p>
<p>Kedua, hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau bercerita,</p>
<p>إنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ لَمَّا قَدِمَ أَبَى أَنْ يَدْخُلَ البَيْتَ وفيهِ الآلِهَةُ، فأمَرَ بهَا فَأُخْرِجَتْ، فأخْرَجُوا صُورَةَ إبْرَاهِيمَ، وإسْمَاعِيلَ في أَيْدِيهِما الأزْلَامُ</p>
<p>Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Mekah, beliau enggan untuk masuk ke dalam Ka’bah, sebab di dalamnya ada berhala. Lalu beliau perintahkan agar dikeluarkan. Mereka pun mengeluarkan patung Ibrahim dan Ismail yang di tangannya memegang al-Azlam.</p>
<p>Lalu beliau bersabda,</p>
<p>قَاتَلَهُمُ اللَّهُ، أَما واللَّهِ لقَدْ عَلِمُوا أنَّهُما لَمْ يَسْتَقْسِما بهَا قَطُّ</p>
<p>Semoga Allah mengutuk mereka (orang musyrikin). Sungguh mereka tahu bahwa kedua Nabi ini sama sekali tidak pernah melakukan istiqsam bil azlam. (HR. Bukhari 1601 &amp; Muslim 1331)</p>
<p>*Istiqsam bil azlam adalah cara orang jahiliyah dalam menentukan pilihan dan mengundi nasib. Mereka membuat beberapa kartu dari kayu yang dikocok untuk menentukan pilihan ketika mereka bimbang untuk melakukan sesuatu.</p>
<p>Ketiga, keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita,</p>
<p>دَخَلَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ البَيْتَ، فَوَجَدَ فيه صُورَةَ إبْرَاهِيمَ، وصُورَةَ مَرْيَمَ، فَقالَ: أَمَا لهمْ! فقَدْ سَمِعُوا أنَّ المَلَائِكَةَ لا تَدْخُلُ بَيْتًا فيه صُورَةٌ، هذا إبْرَاهِيمُ مُصَوَّرٌ، فَما له يَسْتَقْسِمُ!</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah, beliau menjumpai ada replika Ibrahim dan Maryam. Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya mereka sudah mendengar bahwa malaikat tidak akan masuk rumah di dalamnya ada gambar. Ini Ibrahim digambar. Dan aneh kalau beliau melakukan istiqsam bil azlam!”” (HR. Bukhari 3351)</p>
<p>Dua riwayat dari Ibnu Abbas memberikan kesimpulan berkebalikan. Sebagian memahami bahwa kemungkinan itu terjadi 2 kali.</p>
<p>Keempat, Umar menetapkan aturan bagi ahlu dzimmah (ahli kitab yang tinggal di negeri muslim) yang tinggal di Syam,</p>
<p>أن يوسّعوا أبواب كنائسهم للمسلمين، ليدخلوها للمبيت بها؛ وللمارّة بدوابّهم .</p>
<p>“Agar mereka memperluas pintu masuk gereja dan mengizinkan kaum muslimin untuk menginap dan bisa dilewati kendaraan mereka.” (al-Mughni, 10/202)</p>
<p>Sementara di dalam gereja Nasrani di masa silam, ada banyak patung dan salib.</p>
<p>Berdasarkan semua riwayat di atas, ulama berbeda pendapat mengenai hukum memasuki bangunan yang di dalamnya ada patung atau gambar makhluk bernyawa.</p>
<p>Pendapat pertama, haram memasuki ruangan atau bangunan yang ada gambar atau patung. Kecuali jika gambar itu dihinakan, misalnya gambar di keset atau di karpet yang diinjak.</p>
<p>Ini merupakan pendapat Imam as-Syafii. Beliau mengatakan,</p>
<p>إن رأى صوراً في الموضع ذوات أرواح لم يدخل المنزل الّذي فيه تلك الصّور إن كانت منصوبة لا توطأ ، فإن كانت توطأ فلا بأس أن يدخله</p>
<p>“Apabila ada orang melihat gambar makhluk bernyawa di tempat tersebut maka dia tidak boleh memasuki ruangan yang di sana ada gambar jika gambar itu terpasang tegak dan tidak diinjak. Namun jika gambar itu diinjak, tidak masalah memasuki ruangan itu.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 12/25)</p>
<p>Pendapat kedua, makruh memasuki ruangan yang ada gambar atau patung.</p>
<p>Ini merupakan pendapat kedua dalam madzhab Syafiiyah. Dalam Ensiklopedi Fiqih dinyatakan,</p>
<p>والقول الثّاني للشّافعيّة : عدم تحريم الدّخول ، بل يكره . وهو قول صاحب التّقريب والصّيدلانيّ ، والإمام ، والغزاليّ في الوسيط ، والإسنويّ</p>
<p>“Pendapat kedua dalam madzhab Syafi’iyah, tidak haram masuk ruangan yang ada gambar, namun makruh. Ini merupakan pendapat penulis at-Taqrib, as-Shaidalani, al-Imam, al-Ghazali dalam kitab al-Wasith, dan al-Isnawi.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 12/25)</p>
<p>Pendapat ketiga, dibolehkan masuk ke dalam ruangan maupun bangunan yang ada gambar makhluk bernyawa. Ini merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Hambali.</p>
<p>Ada orang yang bertanya kepada Imam Ahmad, “Jika ada orang yang menghadiri undangan di rumah orang lain, sementara dia tidak mengetahui ada gambar kecuali saat makanan dihidangkan, apakah dia harus keluar?”</p>
<p>Jawab beliau,</p>
<p>لا تضيِّق علينا. إذا رأى الصّور وبّخهم ونهاهم. يعني: ولا يخرج</p>
<p>“Jangan terlalu memberatkan masyarakat. Jika dia melihat gambar, cukup diingatkan tuan rumah dan sampaikan larangan kepada mereka. Maksud beliau, tidak perlu keluar.” (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 12/24)</p>
<p>Pendapat ketiga beralasan dengan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke dalam Ka’bah dan beliau melihat gambar Ibrahim dan Maryam.</p>
<p>Demikian pula, peraturan yang ditetapkan oleh Umar untuk ahli kitab yang berada di Syam, setelah negeri Syam ditaklukkan. Di mana mereka harus memberikan keleluasaan bagi kaum muslimin untuk beristirahat di Gereja, ketika ada kaum muslimin luar yang datang ke Syam.</p>
<p>Sementara terkait hadis yang menyebutkan bahwa malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada gambar. Terkait hadis ini, tidak menunjukkan larangan untuk masuk rumah yang ada gambarnya. Sebagaimana dalam riwayat lain bahwa malaikat juga tidak masuk ke dalam rumah yang ada orang junub di dalamnya. Dan kita tidak dilarang untuk berada di dalam rumah yang di dalamnya ada orang junub.</p>
<p>Dan insyaaAllah pendapat ketiga inilah yang lebih mendekati kebenaran.</p>
<p>Makruh Shalat di Dalamnya</p>
<p>Boleh masuk bukan berarti bebas beraktivitas di dalamnya. Para ulama menyebutkan, makruh shalat di dalam ruangan yang ada gambarnya.</p>
<p>Syaikhul Islam menyebutkan,</p>
<p>الصحيح المأثور عن عمر بن الخطاب وغيره ، وهو منصوص عن أحمد وغيره : أنه إن كان فيها – يعني الكنيسة – صور لم يصل فيها ؛ لأن الملائكة لا تدخل بيتاً فيه صورة ، ولأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يدخل الكعبة حتى مُحي ما فيها من الصور</p>
<p>“Yang benar, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab dan yang lainnya, dan itu juga yang ditegaskan oleh Imam Ahmad dan yang lainnya, bahwa jika di dalam gereja ada gambar, maka tidak boleh shalat di dalamnya. Karena malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya ada gambar. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau masuk Ka’bah hingga patungnya dibersihkan.” (Majmu’ al-Fatawa, 22/162)</p>
<p>Di antara alasannya, ibadah di tempat yang banyak patung dan gambar, menyerupai kebiasaan buruk orang kafir yang shalat menghadap ke berhala mereka. Kecuali jika tidak ada tempat lain, dan usaha yang bisa Anda lakukan adalah mensterilkan sementara gambar yang ada di dalam kamar hotel dengan menurunkan gambar di tembok agar tidak nampak.</p>
<p>Demikian,</p>
<p>Allahu a’lam</p>
<p>***</p>
<p>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits, S.T., B.A.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2243/hukum-booking-hotel-yang-ada-patungnya/">Hukum Booking Hotel yang Ada Patungnya</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2243/hukum-booking-hotel-yang-ada-patungnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
