• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Miqat Haji dan Umrah

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
October 29, 2025
in Haji & Umrah
Reading Time: 4 mins read

Miqat Haji dan Umrah

Mawāqīt (batas/waktu & tempat) adalah termasuk perkara penting dalam syariat Islam; haji dan umrah bergantung sepenuhnya pada mawāqīt baik yang bersifat zaman (waktu) maupun makan (tempat). Haji atau umrah tidak sah tanpa berihram pada mawāqīt yang ditetapkan. Rasulullah ﷺ telah menjelaskan rincian mawāqīt baik waktu maupun tempat; untuk setiap arah ada miqat (batas ihram) tertentu. Dalam tulisan ini kita akan membahas definisi miqat, pentingnya, dan penjelasan mawāqīt dalam Islam.

Dalam Al-Fiqhu al-Muyassar fī Ḍau’ al-Kitāb was-Sunnah (1/174) disebutkan:

»الميقات لغة: هو الحد. وشرعاً: هو موضع العبادة أو زمنها، فتنقسم المواقيت إلى: زمانية ومكانية«

“Miqat secara bahasa: adalah batas. Secara syariat: adalah tempat atau waktunya (pelaksanaan) ibadah. Maka mawāqīt terbagi menjadi: zamaniyah (waktu) dan makāniyah (tempat).”

Pertama Mawāqīt Zamaniyah (Batas Waktu) untuk Haji dan Umrah

Miqat zamaniyah adalah waktu tertentu untuk melakukan suatu amalan, seperti waktu-waktu shalat. Dalam Al-Qur’an disebut:

(‌يَسْأَلُونَكَ ‌عَنِ ‌الأهِلَّةِ قُلْ هِىَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ)

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: itu adalah penunjuk waktu bagi manusia dan (penunjuk waktu) bagi haji.” (QS. al-Baqarah: 189).

  1. Mawāqīt Zamaniyah untuk Umrah

Umrah boleh dilakukan kapan saja sepanjang tahun, termasuk di bulan-bulan haji; tidak ada perbedaan apakah seseorang berniat berhaji di tahun itu atau tidak. Nabi ﷺ berumrah empat kali — semuanya pada bulan Dhu al-Qa‘dah, yang termasuk salah satu dari bulan-bulan haji (Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, Dhu al-Hijjah). Beliau hanya berhaji pada umrah terakhirnya (Haji Wada‘).

  1. Mawāqīt Zamaniyah untuk Haji

Bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, dan Dhu al-Hijjah; artinya haji harus terjadi pada bulan-bulan ini, tidak boleh sebelum atau sesudahnya. Allah berfirman:

}الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ{

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui.” (QS. al-Baqarah: 197)

Sebagian ulama menyatakan bahwa bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, dan sepuluh hari pertama Dhu al-Hijjah (Fatāwā al-Lajnah ad-Dā’imah (11/316)).

Ibn ‘Umar Radhiallahu’anhuma berkata:

»أشهر الحج: شوال، وذو القعدة، وعشر من ذي الحجة«

“Bulan-bulan haji: Syawwal, Dhu al-Qa‘dah, dan sepuluh (hari) Dhu al-Hijjah.” (HR. al-Bukhari — sebelum hadis no.1560)

Kedua — Mawāqīt Makāniyah (Batas Tempat) untuk Haji dan Umrah

Miqat makāniyah adalah tempat-tempat yang ditetapkan Rasul ﷺ sebagai tempat untuk berihram bagi yang hendak menunaikan haji atau umrah. Dari titik-titik inilah manasik secara syar‘i dimulai; tidak sah melewatinya tanpa ihram. Nabi ﷺ menetapkan miqat bagi penduduk dari berbagai arah, sebagaimana dalam hadis Ibn ‘Abbas Radhiallahu’anhuma:

وَقَّتَ رَسُولُ اللَّهِ – صلّى الله عليه وسلّم – لأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ، وَلأَهْلِ الشَّامِ الْجُحْفَةَ، وَلأَهْلِ نَجْدٍ قَرْنَ الْمَنَازِلِ، وَلأَهْلِ الْيَمَنِ يَلَمْلَمَ. قَالَ «فَهُنَّ لَهُنَّ، وَلِمَنْ أَتَى عَلَيْهِنَّ مِنْ غَيْرِ أَهْلِهِنَّ مِمَّنْ أَرَادَ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ، فَمَنْ كَانَ دُونَهُنَّ فَمِنْ أَهْلِهِ، وَكَذَا فَكَذَلِكَ حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ يُهِلُّونَ مِنْهَا«

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan miqat (tempat memulai Ihram) bagi penduduk Madinah di Dzulhulaifah, bagi penduduk Syam di Juhfah, bagi penduduk Nejed di Qarnalmanazil, dan bagi penduduk Yaman di Yalamlam. Tempat-tempat itu berlaku pula bagi orang-orang yang bukan penduduk negeri-negeri tersebut, tetapi ia bermaksud menunaikan haji dan umrah melalui tempat-tempat itu. Dan bagi orang yang lebih dekat ke Makkah dari tempat-tempat tersebut atau bagi penduduk Makkah sendiri adalah dari mana mereka berada.”
(HR. al-Bukhari 1524; Muslim 1181)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha disebutkan:

»أن النبي صلى الله عليه وسلم وقت لأهل العراق ذات عرق«

(HR. Abu Dawud 1739; disahkan al-Albani dalam Shahih Abi Dawud 1531)

Para fuqaha bersepakat atas keberlakuan miqat-miqat ini bagi penduduknya dan bagi orang yang datang melewatinya. (Lihat: Al-Ishrāf karya Ibn al-Mundzir (3/177), Marātib al-Ijmā‘ (hal. 42), Al-Istidhkār (11/76), dan Al-Mughnī (5/56).”).

Rincian Lokasi Miqat dan Jarak dari Makkah

  1. ذو الحليفة (Dhu al-Hulayfah) — miqat penduduk Madinah dan orang yang melewatinya; disebut juga Wadi al-‘Aqiq. Jaraknya kira-kira 6–7 mil dari Madinah; ini adalah miqat yang paling jauh dari Makkah, diperkirakan sekitar 10 marhalah (bergantung jalan).
  2. الجحفة (Al-Juhfah) — dahulu desa makmur bernama Muhay‘ah, kini reruntuhan; orang sekarang umumnya berihram dari tempat yang disebut Rābigh. Ini miqat penduduk Syam, Mesir, dan wilayah Maghrib. Jika mereka melewati Madinah, mereka harus berihram dari miqat Madinah.
  3. قرن المنازل (Qarn al-Manazil) — sekarang disebut as-Sail al-Kabir, kira-kira satu hari perjalanan menuju Makkah; miqat penduduk Najd.
  4. يلملم (Yalamlam) — sekarang dikenal as-Sa‘diyyah, kira-kira dua malam perjalanan (±30 mil) dari Makkah; miqat penduduk Yaman dan siapa saja dari arah selatan via pantai seperti penduduk al-Bahah.
  5. ذات عرق (Dhāt ‘Irq) — disebut juga ad-Dharibah, di perbatasan Najd–Tihamah, sekitar 42 mil dari Makkah; miqat penduduk Irak.

Perbedaan Menurut Tempat Tinggal / Asal Jamaah

  • Yang berada di Makkah:

Untuk umrah berihram dari tempat terdekat di luar haram, misalnya Masjid Ummul Mu’minīn ‘Aisyah (Masjid at-Tan‘īm). Untuk haji, penduduk Makkah berihram dari tempat tinggal mereka.

  • Yang berada antara Makkah dan miqat (mis. penduduk Jeddah, Bahrah):

Mereka boleh berihram dari rumah/ tempat tinggal mereka. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

»وَمَنْ كَانَ دُونَ ذَلِكَ فَمِنْ حَيْثُ أَنْشَأَ، حَتَّى أَهْلُ مَكَّةَ مِنْ مَكَّةَ«

“Barang siapa berada di bawah (dalam batas itu), maka berihramlah dari tempat ia memulai; demikian pula penduduk Makkah berihram dari Makkah.” (dari hadis yang sama)

  • Yang berada setelah (di luar) miqat:

Wajib berihram dari salah satu dari lima miqat atau dari tempat yang sejajar dengannya, baik melalui darat, laut, maupun udara; tidak boleh melewatinya tanpa berihram. Ada riwayat bahwa ketika penduduk Kufah dan Bashrah mengadu kepada ‘Umar tentang posisi Qarn (miqat Najd) yang tidak sesuai jalur mereka, ‘Umar mengatakan:

»انظروا إلى حذوها من طريقكم «

“Carilah tempat yang sejajar dengannya dari jalur kalian.” (HR. al-Bukhari 1531)

Bagaimana dengan Penumpang Pesawat atau Kereta Cepat (Kereta Haramain Kapan mereka Berihram ?

Seseorang harus berihram ketika sejajar dengan miqat. Jika tidak melewati miqat secara persis (mis. di udara), maka berihramlah ketika pesawat sejajar dengan miqat. Karena pesawat bergerak cepat, dianjurkan berihram sedikit sebelum mencapai miqat untuk berhati-hati agar tidak terlewat. Hal yang sama berlaku untuk kereta cepat Haramain.

Syaikh Ibn Jibrin Rahimahullah berkata:

“Barang siapa yang tidak memiliki miqat di jalannya: ia berihram ketika sejajar dengan yang terdekat, baik lewat darat, laut, atau udara. Penumpang pesawat berihram jika pesawat sejajar miqat atau disunnahkan berihram sedikit sebelum itu agar tidak terlewat; barang siapa berihram setelah melewati miqat maka atasnya dam jabrān — yaitu penyembelihan seekor kambing sebagai kaffarat (tebusan) karena meninggalkan kewajiban atau melakukan yang terlarang dalam haji/umrah. Allah ta‘ala lebih mengetahui.”
(Sumber: Fatawa Islamiyyah 2/198)

Lajnah Daimah pernah ditanya tentang penumpang kereta cepat Haramain yang berangkat dari Madinah, maka dijawab:

“Tidak mengapa bagi calon haji/umrah mempersiapkan ihram di rumahnya di Madinah, lalu ketika kereta berangkat ia niat ihram dan bertalbiyah di dalam kereta. Hal ini karena jarak Madinah ke miqat dekat, dikhawatirkan kereta melewati miqat sebelum sempat berihram; berhenti di miqat dapat mengganggu keberangkatan dan menyulitkan penumpang.” (Fatwa No. 26952, 21/11/1437 H)

Wallahua’lam…

Tags: batas miqat hajibatas miqat umrohhukum melewati miqat tanpa ihramjenis miqatmiqat hajimiqat makanimiqat makani haji dan umrohmiqat umrohmiqat zamaniniat haji di miqatniat umroh di miqatpengertian miqatpenjelasan miqat menurut ulamatata cara ihram di miqattempat miqat
SummarizeShare236
Previous Post

Hukum Seputar Khitan

Next Post

Istijmar Cukup Memakai Tisu Saja atau Harus Pakai Air?

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.

Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A. S1 hadis UIM, S2 Aqidah UIM. Saat ini menempuh program S3 Aqidah di UIM.

Related Stories

untukmu yang pulang haji

Untukmu yang Baru Pulang Berhaji

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
June 7, 2026
0

Untukmu yang Baru Pulang Berhaji Betapa cepat hari-hari berlalu. Rasanya baru sekejap kita menanti datangnya Dzulhijjah, lalu hari-hari agung itu pun telah pergi. Musim ketaatan datang membawa peluang...

Apa perbedaan haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad? Simak penjelasan lengkap tentang pengertian, tata cara, kelebihan masing-masing jenis haji, serta mana yang paling utama menurut para ulama.

Mengenal Haji Tamattu’, Qiran, dan Ifrad

by Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.
May 4, 2026
0

Apa Perbedaan Tamattu’, Qiran, dan Ifrad dalam Haji, Dan Manakah Yang Utama ? Dalam pelaksanaan ibadah haji, seorang jamaah tidak hanya dituntut memahami rangkaian manasik secara umum, tetapi...

Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram

Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
April 28, 2026
0

Kesalahan Fatal Jamaah Haji & Umrah Saat Masuk Masjidil Haram Bismillah, walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du. Semangat beribadah adalah hal yang mulia. Namun dalam Islam, niat...

Next Post
Istijmar Cukup Memakai Tisu Saja atau Harus Pakai Air?

Istijmar Cukup Memakai Tisu Saja atau Harus Pakai Air?

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Untukmu yang Baru Pulang Berhaji
  • Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?
  • Ketika Puasa Arafah Bertepatan dengan Hari Jum’at

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official