Respon Syari’at Islam Terhadap Fenomena Futur Pasca Ramadhan
Dulu Nangis di Malam-malam Ramadhan, Sekarang ?
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Ramadhan kemarin mungkin kita masih melihat dan merasakan, bahwa ada air mata yang jatuh saat berdo’a, bacaan Al-Qur’an dikhatamkan, bahkan ada yang lebih dari sekali khatam, serta masjid terasa seperti rumah kedua.
Namun sekarang? Shalat Subuh mulai sering kesiangan, tilawah entah kemana dan masjid kembali terasa asing. Ini bukan sekadar penurunan semangat biasa. Inilah yang oleh para ulama disebut ٱلْفُتُورُ (Al Futur) kelemahan setelah masa kuat dalam ibadah. Sejujurnya, ini adalah fenomena yang sangat berbahaya jika tidak segera disadari dan diatasi. Mari kita renungi.
Tamparan Keras dari Ulama Salaf
Seorang ulama besar, Imam Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi r (w. 227 H), berkata:
بِئْسَ ٱلْقَوْمُ لَا يَعْرِفُونَ لِلَّهِ حَقًّا إِلَّا فِي رَمَضَانَ، إِنَّ ٱلصَّالِحَ ٱلَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ ٱلسَّنَةَ كُلَّهَا
“Sungguh buruk suatu kaum yang tidak mengenal hak Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shalih adalah yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Latha-if Al-Ma’arif, hal 313).
Artinya, kalau ibadah kita hanya hidup di Ramadhan, hanya dilaksanakan di bulan Ramadhan, maka bisa jadi, kita belum benar-benar mengenal Allah c.
Masalahnya Ada di Niat Kita
Banyak orang mengira rajin ibadah di Ramadhan menandakan bahwa imannya sudah bagus, padahal belum tentu. Karena bisa jadi yang mendorong kita saat itu adalah suasana, lingkungan dan kebiasaan massal, bukan karena keimanan yang kokoh.
Ini dijelaskan dalam fatwa Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz r (w. 1420 H) ketika beliau ditanya terkait cara mengatasi futur setelah Ramadhan:
ٱلْعِلَاجُ تَقْوَى ٱللَّهِ e وَمُرَاقَبَةُ ٱللَّهِ، إِنَّ ٱللَّهَ c يَجِبُ أَنْ يُعَظَّمَ وَيُعْبَدَ فِي رَمَضَانَ وَفِي غَيْرِهِ، يَجِبُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِ أَنْ يُؤَدِّيَ ٱلْفَرَائِضَ وَيَحْذَرَ ٱلْمَحَارِمَ فِي جَمِيعِ ٱلْأَوْقَاتِ، لَكِنْ يَخُصُّ أَوْقَاتَ ٱلْفَضَائِلِ بِمَزِيدٍ مِنَ ٱلْعِنَايَةِ
“Solusinya adalah bertakwa kepada Allah e serta merasa selalu diawasi oleh-Nya. Sesungguhnya Allah c wajib diagungkan dan disembah, baik di bulan Ramadhan maupun di selainnya. Seorang mukmin wajib menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan pada setiap waktu. Namun, ia memberikan perhatian lebih pada waktu-waktu yang memiliki keutamaan….” (https://binbaz.org.sa/fatwas/30904/ما-علاج-فتور-الناس-عن-العبادة-بعد-رمضان).
Sumber masalah futur bukanlah pada Ramadhannya, akan tetapi di hati yang tidak terbiasa hidup bersama Allah c sepanjang waktu.
Tanda Sebenarnya Ialah Apa yang Terjadi Setelah Ramadhan
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali r (w. 795 H), menyampaikan sebuah kaidah:
مِنْ عَلاَمَاتِ قَبُولِ ٱلْحَسَنَةِ أَنْ يُوَفَّقَ ٱلْعَبْدُ لِحَسَنَةٍ بَعْدَهَا، فَإِنَّ ٱلْحَسَنَةَ تَقُولُ: أُخْتِي أُخْتِي، كَمَا أَنَّ ٱلسَّيِّئَةَ تَقُولُ: أُخْتِي أُخْتِي
“Di antara tanda diterimanya suatu kebaikan adalah seorang hamba diberi taufik untuk melakukan kebaikan setelahnya. Sesungguhnya kebaikan itu berkata: ‘Saudariku, saudariku,’ sebagaimana keburukan juga berkata: ‘Saudariku, saudariku…’” (Latha-if Al-Ma’arif, hal 313).
Sehingga apabila amal seseorang itu diterima, setelah ia menyelesaikan amal pertama, maka ia akan terdorong untuk melakukan amal lain berikutnya begitu seterusnya sampai batas yang taqdirkan Allah c untuknya. Demikian pula apabila seseorang melakukan sebuah maksiat, maka umumnya ia akan terdorong untuk melakukan maksiat lain berikutnya, sampai batas yang taqdirkan Allah c untuknya.
Nabi ﷺ Sudah Memberi Standar Jelas
Rasulullah ﷺ bersabda:
« أَحَبُّ ٱلْأَعْمَالِ إِلَى ٱللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ »
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu (rutin) meskipun sedikit.” (HR. Muslim no. 783).
Maka dipahami bahwa amalan yang paling dicintai Allah c tidak mesti yang jumlahnya banyak atau butuh pengorbanan yang besar, akan tetapi adalah yang rutin dilakukan walaupun sedikit, seperti istiqamah menunaikan shalat wajib di masjid bagi laki-laki atau membiasakan untuk membaca dzikir pagi-sore dsb.
Mindset Salaf
Para ulama salaf punya kebiasaan yang membuat kita malu, Sufyan Ats-Tsauri r (w. 161 H) berkata:
كَانُوا يَدْعُونَ اللَّهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يُبَلِّغَهُمْ رَمَضَانَ، وَيَدْعُونَهُ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ
“Mereka (para salaf) biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan 6 bulan berikutnya agar amal mereka diterima.” (Latha’if Al-Ma‘arif, hlm. 393)
Sedangkan kita, jarang sekali mempersiapkan jiwa dan raga ketika akan menyambut Ramadhan. Kemudian ketika Ramadhan akan usai, justru sibuk dengan belanja, penampilan baru dan hal-hal duniawi lainnya, tanpa merasa khawatir, apakah amalnya diterima ataukah tidak.
Fenomena futur pasca Ramadhan adalah realita yang dijelaskan oleh para ulama. Berdasarkan dalil-dalil yang shahih dapat disimpulkan bahwa keberlanjutan amal setelah Ramadhan adalah indikator utama diterimanya ibadah.
Futur bukanlah sekadar penurunan semangat, tetapi bisa menjadi tanda lemahnya iman dan kesalahan dalam memahami tujuan ibadah. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan para ulama adalah memperkuat takwa, menjaga muraqabah, dan membangun konsistensi amal meskipun sedikit. Dengan memahami konsep ini, seorang muslim diharapkan tidak menjadikan Ramadhan sebagai musim ibadah semata, tetapi sebagai titik awal perubahan menuju istiqamah sepanjang hayat. Wallahu a’lamu bishshawab.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.





