<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Qurban - Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/category/fiqih/qurban/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 21 May 2026 14:17:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
	<item>
		<title>Hukum Menjual Kulit Qurban</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3012/hukum-menjual-kulit-qurban/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3012/hukum-menjual-kulit-qurban/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 03:05:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah menjual kulit qurban]]></category>
		<category><![CDATA[dalil kulit qurban]]></category>
		<category><![CDATA[fikih qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum kulit qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjual bagian hewan qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjual kulit qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum panitia qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[jual kulit qurban]]></category>
		<category><![CDATA[kulit kambing qurban]]></category>
		<category><![CDATA[kulit sapi qurban]]></category>
		<category><![CDATA[larangan menjual qurban]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian daging qurban]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan ulama tentang qurban]]></category>
		<category><![CDATA[syariat qurban]]></category>
		<category><![CDATA[upah panitia qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3012</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban ? Ibadah kurban merupakan salah satu bentuk pendekatan diri seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hewan yang disembelih pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyrik bukanlah sembelihan biasa, tetapi bagian dari ibadah yang memiliki aturan syariat tersendiri. Karena itu, setelah hewan kurban disembelih, seluruh bagiannya memiliki kedudukan sebagai bagian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3012/hukum-menjual-kulit-qurban/">Hukum Menjual Kulit Qurban</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban ?</strong></h2>
<p>Ibadah kurban merupakan salah satu bentuk pendekatan diri seorang muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hewan yang disembelih pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyrik bukanlah sembelihan biasa, tetapi bagian dari ibadah yang memiliki aturan syariat tersendiri. Karena itu, setelah hewan kurban disembelih, seluruh bagiannya memiliki kedudukan sebagai bagian dari ibadah, baik daging, kulit, kepala, kaki, isi perut, maupun bagian lainnya.</p>
<p>Salah satu persoalan yang sering muncul di tengah masyarakat adalah hukum menjual kulit hewan kurban. Dalam praktiknya, kulit hewan kurban terkadang dijual oleh panitia, diberikan kepada tukang jagal sebagai upah, atau dikumpulkan lalu dijual untuk kepentingan tertentu. Masalah ini perlu dijelaskan dengan hati-hati agar pelaksanaan ibadah kurban tetap sesuai dengan tuntunan syariat.</p>
<h3><strong>Larangan Menjual Bagian dari Hewan Kurban</strong></h3>
<p>Dasar utama larangan menjual bagian dari hewan kurban terdapat dalam hadis Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">أَمَرَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا، وَجُلُودِهَا، وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا، وَقَالَ: نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurus hewan-hewan kurban beliau, menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan kain penutupnya, serta agar aku tidak memberikan sesuatu pun darinya kepada tukang jagal. Beliau bersabda, ‘Kami akan memberi upah tukang jagal itu dari harta kami sendiri.’” (HR. Al-Bukhari, no. 1717).</p>
<p>Dalam riwayat Muslim disebutkan pula:</p>
<p class="arab">أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَمَرَهُ أَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا: لُحُومَهَا، وَجُلُودَهَا، وَجِلَالَهَا فِي الْمَسَاكِينِ، وَلَا يُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا مِنْهَا شَيْئًا</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengurus hewan-hewan kurban beliau, dan memerintahkannya untuk membagikan seluruh bagian hewan kurban itu: dagingnya, kulitnya, dan kain penutupnya kepada orang-orang miskin, serta tidak memberikan sesuatu pun dari hewan kurban tersebut sebagai upah penyembelihan.” (HR. Muslim, no. 1317).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa bagian hewan kurban, termasuk kulitnya, tidak boleh dijadikan upah bagi tukang jagal. Sebab, apabila kulit atau bagian lain dari hewan kurban diberikan sebagai bayaran atas jasa penyembelihan, maka hal itu menjadi bentuk pertukaran jasa. Dengan kata lain, bagian dari hewan kurban telah dijadikan alat pembayaran. Ini menyerupai jual beli terhadap bagian hewan kurban, padahal hal tersebut tidak diperbolehkan.</p>
<p>Dalam hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلَا أُضْحِيَّةَ لَهُ</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Barang siapa menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak ada kurban baginya.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim, 2/389; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 1079).</p>
<p>Hadis ini menunjukkan kerasnya larangan menjual kulit hewan kurban. Maksud kalimat “tidak ada kurban baginya” bukan berarti hewan yang telah disembelih menjadi batal secara fisik, tetapi menunjukkan bahwa ia tidak mendapatkan pahala sempurna dari ibadah kurbannya.</p>
<p>Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Munawi dalam <em>Faidh Al-Qadir</em> (6/93):</p>
<p class="arab">لَا يَحْصُلُ لَهُ الثَّوَابُ الْمَوْعُودُ لِلْمُضَحِّي عَلَى أُضْحِيَّتِهِ</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Maksudnya, ia tidak mendapatkan pahala yang dijanjikan bagi orang yang berkurban atas kurbannya.”</p>
<p>Al-Hafizh Al-Mundziri rahimahullah juga menegaskan bahwa larangan menjual kulit kurban terdapat lebih dari satu riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berkata:</p>
<p class="arab">وَقَدْ جَاءَ فِي غَيْرِ مَا حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّهْيُ عَنْ بَيْعِ جِلْدِ الْأُضْحِيَّةِ.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Telah datang dalam lebih dari satu hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam larangan menjual kulit hewan kurban.” (Lihat: Al-Mundziri, <em>At-Targhib wa At-Tarhib</em>, 2/156).</p>
<h3><strong>Pendapat Mayoritas Ulama</strong></h3>
<p>Larangan menjual bagian apa pun dari hewan kurban, termasuk kulitnya, merupakan pendapat jumhur ulama, yaitu mayoritas ulama dari mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Dan ini insyaAllah pendapa yang kuat (Lihat: Ibnu Qudamah, <em>Al-Mughni</em>, 9/450; Al-Qarafi, <em>Adz-Dzakhirah</em>, 4/156; An-Nawawi, <em>Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab</em>, 8/419–420).</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan pendapat mazhab Syafi’i:</p>
<p class="arab">ومذهبنا أضنه لا يجوز بَيْع جِلْدِ الأُضْحِية ولا غيره من أَجزائِهَا، لا بما يُنْتَفَعُ به فى البيت ولا بغَيْره، وبه قال عطاءٌ ومالك، وأَحمد. ورخَّص فى بيْعِه أَبُو ثَوْر، وقال النخعى والأَوزاعى: لا بَأْس أَنْ يُشْتَرى به الغربال والمنخل والفأْس والميزان ونحوها. وكان الحسن وعبد الله بن عُمير لا يريان بأْساً أَن يُعْطَى الجزَّار جِلْدَها. وهذَا غَلَطٌ مُنَابذ للسُّنة</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Mazhab kami berpendapat bahwa tidak boleh menjual kulit hewan kurban dan tidak pula bagian lainnya, baik ditukar dengan sesuatu yang dapat dimanfaatkan di rumah maupun selainnya. Pendapat ini juga dikatakan oleh Atha’, Malik, dan Ahmad. Abu Tsaur memberikan keringanan untuk menjualnya. An-Nakha’i dan Al-Auza’i berkata, ‘Tidak mengapa kulit itu digunakan untuk membeli ayakan, saringan, kapak, timbangan, dan semisalnya.’ Al-Hasan dan Abdullah bin Umair berpendapat tidak mengapa memberikan kulitnya kepada tukang jagal. Namun pendapat ini keliru dan bertentangan dengan sunnah.” (<em>Al-Majmu’</em>, 8/420).</p>
<p>Dari penjelasan Imam An-Nawawi dapat dipahami bahwa dalam mazhab Syafi’i dan mayoritas ulama lainnya, kulit kurban tidak boleh dijual, baik dengan uang maupun ditukar dengan barang. Bahkan menjadikannya sebagai alat tukar untuk membeli kebutuhan rumah tangga pun tidak dibenarkan.</p>
<h3><strong>Mengapa Kulit Kurban Tidak Boleh Dijual?</strong></h3>
<p>Alasan utama larangan ini adalah karena hewan kurban telah dijadikan sebagai ibadah kepada Allah. Setelah disembelih, seluruh bagian hewan tersebut menjadi bagian dari ibadah. Karena itu, orang yang berkurban tidak boleh mengambil keuntungan komersial dari bagian hewan tersebut.</p>
<p>Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berkata:</p>
<p class="arab">سُبْحَانَ اللهِ، كَيْفَ يَبِيعُهَا، وَقَدْ جَعَلَهَا لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى!</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Subhanallah, bagaimana mungkin ia menjualnya, padahal ia telah menjadikannya untuk Allah Tabaraka wa Ta’ala!” (<em>Al-Mughni</em>, 13/382).</p>
<p>Perkataan Imam Ahmad ini menunjukkan bahwa menjual bagian dari hewan kurban bertentangan dengan hakikat ibadah kurban itu sendiri. Sebab, sesuatu yang telah dipersembahkan kepada Allah tidak sepantasnya dijadikan sarana mencari keuntungan duniawi.</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam <em>Asy-Syarh Al-Mumti’</em>, 7/474:</p>
<p class="arab">&#8221; وقوله : &#8220;ولا يبيع جلدها&#8221; بعد الذبح؛ لأنها تعينت لله بجميع أجزائها ، وما تعين لله فإنه لا يجوز أخذ العوض عليه، &#8230; والعلة في ذلك أنه أخرجه لله ، وما أخرجه الإنسان لله فلا يجوز أن يرجع فيه &#8230;، ولأن الجلد جزء من البهيمة تدخله الحياة كاللحم .[يعني لا يجوز بيعه كما لا يجوز بيع اللحم]</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Perkataannya: ‘Dan tidak boleh menjual kulitnya,’ maksudnya setelah hewan itu disembelih. Sebab, hewan tersebut telah ditetapkan untuk Allah dengan seluruh bagian-bagiannya, dan sesuatu yang telah ditetapkan untuk Allah tidak boleh diambil imbalan darinya. &#8230; Alasan larangan itu adalah karena ia telah mengeluarkannya untuk Allah, dan sesuatu yang telah dikeluarkan seseorang karena Allah tidak boleh ditarik kembali. &#8230; Selain itu, kulit merupakan bagian dari hewan yang hidup sebagaimana daging. [Maksudnya, kulit tidak boleh dijual sebagaimana daging juga tidak boleh dijual].</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p class="arab">و وَقَوْلُهُ: &#8220;ولا شيئاً منها&#8221; ، أي لا يبيع شيئاً من أجزائها ، ككبد ، أو رجل ، أو رأس ، أو كرش ، أو ما أشبه ذلك .</p>
<p>Artinya:</p>
<p>“Perkataannya, “Dan tidak boleh menjual sesuatu pun darinya,” maksudnya tidak boleh menjual bagian apa pun dari hewan kurban tersebut, seperti hati, kaki, kepala, perut, dan yang semisalnya.”.</p>
<p>Hal ini mempertegas bahwa larangan menjual kulit kurban bukan semata karena kulit itu memiliki nilai ekonomis, tetapi karena kulit tersebut adalah bagian dari hewan yang telah dijadikan ibadah kepada Allah.</p>
<p>Dengan demikian, maka berdasarkan hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para ulama, hukum menjual kulit hewan kurban bagi orang yang berkurban adalah tidak boleh. Larangan ini tidak hanya berlaku pada kulit, tetapi juga mencakup seluruh bagian hewan kurban seperti daging, kepala, kaki, hati, isi perut, dan bagian lainnya.</p>
<p><em>Wallahu a’lam…</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3012/hukum-menjual-kulit-qurban/">Hukum Menjual Kulit Qurban</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3012/hukum-menjual-kulit-qurban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa Arofah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3008/hukum-puasa-arofah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3008/hukum-puasa-arofah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 13:54:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3008</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tinjauan Hukum Syar’i Terkait Puasa Arafah Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Puasa Arafah termasuk amalan yang sangat agung dalam Islam. Hari itu adalah salah satu hari terbaik sepanjang tahun, bahkan Nabi ﷺ menyebutnya sebagai hari pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka. Namun, muncul pertanyaan penting “Apakah puasa Arafah berlaku sunnah untuk semua orang, termasuk jamaah haji yang sedang wuquf [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3008/hukum-puasa-arofah/">Hukum Puasa Arofah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tinjauan Hukum Syar’i Terkait Puasa Arafah</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Puasa Arafah termasuk amalan yang sangat agung dalam Islam. Hari itu adalah salah satu hari terbaik sepanjang tahun, bahkan Nabi ﷺ menyebutnya sebagai hari pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka. Namun, muncul pertanyaan penting “Apakah puasa Arafah berlaku sunnah untuk semua orang, termasuk jamaah haji yang sedang wuquf di Arafah?”</p>
<h3><strong>Keutamaan Puasa Arafah bagi Selain Jamaah Haji</strong></h3>
<p>Bagi kaum muslimin yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, puasa Arafah sangat dianjurkan. Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p>صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ</p>
<p>“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim no. 1162)</p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah penghapusan dosa-dosa kecil, adapun dosa besar tetap membutuhkan taubat khusus. Penjelasan ini ditegaskan oleh Imam An-Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah.</p>
<p>Karena itu mayoritas ulama menegaskan:</p>
<p>Puasa Arafah adalah sunnah muakkadah bagi selain jamaah haji</p>
<p>Termasuk amalan paling utama di 10 hari pertama Dzulhijjah</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<ul>
<li><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/16773/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%B5%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%B9%D8%B1%D9%81%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%AD%D8%A7%D8%AC-%D9%88%D8%BA%D9%8A%D8%B1%D9%87?utm_source=chatgpt.com">Fatwa Syaikh Ibnu Baz: فضل صيام يوم عرفة للحاج وغيره</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://binothaimeen.net/content/8821?utm_source=chatgpt.com">Fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: فضل صيام يوم عرفة وما يكفره من الذنوب</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://islamqa.info/ar/answers/7284?utm_source=chatgpt.com">IslamQA: فضل صيام يوم عرفة</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://dorar.net/feqhia/3218?utm_source=chatgpt.com">Al-Dorar Al-Saniyyah: صوم يوم عرفة</a></li>
</ul>
<h3><strong>Mengapa Nabi ﷺ Tidak Berpuasa Saat Wuquf di Arafah?</strong></h3>
<p>Inilah poin yang sering tidak dipahami sebagian orang.</p>
<p>Dalam haji wada’, Nabi ﷺ berada di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dalam keadaan tidak berpuasa.</p>
<p>Dalam hadits shahih disebutkan bahwa sebagian sahabat sempat ragu apakah beliau berpuasa atau tidak. Kemudian dikirimkan susu kepada beliau ketika wuquf dan beliau meminumnya di hadapan manusia.</p>
<p>Hadits ini menjadi dalil yang sangat jelas bahwa Nabi ﷺ sengaja tidak berpuasa saat berhaji.</p>
<p>Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting:</p>
<p>Nabi ﷺ meninggalkan puasa tersebut sebagai sunnah yang harus diikuti</p>
<p>Agar beliau kuat untuk dzikir, doa, dan manasik</p>
<p>Karena hari Arafah bagi jamaah haji adalah hari ibadah yang sangat berat</p>
<p>Oleh sebab itu, banyak ulama muhaqqiqin seperti Imam Malik, Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan:</p>
<p>Tidak berpuasa lebih utama bagi jamaah haji ketika wuquf di Arafah.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<ul>
<li><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/16773/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%B5%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%B9%D8%B1%D9%81%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%AD%D8%A7%D8%AC-%D9%88%D8%BA%D9%8A%D8%B1%D9%87?utm_source=chatgpt.com">Fatwa Syaikh Ibnu Baz: حكم صيام يوم عرفة للحاج وغيره</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://islamqa.info/ar/answers/98334?utm_source=chatgpt.com">IslamQA: صيام يوم التروية للحاج وغير الحاج</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://www.alukah.net/sharia/0/91757/?utm_source=chatgpt.com">Alukah: يوم عرفة فضائله وأحكامه</a></li>
</ul>
<h3><strong>Apakah Haram atau Hanya Makruh?</strong></h3>
<p>Mayoritas ulama menyatakan hukumnya makruh, bukan haram.</p>
<p>Artinya:</p>
<p>Jika jamaah haji tetap berpuasa, puasanya tetap sah</p>
<p>Namun meninggalkannya lebih sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ</p>
<p>Syaikh Ibnu Baz menjelaskan bahwa berbuka lebih utama agar jamaah haji lebih kuat dalam berdoa, berdzikir, dan menyempurnakan manasik.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<ul>
<li><a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/16773/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%B5%D9%8A%D8%A7%D9%85-%D9%8A%D9%88%D9%85-%D8%B9%D8%B1%D9%81%D8%A9-%D9%84%D9%84%D8%AD%D8%A7%D8%AC-%D9%88%D8%BA%D9%8A%D8%B1%D9%87?utm_source=chatgpt.com">Fatwa Syaikh Ibnu Baz tentang Puasa Arafah bagi Jamaah Haji</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://dorar.net/feqhia/3218?utm_source=chatgpt.com">Al-Dorar Al-Saniyyah: صوم يوم عرفة</a></li>
</ul>
<h3><strong>Hikmah Mengapa Jamaah Haji Dianjurkan Tidak Puasa</strong></h3>
<ol>
<li>Agar Lebih Kuat untuk Berdoa dan Berdzikir</li>
</ol>
<p>Hari Arafah adalah puncak ibadah haji.</p>
<p>Di hari itu jamaah:</p>
<ul>
<li>memperbanyak doa,</li>
<li>berdzikir,</li>
<li>bertalbiyah,</li>
<li>merendahkan diri di hadapan Allah.</li>
</ul>
<p>Jika tubuh lemah karena puasa, dikhawatirkan kekhusyukan dan semangat ibadah menurun.</p>
<p>Karena itu, menjaga kekuatan fisik pada hari Arafah menjadi tujuan penting syariat.</p>
<ol start="2">
<li>Karena Wuquf Lebih Agung daripada Puasa Sunnah</li>
</ol>
<p>Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p>“Haji itu adalah Arafah.”<br />
<em>(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya)</em></p>
<p>Wuquf adalah rukun terbesar dalam ibadah haji. Maka segala sesuatu yang membantu kesempurnaan wuquf lebih didahulukan daripada puasa sunnah.</p>
<ol start="3">
<li>Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ Secara Sempurna</li>
</ol>
<p>Sebagian orang mengira semakin berat ibadah maka semakin utama.</p>
<p>Padahal ukuran utama dalam Islam adalah:</p>
<p>mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.</p>
<p>Ketika Nabi ﷺ tidak berpuasa saat wuquf, maka mengikuti beliau dalam keadaan tersebut lebih utama daripada memilih ibadah berdasarkan semangat pribadi.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<ul>
<li><a href="https://islamqa.info/ar/answers/7284?utm_source=chatgpt.com">IslamQA: فضل صيام يوم عرفة</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://www.alukah.net/sharia/0/108399/?utm_source=chatgpt.com">Alukah: أحكام يوم التروية</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://www.alukah.net/sharia/0/91757/?utm_source=chatgpt.com">Alukah: يوم عرفة فضائله وأحكامه</a></li>
</ul>
<h3><strong>Bagaimana dengan Orang yang Tidak Haji?</strong></h3>
<p>Bagi selain jamaah haji, puasa Arafah tetap sangat dianjurkan dan termasuk kesempatan emas tahunan yang sangat besar pahalanya.</p>
<p>Bahkan sebagian ulama menganjurkan puasa sejak tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah.</p>
<p>Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menjelaskan bahwa puasa di hari-hari tersebut termasuk amal shalih yang agung berdasarkan keumuman dalil tentang keutamaan 10 hari pertama Dzulhijjah.</p>
<p>Sumber Rujukan:</p>
<ul>
<li><a href="https://binothaimeen.net/content/11252?utm_source=chatgpt.com">Fatwa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: هل صيام الثمانية أيام من ذي الحجة سنة؟</a></li>
<li><a style="font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;" href="https://islamqa.info/ar/answers/98334?utm_source=chatgpt.com">IslamQA: صيام يوم التروية للحاج وغير الحاج</a></li>
</ul>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi kaum muslimin yang tidak berhaji</p>
<p>Keutamaannya: menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang</p>
<p>Adapun bagi jamaah haji yang sedang wuquf:</p>
<p>tidak berpuasa lebih utama,</p>
<p>mengikuti sunnah Nabi ﷺ,</p>
<p>agar lebih kuat dalam doa dan manasik</p>
<p>Mayoritas ulama memandang puasa Arafah bagi jamaah haji sebagai sesuatu yang makruh, bukan haram</p>
<p>Maka fiqih yang benar bukan sekadar semangat beribadah, tetapi menempatkan ibadah sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3008/hukum-puasa-arofah/">Hukum Puasa Arofah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3008/hukum-puasa-arofah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3005/hukum-puasa-tarwiyah-sunnah-atau-bidah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3005/hukum-puasa-tarwiyah-sunnah-atau-bidah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 May 2026 13:41:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[amalan 10 hari pertama dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[bidah dalam ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[dalil puasa tarwiyah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits puasa tarwiyah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam puasa tarwiyah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa 8 dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa tarwiyah]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan puasa tarwiyah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sebelum arafah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah dzulhijjah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa tarwiyah bidah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa tarwiyah sunnah atau bidah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz menjelaskan puasa tarwiyah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3005</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal dengan nama “Yaumut Tarwiyah”. Pada hari ini, jamaah haji mulai bergerak menuju Mina untuk mempersiapkan diri untuk wuquf di Arafah. Di tengah kaum muslimin, sering muncul pertanyaan, “Apakah puasa Tarwiyah memiliki keutamaan khusus?”, “Benarkah ada hadits shahih tentang puasa tanggal 8 Dzulhijjah?” Pertanyaan ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3005/hukum-puasa-tarwiyah-sunnah-atau-bidah/">Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Tanggal 8 Dzulhijjah dikenal dengan nama <em>“Yaumut Tarwiyah”</em>. Pada hari ini, jamaah haji mulai bergerak menuju Mina untuk mempersiapkan diri untuk wuquf di Arafah. Di tengah kaum muslimin, sering muncul pertanyaan, “Apakah puasa Tarwiyah memiliki keutamaan khusus?”, “Benarkah ada hadits shahih tentang puasa tanggal 8 Dzulhijjah?”</p>
<p>Pertanyaan ini penting dijawab secara ilmiah agar seorang muslim tidak mudah menolak amalan yang sebenarnya memiliki landasan syariat, dan tidak pula menetapkan keutamaan khusus tanpa dalil yang shahih.</p>
<h3><strong>Apa Itu Hari Tarwiyah?</strong></h3>
<p>Hari Tarwiyah adalah tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum Arafah. Disebut <em>“Tarwiyah”</em> karena dahulu para jamaah haji menyiapkan persediaan air (<em>tarawwu</em>) sebelum menuju Arafah dan Mina.</p>
<p>Hari ini termasuk bagian dari 10 hari pertama Dzulhijjah yang sangat agung kedudukannya dalam Islam. Allah ﷻ berfirman:</p>
<p class="arab">‏ وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) ﴾ ‎﴿ وَالْفَجْرِ (1)</p>
<p>“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)</p>
<p>Beberapa ulama tafsir menjelaskan bahwa “malam yang sepuluh” adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. (baca: <em>Tafsir Ath Thabary</em>, 24/348, <em>Tafsir Al Qurthubi</em>, 20/39, dan <em>Tafsir Ibnu Katsir, </em>8/391).</p>
<h3><strong>Mengapa Ulama Menganjurkan Puasa Tarwiyah?</strong></h3>
<p>Sebab anjurannya ialah puasa tanggal 8 Dzulhijjah masuk dalam keumuman dalil tentang keutamaan amal shalih pada 10 hari pertama Dzulhijjah. Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">«مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي هَذِهِ»</p>
<p>“Tidak ada amal pada hari-hari lain yang lebih utama daripada amal pada sepuluh hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah).” (HR. Bukhari no. 969).</p>
<p>Disebutkan dalam <em>Al-Mausu‘ah Al-Fiqhiyyah</em> (28/91):</p>
<p class="arab">اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ صَوْمِ الْأَيَّامِ الثَّمَانِيَةِ الَّتِي مِنْ أَوَّلِ ذِي الْحِجَّةِ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ</p>
<p>“Para fuqaha telah bersepakat tentang dianjurkannya puasa pada delapan hari pertama bulan Dzulhijjah sebelum Hari Arafah.”</p>
<p class="arab">وَصَرَّحَ الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ بِأَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ هَذِهِ الْأَيَّامِ لِلْحَاجِّ أَيْضًا</p>
<p>“Madzhab Malikiyyah dan Syafi‘iyyah secara tegas menyatakan bahwa puasa pada hari-hari tersebut juga disunnahkan bagi jamaah haji.”</p>
<p>Dan disebutkan dalam kitab <em>Nihayahtul Muhtaj</em> (3/207):</p>
<p class="arab">وَيُسَنُّ صَوْمُ الثَّمَانِيَةِ أَيَّامٍ قَبْلَ يَوْمِ عَرَفَةَ، كَمَا صَرَّحَ بِهِ فِي «الرَّوْضَةِ»، سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْحَاجُّ وَغَيْرُهُ</p>
<p>“Disunnahkan berpuasa pada delapan hari sebelum Hari Arafah, sebagaimana ditegaskan dalam kitab <em>Raudhatuth Thalibin</em>. Hal itu berlaku baik bagi jamaah haji maupun selain jamaah haji.”</p>
<p>Puasa termasuk amal shalih yang paling agung. Karena itu, banyak ulama memasukkan puasa 8 Dzulhijjah dalam amalan yang dianjurkan, karena masuk dalam keumuman hadits di atas.</p>
<h3><strong>Apakah Jamaah Haji Dianjurkan Puasa Tarwiyah?</strong></h3>
<p>Sebagaimana yang telah disebutkan, asalnya bagi jamaah haji tetap dianjurkan, akan tetapi melihat kondisi fisik lebih utama. Apabila puasa melemahkan mereka dalam manasik, dzikir, doa, dan persiapan Arafah, maka tidak berpuasa lebih baik. Karena inti dari ibadah haji itu adalah wukuf di ‘Arafah sebagaimana sabda Nabi ﷺ:</p>
<p class="arab">« الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ ‏»</p>
<p>“Inti ibadah haji adalah wuquf di Arafah. Siapa yang sempat hadir di Arafah sebelum terbit fajar pada malam Muzdalifah, maka hajinya telah sempurna.” (HR. An Nasa’i no. 3016).</p>
<h3><strong>Kesalahan yang Sering Terjadi</strong></h3>
<p>Menganggap Puasa Tarwiyah Pasti Bid’ah</p>
<p>Ini keliru karena puasa tersebut masuk dalam keumuman amal 10 hari pertama Dzulhijjah.</p>
<p>Meyakini Adanya Pahala Khusus Terlebih Lagi Jika Bersandar dengan Hadits Lemah</p>
<p>Ini juga keliru, karena kami belum menemukan para ulama yang menukilkan hadits shahih tentang keutamaan khusus puasa Tarwiyah.</p>
<h3><strong>Menjadikannya Seolah Sunnah Muakkadah Setingkat Arafah</strong></h3>
<p>Keutamaan terbesar tetap pada puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah dengan dalil shahih, karena ia terletak pada hari inti atau puncaknya ibadah haji.</p>
<p>Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah) bukan bid’ah, dianjurkan sebagai bagian dari amal shalih di 10 hari pertama Dzulhijjah, namun tidak memiliki hadits shahih yang menyebutkan keutamaan khusus secara spesifik. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3005/hukum-puasa-tarwiyah-sunnah-atau-bidah/">Hukum Puasa Tarwiyah: Sunnah Atau Bid’ah?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3005/hukum-puasa-tarwiyah-sunnah-atau-bidah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Menggabungkan Niat Qurban dan Aqiqah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3001/hukum-menggabungkan-niat-qurban-dan-aqiqah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3001/hukum-menggabungkan-niat-qurban-dan-aqiqah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 11:23:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qurban dan aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[fikih qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam qurban aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum satu kambing untuk qurban dan aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[pendapat ulama qurban dan aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[syariat qurban dan aqiqah]]></category>
		<category><![CDATA[ukum aqiqah digabung qurban]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz menjelaskan qurban aqiqah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3001</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Menyembelih Satu Hewan dengan Niat Qurban dan Aqiqah Pertanyaannya: apakah boleh menyembelih satu hewan dengan dua niat sekaligus, yaitu niat qurban dan aqiqah? Misalnya, seseorang dikaruniai seorang anak, lalu ia ingin melaksanakan aqiqah untuk anak tersebut. Ternyata hari ketujuh kelahiran anaknya bertepatan dengan Hari Raya Iduladha atau hari-hari Tasyrik. Kemudian ia ingin menggabungkan niat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3001/hukum-menggabungkan-niat-qurban-dan-aqiqah/">Hukum Menggabungkan Niat Qurban dan Aqiqah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Menyembelih Satu Hewan dengan Niat Qurban dan Aqiqah</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaannya:</strong> <em>apakah boleh menyembelih satu hewan dengan dua niat sekaligus, yaitu niat qurban dan aqiqah?</em></p>
<p><em>Misalnya, seseorang dikaruniai seorang anak, lalu ia ingin melaksanakan aqiqah untuk anak tersebut. Ternyata hari ketujuh kelahiran anaknya bertepatan dengan Hari Raya Iduladha atau hari-hari Tasyrik. Kemudian ia ingin menggabungkan niat qurban dan aqiqah dalam satu sembelihan. Apakah hal itu mencukupi?</em></p>
<p><em>Atau dalam keadaan lain, seseorang tidak memiliki cukup harta untuk membeli dua ekor kambing: satu untuk aqiqah dan satu lagi untuk qurban. Lalu ia ingin menggabungkan niat qurban dan aqiqah dalam satu ekor kambing. Apakah hal itu sah dan mencukupi?</em></p>
<p><strong>Dalam masalah ini, para ulama berbeda pendapat menjadi dua pendapat:</strong></p>
<p><strong>Pendapat Pertama: </strong>Qurban<strong> Tidak Mencukupi untuk Aqiqah</strong></p>
<p>Pendapat pertama menyatakan bahwa qurban tidak dapat menggantikan aqiqah. Artinya, satu sembelihan tidak cukup untuk diniatkan sekaligus sebagai qurban dan aqiqah.</p>
<p>Ini adalah pendapat mazhab Malikiyyah, Syafi‘iyyah, salah satu riwayat dari Imam Ahmad, pendapat Qatadah, dan pendapat yang dipilih oleh Syekh Ibn ‘Utsaimin <em>rahimahumullāh.</em></p>
<p>Alasan pendapat ini adalah karena aqiqah dan qurban masing-masing merupakan ibadah yang berdiri sendiri dan memiliki tujuan tersendiri. Karena keduanya sama-sama dimaksudkan secara khusus, maka salah satunya tidak dapat menggantikan yang lain.</p>
<p>Selain itu, masing-masing ibadah memiliki sebab yang berbeda. Aqiqah disyariatkan karena kelahiran anak, sedangkan qurban disyariatkan karena datangnya Hari Raya Iduladha dan hari-hari penyembelihan. Karena sebab keduanya berbeda, maka salah satunya tidak dapat mewakili yang lain, sebagaimana dam tamattu‘ tidak dapat menggantikan dam fidyah.</p>
<p>(Lihat: <strong><em>Syarḥ Bulūgh al-Marām</em></strong><em> karya al-Luḥaimīd, 4/286</em>. Lihat juga: <strong><em>Tuḥfah al-Muḥtāj fī Syarḥ al-Minhāj</em></strong><em>, 9/369; <strong>al-Furū‘</strong> karya Ibn Mufliḥ, 6/112; dan <strong>Mawāhib al-Jalīl</strong> karya al-Ḥaṭṭāb, 4/393).</em></p>
<p>Diriwayatkan oleh Ibn Abī Syaibah dari Qatadah, ia berkata:</p>
<p class="arab">(لا تُجزِئُ عنه حتَّى يَعُقَّ عنه)</p>
<p>“Tidak mencukupi darinya sampai dilakukan aqiqah untuknya.” (<strong><em>al-Musannaf</em></strong><em> karya Ibn Abī Syaibah, 5/116).</em></p>
<p>Syekh Ibn ‘Utsaimin <em>rahimahullāh</em> juga berkata:</p>
<p class="arab">(الصَّحيحُ عَدَمُ الجوازِ في الجمعِ بيْن نيَّةِ الأُضحيَّةِ والعَقيقةِ، وكذلك بيْن نيَّةِ الأُضحيَّةِ والوليمةِ. وهذا الكلامُ كلُّه فيما إذا كان الأُضحيَّةُ مِن عِندِه، أمَّا إذا كانت وصيَّةً فمعلومٌ أنَّه لا يجوزُ مِن بابِ أَوْلى)</p>
<p>“Pendapat yang benar adalah tidak bolehnya menggabungkan niat antara qurban dan aqiqah, demikian pula antara niat qurban dan walimah. Seluruh pembahasan ini berlaku apabila qurban tersebut berasal dari hartanya sendiri. Adapun jika qurban itu berasal dari wasiat, maka sudah jelas lebih tidak boleh.” (Lihat:<strong><em>Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il Ibn ‘Utsaimīn</em></strong><em>, 25/108</em>).</p>
<p><strong>Pendapat Kedua: </strong>Qurban<strong> Dapat Mencukupi untuk Aqiqah</strong></p>
<p>Pendapat kedua menyatakan bahwa qurban dapat mencukupi untuk aqiqah. Dengan kata lain, satu sembelihan boleh diniatkan sekaligus sebagai qurban dan aqiqah.</p>
<p>Ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, pendapat mazhab Hanafiyyah, serta pendapat al-Ḥasan al-Baṣrī dan Muḥammad bin Sīrīn.</p>
<p>Diriwayatkan dari al-Ḥasan al-Baṣrī <em>rahimahullāh,</em> ia berkata:</p>
<p class="arab">(إِذَا ضَحَّوْا عَنِ الْغُلَامِ، فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنَ الْعَقِيقَةِ)</p>
<p>“Apabila mereka berqurban untuk seorang anak laki-laki, maka qurban itu telah mencukupi dari aqiqahnya.” (<strong><em>al-Muṣannaf</em></strong><em> karya Ibn Abī Syaibah, 5/116).</em></p>
<p>Ibn Sīrīn <em>rahimahullāh</em> juga berkata:</p>
<p class="arab">(يُجْزِئُ عَنْهُ الْأُضْحِيَّةُ مِنَ الْعَقِيقَةِ)</p>
<p>“Qurban dapat mencukupi dari aqiqah.” (<strong><em>al-Muṣannaf</em></strong><em> karya Ibn Abī Syaibah, 5/116).</em></p>
<p>Alasan pendapat ini adalah karena tujuan dari kedua ibadah tersebut sama-sama untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui penyembelihan. Karena itu, salah satunya dapat masuk ke dalam yang lain.</p>
<p>Hal ini diqiyaskan dengan salat Tahiyyatul Masjid. Seseorang yang masuk masjid lalu langsung melaksanakan salat fardhu, maka salat Tahiyyatul Masjidnya sudah tercakup di dalam salat fardhu tersebut.</p>
<p>(<em>Lihat: <strong>Syarḥ Bulūgh al-Marām</strong> karya al-Luḥaimīd, 4/286; dan <strong>Ḥāsyiyah Ibn ‘Ābidīn</strong>, 6/326).</em></p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p>Berdasarkan perbedaan pendapat di atas, apabila seseorang tidak mampu secara finansial untuk menyembelih satu ekor kambing tersendiri untuk qurban dan satu ekor kambing lain untuk aqiqah, maka tidak mengapa ia mengambil pendapat mazhab Hanafiyyah dan salah satu riwayat dalam mazhab Hanbali yang membolehkan penggabungan niat qurban dan aqiqah dalam satu sembelihan.</p>
<p>Namun, apabila ia mampu, maka yang lebih utama dan lebih hati-hati adalah menyembelih dua ekor kambing: satu untuk aqiqah dan satu lagi untuk qurban. Hal ini dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian, mengikuti pendapat mayoritas ulama, dan terlepas dari perbedaan pendapat.</p>
<p>Dengan demikian, apabila seseorang memiliki kemampuan, maka pilihan terbaik adalah tidak menggabungkan keduanya, tetapi menjadikan satu sembelihan khusus untuk aqiqah dan satu sembelihan lainnya khusus untuk qurban. <em>Wallahua’lam.</em></p>
<p>&nbsp;</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3001/hukum-menggabungkan-niat-qurban-dan-aqiqah/">Hukum Menggabungkan Niat Qurban dan Aqiqah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3001/hukum-menggabungkan-niat-qurban-dan-aqiqah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Berqurban Dengan Hewan Betina</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2995/hukum-berqurban-dengan-hewan-betina/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2995/hukum-berqurban-dengan-hewan-betina/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2026 03:03:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[bolehkah qurban dengan hewan betina]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qurban hewan betina]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hewan qurban betina]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berqurban dengan hewan betina]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam tentang qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban kambing betina]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban sapi betina]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah qurban]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan ulama tentang qurban]]></category>
		<category><![CDATA[qurban hewan betina]]></category>
		<category><![CDATA[qurban kambing betina menurut ulama]]></category>
		<category><![CDATA[qurban sapi betina menurut islam]]></category>
		<category><![CDATA[syarat hewan qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2995</guid>

					<description><![CDATA[<p>BOLEHKAH BERQURBAN DENGAN ‎HEWAN ‎BETINA?‎ Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Ibadah qurban bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah syiar tauhid yang agung, yang ‎telah diwariskan sejak Nabi Ibrahim  عليه السلامhingga disempurnakan oleh Nabi ‎Muhammad ‎ﷺ‎.‎ Namun ironisnya, di tengah semangat berqurban, masih banyak kesalahan mendasar terutama ‎dalam memahami syarat sah hewan qurban dan anggapan keliru bahwa hewan betina tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2995/hukum-berqurban-dengan-hewan-betina/">Hukum Berqurban Dengan Hewan Betina</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>BOLEHKAH BERQURBAN DENGAN ‎HEWAN ‎BETINA?‎</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Ibadah qurban bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah syiar tauhid yang agung, yang ‎telah diwariskan sejak Nabi Ibrahim  عليه السلامhingga disempurnakan oleh Nabi ‎Muhammad ‎ﷺ‎.‎</p>
<p>Namun ironisnya, di tengah semangat berqurban, masih banyak kesalahan mendasar terutama ‎dalam memahami syarat sah hewan qurban dan anggapan keliru bahwa hewan betina tidak ‎boleh dijadikan qurban.‎ Mari kita luruskan dengan pendekatan ilmiah, berbasis dalil dan pemahaman para ulama ahlussunnah.‎</p>
<h4><strong>Syarat Sah Hewan Qurban</strong></h4>
<p>Para ulama telah merumuskan syarat sah hewan qurban berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan ‎pemahaman sahabat serta tabi’in.‎</p>
<p>‎1. Harus dari Hewan Ternak (Bahimatul An’am)</p>
<p>Allah سبحانه وتعالى berfirman:‎</p>
<p class="arab">‎﴿ وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ﴾</p>
<p>“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)‎.</p>
<p>Yang dimaksud dengan “Bahimatul An’am” ialah ‎Unta, sapi (termasuk kerbau), serta kambing dan sejenisnya. (baca: <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an, </em>Al-Ma’idah: 1)</p>
<p>‎2. Mencapai Usia Minimal (Musinnah atau Jadza‘ah)‎</p>
<p>Rasulullah ‎ﷺ‎ (w. 11 H) bersabda:‎</p>
<p class="arab">‎« لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ، فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ »</p>
<p>“Janganlah kalian menyembelih kecuali hewan yang musinnah (cukup umur), kecuali jika sulit, ‎maka sembelihlah jadza‘ah (domba yang berumur 6 bulan) dari domba.”‎ (HR. Muslim no. 1963‎).</p>
<p>Diterangkan oleh Imam Nawawi رحمه الله (w. 676 H) dalam <em>Syarḥ Shahih Muslim</em> bahwa umur layak dijadikan hewan qurban dari masing-masing hewan ternak ialah sebagai berikut:‎</p>
<ul>
<li><strong>Unta ≥ 5 tahun</strong></li>
<li><strong>Sapi ≥ 2 tahun</strong></li>
<li><strong>Kambing ≥ 1 tahun</strong></li>
<li><strong>Domba ≥ 6 bulan</strong></li>
</ul>
<p>‎3. Bebas dari Cacat yang Jelas‎</p>
<p>Rasulullah ‎ﷺ‎ (w. 11 H) bersabda:‎</p>
<p class="arab">أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا، وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي‎</p>
<p>“Empat hewan yang tidak sah untuk qurban: yang jelas buta, yang jelas sakit, yang jelas ‎pincang, dan yang sangat kurus tidak berlemak.”‎ (HR. Abu Dawud no. 2802‎, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)‎.</p>
<p>‎4. Disembelih pada Waktu yang Ditentukan‎</p>
<p>Rasulullah ‎ﷺ‎ bersabda:‎</p>
<p class="arab">مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَإِنَّمَا هُوَ لَحْمٌ قَدَّمَهُ لِأَهْلِهِ‎</p>
<p>“Barang siapa menyembelih sebelum shalat (‘Id), maka itu hanyalah daging biasa untuk ‎keluarganya.”‎ (HR. Al-Bukhari no. 965 dan Muslim no. 1961‎).</p>
<h3><strong>Hukum Berqurban dengan Hewan Betina</strong></h3>
<p>Setelah memahami syarat dasar, muncul pertanyaan penting yang sering disalahpahami di ‎masyarakat, <em>“Lalu, Bagaimana dengan hewan betina?</em><em>‎ Apakah qurban harus menggunakan hewan jantan?‎”</em></p>
<p>Lajnah Ad Da’imah Arab Saudi (414/11) menyatakan:</p>
<p>“Tidak diperbolehkan berkurban kambing jenis domba kecuali bila telah berumur enam bulan dan memasuki bulan ketujuh atau lebih, baik jantan atau betina keduanya sama, dan dinamakan Jadza’; Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i dari hadits Mujasyi’ dia berkata : saya telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda :</p>
<p class="arab">« إِنَّ الجَذَعَ يُوفِي مَا يُوفِي مِنْهُ الثَّنِيُّ »</p>
<p>“Sesungguhnya Jadza’ telah mencukupi apa yang mencukupinya hewan yang telah tanggal giginya” (Ibnu Abi Shaybah, <em>Al-Mushannaf</em>, 5/511, Darul Fikr, Beirut dan Al-Baihaqi, <em>As-Sunanul Kubra</em>, 9/271, Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut).</p>
<p>Dan tidak diperkenankan dari kambing jenis Jawa atau Kacang, sapi dan unta melainkan apabila telah masuk umur<em> Musinnah</em>, baik jantan atau betina adalah sama, yang di sebut <em>Musinnah</em> dari masing-masing kambing, sapi dan unta adalah : Kambing jenis Jawa atau kacang yang telah berumur setahun dan masuk ke tahun kedua, sapi yang umurnya genap dua tahun dan telah memasuki tahun ketiga, dan unta yang telah berumur genap lima tahun dan telah memasuki tahun keenam ; sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:</p>
<p class="arab">« لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا أَنْ يَتَعَسَّرَ عَلَيْكُمْ، فَاذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ »</p>
<p>“Janganlah kalian menyembelih melainkan telah masuk umur musinnah, namun jika kalian sulit mendapatkannya maka berkurbanlah dengan Jadza’ dari jenis domba.” (HR. Muslim no. 1963).”</p>
<p>‎Mana yang Lebih Utama: Jantan atau Betina?‎</p>
<p>Dari Anas bin Malik رضي الله عنه (w. 93 H), beliau mengatakan:</p>
<p class="arab"><strong>ضَحَّى النَّبِيُّ ﷺ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ</strong></p>
<p><em>“Nabi </em><em>ﷺ</em><em> berqurban dengan dua ekor kambing jantan yang putih bercampur hitam dan bertanduk.” </em><em>(</em>HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966<em>).</em><em> </em></p>
<p>Berdasarkan hadits ini, sebagian ulama mengambil kesimpulan bahwa hewan yang jantan itu lebih utama daripada betina, namun Ibnul Qayyim al-Jawziyya رحمه الله menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَكَانَ يَخْتَارُ لِأُضْحِيَّتِهِ أَكْمَلَهَا وَأَحْسَنَهَا</p>
<p>“Beliau memilih hewan qurban yang paling sempurna dan terbaik.” (<em>Zadul Ma‘ād</em>, 2/295).</p>
<p>Sehingga dapat dipahami bahwa jantan bisa jadi lebih utama bila memenuhi persyaratan yang telah disampaikan di atas, akan tetapi bila hanya didapati atau mampu hewan yang betina maka tetap sah selagi memenuhi syarat sebagaimana yang disinggung oleh fatwa Lajnah Ad-Daimah di atas, dan itu lebih baik daripada kehilangan pahala berqurban.</p>
<p>Dari penjelasan ulama di atas, kita ketahui bahwa hewan qurban harus memenuhi beberapa syarat yaitu: dari jenis <em>bahimatul an‘am</em>, cukup umur, bebas cacat, dan disembelih pada waktunya.</p>
<p>Adapun <strong>hewan betina tetap sah untuk qurban</strong>, tanpa ada perbedaan hukum dengan jantan. Jika ada jantan yang memnuhi syarat, maka itu lebih utama, namun <strong>yang menjadi ukuran adalah kualitas, bukan jenis kelamin</strong>. Karena qurban yang diterima adalah yang <strong>sesuai sunnah dan terbaik yang mampu dipersembahkan kepada Allah</strong>. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2995/hukum-berqurban-dengan-hewan-betina/">Hukum Berqurban Dengan Hewan Betina</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2995/hukum-berqurban-dengan-hewan-betina/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Qurban untuk Orang Meninggal</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 May 2026 00:29:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[dalil qurban untuk orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih qurban]]></category>
		<category><![CDATA[hukum berqurban untuk keluarga yang sudah meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam tentang qurban mayit]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban mayit]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban menurut ulama]]></category>
		<category><![CDATA[hukum qurban untuk orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah qurban]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan qurban mayit]]></category>
		<category><![CDATA[qurban atas nama orang meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[qurban atas nama orang tua meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[qurban dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[qurban keluarga meninggal]]></category>
		<category><![CDATA[qurban untuk mayit]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara qurban untuk mayit]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2989</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Berqurban Atas Nama Orang yang Telah Meninggal Pada dasarnya, qurban disyariatkan untuk orang yang masih hidup. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, yaitu mereka berqurban untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Adapun anggapan sebagian masyarakat bahwa qurban itu khusus untuk orang yang telah meninggal, maka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/">Hukum Qurban untuk Orang Meninggal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Berqurban Atas Nama Orang yang Telah Meninggal</strong></h2>
<p>Pada dasarnya, qurban disyariatkan untuk orang yang masih hidup. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> dan para sahabatnya, yaitu mereka berqurban untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka.</p>
<p>Adapun anggapan sebagian masyarakat bahwa qurban itu khusus untuk orang yang telah meninggal, maka anggapan tersebut tidak memiliki dasar.</p>
<h3><strong>Hukum Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal</strong></h3>
<p>Qurban untuk orang yang telah meninggal dapat dibagi menjadi tiga bentuk:</p>
<p><strong>Pertama: Berqurban untuk Orang yang Meninggal sebagai Bagian dari Qurban Orang yang Masih Hidup</strong></p>
<p>Bentuk pertama adalah seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya, lalu ia meniatkan pahala qurban tersebut untuk anggota keluarganya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.</p>
<p>Bentuk seperti ini diperbolehkan.</p>
<p>Dasarnya adalah praktik Nabi Muhammad <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong>, ketika beliau berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Di antara keluarga beliau tentu ada yang telah meninggal sebelumnya.</p>
<p>Dalam masalah ini, apabila beberapa orang ikut serta dalam satu ekor kambing, atau dalam sepertujuh bagian dari seekor unta atau sapi, maka perlu dibedakan antara dua bentuk berikut:</p>
<ol>
<li><strong> Ikut Serta dalam Pahala Qurban</strong></li>
</ol>
<p>Yang dimaksud dengan ikut serta dalam pahala qurban adalah pemilik hewan qurban hanya satu orang, tetapi ia mengikutsertakan orang lain dari kalangan kaum muslimin dalam pahala qurban tersebut.</p>
<p>Bentuk seperti ini diperbolehkan, berapa pun jumlah orang yang diikutsertakan, karena karunia Allah sangat luas. Namun, penyertaan pahala tersebut dilakukan sebelum penyembelihan.</p>
<p class="arab">فعن عائشة -رضي الله عنها-: أن النَّبي &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أمر بكبشٍ أقرنَ يَطَأُ في سواد، ويَبْرُك في سَواد، وينظر في سواد، فأتي به، ليضحي به، وقال لها: &#8220;يا عائشة! هَلُمِّي المُدْيَةَ&#8221;، ثم قال: &#8220;اشْحذيها بِحَجَر&#8221;، ففعلت، ثم أخذ الكبش فأضجعه، ثم ذبحه، ثم قال: &#8220;‌باسم ‌الله، ‌اللهم ‌تقبلْ ‌من ‌محمدٍ وآلِ محمدٍ، ومن أمةِ محمدٍ&#8221;</p>
<p>Dari ‘Āisyah <strong>radhiyallāhu ‘anhā</strong>, disebutkan bahwa Nabi <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> memerintahkan agar dibawakan seekor domba jantan bertanduk, yang bagian kaki, perut, dan sekitar matanya berwarna hitam. Lalu domba itu dibawakan kepada beliau untuk diqurbankan.</p>
<p>Beliau berkata kepada ‘Āisyah:m“Wahai ‘Āisyah, bawakan kepadaku pisau.”</p>
<p>Kemudian beliau berkata: “Asahlah pisau itu dengan batu.”</p>
<p>‘Āisyah pun melakukannya. Setelah itu, Nabi <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> mengambil domba tersebut, membaringkannya, lalu menyembelihnya seraya membaca:</p>
<p>“Bismillāh, Allāhumma taqabbal min Muḥammad, wa āli Muḥammad, wa min ummati Muḥammad.”<br />
“Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah qurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad, dan umat Muhammad.”</p>
<p>Kemudian beliau menyembelihnya. <strong><em>(HR. Muslim no. 1967 dan Abū Dāwud no. 2792).</em></strong></p>
<p>Imam al-Nawawī <strong>rahimahullāh</strong> menjelaskan bahwa hadis ini dijadikan dalil oleh ulama yang membolehkan seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya, serta mengikutsertakan mereka dalam pahala qurban. Ini adalah pendapat mazhab Syafi‘I. <strong><em>(Syarh Shahih Muslim al-Nawawī, 5/105–106).</em></strong></p>
<p>Dengan demikian, apabila seseorang menyembelih seekor kambing untuk dirinya dan dan menyertakn pahala berqurban untuk keluarganya, atau untuk siapa saja yang ia kehendaki dari kalangan kaum muslimin, maka hal itu sah.</p>
<p>Demikian pula, apabila seseorang berqurban dengan sepertujuh bagian dari seekor unta atau sapi untuk dirinya dan keluarganya, atau untuk siapa saja yang ia kehendaki dari kalangan kaum muslimin, maka hal itu juga sah. Sebab, Nabi <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> telah menjadikan sepertujuh bagian dari unta atau sapi setara dengan satu ekor kambing dalam masalah hadyu. Maka, demikian pula dalam masalah qurban, tidak ada perbedaan.</p>
<p>Namun, menurut sebagian ulama, kebolehan mengikutsertakan orang lain dalam pahala qurban ini memiliki tiga syarat:</p>
<ol>
<li>Orang yang diikutsertakan tinggal bersama orang yang berqurban.</li>
<li>Orang tersebut merupakan kerabatnya, meskipun hubungan kekerabatannya jauh, atau ia adalah istrinya.</li>
<li>Orang yang berqurban menanggung nafkah orang yang diikutsertakan, baik nafkah itu wajib, seperti nafkah kepada kedua orang tua dan anak-anaknya yang masih kecil lagi miskin, maupun nafkah sukarela, seperti kepada anak-anaknya yang kaya, paman, saudara laki-laki, atau paman dari pihak ibu.</li>
</ol>
<p>Al-Hattab al-Ru‘ainī al-Mālikī menyebutkan bahwa penyertaan orang lain dalam pahala qurban itu sah, meskipun jumlahnya lebih dari tujuh orang, selama orang tersebut tinggal bersamanya, memiliki hubungan kekerabatan dengannya, dan ia menafkahinya, walaupun nafkah tersebut bersifat sukarela. (Lihat: <strong><em>Mawāhib al-Jalīl, jilid 3, hlm. 240 dan setelahnya. Lihat juga: al-Mausū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 5/78</em></strong>).</p>
<ol start="2">
<li><strong> Ikut Serta dalam Kepemilikan Hewan Qurban</strong></li>
</ol>
<p>Bentuk kedua adalah dua orang atau lebih bersama-sama memiliki hewan qurban, lalu mereka menyembelih hewan tersebut sebagai qurban.</p>
<p>Bentuk seperti ini tidak diperbolehkan, kecuali pada hewan qurban berupa unta atau sapi, dan itu pun maksimal untuk tujuh orang saja.</p>
<p>Hal ini karena qurban adalah ibadah dan bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta‘ālā. Karena itu, ibadah qurban tidak boleh dilakukan kecuali sesuai dengan cara yang telah disyariatkan, baik dari sisi waktu, jumlah, maupun tata caranya.</p>
<p>Maksud utama qurban bukan sekadar mendapatkan daging untuk dimanfaatkan atau disedekahkan. Maksud utama qurban adalah menegakkan salah satu syiar Allah sesuai dengan cara yang telah disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, pelaksanaannya harus dibatasi sesuai dengan ketentuan syariat.</p>
<p>Seandainya kepemilikan bersama dalam qurban selain unta dan sapi itu diperbolehkan, tentu para sahabat <strong>radhiyallāhu ‘anhum</strong> akan melakukannya. Sebab, alasan untuk melakukannya sangat kuat pada masa mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling bersemangat dalam kebaikan, sementara di antara mereka juga terdapat orang-orang miskin yang mungkin tidak mampu membeli hewan qurban secara utuh.</p>
<p>Jika praktik seperti itu pernah mereka lakukan, tentu akan dinukilkan kepada umat, karena masalah ini termasuk perkara yang sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin. (Lihat: <strong><em>Ibn ‘Utsaimīn, Aḥkām al-Uḍḥiyah wa al-Dzakāh, 2/230–232</em></strong>).</p>
<p>Al-Kāsānī menjelaskan bahwa seekor kambing atau domba dalam qurban tidak sah kecuali untuk satu orang. Satu ekor sapi atau satu ekor unta tidak mencukupi untuk lebih dari tujuh orang. Namun, satu ekor sapi atau unta boleh dijadikan qurban untuk tujuh orang atau kurang dari itu.</p>
<p>Ini adalah pendapat mayoritas ulama, berdasarkan hadis Jābir <strong>radhiyallāhu ‘anhu</strong>, dari Rasulullah <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong>:</p>
<p class="arab">&#8220;البدنة تجزئ عن سبعة والبقرة عن سبعة &#8220;</p>
<p>“Seekor unta mencukupi untuk tujuh orang, dan seekor sapi mencukupi untuk tujuh orang.” <strong><em>(HR. Muslim no. 1318, Abū Dāwud no. 2809, dan al-Tirmiżī no. 904).</em></strong></p>
<p>Ketentuan ini berlaku secara umum, tanpa membedakan apakah tujuh orang tersebut berasal dari satu rumah tangga atau dari rumah tangga yang berbeda.</p>
<p>Secara qiyās, qurban pada asalnya tidak boleh dilakukan untuk lebih dari satu orang. Akan tetapi, qiyās tersebut ditinggalkan karena adanya hadis yang menunjukkan kebolehan satu ekor unta atau sapi untuk tujuh orang. Maka, kebolehan itu dibatasi sampai tujuh orang saja. <strong><em>(Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, jilid 5, hlm. 70).</em></strong></p>
<p><strong>Kedua: Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal Berdasarkan Wasiatnya</strong></p>
<p>Bentuk kedua adalah berqurban untuk orang yang telah meninggal karena adanya wasiat dari orang tersebut.</p>
<p>Jika seseorang yang telah meninggal berwasiat agar dilakukan qurban untuknya, maka wasiat itu boleh dilaksanakan. Bahkan, pelaksanaannya menjadi wajib berdasarkan kesepakatan ulama, selama orang yang menerima amanah wasiat mampu melaksanakannya.</p>
<p>Apabila qurban tersebut memang wajib atas orang yang meninggal, misalnya karena nazar atau sebab lain, maka ahli waris wajib melaksanakannya. (Lihat: <strong><em>al-Mausū‘ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 5/106</em></strong>).</p>
<p>Dasar dari kewajiban menjalankan wasiat ini adalah firman Allah Ta‘ālā:</p>
<p class="arab">{‌فَمَنْ ‌بَدَّلَهُ ‌بَعْدَ ‌مَا ‌سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ}</p>
<p><strong> “</strong>Barangsiapa mengubahnya (wasiat itu), setelah mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya hanya bagi orang yang mengubahnya. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” ( <strong><em>QS. al-Baqarah: 181</em></strong>)</p>
<p>Selain itu, terdapat riwayat dari Ḥanasy. Ia berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;رأيت علياً يضحي بكبشين، فقلت له: ما هذا؟ فقال: &#8220;إن رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; أوصاني ‌أن ‌أضحي ‌عنه، فأنا أضحي عنه&#8221;</p>
<p>“Aku melihat ‘Alī berqurban dengan dua ekor kambing jantan. Lalu aku bertanya kepadanya, ‘Apa ini?’ Maka ‘Alī menjawab, ‘Sesungguhnya Rasulullah <strong>shallallāhu ‘alaihi wa sallam</strong> telah berwasiat kepadaku agar aku berqurban untuk beliau. Maka aku berqurban untuk beliau.’” (<strong><em>HR. al-Tirmiżī no. 1495, dan beliau berkata: “Hadis ini ḥasan gharīb.” Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Ḥākim dalam al-Mustadrak, dan beliau menilainya sahih, 4/255</em></strong>). I’m</p>
<p><strong>Ketiga: Berqurban untuk Orang yang Telah Meninggal Secara Mandiri sebagai Bentuk Sedekah atau Hadiah Pahala</strong></p>
<p>Bentuk ketiga adalah seseorang berqurban secara khusus untuk orang yang telah meninggal, bukan sebagai bagian dari qurban orang yang masih hidup, dan bukan pula karena wasiat. Misalnya, seseorang menyembelih satu hewan qurban secara khusus untuk ayahnya yang telah meninggal, atau untuk ibunya yang telah meninggal.</p>
<p>Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berqurban untuk mayit secara mandiri sebagai bentuk tabarru‘ atau pemberian sukarela dari orang yang masih hidup.</p>
<p>Dalam masalah ini terdapat dua pendapat.</p>
<p><strong>Pendapat Pertama: Tidak Boleh Berqurban untuk Mayit Secara Mandiri Jika Tidak Ada Wasiat</strong></p>
<p>Pendapat pertama menyatakan bahwa qurban tidak boleh dilakukan untuk orang yang telah meninggal secara mandiri, meskipun sebagai bentuk sukarela dari orang yang masih hidup, jika mayit tersebut tidak pernah mewasiatkannya.</p>
<p>Pendapat ini dinyatakan oleh Abū Yūsuf dan diikuti oleh sebagian ulama Hanafiyyah. Ini juga merupakan pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi‘i.</p>
<p>Imam al-Nawawī <strong>rahimahullāh</strong> berkata:</p>
<p>“Tidak boleh berqurban untuk orang lain tanpa izinnya, dan tidak boleh pula berqurban untuk mayit jika ia tidak mewasiatkannya.”</p>
<p>Mayoritas ulama Mālikiyyah memakruhkannya. Imam Mālik bin Anas <strong>rahimahullāh</strong> berkata:</p>
<p>“Bukan termasuk amalan yang berlaku, seseorang berqurban untuk kedua orang tuanya yang telah meninggal. Aku tidak menyukai hal itu.”</p>
<p>Syekh Ibn ‘Utsaimīn <strong>rahimahullāh</strong> juga cenderung kepada pendapat yang melarang.</p>
<p>(Lihat: <strong><em>Ibn Nujaim, al-Baḥr al-Rā’iq, 8/202; Minhāj al-Ṭālibīn, hlm. 321; al-Ḥaṭṭāb, Mawāhib al-Jalīl, 3/247; Ibn ‘Utsaimīn, al-Syarḥ al-Mumti‘ ‘alā Zād al-Mustaqni‘, 7/423).</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong>Pendapat Kedua: Boleh Berqurban untuk Mayit Secara Mandiri sebagai Bentuk Sukarela</strong></p>
<p>Pendapat kedua menyatakan bahwa berqurban untuk orang yang telah meninggal secara mandiri diperbolehkan sebagai bentuk sukarela dari orang yang masih hidup.</p>
<p>Dalilnya adalah qiyās kepada sedekah untuk mayit. Sebagaimana sedekah boleh diberikan atas nama orang yang telah meninggal dan pahalanya sampai kepadanya, maka demikian pula qurban.</p>
<p>Ini adalah pendapat mayoritas ulama Hanafiyyah. Bahkan, sebagian ulama Hanafiyyah menyebutkan adanya ijma‘ dalam mazhab mereka tentang kebolehannya.</p>
<p>Al-Faqīh al-Sindī al-Ḥanafī <strong>rahimahullāh</strong> berkata:</p>
<p>“Para ulama kami telah menegaskan kebolehannya. Dalam kitab al-Walwālijiyyah disebutkan: seseorang berqurban untuk mayit, maka itu boleh berdasarkan ijma‘.”</p>
<p>Pendapat ini juga didukung oleh sebagian ulama Syafi‘iyyah dan sebagian ulama Mālikiyyah. Ini juga merupakan mazhab Hanābilah, serta pendapat yang dipilih oleh Syekh Ibn Bāz <strong>rahimahullāh</strong>.</p>
<p>(Lihat: <strong><em>al-Kāsānī, Badā’i‘ al-Ṣanā’i‘, 5/72; al-Nawawī menukil pendapat bolehnya dari al-‘Abbādī dari kalangan Syafi‘iyyah dalam Rauḍah al-Ṭālibīn, 6/202; al-Damīrī juga menukilkannya dari al-Rāfi‘ī dalam al-Najm al-Wahhāj, 9/522; al-Dzakhīrah, 4/141; Ibn Mufliḥ, al-Furū‘, 6/101; dan Ibn Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 18/40)</em></strong>.</p>
<p><strong>Pendapat yang Lebih Kuat</strong></p>
<p>Pendapat yang lebih kuat — wallāhu a‘lam bi al-ṣawāb — adalah bolehnya berqurban untuk orang yang telah meninggal secara mandiri sebagai bentuk sukarela dari orang yang masih hidup.</p>
<p>Kebolehan ini berlaku baik satu hewan qurban diniatkan untuk satu mayit maupun untuk beberapa orang yang telah meninggal, selama qurban tersebut bukan qurban wajib yang harus ditunaikan untuk salah satu dari mereka.</p>
<p>Alasannya, qurban termasuk ibadah māliyyah, yaitu ibadah yang berkaitan dengan harta. Dalam ibadah yang bersifat harta, perwakilan atau niyābah diperbolehkan, dan pahalanya juga dapat dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal.</p>
<p>Adapun alasan penguat pendapat ini adalah sebagai berikut.</p>
<ol>
<li><strong> Mayit Tidak Lagi Mampu Mengusahakan Pahala Sendiri</strong></li>
</ol>
<p>Orang yang telah meninggal tidak lagi mampu mengusahakan pahala untuk dirinya, sementara ia tetap membutuhkan pahala tersebut. Karena itu, berqurban atas namanya diperbolehkan.</p>
<p>Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah <strong>rahimahullāh</strong> sebagaimana disebutkan dalam <strong>al-Ikhtiyārāt</strong>, hlm. 120, berkata:</p>
<p class="arab">(والتضحية عن الميت أفضل من الصدقة بثمنها)</p>
<p>“Berqurban untuk orang yang telah meninggal lebih utama daripada bersedekah dengan harga hewan qurban tersebut.”</p>
<ol start="2">
<li><strong> Qurban untuk Mayit Tetap Mengandung Tujuan-Tujuan Syariat Qurban</strong></li>
</ol>
<p>Qurban untuk orang yang telah meninggal tetap mewujudkan tujuan-tujuan yang juga terdapat dalam qurban untuk orang yang masih hidup. Di antaranya adalah memberi kelapangan kepada fakir miskin, mengagungkan syiar Allah, menampakkan syiar qurban, menegakkan zikir kepada Allah, dan memberi kelapangan kepada keluarga.</p>
<p>Karena tujuan-tujuan tersebut tetap terwujud, maka tidak ada alasan kuat untuk melarangnya. <em>Wallahua’lam</em></p>
<p>(<strong><em>Lihat juga: Fatḥ al-‘Allām fī Dirāsah Aḥādīṡ Bulūgh al-Marām, 10/254; dan al-Uḍḥiyah ‘an al-Mayyit: Dirāsah Fiqhiyyah, hlm. 80</em></strong>).</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/">Hukum Qurban untuk Orang Meninggal</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2989/hukum-qurban-untuk-orang-meninggal/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Dalam Berqurban Bag. 2</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2349/tuntunan-dalam-berqurban-bag-2/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2349/tuntunan-dalam-berqurban-bag-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 May 2025 03:25:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2349</guid>

					<description><![CDATA[<p>TUNTUNAN DALAM BERQURBAN (Bag: 2) Ust. Muh. Faqihudin Ismail  Waktu Penyembelihan Qurban: Sedangkan waktu dimulainya berqurban adalah setelah salat ied hingga matahari terbenam di hari ke-13 Dzulhijjah (akhir hari tasyriq). Rasulullah bersabda: عن البراء &#8211; رضي الله عنه &#8211; قال: (قال النبي &#8211; صلى الله عليه وسلم -: ‌إن ‌أول ‌ما ‌نبدأ ‌به ‌في يومنا [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2349/tuntunan-dalam-berqurban-bag-2/">Tuntunan Dalam Berqurban Bag. 2</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>TUNTUNAN DALAM BERQURBAN (Bag: 2)</strong></h2>
<p><strong>Ust. Muh. Faqihudin Ismail</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Waktu Penyembelihan Qurban:</strong></p>
<p>Sedangkan waktu dimulainya berqurban adalah setelah salat ied hingga matahari terbenam di hari ke-13 Dzulhijjah (akhir hari tasyriq).</p>
<p>Rasulullah bersabda:</p>
<p class="arab">عن البراء &#8211; رضي الله عنه &#8211; قال: (قال النبي &#8211; صلى الله عليه وسلم -: ‌إن ‌أول ‌ما ‌نبدأ ‌به ‌في يومنا هذا أن نصلي، ثم نرجع فننحر، من فعله فقد أصاب سنتنا، ومن ذبح قبل فإنما هو لحم قدمه لأهله ليس من النسك في شيء).</p>
<p><strong>Dari al-Barā’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:</strong> <em>&#8220;</em><em>Sesungguhnya yang pertama kali kita mulai pada hari ini (Hari Raya Idul Adha) adalah kita shalat terlebih dahulu, kemudian kita kembali dan menyembelih qurban. Barang siapa melakukan hal ini, maka ia telah mengikuti sunnah kami. Dan barang siapa menyembelih sebelum (shalat), maka sesungguhnya itu hanyalah daging biasa yang dia berikan kepada keluarganya, bukan termasuk ibadah qurban.&#8221;</em><em> (H.R </em><em>al-Bukhari dalam Shahihnya (no. 234), dan Muslim dalam Shahihnya (no. 813).</em></p>
<p>Sedang waktu berakhirnya penyembelihan hewan qurban adalah waktu berakhirnya hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah Rasulullah bersabda:</p>
<p class="arab">(كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ)</p>
<p><strong>Setiap hari dari hari-hari Tasyriq adalah hari untuk berqurban.&#8221;</strong> (H.R. <em>Ahmad (4/82), al-Bayhaqi (9/256), dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya (9/166). Al-Albani berkata: Hadits ini kuat menurut saya berdasarkan keseluruhan jalur periwayatannya, oleh karena itu saya memasukkannya dalam kitab &#8220;ash-Shahihah&#8221; no. 2476).</em></p>
<p><strong>Tuntunan Dalam Menyembelih:</strong></p>
<ul>
<li>Dan dianjurkan bagi orang yang berqurban untuk menyembelih sendiri secara langsung hewan qurbanya. Anas bin Malik berkata:</li>
</ul>
<p class="arab">عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: (ضحى النبي صلي الله عليه وسلم بكبشين أملحين ‌ذبحهما ‌بيده، وسمي وكبر ووضع رجله على صفاحهما)</p>
<p><strong>Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</strong> <strong>Nabi ﷺ berqurban dua ekor domba jantan yang gemuk, beliau sendiri yang menyembelihnya, menyebut nama Allah dan mengucapkan takbir, serta meletakkan kakinya di bagian samping hewan qurban tersebut.</strong> (H.R. <em>al-Bukhari, no. (5565), dan Muslim, no. (1966).</em></p>
<ul>
<li>Diantara syariat dalam meyembelih adalah menghadapkan sembelihan ke arah kiblat saat menyembelih; berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata:</li>
</ul>
<p class="arab">))ضحى رسول اللَّه &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; يوم عيد بكبشين فقال ‌حين ‌وجههما: ((إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض))</p>
<p><em>Pada hari Idul Adha, Rasulullah ﷺ berqurban dua ekor domba jantan. Ketika beliau mengarahkan kedua domba itu, beliau bersabda:</em> <em>‘Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Zat yang menciptakan langit dan bumi.’”</em><em> (H.R. </em><em>Ibnu Majah, no. 3121; Abu Dawud no. 2795; dan al-Bayhaqi, 9/285).</em></p>
<ul>
<li>Bersikap lemah lembut terhadap hewan sembelihan dan memberinya kenyamanan saat disembelih, yaitu dengan menggunakan alat yang tajam, serta menyayat pada bagian yang semestinya dengan kuat dan cepat. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:</li>
</ul>
<p class="arab">عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; خَصْلَتَيْنِ، قَالَ: &#8220;‌إِنَّ ‌اللَّهَ ‌كَتَبَ ‌الْإحْسَانَ ‌عَلَى كُلِّ شَيْءٍ؛ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ&#8221;</p>
<p><strong>Dari Shaddād bin Aus, ia berkata: Aku mengingat dua perkara dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:</strong> <em>&#8220;Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan (ihsan) atas segala sesuatu. Maka apabila kalian membunuh (hewan qurban atau lain), berbuatlah dengan baik dalam membunuhnya, dan apabila kalian menyembelih, maka sempurnakanlah penyembelihan itu. Hendaklah salah seorang dari kalian mengasah pisau sembelihnya dan membuat hewan qurban itu merasa nyaman (tidak menderita).&#8221;</em> (<em>Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya (6/72)).</em></p>
<ul>
<li>Dan yang perlu diperhatikan dan memastikan ketika menyembelih adalah terputusnya tiga hal sebagai berikut: Memotong tenggorokan (al-ḥalqūm), kerongkongan (al-marī’), dan pembuluh darah utama (al-widjīn)., &#8220;Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Yang dipotong adalah kerongkongan/ jalur makanan (المريء), tenggorokan/ jalur nafas (الحُلقوم), dan dua urat besar di leher (الودجان). Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa memotong tiga dari empat bagian tersebut sudah mencukupi untuk menjadikan sembelihan halal, baik yang terpotong itu termasuk tenggorokan/ jalur nafas (الحلقوم) maupun tidak. Sebab, memotong kedua urat besar (الودجان) lebih utama daripada memotong tenggorokan, dan lebih efektif dalam mengalirkan darah.&#8221;<strong> (</strong><strong>Majmū‘ al-Fatāwā: 26/ 241)</strong></li>
<li>Disunnahkan bagi orang yang menyembelih untuk membaca basmalah dan menyebutkan nama orang yang diniatkan sembelihannya saat menyembelih hewan qurban berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:</li>
</ul>
<p class="arab"><em>((بسم الله والله أكبر، اللهم هذا عني وعمن لم يضح من أمتي))</em></p>
<p><strong>&#8220;Bismillāh, Allahu Akbar. </strong><strong>Ya Allah, ini (qurban) dariku dan dari siapa saja di antara umatku yang belum berqurban.&#8221;</strong> (<em>Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2810), at-Tirmidzi (no. 1505), dan Ahmad (3/8).</em></p>
<p><strong>Memakan Sebagian Dari Daging Qurban:</strong></p>
<p>Dari Buraidah:</p>
<p class="arab">(كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ، وَلَا يَأْكُلُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ)</p>
<p><strong>“</strong><em>Dahulu Rasulullah ﷺ tidak keluar pada hari Idul Fitri sebelum makan terlebih dahulu. Dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha hingga beliau kembali (dari salat), lalu makan dari hewan qurbannya.&#8221;</em><em>(H.R. </em><em> Ahmad (no. 22983) dan.</em> disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah).<strong> </strong></p>
<p><strong>Memberikan Sebagian Daging Qurban:</strong></p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">(فَكُلُواْ ‌مِنۡهَا ‌وَأَطۡعِمُواْ ‌ٱلۡبَآئِسَ ٱلۡفَقِيرَ) [الحج: 28]</p>
<p>Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir,&#8221; (QS. Al-Hajj: 28).</p>
<p class="arab">(فَكُلُواْ ‌مِنۡهَا ‌وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ) [الحج: 36]</p>
<p>maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (QS. Al-Hajj: 36)</p>
<p><strong>Larangan Memotong Rambut dan Kuku bagi yang Hendak <a href="https://tanyaislam.com/2344/tuntunan-dalam-berqurban-bag-1/" target="_blank" rel="noopener">Berqurban</a>:</strong></p>
<p>Nabi bersabda:</p>
<p class="arab">عن أم سلمة رضي الله عنها قال رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم -: (من كان له ذبح يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذنَّ من شعره ولا من ‌أظفاره ‌شيئاً ‌حتى ‌يضحي)  مسلم، برقم 1977.</p>
<p><strong>&#8220;Barangsiapa yang memiliki hewan qurban yang akan disembelih, maka ketika telah tampak hilal (bulan sabit) bulan Dzulhijjah, janganlah ia mengambil sedikit pun dari rambutnya dan kukunya hingga ia menyembelih qurbannya.&#8221;</strong><strong> (</strong>H.R. Muslim, no. 1977)<strong>.</strong></p>
<p><strong><em>Wallahua’lam.</em></strong></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2349/tuntunan-dalam-berqurban-bag-2/">Tuntunan Dalam Berqurban Bag. 2</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2349/tuntunan-dalam-berqurban-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tuntunan Dalam Berqurban Bag. 1</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2344/tuntunan-dalam-berqurban-bag-1/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2344/tuntunan-dalam-berqurban-bag-1/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 May 2025 09:02:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2344</guid>

					<description><![CDATA[<p>TUNTUNAN DALAM BERQURBAN (Bag: 1) Ust. Muh. Faqihudin Ismail Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang sangat agung dalam Islam. Amal saleh yang dilakukan di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya. Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: ((‌ما ‌من ‌أيام ‌العمل ‌الصالح فيها محبوب إلى الله من هذه الأيام العشر)) وقالوا: يا [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2344/tuntunan-dalam-berqurban-bag-1/">Tuntunan Dalam Berqurban Bag. 1</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TUNTUNAN DALAM BERQURBAN (Bag: 1)</strong></p>
<p><strong>Ust. Muh. Faqihudin Ismail</strong></p>
<p>Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan hari-hari yang sangat agung dalam Islam. Amal saleh yang dilakukan di dalamnya lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya.</p>
<p>Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p class="arab">((‌ما ‌من ‌أيام ‌العمل ‌الصالح فيها محبوب إلى الله من هذه الأيام العشر)) وقالوا: يا رسول الله، ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ((ولا الجهاد في سبيل الله، إلا رجل خرج بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشيء))</p>
<p>Artinya:</p>
<p>&#8220;Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai oleh Allah melebihi amal di sepuluh hari ini.&#8221; Para sahabat bertanya: &#8220;Wahai Rasulullah, apakah termasuk jihad di jalan Allah?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Bahkan jihad pun tidak, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan membawa apa pun.” (HR. <em>al-Bukhari</em> no. (969); <em>Abu Dawud</em> no. (2438); <em>al-Tirmidzi</em> no. (757); dan <em>Ibnu Mājah</em>, no. (1727).)</p>
<p>Oleh karena itu, kaum Muslimin sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh pada hari hari ersebut, dan diantara keta’atan yang paling mulia yang dikerjakan seseorang  adalah ibadah qurban.</p>
<p>Qurban termasuk sunnah mu’akkadah menurut mayoritas ulama dan merupakan syiar yang paling agung dalam agama Islam.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">((وأما الأضحية  فإنها من أعظم شعائر الإسلام، ‌وهي ‌النسك ‌العام في جميع الأمصار، وهي من ملة إبراهيم الذي أمرنا باتباع ملته))</p>
<p><strong>qurban merupakan salah satu syiar Islam yang paling agung. Ia adalah bentuk ibadah bersama (yang dilakukan umat Islam) di seluruh negeri, dan termasuk ajaran Nabi Ibrahim, yang kita diperintahkan untuk mengikuti ajarannya.&#8221;</strong> <em>[majmu’  Fatāwā Syaikh al-Islām Ibn Taimiyyah, 23/162]</em></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab">( ‌وَٱلۡبُدۡنَ ‌جَعَلۡنَٰهَا ‌لَكُم ‌مِّن ‌شَعَٰٓئِرِ ‌ٱللَّهِ ‌لَكُمۡ ‌فِيهَا ‌خَيۡرٞۖ فَٱذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَيۡهَا صَوَآفَّۖ فَإِذَا وَجَبَتۡ جُنُوبُهَا فَكُلُواْ مِنۡهَا وَأَطۡعِمُواْ ٱلۡقَانِعَ وَٱلۡمُعۡتَرَّۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرۡنَٰهَا لَكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ) [الحج: 36]</p>
<p>&#8220;Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk kalian sebagai bagian dari syiar-syiar Allah; bagi kalian padanya terdapat kebaikan. Maka sebutlah nama Allah atasnya ketika ia berdiri (untuk disembelih). Lalu apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagian darinya dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup (tanpa meminta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami menundukkannya bagi kalian agar kalian bersyukur.&#8221; (QS. Al-Hajj: 36)</p>
<p>Dan tidaklah Allah menyandingkan perintah menyembelih dalam Al Qur’an selain perintah untuk menegakkan shalat, ini sekali lagi menujukkan agungnya ibaha berqurban dalam syati’at, Allah berfirman:</p>
<p class="arab">( قُلۡ إِنَّ ‌صَلَاتِي ‌وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ) [الأنعام: 162]</p>
<p>Artinya:</p>
<p>&#8220;katakana, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.&#8221; [QS. Al-An‘ām: 162]</p>
<p>Dalam ayat yang lain Allah berfirman:</p>
<p class="arab">(فَصَلِّ ‌لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ) [الكوثر: 2]</p>
<p>&#8220;Maka dirikanlah shalat untuk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.&#8221; <em>[QS. Al-Kawtsar: 2]</em></p>
<p><strong>Anjuran Berqurban:</strong></p>
<p>Sangat dianjurkan bagi yang memiliki kelapangan rizqi untuk melaksanakan ibadah berqurban, Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:</p>
<p class="arab">عن أبى هريرة &#8211; رضي الله عنه &#8211; قال: قال رسول الله &#8211; صلى الله عليه وسلم -: &#8220;‌من ‌كان ‌له ‌سِعَةٌ ولم يُضَحِّ فلا يقربنَّ مصلانَا&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Barang siapa memiliki kelapangan (rezeki) tetapi tidak berqurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat salat kami.’”</em> (<em>Diriwayatkan oleh Ahmad (2/321), Ibnu Majah no. (3123); dishahihkan oleh al-Hakim (2/389) dan disetujui oleh adz-Dzahabi.)</em></p>
<p><strong>Ikhlas Dalam Berqurban</strong></p>
<p>Bahwa tujuan dari berqurban adalah untuk meraih ketaqwaan, dan ketkqwaan tidak akan diperoleh kecuali jika suatu amalan tersebut dilandasi dengan keikhlasan, Allah Ta‘ala berfirman:</p>
<p class="arab">(لَن يَنَالَ ٱللَّهَ ‌لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ ) [الحج: 37]</p>
<p>{Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian} (QS. Al-Hajj: 37).</p>
<p>Maka maksud dari ibadah qurban sebenarnya adalah untuk mewujudkan ketakwaan hati, Allah yang Maha Suci Dia – adalah Dzat Yang Maha Kaya, tidak membutuhkan sesuatu pun dari makhluk-Nya. Dia tidak mengambil manfaat dari hewan-hewan qurban itu, dan tidak pula sampai kepada-Nya sedikit pun dari darah atau dagingnya. Yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya hanyalah agar mereka bertakwa kepada-Nya, Ikhlas hanya untuk-Nya, dan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya ibadah.</p>
<p><strong>Ketentuan Memilih Hewan Qurban:</strong></p>
<ul>
<li>Dan hendaknya jenis binatang qurban adalah hewan ternak yang sesuai dengan ketentuan syari’at Allah Ta&#8217;ala berfirman:</li>
</ul>
<p class="arab">( لِّيَشۡهَدُواْ مَنَٰفِعَ لَهُمۡ وَيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ فِيٓ أَيَّامٖ مَّعۡلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا ‌رَزَقَهُم ‌مِّنۢ ‌بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۖ ) [الحج: 28]</p>
<p>&#8220;Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa hewan ternak.&#8221; (QS. Al-Hajj: 28)</p>
<p>Jenis hewan yang sah untuk qurban: unta, sapi, kambing, atau domba.</p>
<ul>
<li>Adapun usia minimal hewan qurban adalah, Unta: 5 tahun, Sapi: 2 tahun, Kambing: 1 tahun, Domba: 6 bulan (jika sulit mendapatkan yang berumur 1 tahun). Nabi Shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:</li>
</ul>
<p class="arab">((لا ‌تذبحوا ‌إلا ‌مسنة إلا أن تعسر عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن))</p>
<p><strong>“Janganlah kalian menyembelih (hewan qurban) kecuali yang telah mencapai usia musinnah, kecuali jika hal itu menyulitkan kalian, maka sembelihlah jadza‘ah dari kambing domba.”</strong>( <em>H.R. </em><em>Muslim, no. (1963).</em></p>
<ul>
<li>Dan hendakanya seseorang selektif dalam memlih hewan qurban, jangan sampai hewan qurban tersebut memiliki cacat sebgaiman sabda Nabi Shallallāhu ‘alaihi wasallam :</li>
</ul>
<p class="arab">أربع ‌لا ‌تجزئ ‌في ‌الأضاحي: العوراء البيِّن عورها، والمريضة البيِّن مرضها، والعرجاء البيِّن ضلعها، والكسيرة التي لا تُنقى)</p>
<p><strong>Dari al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:</strong> <em>&#8220;Ada empat jenis hewan yang tidak sah untuk dijadikan qurban:</em></p>
<p><em>(1) hewan yang buta sebelah matanya dengan kebutaan yang jelas,</em></p>
<p><em>(2) hewan yang sakit dengan penyakit yang jelas,</em></p>
<p><em>(3) hewan yang pincang dengan kepincangan yang nyata, dan</em></p>
<p><em>(4) hewan yang sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang (kering dan lemah).<strong>&#8220;</strong></em> <em>(H.R</em><em> Abu Dawud (no. 2785), at-Tirmidzi (no. 1530), an-Nasa’i (7/214), dan Ibnu Majah (no. 3144).</em></p>
<p>Imam An Nawawi mengatakan</p>
<p class="arab">قال النووي: (أجمعوا على ان العمياء لا تجزئ وكذا العوراء البين عورها والعرجاء البين عرجها والمريض البين مرضها والعجفاء)</p>
<p><strong>&#8220;Para ulama telah sepakat (ijma‘) bahwa hewan yang buta matanya secara total tidak sah dijadikan qurban. Begitu pula hewan yang juling atau buta sebelah yang jelas kebutaannya, hewan pincang yang jelas kepincangannya, hewan yang sakit dengan penyakit yang jelas terlihat, dan hewan yang sangat kurus hingga tidak bersisa sumsum tulangnya.&#8221;</strong> <em>[al-Majmū‘, 8/404]</em><strong> </strong></p>
<p><strong>Bersambung..</strong></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2344/tuntunan-dalam-berqurban-bag-1/">Tuntunan Dalam Berqurban Bag. 1</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2344/tuntunan-dalam-berqurban-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Memahami Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2337/memahami-hari-hari-tasyriq-di-bulan-dzulhijjah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2337/memahami-hari-hari-tasyriq-di-bulan-dzulhijjah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 May 2025 02:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2337</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah Bismillah wasshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du, Diantara hari-hari yang Allah muliakan dalam islam adalah hari-hari tasyriq yang Allah letakkan di bulan Dzulhijjah. Melalui tulisan ringkas ini mari kita mengenal lebih dalam tentang 3 hari yang Allah muliakan ini. Pengertian Hari-hari Tasyriq adalah har-hari pada tanggal 11, 12, dan 13 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2337/memahami-hari-hari-tasyriq-di-bulan-dzulhijjah/">Memahami Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah</strong></h2>
<p><em>Bismillah wasshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du,</em></p>
<p>Diantara hari-hari yang Allah muliakan dalam islam adalah hari-hari tasyriq yang Allah letakkan di bulan Dzulhijjah. Melalui tulisan ringkas ini mari kita mengenal lebih dalam tentang 3 hari yang Allah muliakan ini.</p>
<h3><strong>Pengertian</strong></h3>
<p>Hari-hari Tasyriq adalah har-hari pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dinamakan demikian karena pada masa lalu, daging kurban diiris dan dijemur (ditasyriq) di bawah terik matahari agar tahan lama.</p>
<p>Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">وَسُمِّيَتْ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ لِأَنَّ النَّاسَ كَانُوا يُشَرِّقُونَ فِيهَا اللُّحُومَ، أَي: يُقَدِّدُونَهَا وَيُجَفِّفُونَهَا فِي الشَّمْسِ</p>
<p>“Hari-hari itu dinamakan dengan hari-hari Tasyriq karena pada hari-hari tersebut manusia biasa menjemur daging (kurban) mereka, yaitu dengan cara memotong-motong dan mengeringkannya di bawah sinar matahari.” (Al-Mughni, 3/218)</p>
<p>Dalil dari nash Al-Quran dan hadits</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab">وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ</p>
<p>“Dan berdzikirlah kepada Allah dalam beberapa hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Baqarah: 203)</p>
<p>Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: &#8220;الْأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ&#8221; أَيَّامُ التَّشْرِيقِ</p>
<p>‘‘Ibnu ‘Abbas berkata: “&#8217;Hari-hari yang ditentukan&#8217; adalah hari-hari Tasyriq.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/499)</p>
<p>Imam Ath-Thabari rahimahullah juga menukilkan dalam tafsirnya:</p>
<p>‘‘Telah menceritakan kepadaku Ya‘qub bin Ibrahim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Abu Bisyr, dari Sa‘id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas tentang firman Allah: “Dan berdzikirlah kepada Allah di hari-hari yang telah ditentukan” (QS. Al-Baqarah: 203), ia (Ibnu ‘Abbas) berkata: Itu adalah hari-hari Tasyriq.’’ (Tafsir at-Thabari, 4/542, tahqiq: Dr. Ahmad Syakir)</p>
<p>Dari sahabat Nubaisyah al-Hudzaliy radhiyallahu anhu berkata:</p>
<p class="arab">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>‘‘Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya hari-hari Tasyriq adalah hari makan dan minum.’’ (HR. Muslim no. 1141)</p>
<p>Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan:</p>
<p>وأَيّامُ التَّشْرِيقِ ثَلاثَةٌ بَعْدَ يَوْمِ النَّحْرِ، سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِتَشْرِيقِ النّاسِ لُحُومَ الأَضاحِي فِيهَا، وَهُوَ تَقْدِيدُهَا وَنَشْرُهَا فِي الشَّمْسِ</p>
<p>&#8220;Hari-hari Tasyriq adalah tiga hari setelah hari Nahr (10 Dzulhijjah). Dinamakan demikian karena pada hari-hari tersebut, orang-orang menjemur daging kurban mereka di bawah sinar matahari untuk diawetkan.&#8221; (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 4/273)</p>
<h2><strong>Amalan yang Disyariatkan di Hari-hari Tasyriq</strong></h2>
<p><strong>a. Takbir Muqayyad</strong></p>
<p>Takbir ini dilakukan setiap selesai shalat fardhu dimulai dari setelah shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah (bagi yang tidak berhaji) hingga selesai shalat ashar tanggal 13 Dzulhijjah.</p>
<p>Imam an-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">ويُكَبَّرُ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى بَعْدِ صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.</p>
<p>&#8220;Maka hendaknya bertakbir setelah setiap shalat (fardhu), dimulai dari shalat Subuh pada hari Arafah hingga setelah shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari Tasyriq.&#8221; (Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab, 5/39)</p>
<p><strong>b. Tidak Berpuasa</strong></p>
<p>Dari sahabat Nubaisyah al-Hudzaliy radhiyallahu anhu berkata:</p>
<p class="arab">قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ</p>
<p>‘‘Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya hari-hari Tasyriq adalah hari makan dan minum.’’ (HR. Muslim no. 1141)</p>
<p><strong>c. Menyembelih Kurban</strong></p>
<p>Hari-hari Tasyriq masih merupakan waktu sah menyembelih hewan kurban, hingga 13 Dzulhijjah sebelum matahari terbenam.</p>
<p>Syaikh Bin Baz rahimahullah menyatakan:</p>
<p class="arab">وَقْتُ الذَّبْحِ أَرْبَعَةُ أَيَّامٍ: يَوْمُ الْعِيدِ، وَثَلَاثَةُ أَيَّامٍ بَعْدَهُ، وَهِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ</p>
<p>“Waktu penyembelihan kurban adalah empat hari: hari Idul Adha dan tiga hari setelahnya, yaitu hari-hari Tasyriq.” (Majmu‘ Fatawa Ibn Baz, 18/38)</p>
<p>Demikian tulisan singkat ini semoga bermanfaat dan semoga kita semua diberikan taufiq dan hidayah agar bisa memaksimalkan ibadah khususnya di bulan Dzulhijjah sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.</p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2337/memahami-hari-hari-tasyriq-di-bulan-dzulhijjah/">Memahami Hari-Hari Tasyriq di Bulan Dzulhijjah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2337/memahami-hari-hari-tasyriq-di-bulan-dzulhijjah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Keutamaan 10 Awal Bulan Dzulhijjah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/2328/keutamaan-10-awal-bulan-dzulhijjah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/2328/keutamaan-10-awal-bulan-dzulhijjah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 May 2025 23:44:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Qurban]]></category>
		<category><![CDATA[10 dzulhijjah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=2328</guid>

					<description><![CDATA[<p>KEUTAMAAN 10 AWAL BULAN DZULHIJJAH Pertanyaan: afwan Ustadz, Apakah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun? Jawaban: Termasuk kebaikan Allah terhadap hambanya adalah Allah menjadikan bagi hambanya musim musim keta&#8217;atan agar mereka memperbanyak amalan sholeh dan berlomba lomba mendekatkan diri kepadaNya, maka seorang hamba yang tamak terhadap pahala tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2328/keutamaan-10-awal-bulan-dzulhijjah/">Keutamaan 10 Awal Bulan Dzulhijjah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>KEUTAMAAN 10 AWAL BULAN DZULHIJJAH</strong></h2>
<p><strong>Pertanyaan:</strong><br />
<em>afwan Ustadz, Apakah sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun?</em></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Termasuk kebaikan Allah terhadap hambanya adalah Allah menjadikan bagi hambanya musim musim keta&#8217;atan agar mereka memperbanyak amalan sholeh dan berlomba lomba mendekatkan diri kepadaNya, maka seorang hamba yang tamak terhadap pahala tidak akan pernah rela melewat musim musim tersebut berlalu begitu saja tanpa beramal sholeh.</p>
<p>Diantara musim musim ketaatan tersebut adalah <a href="https://tanyaislam.com/" target="_blank" rel="noopener">10 pertama bulan Dzuhijjah</a>, bahkan Allah  ta’ala bersumpah denganya, hal itu menunjukkan hari hari tersebut adalah hari hari yang mulia, karena tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu melainkan sesuatu tersebut memiliki kemuliaan disisiNya, Allah berfirman:</p>
<p class="arab">(‌وَٱلۡفَجۡرِ ١ وَلَيَالٍ عَشۡرٖ ٢) [الفجر: 1-2]</p>
<p>Artinya: “Demi fajar, dan demi sepuluh malam.&#8221; (QS. al-Fajr:1–2)</p>
<p>Berkata Ibnu Abbas:</p>
<p class="arab">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: {وَلَيَالٍ عَشْرٍ} [الفجر: 2] قَالَ: ‌عَشْرُ ‌الْأَضْحَى</p>
<p>Artinya: Dari Ibnu ʿAbbās mengenai firman Allah {وَلَيَالٍ عَشْرٍ} (QS. al-Fajr: 2), ia berkata: &#8220;Itu adalah sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah.&#8221; (Lihat: <em>Tafsīr al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān</em>, 24/346) .</p>
<p>Dan pendapat inilah yang dikuatkan al Imam al Tabari dalam tafsirnya:</p>
<p class="arab">)وَالصَّوَابُ مِنَ الْقَوْلِ فِي ذَلِكَ عِنْدَنَا: أَنَّهَا ‌عَشْرُ ‌الْأَضْحَى، لِإِجْمَاعِ الْحُجَّةِ مِنْ أَهْلِ التَّأْوِيلِ عَلَيْهِ)</p>
<p>&#8220;Dan pendapat yang benar menurut kami dalam hal ini adalah: bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah, karena adanya kesepakatan hujjah (para ahli tafsir) atas hal itu. (Lihat: <em>Tafsīr al-Ṭabarī, Jāmiʿ al-Bayān</em>, 24/348).</p>
<p>Karena itulah, amalan yang dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah menjadi amal yang sangat dicintai Allah. Melebihi amal amalan soleh yang dilakukan di luar waktu tersebut. Dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p class="arab">عَن ابْن عَبَّاس عَن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ: مَا من أَيَّام فِيهِنَّ الْعَمَل أحب إِلَى الله عز وَجل ‌أفضل ‌من ‌أَيَّام ‌الْعشْر قيل يَا رَسُول الله: وَلَا الْجِهَاد فِي سَبِيل الله قَالَ: وَلَا الْجِهَاد فِي سَبِيل الله إِلَّا رجل جَاهد فِي سَبِيل الله بِمَالِه وَنَفسه فَلم يرجع من ذَلِك بِشَيْء</p>
<p>“Dari Ibnu ʿAbbās, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: <em>“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah </em><em>ﷻ</em><em> dan lebih utama daripada amal pada sepuluh hari (pertama Dzulhijjah).”</em> Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?”Beliau menjawab: <em>“Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu apa pun</em>.” (HR. al-Bukhari (no. 969), Abu Dawud (no. 2438), at-Tirmidzi (no. 757), dan Ibnu Majah (no. 1727).</p>
<p>Ibnu Baṭtal berkata: maksud dari (<em>lalu tidak kembali dengan sesuatu apa pun)</em> ini memiliki dua makna:</p>
<p>Pertama, bahwa ia tidak kembali dengan hartanya (karena habis digunakan di jalan Allah) meskipun dirinya sendiri kembali.</p>
<p>Kedua, bahwa ia tidak kembali dengan dirinya maupun hartanya, yaitu Allah menganugerahinya mati syahid. (lihat: <em>Fath al-Bārī</em> (2/460)).</p>
<p>Salah seorang perawi yang bernama Said bin Jubair—dia adalah orang yang meriwayatkan hadits ini dari Ibnu ‘Abbas, jika memasuki sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah, ia bersungguh-sungguh dalam beribadah dengan kesungguhan yang luar biasa, sampai-sampai hampir tidak sanggup menahan dirinya karena begitu beratnya dalam kesungguhan beramal didalamnya.&#8221; Bahkan diriwayatkan darinya juga bahwa ia berkata: ‘Janganlah kalian memadamkan lampu-lampu kalian di malam-malam sepuluh hari itu (sepuluh pertama Dzulhijjah),’ karena begitu bergairahnya dia untuk memperbanyak beribadah di malam-malam tersebut.&#8221; (Lihat: <em>Lathāʾif al-Maʿārif </em>(halaman 460)).</p>
<p>Dan di antara sebabab keistimewaan sepuluh hari ini, , adalah bahwa hari-hari tersebut merupakan waktu di mana berkumpulnya pokok-pokok ibadah yang besar yang tidak bisa didapati berkumpul pada hari-hari lain sepanjang tahun. Dalam sepuluh hari ini terkumpul ibadah-ibadah utama seperti shalat, puasa, haji, dan penyembelihan (kurban), serta ibadah-ibadah agung lainnya. Berkumpulnya semua bentuk ibadah ini tidak terjadi kecuali pada waktu yang mulia dan utama ini.</p>
<p>Ibnu Hajar berkata:</p>
<p class="arab">«والذي يظهر أن السبب في امتياز عشر ذي الحجة ‌لمكان ‌اجتماع ‌أمهات ‌العبادة ‌فيه وهي الصلاة والصيام والصدقة والحج ولا يتأتى ذلك في غيره»</p>
<p>&#8220;Yang nampak jelas, bahwa alasan keistimewaan sepuluh hari Dzulhijjah adalah karena berkumpulnya pokok-pokok ibadah di dalamnya, yaitu shalat, puasa, sedekah, dan haji — dan hal itu tidak terjadi pada waktu selainnya.&#8221; (lihat: <em>Fath al-Bārī</em>, jilid 2, halaman 460.)</p>
<p>Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya mengagungkan bulan dzulhijjah ini, karena Allah sendiri juga memganggungkan bulan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">عن أبي بكرة- رضي الله عنه- عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قال «الزّمان قد استدار كهيئتة يوم خلق السّماوات والأرض: السّنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم: ثلاثة متواليات- ذو القعدة وذو الحجّة والمحرّم- ‌ورجب ‌مضر الّذي بين جمادى وشعبان</p>
<p>Artinya: Sesungguhnya waktu berputar seperti pada hari di mana Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri 12 bulan. Di antaranya terdapat 4 bulan yang mulia, yaitu 3 bulan berurutan masing-masing Zulqaidah, Zulhijjah, dan Muharram, serta bulan Rajab Mudhar yang ada di antara Jumadil Akhir dan Sya&#8217;ban. (H.R. al-Bukhari (no. 3197, 4406, 5550, dan 7447), Muslim (no. 1679), Abu Dawud (no. 1947)).</p>
<p>Maka orang yang beriman dia akan mengagungkan apa yang Allah aqungkan, dan mengagungkan apa yang Allah agungkan dari syiar serta syariat Nya termasuk tanda adanya ketaqwaan pada diri seseorang, Allah berfirman:</p>
<p class="arab">(ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا ‌مِن ‌تَقۡوَى ٱلۡقُلُوبِ)</p>
<p>Artinya: &#8220;Demikianlah perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi&#8217;ar-syi&#8217;ar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk dari ketakwaan hati.&#8221; (Q.S al-Ḥajj ayat 32)</p>
<p>Dalam ayat yang lain Allah berfirman:</p>
<p class="arab">(ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ ‌حُرُمَٰتِ ‌ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ)</p>
<p>Artinya: Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa yang terhormat di sisi Allah (hurumat) maka itu lebih baik baginya di sisi Tuhannya. (Q.S al-Ḥajj ayat 30).</p>
<p>Oleh karenanya sangat dianjurkan seseorang untuk menyibukkan waktunya dengan berbagia macam ibadah di dalmnya, baik ibadah sunnah maupun ibadah yang wajib, Ibnu Qudamah berkata:</p>
<p class="arab">وأيام عشر ذي الحجة كلها شريفة مفضلة يضاعف العمل فيها، ويستحب الاجتهاد في العبادة فيها</p>
<p>Artinya: “Seluruh hari dalam sepuluh (pertama) Dzulhijjah adalah hari-hari yang mulia dan memiliki keutamaan, di mana amal perbuatan dilipatgandakan di dalamnya. Dianjurkan untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah pada hari-hari tersebut.&#8221; (Lihat: <em>al-Mughnī</em> (3/58)0.</p>
<p>Wallahua’lam.</p>
<p><strong>Dijawab oleh: Ustadz Muhammad Faqihudin Ismail, B.A, M.A.</strong></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/2328/keutamaan-10-awal-bulan-dzulhijjah/">Keutamaan 10 Awal Bulan Dzulhijjah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/2328/keutamaan-10-awal-bulan-dzulhijjah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
