Tafsir An Naba’ Ayat 2: Antara Al Quran dan Hari Kiamat sebagai “Berita Besar”
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Insyaallah artikel ini akan menjadi tulisan bersambung bertemakan tafsir perayat Al Quran.
Kali ini penulis berusaha merangkum beberapa tafsir dari para ulama untuk surah An Naba’ ayat ke 2, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
عَنِ ٱلنَّبَإِ ٱلۡعَظِیمِ
“Tentang berita yang besar” (QS. An Naba’: 2).
Imam Ath Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan dalam tafsirnya:
“Yang dimaksud adalah: kabar yang agung.
Kemudian Abu Ja‘far (Imam Ath Thabari) (w. 310 H) berkata: Lalu Allah mengabarkan kepada Nabi-Nya ﷺ tentang apa yang mereka pertanyakan itu. Maka Dia berfirman: “…Mereka saling bertanya-tanya tentang berita yang besar.” Artinya: tentang berita besar yang sangat penting.
Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna “berita yang besar” ini. Sebagian dari mereka berkata: yang dimaksud adalah Al Quran.
Disebutkan dari mereka yang berpendapat demikian: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ‘Amr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Isa. Dan telah menceritakan kepadaku Al Harits, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al Hasan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Warqa’, semuanya dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, tentang firman Allah: “Tentang berita yang besar” (QS. An Naba’: 2). Ia berkata: “Yang dimaksud adalah Al Quran.”
Sementara yang lain berkata: Yang dimaksud dengan kabar agung itu adalah hari kebangkitan.
Disebutkan dari mereka yang berpendapat demikian: Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yazid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sa‘id, dari Qatadah, tentang firman-Nya: “Tentang berita yang besar” (QS. An Naba’: 2). Ia berkata: “Yang dimaksud adalah kebangkitan setelah kematian.”
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humayd, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Sufyan, dari Sa‘id, dari Qatadah, “Tentang berita yang besar” (QS. An Naba’: 2). Ia berkata: “Yang dimaksud adalah kebangkitan setelah kematian.”
Telah menceritakan kepadaku Yunus, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Ibnu Zayd berkata tentang firman Allah: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? (1) Tentang berita yang besar, (2) yang mereka perselisihkan tentang ini. (3)” (QS.An Naba’: 1-3). Ia berkata: “Yang dimaksud adalah hari kiamat.” Ia berkata: “Mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ini adalah hari yang kalian (kaum Muslimin) klaim bahwa kami dan para leluhur kami akan dihidupkan kembali padanya.” Maka mereka pun berselisih pendapat tentangnya dan tidak mempercayainya. Lalu Allah berfirman: “Akan tetapi, itu adalah kabar yang agung, yang kalian berpaling darinya.” Yaitu: hari kiamat, mereka tidak beriman kepadanya.
Sebagian ahli bahasa Arab juga berpendapat bahwa makna ayat ini adalah: tentang apa yang sedang dibicarakan oleh kaum Quraisy mengenai Al Quran, kemudian dijawab oleh Allah. Maka frasa ‘amma (عَمَّ) menjadi seakan-akan bermakna: tentang apa mereka saling bertanya-tanya mengenai al-Qur’an. (Jami‘ Al Bayan fi Ta’wil Ay Al Quran, 24/129-130, cet. Dar Hajar, Kairo).
Kemudian Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) juga menjelaskan dalam tafsirnya:
“…Sebagian ahli ilmu juga menjelaskan bahwa sebenarnya ada pengulangan bentuk pertanyaan dalam firman-Nya ‘an (عَنْ) yang tidak disebutkan secara eksplisit, seakan-akan Allah berfirman: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Apakah tentang kabar yang agung?”. Dengan demikian, maka kalimat ini (baca: QS. An Naba’: 2) menjadi tersambung langsung dengan ayat pertama.
Adapun “berita yang besar” maksudnya adalah berita besar nan penting. (Al Jami‘ li Ahkam Al Quran, 19/211-212, cet. Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut).
Lalu Imam Ibn Katsir rahimahullah (w. 774 H) menjelaskan:
“Allah Ta‘ālā berfirman dengan nada mengingkari orang-orang musyrik atas pertanyaan mereka mengenai hari kiamat yakni sebagai bentuk pengingkaran terhadap kemungkinan terjadinya: “Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? (1) Tentang berita yang besar,” (2) (QS. An Naba’: 1-2)
Yakni: tentang apa mereka saling bertanya-tanya?, yang mereka tanyakan adalah perkara hari kiamat, dan itulah yang dimaksud dengan “berita yang besar”, yakni: berita besar yang mengerikan, dahsyat, dan menakjubkan.
Qatadah dan Ibnu Zayd berkata: “Kabar agung itu adalah kebangkitan setelah kematian.”
Mujahid berkata: “Kabar agung itu adalah al-Qur’an.”” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, tafsir Surah An-Naba’: 1-2, 30/285-286, cet. Dar Thayyibah, Riyadh.)
Selanjutnya Syaikh As Sa‘di rahimahullah (w. 1376 H) berkata:
“…Kemudian Allah menjelaskan apa yang mereka perbincangkan, seraya berfirman: “Tentang berita yang besar, (2) yang mereka perselisihkan tentang ini. (3)” (QS. An Naba’: 2-3)
Yakni: tentang berita besar yang penuh perdebatan di antara mereka, dan yang tersebar di tengah-tengah mereka dalam bentuk pengingkaran dan sikap menganggap mustahil.
Padahal, itu adalah kabar yang tidak mungkin diragukan, dan tidak mungkin dimasuki oleh keraguan sedikit pun. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Rabb mereka tidak akan beriman, sekalipun datang kepada mereka seluruh tanda (kebenaran), hingga mereka melihat azab yang pedih. (Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, tafsir Surah An-Naba’: 1-3, hlm. 923, cet. Muassasah Ar Risalah, Beirut)
Wallahu a’lamu bishshawab, demikian beberapa tafsir ulama pada surat An Naba’ ayat 2 semoga bermanfaat. Sampai berjumpa kembali di artikel berikutnya untuk tafsir surat An Naba’ ayat 3 insyaallah.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



