Bulan Sya’ban: Bulan yang Dicintai Rasulullah ﷺ
Dalam kalender hijriah, bulan Sya’ban sering berada di posisi “sunyi”. Ia terjepit di antara Rajab yang sebagian orang agungkan dengan acara tertentu dan Ramadhan yang seluruh umat islam nantikan. Akibatnya, banyak kaum Muslimin yang melalaikan bulan Sya’ban ini, padahal Rasulullah ﷺ justru memberi perhatian khusus pada bulan ini.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi telah diisyaratkan langsung oleh Nabi ﷺ dalam hadits shahih. Artikel ini mengajak kita memahami kedudukan bulan Sya’ban menurut Sunnah dan penjelasan para ulama salaf, agar ibadah kita tidak bersifat musiman, tetapi berkesinambungan.
Bulan yang Dilalaikan Manusia
Usamah bin Zaid رضي الله عنهما (w. 54 H) bertanya kepada Rasulullah ﷺ (w. 11 H):
يَا رَسُولَ اللهِ: لَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ؟
“Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan lain sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?”
Rasulullah ﷺ (w. 11 H) menjawab:
«…ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفَلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ»
“Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, berada di antara bulan Rajab dan Ramadhan…” (HR. an Nasa-i no. 2357 dan Ahmad no. 21753) [https://ar.islamway.net/article/95364]
Imam Ibnu Rajab al Hanbali رحمه الله (w. 795 H) berkata:
وَقَوْلُهُ ﷺ «شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ» فِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى أَنَّ فَضْلَ الْعِبَادَةِ فِي أَوْقَاتِ غَفْلَةِ النَّاسِ أَعْظَمُ، لِقِلَّةِ الْمُشَارِكِينَ فِيهَا، وَخُصُوصِيَّةِ الْإِخْلَاصِ
“Sabda Nabi ﷺ “bulan yang manusia lalai darinya” mengandung isyarat bahwa keutamaan ibadah pada waktu manusia lalai itu lebih besar, karena sedikitnya orang yang melakukannya dan lebih kuatnya unsur keikhlasan di dalamnya.” (Latha-if al Ma‘arif fima li Mawasim al ‘Am min al Wazha-if, cet. Dar Ibnu Katsir, Beirut, hlm. 130).
Maknanya, ketika mayoritas manusia lalai dari ibadah, maka nilai keikhlasan dan keutamaan dari ibadah tersebut justru semakin besar bila dilaksanakan karena umumnya motivasi pada kondisi ini ialah untuk ibadah kepada Allah ﷻ.
Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban adalah Sunnah Nabi ﷺ
Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 58 H):
«مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ»
“Aku tidak pernah melihat Nabi ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban.” (HR. al Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156);
Dalam riwayat al Bukhari disebutkan:
«كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّه»
“Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruhnya”.
Dan dalam riwayat Muslim disebutkan:
«كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلَّا قَلِيلًا»
“Beliau berpuasa di bulan Sya’ban kecuali sedikit saja (beliau berbuka)”. [https://archive.org/details/20210312_20210312_1606]
Imam Ibnu Rajab al Hanbali رحمه الله (w. 795 H) menjelaskan pengkompromian seluruh riwayat hadits tentang puasa Sya’ban:
وَجَمِيعُ مَا وَرَدَ مِنْ أَنَّهُ صَامَهُ كُلَّهُ، وَأَنَّهُ صَامَهُ إِلَّا قَلِيلًا، يُرَادُ بِهِ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُ أَكْثَرَهُ
“Seluruh riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ berpuasa Sya’ban seluruhnya dan riwayat yang menyebutkan kecuali sedikit, maksudnya adalah bahwa beliau berpuasa sebagian besar dari bulan tersebut.” (Latha-if al Ma‘arif fima li Mawasim al ‘Am min al Wazha-if, cet. Dar Ibnu Katsir, Beirut, hlm. 131).
Sya’ban dan Pengangkatan Amal kepada Allah
Dalam lanjutan hadits Usamah bin Zaid رضي الله عنهما (w. 54 H), Rasulullah ﷺ (w. 11 H) bersabda:
«وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ العَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ»
“Pada bulan itu amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan berpuasa.” (HR. an Nasa-i no. 2357 dan Ahmad no. 21753)
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله (w. 728 H) berkata:
وَرَفْعُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ يَكُونُ فِي أَوْقَاتٍ مُعَيَّنَةٍ، فَمَنْ اسْتَعَدَّ لَهَا بِالطَّاعَةِ كَانَ ذَلِكَ مِنْ كَمَالِ دِينِهِ
“Pengangkatan amal kepada Allah terjadi pada waktu-waktu tertentu. Barang siapa mempersiapkannya dengan ketaatan, maka hal itu termasuk kesempurnaan agamanya.” (Majmu‘ al Fatawa, cet. Mujamma‘ al Malik Fahd, Madinah, 25/290).Puasanya Nabi ﷺ di bulan Sya’ban menunjukkan bahwa ibadah tersebut disunnahkan dan bukan perkara yang baru, hanya saja sebagian dari kaum muslimin keliru dalam menghidupkan bulan ini.
Antara Melalaikan dan Berlebihan
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menegaskan:
وَمِنَ الْبِدَعِ الَّتِي أَحْدَثَهَا بَعْضُ النَّاسِ: بِدْعَةُ الِاحْتِفَالِ بِلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، وَتَخْصِيصُ يَوْمِهَا بِالصِّيَامِ، وَلَيْسَ عَلَى ذَلِكَ دَلِيلٌ يَجُوزُ الِاعْتِمَادُ عَلَيْهِ، وَقَدْ وَرَدَ فِي فَضْلِهَا أَحَادِيثُ ضَعِيفَةٌ لَا يَجُوزُ الِاعْتِمَادُ عَلَيْهَا
“Di antara bid‘ah yang diada-adakan oleh sebagian orang adalah bid‘ah merayakan malam pertengahan bulan Sya’ban dan mengkhususkan siangnya dengan berpuasa. Tidak ada dalil yang dapat dijadikan sandaran dalam hal tersebut, dan memang telah diriwayatkan hadits-hadits tentang keutamaannya, namun hadits-hadits itu lemah dan tidak boleh dijadikan pegangan.” (https://binbaz.org.sa/articles/24).
Lalu beliau juga menukilkan pernyataan dari Imam Muhammad bin ‘Ali asy Syaukani رحمه الله (w. 1250 H) penulis kitab Nailul Authar tentang salah satu hadits yang menjelaskan akan keutamaan ibadah khususnya shalat pada malam Nishfu Sya’ban (Pertengahan Sya’ban):
Al ‘Allamah asy Syaukani رحمه الله berkata dalam kitab al Fawa-id al Majmu‘ah sebagai berikut: “Hadits: ‘Wahai Ali, barang siapa shalat seratus rakaat pada malam Nishfu Sya‘ban, membaca pada setiap rakaat al Fatihah dan ‘Qul Huwa Allahu Ahad’ sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan mengabulkan setiap kebutuhannya’, dan seterusnya… — hadits ini adalah maudhu‘ (palsu).
Pada lafaz-lafaznya yang secara tegas menyebutkan pahala besar yang akan diperoleh oleh pelakunya, terdapat sesuatu yang tidak akan diragukan oleh siapa pun yang memiliki kemampuan membedakan, bahwa hadits ini adalah buatan. Para perawinya tidak dikenal, dan hadits ini juga diriwayatkan melalui jalur kedua dan ketiga, semuanya palsu, dan para perawinya pun majhul (tidak dikenal).”
Sya’ban adalah Bulan Persiapan
Imam Ibnu Rajab al Hanbali رحمه الله (w. 795 H) berkata:
وَكَانَ شَهْرُ شَعْبَانَ كَالْمُقَدِّمَةِ لِرَمَضَانَ، فَشُرِعَ فِيهِ مَا يُشْرَعُ فِي رَمَضَانَ مِنَ الصِّيَامِ
“Bulan Sya’ban adalah seperti mukadimah bagi Ramadan; maka disyariatkan di dalamnya apa yang disyariatkan di Ramadan berupa puasa.” (Latha-if al Ma‘arif fima li Mawasim al ‘Am min al Wazha-if, cet. Dar Ibnu Katsir, Beirut, hlm. 132).Diantara hikmah adanya bulan Sya’ban dan contoh dari Nabi ﷺ dalam beribadah pada bulan ini ialah agar jiwa-jiwa manusia punya persiapan yang cukup untuk menemui bulan Ramadhan yang memiliki keutamaan yang lebih besar lagi sehingga diharapkan kualitas ibadah di dalamnya semakin baik dan terus menjadi lebih baik hingga berakhirnya bulan mulia ini.
Bulan Sya’ban adalah bulan yang sering terlupakan, padahal Rasulullah ﷺ secara nyata memperbanyak ibadah di dalamnya. Karena bulan Sya’ban merupakan masa persiapan ruhiyah untuk menyambut bulan Ramadhan agar ibadah pun lebih maksimal, juga karena bula Sya’ban ialah waktu pengangkatan amal dan ladang sunnah yang besar pahalanya.
Maka menghidupkan Sya’ban dengan cara sesuai sunnah berarti:
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ;
- Meneladani praktik para salaf;
- dan Menyiapkan Ramadan dengan iman dan ilmu.
Inilah Islam yang ilmiah, seimbang dan berkelanjutan, semoga bermanfaat.
Wallahu a’lamu bishshawab.





