Malam yang Lebih Baik daripada 1000 Bulan, Kapan Itu?
Menelusuri Dalil dan Penjelasan Syar’i Tentang Lailatul Qadar
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Allah ﷻ berfirman:
﴾إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (٢) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ (٣)﴿
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. (1) Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2) Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (3)” (QS. Al Qadr: 1-3)
Lailatul Qadar adalah malam paling agung dalam Islam. Namun pertanyaan yang selalu muncul setiap Ramadhan adalah Kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi? Apakah tanggal 27? Apakah selalu malam ganjil? Ataukah berpindah-pindah?
Untuk menjawabnya, kita harus kembali kepada al Qur-an, hadits shahih, serta penjelasan para ulama.
Lailatul Qadar Berada di Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadhan
Dari oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 57 H), bahwasanya Rasulullah ﷺَ (w. 11 H) bersabda:
«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Muslim no. 1169)
Ini adalah pondasi utama terkait letak lailatul qadr. Tidak ada khilaf bahwa ia berada di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.
Apakah Hanya di Malam Ganjil?
Dari oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah رضي الله عنها (w. 57 H), bahwasanya Rasulullah ﷺَ (w. 11 H) bersabda:
«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ»
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari no. 2017).
Yang dimaksud dengan malam ganjil ialah malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29. Maksudnya ialah Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir Ramadhan dan lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil, namun tidak terbatas pada satu malam tertentu. Karena itu seorang mukmin dianjurkan mencarinya dengan bersungguh-sungguh pada seluruh sepuluh malam terakhir. (Majmu‘ Al Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 25/284–286.)
Penjelasan Para Ulama
Zirr bin Hubaisy رحمه الله (w. 82 H) bertanya kepada Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه (w. 22 H):
“Aku bertanya kepada Ubay bin Ka‘ab رضي الله عنه (w. 22 H), ‘Wahai Abu al-Mundzir, dari mana engkau mengetahui bahwa itu adalah malam ke-27?’ Ia menjawab, ‘Ya, Rasulullah ﷺ telah memberitahukan kepada kami bahwa malam itu adalah malam yang pada pagi harinya matahari terbit tanpa memiliki sinar yang menyilaukan.’” (HR. At Tirmidzi no. 793)
Namun ini ijtihad berdasarkan tanda yang beliau ketahui saat itu.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله (w. 728 H) menjelaskan terkait kapan terjadinya Lailatul Qadr:
“Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Demikianlah yang shahih dari Nabi ﷺ (w. 11 H) ketika beliau bersabda, “Ia berada pada sepuluh malam terakhir dari Ramadhan.” Malam tersebut terdapat pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam itu. Namun penentuan malam ganjil dapat dilihat dari dua sisi:
Pertama, dengan menghitung berdasarkan malam yang telah berlalu. Maka Lailatul Qadar dicari pada malam kedua puluh satu, malam kedua puluh tiga, malam kedua puluh lima, malam kedua puluh tujuh, dan malam kedua puluh sembilan.
Kedua, dengan menghitung berdasarkan malam yang masih tersisa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ (w. 11 H): “Pada malam ketika tersisa sembilan malam, tersisa tujuh malam, tersisa lima malam, dan tersisa tiga malam.” Berdasarkan perhitungan ini, apabila bulan Ramadan berjumlah tiga puluh hari, maka malam-malam tersebut bisa jatuh pada malam genap. Dengan demikian, malam kedua puluh dua berarti tersisa sembilan malam, malam kedua puluh empat berarti tersisa tujuh malam, dan seterusnya.
Penafsiran seperti ini dijelaskan oleh Abu Sa‘id al-Khudri (w. 74 H) dalam hadits shahih. Demikian pula Nabi ﷺ (w. 11 H) beribadah pada malam-malam tersebut selama bulan Ramadan. Namun jika bulan Ramadan berjumlah dua puluh sembilan hari, maka perhitungan berdasarkan malam yang tersisa akan sama dengan perhitungan berdasarkan malam yang telah berlalu. Oleh karena itu, seorang mukmin seharusnya bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan. (Majmu‘ Al Fatawa, 25/284-285).
Hikmah Allah ﷻ merahasiakan kapan terjadinya Lailatul Qadr adalah agar kaum muslimin bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir dengan ibadah, sehingga peluang untuk meraih keutamaan malam yang lebih baik daripada seribu bulan menjadi lebih besar. Karena sebagaimana yang dijelaskan di atas ditekankan bahwasanya Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dan lebih sering terjadi pada malam-malam ganjil, namun tidak ditentukan secara pasti pada satu malam tertentu dan sangat mungkin berpindah-pindah waktunya di setiap tahun. Wallahu a’lamu bishshawab.





