• Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak
No Result
View All Result
No Result
View All Result

Akidah Menyimpang Menjadi Gerakan Politik, Ini Bahaya!

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd. by Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.
August 11, 2026
in Firqah
Reading Time: 5 mins read

Bahaya Penyimpangan Akidah Ketika Berubah Menjadi Gerakan Politik

Bismillah…

Rangkaian sejarah kejahatan Syiah yang telah dipaparkan di artikel ini, cukup dibaca sebagai kumpulan tragedi yang berdiri sendiri. Ada pelajaran yang lebih mendasar dari sejarah kelam tersebut: penyimpangan dalam masalah agama dapat melahirkan kerusakan yang jauh lebih besar ketika bertemu dengan fanatisme dan kekuasaan politik.

Dalam sejarah sebagian kelompok Syiah, persoalannya tidak berhenti pada perbedaan tentang siapa yang paling berhak menjadi khalifah setelah Rasulullah ﷺ. Pada sejumlah sekte dan periode, berkembang sikap ekstrem terhadap para sahabat, klaim-klaim keagamaan tentang imam, fanatisme kepada Ahlul Bait yang melampaui batas, serta permusuhan terhadap pihak yang dianggap sebagai lawan mazhab.

Karena itu, penyimpangan akidah tidak boleh dianggap perkara kecil. Sebab keyakinan akan memengaruhi cara seseorang membaca sejarah, menentukan kawan dan lawan, bahkan, ketika memperoleh kekuasaan menentukan kebijakan terhadap masyarakat.

Allah berfirman,

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”  (QS. al-An‘am: 153)

Bahaya ketika agama dibangun di atas kebencian kepada generasi pertama Islam

Para sahabat merupakan generasi yang membawa Al-Qur’an dan Sunnah kepada umat setelah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Allah memuji Muhajirin dan Anshar,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya.” (QS. at-Taubah: 100)

Karena itu, sikap terhadap sahabat bukan masalah sejarah semata.

Jika kepercayaan terhadap generasi pembawa agama diruntuhkan, pada akhirnya otoritas riwayat agama yang mereka bawa juga dapat ikut digugat.

Di sinilah para ulama Ahlus Sunnah sejak dahulu sangat keras memperingatkan bahaya mencela sahabat.

Imam Abu Zur‘ah ar-Razi mengatakan,

إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ

“Apabila engkau melihat seseorang merendahkan salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindiq.”

Kemudian beliau menjelaskan alasannya: Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ adalah benar, sementara yang menyampaikan agama kepada generasi setelahnya adalah para sahabat. Meruntuhkan kredibilitas pembawa riwayat merupakan jalan untuk meruntuhkan apa yang mereka riwayatkan. (al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘Ilm ar-Riwayah)

Ini menjelaskan mengapa persoalan sahabat memiliki konsekuensi besar terhadap bangunan agama.

Ketika Kebencian Mazhab Memasuki Kekuasaan

Selama penyimpangan berada pada pemikiran seseorang, kerusakannya mungkin terbatas.  Namun ketika fanatisme mazhab memperoleh kekuasaan, akibatnya dapat menjalar kepada masyarakat luas. Sejarah memberikan contoh: Qaramithah sampai menyerang Tanah Haram, membunuh jamaah haji dan membawa Hajar Aswad. Sebagian penguasa Fatimiyah melakukan represi terhadap ulama Sunni.

Pada masa Buwaihiyah, simbol-simbol sektarian memperoleh dukungan politik dan konflik Sunni-Syiah di Baghdad semakin tajam. Pada masa Safawi, Syiah Itsna ‘Asyariyah dijadikan agama resmi kerajaan dan sebagian masyarakat Sunni mengalami tekanan, pengusiran, maupun kekerasan. Pada Irak modern, sebagian milisi yang membawa identitas Syiah juga terdokumentasi melakukan pembunuhan, penculikan dan penyiksaan terhadap warga Sunni.

Tentu konteks setiap peristiwa berbeda. Namun semuanya mengajarkan satu perkara:

Fanatisme agama yang dibangun di atas kebencian kepada kelompok lain akan menjadi jauh lebih berbahaya ketika mendapatkan senjata dan kekuasaan.

Membela Ahlul Bait Tidak Berarti Mencela Sahabat

Salah satu kekeliruan besar adalah membenturkan Ahlul Bait dengan para sahabat. Seolah manusia harus memilih:

Ali atau Abu Bakr.

Ahlul Bait atau para sahabat.

Padahal ini merupakan pertentangan yang tidak dikenal dalam ajaran Ahlus Sunnah.

Ahlus Sunnah mencintai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Ahlus Sunnah mencintai Fathimah.

Ahlus Sunnah mencintai Hasan dan Husain.

Dan pada saat yang sama Ahlus Sunnah mencintai Abu Bakr, Umar, Utsman, Aisyah dan seluruh sahabat Rasulullah ﷺ.

Allah mengajarkan generasi setelah sahabat agar berdoa,

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا

“Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan jangan Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. al-Hasyr: 10)

Perhatikan doa ini:

“Jangan Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang beriman.”

Agama yang benar mengajarkan penghormatan terhadap Ahlul Bait sekaligus penghormatan terhadap para sahabat.

Tragedi Sejarah Menunjukkan Bahwa Penyimpangan Akidah Tidak Selalu Berhenti sebagai Teori

Sebagian orang mungkin mengatakan,

“Bukankah ini hanya masalah perbedaan pemikiran dan mazhab?”

Sejarah menunjukkan bahwa jawabannya tidak sesederhana itu. Ketika sebuah pemikiran mengajarkan kebencian sektarian, kemudian kebencian itu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, ia dapat berubah menjadi identitas politik.

Dan ketika identitas politik bertemu kekuasaan, manusia dapat mulai membenarkan kezaliman atas nama kelompok. Karena itu para ulama dahulu sangat serius membahas masalah bid‘ah. Bukan karena mereka gemar memperbesar perbedaan.

Namun karena mereka memahami:

kesalahan dalam prinsip agama mempunyai konsekuensi terhadap generasi berikutnya.

Apa yang hari ini hanya berupa kalimat, esok dapat menjadi doktrin. Apa yang hari ini hanya berupa doktrin, esok dapat menjadi gerakan. Dan ketika gerakan memiliki kekuasaan, penyimpangan dapat berubah menjadi kebijakan. Inilah mengapa para ulama ahlussunnah begitu tegas membendung dan membantah akidah Syiah. Mereka tidak hanya melihat sebuah perkara dari bentuk lahiriahnya saat muncul pertama kali, tetapi mereka memperhatikan akibat, dampak, dan kesudahan dari perkara tersebut (ma’alat al-umur).

Para ulama yang memahami agama dengan mendalam. Mereka tidak menunggu kerusakan membesar untuk kemudian berbicara. Mereka mencegah sebab-sebab kerusakan sejak awal, karena syariat Islam tidak hanya memerintahkan menghilangkan kemungkaran setelah terjadi, tetapi juga menutup pintu-pintu yang dapat mengantarkan kepadanya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Janganlah kalian mencela sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena nanti mereka akan mencela Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.” (QS. al-An’am: 108)

Mereka memahami bahwa banyak kerusakan besar dalam sejarah tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi bermula dari gagasan-gagasan kecil yang dibiarkan berkembang tanpa koreksi.

Penutup: Sejarah Adalah Peringatan

Membaca sejarah Qaramithah, Fatimiyah, Buwaihiyah, Safawi, hingga konflik sektarian Irak seharusnya membuat seorang muslim memahami betapa mahalnya harga yang harus dibayar umat ketika agama dicampuri fanatisme sektarian. Sebagian kelompok yang lahir dari lingkungan Syiah telah meninggalkan catatan sejarah yang sangat kelam: penyerangan terhadap Tanah Haram, pembantaian jamaah haji, pencurian Hajar Aswad, represi terhadap ulama, penghinaan terhadap sahabat, pemaksaan mazhab, hingga kekerasan sektarian.

Ini bukan cerita yang kita hadirkan untuk membangkitkan dendam. Namun sejarah adalah peringatan. Penyimpangan akidah tidak selalu berhenti di dalam kitab. Ia dapat membentuk cara pandang  Cara pandang melahirkan sikap. Sikap melahirkan gerakan. Dan ketika gerakan bertemu kekuasaan, dampaknya dapat mengenai sebuah bangsa.

Karena itu, menjaga kemurnian akidah Ahlus Sunnah bukan sekadar memenangkan perdebatan mazhab.  Ia adalah usaha menjaga umat agar tetap berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman generasi yang pertama kali menerima keduanya. Kita mencintai Rasulullah ﷺ. Kita mencintai keluarga beliau. Kita mencintai para istri beliau. Kita mencintai Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali. Kita mencintai Hasan dan Husain. Kita mendoakan seluruh sahabat dengan keridaan Allah. Dan kita berlepas diri dari sikap ghuluw, kebencian, penghinaan, dan kezaliman terhadap siapa pun.

Karena agama ini tidak dibangun dengan dendam sejarah. Agama ini dibangun di atas wahyu. Allah berfirman,

فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Jika mereka beriman sebagaimana kalian beriman, sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk. Namun jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perselisihan.” (QS. al-Baqarah: 137)

Karena itu, kewajiban kaum muslimin adalah mempelajari akidah yang benar, mengenal penyimpangan dengan dalil, menjaga generasi dari fanatisme dan ghuluw, serta membaca sejarah agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang.

Kita tidak membutuhkan kebencian kepada manusia. Yang kita butuhkan adalah ilmu untuk mengenali kebatilan, keberanian untuk menjelaskannya, dan keadilan agar tidak berubah menjadi pelaku kezaliman yang sedang kita kecam.

Allahu a‘lam.

Oleh: Ahmad Anshori, Lc., M.Pd.

Continue Reading
SummarizeShare234
Previous Post

Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.

Ustadz Ahmad Anshori, Lc., M.Pd. S1 Syariah UIM, S2 Manajemen Pendidikan UNY. Pembina di Rumuz for Islamic School Managers dan Shamsi Academy, Direktur PP Darussalam Prabumulih, Director of Diniyyah Program Gistrav Islamia School, dai di Jogjakarta.

Related Stories

Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah

Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah

by Ustadz Ahmad Anshori, Lc. MPd.
August 7, 2026
0

Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du, Pembahasan tentang Syiah bukan semata-mata pembahasan mengenai perbedaan kelompok atau perselisihan...

Perkembangan Syiah dari Waktu Ke Waktu

Perkembangan Syiah dari Waktu Ke Waktu

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
July 30, 2026
0

Dinasti-Dinasti Syi'ah 1. Buwaihiyah (334–447 H) Dinasti Persia yang menguasai Baghdad dan memberikan pengaruh besar terhadap penyebaran Syi'ah Imamiyah. 2. Fatimiyah (297–567 H) Dinasti Ismailiyah yang berpusat di...

Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi – Part 2

Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi – Part 2

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
July 20, 2026
0

Benarkah Syi'ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ? Bagian 2 Berikut lanjutan dari artikel sebelumnya Benarkah Syi'ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ? Tinjauan Sejarah dan Dalil -...

mengenal syiah part 1

Benarkah Syi’ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi – Part 1

by Ustadz Dhiaurrahman, Lc
July 17, 2026
0

Benarkah Syi'ah Sudah Ada Sejak Zaman Nabi ﷺ? - Part 1 Pertanyaan: Apakah kelompok Syi'ah sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ? Benarkah Nabi ﷺ telah menamai sebagian sahabat...

Tanya Islam

Tanya Islam adalah platform dakwah yang menghadirkan jawaban-jawaban islami secara ringkas, jelas, dan terpercaya. Kami berkomitmen membantu masyarakat memahami ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Recent Posts

  • Akidah Menyimpang Menjadi Gerakan Politik, Ini Bahaya!
  • Daftar Kejahatan Kelompok dan Dinasti Syiah Sepanjang Sejarah
  • Hukum Tahlilan Untuk Mayit: Benarkah Sesuai dengan Tuntunan Syariat?

Categories

  • Adab & Akhlak
  • Al-Quran
  • An-Naba'
  • Aqidah
  • Dzikir & Doa
  • Fiqih
  • Firqah
  • Hadis
  • Haji & Umrah
  • Halal-Haram
  • Hikmah
  • Jenazah
  • Keluarga
  • Konsultasi
  • Muamalah
  • Puasa
  • Qurban
  • Ramadhan
  • Shalat
  • Thaharah
  • Uncategorized
  • Usrah
  • Zakat
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tafsir Al-Quran
  • Aqidah
  • Adab & Akhlak

© 2025 Managed by ANB Official