Jika Ramadhan Tidak Mengubah Kita, Lalu Apa yang Akan Mengubah Kita?
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Bulan Ramadhan adalah musim ibadah dan ladang amal kebaikan bagi setiap muslim. Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan Ramadhan tidak hanya terletak pada puasanya, tetapi juga pada beragam amalan yang menyertainya, seperti qiyamul lail, tilawah al Qur-an, sedekah, serta menjaga diri dari maksiat.
Insyaallah artikel ini merangkum beberapa panduan amalan Ramadhan berdasarkan penjelasan para ulama agar ibadah di bulan mulia ini menjadi lebih maksimal.
Ramadhan Adalah Bulan Amal dan Kesempatan Perubahan Diri
Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid حفظه الله menegaskan bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperbaiki hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, karena di dalamnya terkumpul berbagai bentuk ketaatan yang tidak dijumpai di bulan lain.
Beliau menjelaskan bahwa Ramadan adalah:
- Bulan puasa
- Bulan al Qur-an
- Bulan qiyam (beribadah di malam hari)
- Bulan taubat dan muhasabah
Dalil utama tentang keistimewaan Ramadan adalah firman Allah ﷻ :
﴿ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ﴾
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. al Baqarah: 185) [https://almunajjid.com/books/lessons/146]
Tujuan dan Maksud dari Puasa Ramadhan
Puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, namun juga menahan anggota badan dari maksiat. Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) menekankan bahwa puasa yang benar adalah puasa yang disertai dengan penjagaan lisan, pandangan dan perilaku dari pembatal atau perusak amal puasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
« مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ »
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari, no. 1903)
Hadits ini menunjukkan bahwa esensi puasa adalah ketakwaan,d, bukan sekadar ritual fisik.
[https://binbaz.org.sa/articles/19/فضل-شهر-رمضان-المبارك]
Menghidupkan Malam dengan Iman
Syaikh Shalih al Fauzan حفظه الله menjelaskan bahwa qiyam Ramadan (menghidupkan malam dengan ibadah) termasuk shalat tarawih adalah sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Keutamaannya dijelaskan dalam sabda Nabi ﷺ:
« مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
“Barang siapa menegakkan (shalat malam di bulan) Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, no. 37 dan Muslim, no. 759).
Qiyam Ramadhan menjadi sarana:
- Penghapus dosa
- Pembersih hati
- Penguat keimanan [https://alfawzan.af.org.sa/ar/node/14891]
Ruh Ramadhan adalah Tilawah al Qur-an dan Tadabbur
Para ulama sepakat bahwa Ramadhan adalah bulan al Qur-an. Karena itu, memperbanyak membaca dan mentadabburi al Qur-an menjadi amalan utama.
Dijelaskan bahwa para salaf:
- Menyelesaikan Al-Qur’an berkali-kali di Ramadan, seperti kisah Imam Syafi‘i رحمه الله (w. 204 H) yang dikenal menghatamkan Al-Qur’an 60 kali selama Ramadhan, yakni dua kali khatam setiap hari: satu di siang hari dan satu di malam hari. [Disebutkan oleh Abu Nu‘aim al Ashbahani dalam Hilyat al Awliya’, 9/146 dan adz Dzahabi dalam Siyar A‘lam an Nubala’, 10/36];
- Mengurangi kesibukan dunia, seperti kisah Imam Malik رحمه الله (w. 179 H) yang memiliki kebiasaan khusus saat Ramadhan yaitu beliau meninggalkan majelis hadits dan aktivitas keilmuan lainnya, lalu fokus membaca Al-Qur’an. [Disebutkan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam Latha-if al Ma‘arif, hlm. 171 dan Abu Bakr bin Abi Shaybah, al Mushannaf, disebutkan atsarnya];
- Fokus pada ibadah dan tilawah, seperti kisah Sufyan ats Tsauri رحمه الله (w. 161 H) dimana apabila Ramadhan tiba, beliau fokus membaca Al-Qur’an dan meninggalkan aktivitas lain yang biasanya beliau lakukan. [Disebutkan oleh Ibnu Rajab al Hanbali dalam Latha-if al Ma‘arif, hlm. 171].
Firman Allah ﷻ :
﴿ إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ ﴾
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS. al Isra’: 9)
Amalan Harian Ramadhan
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk:
Berusaha istiqamah menunaikan amalan yang wajib, lalu dilengkapi dengan amalan-amalan sunnah. Dalam sebuah hadits qudsi disampaikan:
« إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ: وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ… »
“Allah ﷻ berfirman: Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya. Dan tidaklah hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya….” (HR. Bukhari, no. 6502)
Memperbanyak sedekah, dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما (w. 68 H) disampaikan:
« كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ »
“Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan dan beliau paling dermawan ketika berada di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari, no. 6, 1902 dan Muslim, no. 2308).
Memperbanyak do’a, khususnya saat menjelang berbuka. Rasulullah ﷺ bersabda:
« ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ المَظْلُومِ »
“Ada tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Tirmidzi, no. 2525 dan Ibnu Majah, no. 1752. Dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Jami‘, no. 3030).
Menjaga sahur, karena ia mengandung keberkahan, sebagaimana yang disampaikan dalam hadits Nabi ﷺ berikut:
« تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً »
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari, no. 1923 dan Muslim, no. 1095).
Juga menjadi salah satu sebab mendapatkan shalawat dari Allah ﷻ dan para malaikat. Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ »
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang bersahur.” (HR. Aḥmad, no. 11003. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al Albani dalam Shahiḥ al Jami‘ no. 1844).
Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebagai momentum dan kesempatan emas untuk perubahan hakiki. Adapun puasa, qiyam, al Qur-an, sedekah dan doa adalah sarana pembentukan takwa yang sejati.
Barang siapa keluar dari Ramadhan dengan iman yang lebih kuat dan amal yang lebih baik, maka dialah orang yang benar-benar beruntung dan mendapatkan gelar orang yang bertaqwa. Sebagaimana firman Allah ﷻ :
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴾
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. al Baqarah: 183)
Wallahu a’lamu bishshawab.





