Tafsir An-Naba’ Ayat 1: Menguak Pertanyaan Besar Kaum Musyrikin
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du
Insyaallah artikel ini adalah tulisan bersambung bertemakan tafsir per-ayat Al Quran.
Kali ini penulis berusaha merangkum beberapa tafsir dari para ulama untuk surah An Naba’ ayat ke 1, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ
“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” (Q.S An Naba’: 1)
Imam Ath Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan dalam tafsirnya:
“Yakni: tentang apa orang-orang musyrik itu—yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya dari kalangan Quraisy—saling bertanya-tanya, wahai Muhammad?
Perkataan ini ditujukan kepada Nabi ﷺ. Hal itu karena, sebagaimana disebutkan dari mereka (kaum Quraisy), mereka berselisih dan saling berdebat tentang ajakan Rasulullah ﷺ—tentang kenabiannya, kebenaran risalah yang beliau bawa dari sisi Allah dan keimanan terhadap hari kebangkitan. Maka Allah berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ: “Dalam perkara apa mereka saling bertanya-tanya?” (Jami‘ al Bayan fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/128-129, cet. Dar Hajar, Kairo).
Lalu Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menjelaskan dalam tafsirnya:
“Surah ‘Amma (An-Naba’) adalah Makkiyyah (diturunkan di Makkah) dan juga disebut Surah An Naba’. Jumlah ayatnya empat puluh atau empat puluh satu ayat.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? (QS. An-Naba’ : 1)
Firman Allah Ta‘ala: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?” Kata ‘Amma adalah bentuk istifham (kata tanya), oleh karena itu huruf alif (ا) dari ma (مَا) dihilangkan, agar dapat dibedakan antara bentuk berita dan bentuk pertanyaan. Demikian pula pada bentuk lain seperti fima (فِيمَا) dan mimmā (مِمَّا) ketika digunakan dalam konteks pertanyaan.
Maknanya adalah: tentang perkara apa sebagian dari mereka saling bertanya satu sama lain.
Az Zajjaj berkata: Asal kata ‘amma (عَمَّ) adalah ‘an (عَنْ) ma (مَا), lalu huruf nun (ن) diidghamkan ke dalam mim (م) karena keduanya memiliki kesamaan sifat, yaitu ghunnah.
Kata ganti dalam yatasa’aluna (يَتَسَآءَلُونَ) merujuk kepada kaum Quraisy.
Abu Shalih meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: Dahulu kaum Quraisy, ketika Al Qur’an diturunkan, duduk-duduk dan berbincang satu sama lain. Sebagian dari mereka membenarkannya dan sebagian lainnya mendustakannya. Maka turunlah ayat: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?”
Dikatakan pula bahwa maksud dari ‘amma (عَمَّ) adalah: dalam perkara apa kaum musyrik bersikap keras dan saling berselisih.” (Al Jami‘ li Ahkam al Quran, 19/211, cet. Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah, Beirut).
Kemudian Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) menjelaskan pula dalam tafsirnya:
وَهِيَ مَكِّيَّةٌ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، يَقُولُ تَعَالَى مُنْكِرًا عَلَى الْمُشْرِكِينَ فِي تَسَاؤُلِهِمْ عَنْ يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِنْكَارًا لِوُقُوعِهَا: ﴿عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ○ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ○﴾ أَيْ: عَنْ أَيِّ شَيْءٍ يَتَسَاءَلُونَ؟
“Surah ini adalah Makkiyyah.
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Allah Ta‘ala berfirman dengan nada mengingkari kaum musyrikin yang saling bertanya-tanya tentang hari Kiamat sebagai bentuk pengingkaran terhadap terjadinya hari tersebut:
“Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? (1) Tentang berita yang besar, (2)”
Yakni, tentang perkara apa mereka saling bertanya-tanya?…” (Tafsir al Quran al ‘Azhim, 8/291, cet. Muassasah Qurthubah).
Berikutnya Syaikh As Sa‘di rahimahullah (w. 1376 H) menyampaikan dalam tafsirnya:
أي: عن أيِّ شيءٍ يتساءل المكذِّبون بآيات الله؟
“Yaitu: tentang perkara apa orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah saling bertanya-tanya?.” (Taisir al Karim ar Rahman fi Tafsir Kalam al Mannan, tafsir Surah An Naba’: 1, cet. Muassasah ar-Risālah).
Demikian beberapa tafsir ulama pada surat An Naba’ ayat 1 semoga bermanfaat. Sampai berjumpa di tafsir surat An Naba’ ayat 2 di artikel berikutnya insyaallah.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



