TATACARA MANDI JUNUB
Pertanyaan:
“Ustadz, bagaimana tata cara mandi junub yang benar?”
Jawaban:
Saudaraku yang dirahmati Alla, kalau kita membaca kitab-kitab para ulama yang menjelaskan tata cara mandi Nabi ﷺ, maka akan mendapati bahwa para ulama sepakat bahwa terdapat dua bentuk tata cara mandi (ghusl):
- Tata cara wajib (shifah wâjibah),
- Tata cara yang dianjurkan (sunnah) (shifah mustahabbah).
Para fuqaha (ahli fikih) menyebut tata cara wajib ini dengan istilah “Shifat al-Ijzâ’” (tata cara yang cukup untuk sahnya mandi), sedangkan tata cara yang dianjurkan disebut “Shifat al-Kamâl” (tata cara yang sempurna).
- Tata cara wajib (Shifat al-Ijzâ’)
Maksudnya adalah, jika seseorang hanya melakukan mandi dengan tata cara ini, maka mandinya sah, ia telah suci dari hadas besar, dan jika ia meninggalkan salah satu dari tata cara ini, maka mandinya tidak sah.
Tata caranya:
- Berniat dalam hati untuk bersuci dari hadas besar (baik junub, haid, atau nifas).
- Meratakan air ke seluruh tubuh satu kali siraman, dengan memperhatikan bagian pangkal rambut dan bagian-bagian yang sulit dijangkau air seperti ketiak dan lipatan dalam lutut, disertai berkumur (madmadah) dan menghirup air ke hidung (istinsyaq) menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata dalam Syarh al-Mumti’ (1/423):
“Dalil bahwa mandi ini dianggap mencukupi adalah firman Allah Ta’ala:
)وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا (
‘Dan jika kalian junub, maka bersucilah’ (QS. Al-Mâ’idah: 6).
dalam ayat ini Allah tidak menyebutkan selain hal itu, maka siapa saja yang meratakan air ke seluruh tubuhnya satu kali, dia telah bersuci.”
- Tata cara yang dianjurkan (Shifat al-Kamâl)
Tata cara ini mencakup syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, serta amalan-amalan sunnahnya.
Tata caranya:
- Berniat dalam hati untuk bersuci dari hadas besar (junub, haid, atau nifas).
- Mengucapkan bismillah, lalu mencuci kedua tangan sebanyak tiga kali, kemudian mencuci kemaluan dari kotoran atau najis.
- Berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, secara sempurna.
- Menyiram air ke kepala tiga kali siraman, sambil menggosok rambut hingga air sampai ke akar rambut.
- Meratakan air ke seluruh tubuh dimulai dari sisi kanan, lalu sisi kiri, sambil menggosok tubuh agar air merata.
Dalil tata cara ini:
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
(كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اغتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيهِ وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اغتَسَلَ، ثُمَّ يُخَلِّلُ بِيَدِهِ شَعرَهُ، حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنَّه قَد أَروَى بَشرَتَهُ، أَفَاضَ عَلَيهِ المَاءَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ)
“Rasulullah ﷺ apabila mandi junub, beliau mencuci kedua tangannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi, menyela-nyela rambutnya dengan jari-jarinya hingga beliau merasa air telah membasahi kulit kepalanya. Setelah itu beliau menyiram kepalanya tiga kali, lalu membasuh seluruh tubuhnya.”
(HR. Bukhari no. 248, Muslim no. 316)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
(كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اغتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، دَعَا بِشَيْءٍ نَحوَ الحِلَابِ، فَأَخَذَ بِكَفّهِ، بَدَأَ بِشقِّ رَأسِهِ الأَيمَنِ، ثُمَّ الأَيسَرِ، ثُمَّ أَخَذَ بِكَفَّيهِ، فَقَالَ بِهِمَا عَلَى رَأسِهِ)
“Apabila Rasulullah ﷺ mandi junub, beliau meminta wadah seperti hilaab (sejenis bejana), lalu mengambil air dengan tangannya, memulai dari sisi kepala bagian kanan, lalu sisi kiri, kemudian beliau menuangkan air ke kepalanya.”
(HR. Bukhari no. 258, Muslim no. 318)
Dari Maimunah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
(أدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – غُسْلَهُ مِنَ الجَنَابَةِ، فَغَسَلَ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ أوْ ثَلاثاً، ثُمَّ أدْخَلَ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ، ثُمَّ أفْرَغَ بِهِ عَلَى فَرْجِهِ، وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ، ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ الأَرْضَ، فَدَلَكَهَا دَلْكاً شَدِيداً، ثُمَّ تَوَضَّأ وُضُوءَهُ لِلصَّلاةِ، ثُمَّ أفْرَغَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاثَ حَفَنَاتٍ مِلْءَ كَفِّهِ، ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ، ثُمَّ تَنَحَّى عَنْ مَقَامِهِ ذَلِكَ، فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ، ثُمَّ أتَيْتُهُ بِالمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ)
“Aku menyediakan air untuk mandi junub Rasulullah ﷺ. Beliau mencuci kedua telapak tangannya dua atau tiga kali, lalu memasukkan tangannya ke dalam bejana. Kemudian beliau menuangkan air pada kemaluannya, dan mencucinya dengan tangan kirinya. Setelah itu beliau menggosok tangan kirinya ke tanah dengan kuat, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau menuangkan air ke kepalanya tiga kali penuh genggaman, lalu membasuh seluruh tubuhnya. Setelah itu beliau bergeser dari tempatnya, lalu mencuci kedua kakinya. Aku memberinya kain (handuk), namun beliau menolaknya.”
(HR. Bukhari no. 249, Muslim no. 317, lafaz Muslim)
Catatan:
Maka siapa saja yang hanya melakukan tata cara pertama (niat + meratakan air ke seluruh tubuh) maka sudah cukup meskipun tanpa berwudhu, karena wudhu sudah termasuk dalam mandi.
Hukum ini berlaku bagi laki-laki dan perempuan. Khusus bagi perempuan, ia tidak wajib membuka kepangan rambutnya jika air dapat sampai ke akar rambut. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Muslim (4/12):
“Mazhab kami (Syafi’iyyah) dan jumhur ulama berpendapat bahwa kepangan rambut wanita yang mandi, jika air bisa sampai ke seluruh rambut — luar dan dalam — tanpa dibuka, maka tidak wajib dibuka. Jika tidak bisa sampai kecuali dengan membuka kepangan, maka wajib dibuka. Hadis Ummu Salamah dipahami bahwa air sampai ke seluruh rambutnya tanpa membuka kepangan, karena menyampaikan air ke seluruh rambut hukumnya wajib. Diriwayatkan dari An-Nakha’i bahwa membuka kepangan wajib secara mutlak, dan dari Al-Hasan serta Thawus bahwa membuka kepangan wajib pada mandi haid saja, bukan mandi junub. Dalil kami adalah hadis Ummu Salamah. Dan jika seorang laki-laki memiliki kepangan rambut, hukumnya sama seperti wanita. Allah Ta’ala lebih mengetahui.”
Dengan memlakukan salah satu dari dua tata cara mandi ini, maka laki-laki atau perempuan telah suci dari junubnya. Begitu pula mandi ini berlaku bagi wanita yang hendak bersuci dari haid atau nifas. Tidak ada perbedaan antara mandi junub dan mandi haid kecuali disunnahkan bagi mandi haidh dan niafas 2 hal:
- Dalam mandi haid dianjurkan menggosok rambut lebih kuat daripada mandi junub,
- Dianjurkan bagi wanita memakai wewangian di tempat keluarnya darah untuk menghilangkan bau.
Dalilnya adalah hadis Muslim (no. 332) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
(أَنَّ أَسْمَاءَ رضي الله عنها سَأَلَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ غُسْلِ الْمَحِيضِ، فقال تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا، فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ دَلْكًا شَدِيدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا الْمَاءَ، ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطَهَّرُ بِهَا فَقَالَتْ أَسْمَاءُ: وَكَيْفَ تَطَهَّرُ بِهَا؟ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، تَطَهَّرِينَ بِهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ: كَأَنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِينَ أَثَرَ الدَّمِ، وَسَأَلَتْهُ عَنْ غُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ فَقَالَ: «تَأْخُذُ مَاءً فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أَوْ تُبْلِغُ الطُّهُورَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تُفِيضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ» فَقَالَتْ عَائِشَةُ: ” نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الْأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَتَفَقَّهْنَ فِي الدِّينِ).
“Asma’ radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Nabi ﷺ tentang mandi dari haid. Beliau bersabda: ‘Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara, lalu bersuci dengannya, memperbagus cara bersucinya. Kemudian ia menuangkan air ke kepalanya sambil menggosoknya dengan kuat hingga air sampai ke seluruh kulit kepala, lalu menyiram seluruh tubuhnya. Setelah itu ia mengambil kapas yang diberi minyak wangi, lalu bersuci dengannya.’ Asma’ bertanya: ‘Bagaimana cara bersuci dengannya?’ Beliau bersabda: ‘Subhanallah, bersucilah dengannya!’ ‘Aisyah berkata: ‘Seakan-akan engkau membersihkan bekas darah.’
Asma’ juga bertanya tentang mandi junub, maka beliau bersabda: ‘Ambil air, bersucilah dengannya, memperbagus bersuci atau menyempurnakan bersuci, kemudian menuangkan air ke kepala sambil menggosoknya hingga air sampai ke kulit kepala, lalu menyiram seluruh tubuhnya.’
‘Aisyah berkata: ‘Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk belajar agama.’”
Dengan demikian, Nabi ﷺ membedakan antara mandi haid dan mandi junub dalam hal menggosok rambut (pada mandi haid lebih ditekankan), dan penggunaan wewangian.
Wallahu a‘lam…


