Teladan Salaf dalam Membaca Al-Qur’an di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan punya kenangan dan keistimewaan tersendiri dalam kehidupan seorang muslim yang tak dimiliki bulan lain. Ia datang setiap tahun sebagai tamu yang mulia. Di bulan ini, Allah membuka pintu surga, menutup pintu neraka, mengikat syaitan, dan terdengar panggilan:
“Hai pencari kebaikan, datanglah! Hai pencari keburukan, berhentilah!” (HR. At-Tirmidzi, no. 682, dan Ibnu Majah, no. 1642.)
Rasulullah ﷺ menyambut Ramadhan dengan persiapan yang berbeda dari bulan-bulan lain. Beliau memperbanyak ibadah, amal shalih, dan mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, setiap tahun beliau membawa bekal dan pergi ke Gua Hira, meninggalkan dunia sejenak, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Lalu, bagaimana para salaf menyambut Ramadhan?
Para salaf shalih mengikuti jejak beliau. Ketika Ramadhan datang, mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, berharap keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya. Mereka mempelajari Al-Qur’an seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ, dan begadang di malam hari untuk membaca Al-Qur’an, meneladani sunnah beliau. Salah seorang dari mereka mengatakan:
أتى رمضان مزرعة العبــاد *** لتطهير القلوب من الفساد
فأدِّ حقوقه قولاً وفعـــلاً *** و زادك فاتخذه للمعــاد
فمن زرع الحبوب وما سقاها *** تأوه نادمـاً يوم الحصـاد
“Telah datang Ramadhan sebagai ladang bagi para hamba untuk membersihkan hati dari berbagai kerusakan.
Maka tunaikanlah hak-haknya dengan ucapan dan perbuatan, dan jadikan ia sebagai bekal menuju negeri akhirat.
Barang siapa menanam benih namun tidak menyiraminya, ia akan merintih penuh penyesalan pada saat panen.”
Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman-Nya:
﴿ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ ﴾
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan yang nyata tentang petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Dan firman-Nya:
﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴾
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. Al-Qadr: 1)
Serta firman-Nya:
﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ﴾
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.” (QS. Ad-Dukhan: 3)
Allah ta‘ala memilih bulan Ramadhan di antara semua bulan lainnya karena pada bulan inilah Al-Qur’anul ‘Azim diturunkan. Allah ta‘ala menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih dan mengistimewakan dari ciptaanya apa yang Dia kehendaki. Dalam sunnah disebutkan bahwa bulan ini juga merupakan waktu turunnya kitab-kitab suci sebelumnya kepada para Nabi ‘alaihimus salam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
)أُنزِلت صُحُف إبراهيم عليه السلام في أول ليلة من رمضان، وأُنزِلت التوراة لستٍّ مَضَيْنَ من رمضان، والإنجيل لثلاث عشرة خلَتْ من رمضان، وأُنْزِل القرآن لأربع وعشرين خلت من رمضان(
“Lembaran-lembaran wahyu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam diturunkan pada malam pertama Ramadhan, Taurat diturunkan enam malam dari Ramadhan, Injil diturunkan tiga belas malam dari Ramadhan, dan Al-Qur’an diturunkan pada dua puluh empat malam dari Ramadhan.” (HR. At-Tabarani dalam Al-Awsath (no. 3740), Ahmad (no. 16984), dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihah (no. 1575).
Maka apabila seorang hamba berpuasa di bulan Ramadhan, lalu memperbanyak tilawah Al-Qur’an, menghafalnya, mentadabburinya, dan berusaha memahami tafsirnya, niscaya setelah Ramadhan jiwanya akan menjadi lebih bersih dan hatinya lebih suci.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Hati yang suci, karena kesempurnaan kehidupannya, cahayanya, dan terbebasnya dari kotoran serta penyakit batin, tidak akan kenyang dari Al-Qur’an kecuali dengan hakikat-hakikatnya, dan tidak akan sembuh kecuali dengan obat-obatnya. Berbeda halnya dengan hati yang belum disucikan Allah ta‘ala; hati itu hanya bisa “makan” dari makanan yang sesuai dengan kadar kotorannya. Sebagaimana tubuh yang sakit, hati yang kotor tidak bisa menerima manfaat dari hal-hal yang bermanfaat bagi hati yang sehat.” (Ighāthatul Lahfān (1/52)).
Sesungguhnya Al-Qur’an tidaklah diturunkan kecuali untuk dibaca, ditadabburi, dan diamalkan. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:
) فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به(
“Al-Qur’an diturunkan untuk tiga tujuan: beribadah dengan membacanya, memahami maknanya, dan mengamalkannya.” (Syarh Ushul fi At-Tafsir hlm. 7)
Termasuk petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan yang penuh berkah ini adalah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an. Bahkan beliau melakukan mudarasah Al-Qur’an bersama Malaikat Jibril ‘alaihis salam, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma:
)كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ (
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau paling dermawan pada bulan Ramadhan, terutama ketika bertemu dengan Jibril. Setiap malam di bulan Ramadhan, beliau bertemu Jibril untuk mempelajari Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilemparkan.” (HR. Bukhari no. 6, dan Muslim no. 2308)
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
) دلَّ الحديثُ على استحباب دراسة القرآن في رمضان، والاجتماع على ذلك، وعَرْض القرآن على مَن هو أحفظ منه، وفيه دليلٌ على استحباب الإكثار من تلاوة القرآن في شهر رمضان(
“Hadis ini menunjukkan disunnahkannya mempelajari Al-Qur’an di bulan Ramadhan, berkumpul untuk itu, menyetorkan bacaan kepada orang yang lebih hafal, serta anjuran memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan.” (Latha’if Al-Ma‘arif, hlm. 242–243)
Para salaf shalih rahimahumullah punya hubungan yang istimewa dengan Al-Qur’an di bulan yang mulia ini. Keadaan mereka dengan Al-Qur’an sungguh luar biasa. Mereka mendekat dengan semangat tinggi, memperhatikannya dengan penuh perhatian, dan memperbanyak bekal di bulan suci ini dengan membaca Al-Qur’an.
Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Mas‘ud dari ayahnya bahwa Ibnu Mas‘ud radiyallahu ‘anhu biasa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan Ramadhan setiap tiga hari sekali.
Mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tiga hari bukanlah penghalang untuk memahami maknanya. Bahkan Ibnu Mas‘ud termasuk sahabat yang paling fakih, dan beliau adalah pendiri madrasah ilmu dan fiqih di Kufah. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ»
“Tidak akan memahami (Al-Qur’an dengan baik) orang yang membacanya dalam waktu kurang dari tiga hari.” (HR.At-Tirmidzi (no. 2949), Abu Dawud (no. 1390), dan Ibnu Majah (no. 1347). dihasankan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani.
Para ulama salaf bahkan mengurangi majelis ilmu dan ibadah sunnah lainnya untuk lebih fokus kepada Al-Qur’an. Diceritakan bahwa Imam Malik rahimahullah apabila memasuki bulan Ramadhan, beliau meninggalkan halaqah haditsnya dan majelis ilmu untuk membaca Al-Qur’an dari mushaf.
An-Nawawi rahimahullah juga menyebutkan sebagian kebiasaan para salaf dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Beliau berkata:
“Seseorang hendaknya menjaga konsistensi dalam membaca Al-Qur’an dan memperbanyaknya. Para salaf memiliki kebiasaan yang berbeda-beda dalam jumlah khatam mereka. Ada yang mengkhatamkan setiap lima malam, ada yang setiap empat malam, banyak yang setiap tiga malam, ada pula yang setiap dua malam. Sebagian mengkhatamkan Al-Qur’an setiap hari dan malam sekali, ada yang dua kali, ada yang tiga kali, bahkan ada yang delapan kali—empat kali pada malam hari dan empat kali pada siang hari.
Dari mereka yang mengkhatamkan sekali sehari dan malam antara lain: ‘Utsman bin ‘Affan, Tamim Ad-Dari, Sa‘id bin Jubair, Mujahid, Imam Asy-Syafi‘i, dan lainnya. Sedangkan yang mengkhatamkan tiga kali adalah Sulaim bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.”( At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 59–63).
Semangat para salaf semakin bertambah ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan. Diriwayatkan dari Ibrahim An-Nakha‘i rahimahullah: “Dahulu mereka mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari di bulan Ramadhan. Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir, mereka mengkhatamkannya setiap dua malam.” (Musannaf ‘Abdurrazzaq, no. 5955).
Adapun larangan mengkhatamkan Al Quran kurang dari tiga hari maka pada bulan bulan mulia seperti Ramadhan adalah sebuah pengecualian, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Rajab dalam Lathā’if al-Ma‘ārif (hlm. 171):
Larangan membaca Al-Qur’an dalam waktu kurang dari tiga hari berlaku jika dilakukan secara terus-menerus dan kebiasaan. Namun, pada waktu yang mulia, seperti bulan Ramadhan—terutama malam-malam yang berpotensi Lailatul Qadar—atau di tempat-tempat yang istimewa, seperti Makkah bagi orang yang bukan penduduknya, dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini dilakukan untuk memanfaatkan waktu dan tempat yang penuh berkah. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Ahmad, Ishaq, dan beberapa imam lainnya, serta sesuai dengan praktik sebagian salaf seperti telah disebutkan sebelumnya.
Ramadhan adalah sebuah kesempatan emas yang Allah berikan setiap tahun untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan mempererat hubungan dengan Al-Qur’an. Maka hendaknya seorang muslim menyibukkan diri dengan membaca Al Quran sebagiana yang dicontohkan oleh para salaf terdahulu.
Wallahu a‘lam.





