Orang Kafir Dapat Pahala di Akhirat ?
Apakah orang kafir memperoleh pahala atas perbuatan baik yang mereka lakukan?
Perlu dipahami bahwa pahala di akhirat berupa masuk surga mensyaratkan adanya keimanan kepada Allah dan keikhlasan dalam beribadah kepada-Nya. Orang yang kafir kepada Allah tidak berhak memperoleh pahala, karena ia tidak beriman. Demikian pula seorang mukmin yang tidak ikhlas tidak berhak atas pahala, karena amal yang dilakukannya bukan ditujukan kepada Allah semata.
Setiap amal saleh yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman akan tertolak pada hari kiamat. Dalil-dalil mengenai hal ini sangat banyak. Di antaranya adalah firman Allah tentang orang-orang yang tidak beriman kepada pertemuan dengan-Nya:
(وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا)
“Dan Kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang kafir tidak memperoleh manfaat dari amalnya di akhirat. Semua amal itu dijadikan Allah seperti debu yang berhamburan, tidak bernilai sedikit pun. Demikian pula firman-Nya:
(مَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ أَعْمَالُهُمْ كَرَمَادٍ اشْتَدَّتْ بِهِ الرِّيحُ فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ لَا يَقْدِرُونَ مِمَّا كَسَبُوا عَلَى شَيْءٍ ذَلِكَ هُوَ الضَّلَالُ الْبَعِيدُ)
“Perumpamaan orang-orang yang kafir kepada Tuhan mereka adalah: amalan-amalan mereka seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak mampu mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan. Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (QS. Ibrahim: 18)
Dan ayat-ayat dengan makna serupa dalam Al-Qur’an sangatlah banyak.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 214), dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata:
” يَا رَسُولَ اللهِ، ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ، وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ، فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ؟ قَالَ: ( لَا يَنْفَعُهُ، إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا: رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ)”
“Aku berkata: Wahai Rasulullah, Ibnu Jud‘an pada masa jahiliah dahulu menyambung silaturahmi dan memberi makan orang miskin. Apakah hal itu bermanfaat baginya?” Beliau menjawab: “Tidak bermanfaat baginya, karena ia tidak pernah sekalipun mengucapkan: ‘Ya Tuhanku, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan.’”
Dalil lain dapat dilihat pada perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu kepada putranya. Ketika putranya bertanya, “Wahai ayahku, siapakah orang yang dahulu melindungimu di Mekah ketika engkau masuk Islam, saat orang-orang memerangimu? Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.” Umar menjawab:
(يا بُنيَّ ذلك العاص بن وائل – لا جزاه اللَّه خيراً –)
“Wahai anakku, itu adalah Al-‘Ash bin Wa’il — semoga Allah tidak membalasnya dengan kebaikan.” (Lihat: Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir, dan beliau menilai sanadnya baik dan kuat, 3/82; Fathul Bari, 7/48; dan Manaqib Umar karya Ibnul Jauzi, hlm. 12–18)
Dengan demikian, siapa pun yang meninggal dalam keadaan kafir kepada Allah, meskipun sebelum wafatnya ia sempat melakukan sejumlah amal saleh, amal itu tidak akan diterima darinya di akhirat. Karena itu, ia tidak akan memperoleh pahala darinya. Allah Ta‘ala berfirman:
(إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلءُ الْأَرْضِ ذَهَباً وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima dari salah seorang di antara mereka emas sepenuh bumi walaupun ia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 91)
Maka, dengan demikian orang kafir terhalang dari pahala atas amal-amal baiknya, dan tidak akan pernah masuk surga. Sejumlah ulama bahkan menukil adanya ijmak bahwa orang kafir tidak akan memperoleh manfaat dari amalnya di akhirat.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim (17/150):
أجمع العلماء على أن الكافر الذي مات على كفره : لا ثواب له في الآخرة ، ولا يجازى فيها بشيء من عمله في الدنيا متقربا إلى الله تعالى”.
“Para ulama telah bersepakat bahwa orang kafir yang meninggal dalam kekafirannya tidak memperoleh pahala di akhirat, dan tidak diberi balasan di sana sedikit pun atas amal yang ia lakukan di dunia sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.”
Karena kekafiran dan kesyirikan mereka, seluruh amal baik yang mereka lakukan di dunia menjadi gugur. Amal-amal itu tidak akan bermanfaat bagi mereka di hadapan Allah pada hari kiamat. Sebab, syirik adalah kezaliman yang paling besar. Allah berfirman:
(إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ)
“Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)
Dan firman-Nya:
(تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً* أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَداً …)
“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh hancur, karena mereka menisbatkan anak kepada Ar-Rahman…” (QS. Maryam: 90–91)
Ayat ini menunjukkan betapa besar dan beratnya keburukan ucapan orang-orang yang meyakini trinitas dan pluralitas ketuhanan, sampai-sampai tatanan alam semesta seakan hampir terguncang oleh kedustaan mereka. Lalu apa arti amal-amal baik mereka di dunia, sementara mereka menyakiti hak Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam semesta? Apa nilai kebaikan yang mereka lakukan, sementara mereka merusak hakikat paling agung, yaitu tauhid, dan meyakini akidah yang paling buruk, seperti trinitas dan banyaknya tuhan?
Adapun orang-orang Yahudi yang disebut beriman kepada satu Tuhan, meskipun mereka tidak mengatakan adanya banyak tuhan, mereka tetap menisbatkan kepada Allah sesuatu yang tidak layak dan tidak sesuai dengan kesucian-Nya. Mereka menyifati Allah dengan kemiskinan, keletihan, dan kekurangan, padahal Allah telah membantah mereka dengan firman-Nya:
( وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِنْ لُغُوبٍ)
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami tidak ditimpa keletihan sedikit pun.” (QS. Qaf: 38)
Dan firman-Nya:
(لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِياءُ)
“Sungguh Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya.’” (QS. Ali ‘Imran: 181)
Dan firman-Nya:
(وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُ)
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Tangan Allah terbelenggu.’ Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu, dan merekalah yang dilaknat…” (QS. Al-Ma’idah: 64)
Karena kekafiran itulah, kebaikan-kebaikan orang kafir tidak bermanfaat bagi mereka pada hari kiamat kelak.
Dan itulah jika dilihat dari sisi akhirat. Adapun dari sisi kehidupan dunia, maka setiap manusia dapat saja memperoleh balasan atas amal yang dilakukannya di dunia sesuai kehendak Allah. Jika amalnya baik, maka ia dapat memperoleh kebaikan. Orang kafir tidak selalu terhalang dari balasan duniawi atas amal-amal baik yang ia lakukan, seperti memperoleh penghormatan dari manusia, menerima balasan atas jasa-jasanya, atau dimuliakan dengan berbagai bentuk penghargaan. Sebab Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim (no. 2808) dari Anas bin Malik:
” ِإنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً ، يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا ، وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ ، وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا ، حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا “.
“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seorang mukmin terhadap satu kebaikan pun; ia diberi balasan karenanya di dunia dan diberi ganjaran pula di akhirat. Adapun orang kafir, ia diberi balasan di dunia atas kebaikan-kebaikan yang ia lakukan karena Allah, hingga ketika ia datang ke akhirat, tidak ada lagi satu kebaikan pun yang tersisa untuk diberi balasan.”
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Muslim (17/150):
“Hadis ini dengan tegas menjelaskan bahwa orang kafir diberi balasan di dunia atas kebaikan yang ia lakukan, yakni atas perbuatan yang ia kerjakan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, berupa amalan yang keabsahannya tidak bergantung pada niat, seperti menyambung silaturahmi, bersedekah, memerdekakan budak, menjamu tamu, memudahkan berbagai urusan kebaikan, dan semisalnya.”
Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi berkata:
“Ketahuilah bahwa dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah mengenai orang kafir yang memperoleh manfaat dari amal salehnya di dunia—seperti berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, memuliakan tamu dan tetangga, membantu orang yang sedang mengalami kesulitan, dan sebagainya—semua itu tetap terikat dengan kehendak Allah Ta‘ala. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
(مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ)
‘Barang siapa menghendaki kehidupan dunia, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki…’ ayat. Maka ayat yang mulia ini menjadi pembatas bagi ayat-ayat dan hadis-hadis yang bersifat mutlak. Dalam ilmu usul telah ditetapkan bahwa dalil yang muqayyad membatasi dalil yang mutlak, terlebih apabila hukum dan sebabnya sama, sebagaimana dalam persoalan ini.” (Adhwa’ul Bayan fi Idhahil Qur’an bil Qur’an, 3/584)
Karena itu, dunia merupakan surga bagi orang kafir, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Muslim (no. 2956) dan Tirmidzi( no. 2314):
“الدنيا سجن المؤمن، وجنة الكافر”
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”
Kehidupan dunia inilah satu-satunya tempat di mana orang kafir mungkin memperoleh balasan atas amalnya, dan itu pun tetap bergantung pada kehendak Allah Ta‘ala. Ketika orang kafir telah melihat atau diberi kabar tentang tempatnya di neraka, maka dunia ini menjadi surganya. Adapun di akhirat, tidak ada amal yang dapat memberi manfaat bagi orang yang tidak beriman dan tidak mentauhidkan Allah.
Perlu ditegaskan pula bahwa aqidah dan keyakinan bukanlah sesuatu yang bersifat emosional dan tidak bergantung pada keadaan sosial maupun kondisi akal seseorang, sebagaimana diklaim oleh sebagian pihak yang menyebarkan kesesatan semacam ini. Keyakinan adalah perkara yang tegas dan pasti, yang harus diikrarkan dan diyakini oleh hati sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta‘ala, apa pun keadaan manusia, baik dari sisi sosial, fisik, maupun lingkungannya. Wallahua’alm…




