Tafsir An-Naba’ Ayat 19: Rahasia di Balik Langit yang Dibuka Menjadi Pintu-Pintu pada Hari Kiamat
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Bayangkan, jika suatu hari, langit yang kita lihat setiap hari terbelah dan berubah menjadi pintu-pintu raksasa. Inilah gambaran dahsyat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan termasuk salah satu ayat yang sering kali memicu renungan mendalam, tepatnya firman-Nya pada surah An Naba’:19. Ayat ini bukan sekadar deskripsi visual, melainkan pengingat kuat akan salah satu peristiwa paling agung dan menakutkan, yaitu Hari Kiamat. Insyaallah kita akan mengupas tuntas tafsir dari ayat tersebut, memahami makna di balik terbukanya langit dan pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:
وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا
“dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu,” (Q.S An Naba’: 19)
Imam At Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan:
“Allah Ta‘ala berfirman (maknanya): “Aku membelah langit sehingga retak dan pecah, lalu menjadi jalan-jalan (terbuka). Padahal sebelumnya langit itu kokoh, tanpa celah dan tanpa retakan. Ada juga yang menafsirkan, maksudnya: langit dibuka lalu menjadi potongan-potongan, seperti potongan kayu yang dibelah untuk dijadikan pintu rumah dan tempat tinggal. Mereka berkata: makna kalimat itu ialah, langit dibuka lalu menjadi potongan-potongan seperti pintu-pintu. Ketika huruf kaf (yang berarti ‘seperti’) dihilangkan, maka kata ‘pintu-pintu’ menjadi khabar (penegasan). Sebagaimana dalam ungkapan: ‘Abdullah adalah singa’, maksudnya ‘seperti singa’.” (Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/19-20, cet. Dar Hajar, Kairo).
Lalu Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menyampaikan:
“Maksudnya adalah untuk turunnya para malaikat, sebagaimana firman Allah Ta‘ala (QS. Al-Furqan: 25). Ada yang berpendapat bahwa langit terbelah lalu terputus-putus hingga menjadi potongan-potongan seperti pintu-pintu. Maka kata “pintu-pintu” di sini dinashabkan disebabkan oleh penghapusan kata ‘Kaf’ (seperti). Ada juga yang menafsirkan bahwa maksudnya adalah “langit menjadi memiliki pintu-pintu”, karena pada saat itu seluruhnya akan berupa pintu-pintu. Ada yang mengatakan pintu-pintu itu maksudnya adalah jalan-jalan di langit. Ada pula yang menafsirkan bahwa langit terurai dan berhamburan, sehingga muncul di dalamnya pintu-pintu. Ada juga pendapat lain: setiap hamba memiliki dua pintu di langit, yaitu pintu untuk amalnya dan pintu untuk rezekinya. Maka ketika kiamat terjadi, pintu-pintu itu terbuka. Dan dalam hadis Isra’ disebutkan: “Kemudian kami diangkat ke langit. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu ada yang bertanya: ‘Siapakah engkau?’ Jibril menjawab: ‘Aku Jibril.’ Ditanyakan lagi: ‘Siapa yang bersamamu?’ Jibril menjawab: ‘Muhammad.’ Lalu ditanya: ‘Apakah dia sudah diutus?’ Jibril menjawab: ‘Benar, dia telah diutus.’ Maka dibukakanlah pintu untuk kami.” (Al Jami‘ Li Ahkam Al Quran, 19/176, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).
Berikutnya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
أَيْ: طُرُقًا وَمَسَالِكَ لِنُزُولِ الْمَلَائِكَةِ
“Yaitu: jalan-jalan dan lintasan bagi turunnya para malaikat.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/305, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Kemudian Syaikh As Sa‘di rahimahullah (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
وَتَنْشَقُّ السَّمَاءُ حَتَّى تَكُونَ أَبْوَابًا.
“Dan langit terbelah, hingga tampak seperti memiliki pintu-pintu (yang terbuka lebar).” (Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).
Dari tafsir para ulama diatas, dapat kita simpulkan beberapa hal:
- Bahwasanya setiap lapis langit itu memiliki pintu yang dijaga oleh malaikat khusus.
- Diantara kejadian yang mengerikan saat hari Kiamat ialah pintu-pintu langit terbuka.
- Saat pintu-pintu langit terbuka, maka bersamaan dengan itu pula turunlah para malaikat.
Wallahu a’lamu bishshawab.



