Tafsir An Naba’ Ayat 9: Rahasia Tidur dalam Al-Qur’an
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Insyaallah penulis akan berusaha merangkum beberapa tafsir dari para ulama untuk surah An Naba’ ayat ke 9 yang akan dibagi menjadi 2 bagian, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا
“Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. An Naba’: 9)
Imam Ath Thabari rahimahullah (w. 310 H) menuturkan dalam tafsirnya:
“”Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. An Naba’: 9), maksudnya Kami jadikan tidur itu sebagai sarana istirahat dan ketenangan bagi kalian. Dengan tidur itu, kalian menjadi tenang dan berhenti dari aktivitas, seolah-olah kalian mati dan tidak merasakan apa pun, padahal kalian masih hidup dan ruh belum berpisah dari tubuh kalian. Kata “As Sabt” dan “As Subat” berarti ketenangan atau berhenti dari aktivitas. Karena itulah hari Sabtu disebut “Sabt”, yakni hari ber-istirahat dan meninggalkan pekerjaan.” (Jami‘ Al Bayan ‘an Ta’wil Ay Al Quran, 24/9, cet. Dar Hijr, Kairo).
Kemudian Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menyampai-kan:
“”Dan Kami jadikan tidur kalian…” (QS. An Naba’: 9)”Kami jadikan” maksudnya adalah “Kami ubah atau tetapkan”, karena itu kata kerja ini menyentuh dua objek. Kata “Subatan” (istirahat) (QS. An Naba’: 9) adalah objek kedua, artinya sebagai waktu istirahat bagi tubuh kalian. Dari akar makna yang sama, kata “As Sabt” (Sabtu) disebut begitu karena itu adalah hari istirahat, yakni ketika dikatakan kepada Bani Israil:”Beristirahatlah pada hari ini dan janganlah bekerja sedikit pun.” Namun Ibnu Al Anbari mengingkari penafsiran ini dan me-ngatakan: tidak tepat menyebut “Subat” sebagai “istirahat”.
Ada pula yang berpendapat bahwa asal katanya adalah (bermakna) ‘memanjangkan’. Contohnya dikatakan “Sabatat Al mar-ah sya’raha” (Wanita itu mengurai (melepaskan) rambutnya) bila wanita itu melepas dan memanjangkan rambutnya.
Adapun (makna) “Subat” seperti memanjangkan atau membentangkan, (contohnya) “Rajulun masbut al khalq”, artinya orang yang tubuhnya panjang terbentang. Seseorang bila ingin istirahat, biasanya membaringkan tubuhnya, maka istirahatnya disebut “Sabt”.
Pendapat lain menyebutkan bahwa asal katanya adalah (bermakna) ‘memotong’, seperti dalam kalimat: “Sabata sya’rahu sabtan” berarti mencukur rambutnya.Tidur disebut demikian pula karena saat tidur, seseorang terputus dari interaksi sosial dan aktivitas, dan “Subat” menyerupai kematian, namun tanpa perpisahan ruh dari tubuh.
Juga dikatakan: “Sayrun sabtun”, artinya perjalanan yang halus dan lembut, seperti dalam syair: “Dan unta yang pelan lajunya, siang-nya lambat dan halus, malam-nya berat dan lamban.” (Al Jami‘ li Ahkami Al Quran, 19/171-172, cet. Dar ‘Alam Al Kutub, Riyadh).
Rahasia Tidur dalam Al-Qur’an
Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) mengatakan:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا﴾ أَيْ: قَطْعًا لِلْحَرَكَةِ، لِتَحْصُلَ الرَّاحَةُ مِنْ كَثْرَةِ التَّرَدُّدِ وَالسَّعْيِ فِي الْمَعَايِشِ فِي عَرْضِ النَّهَارِ. وَقَدْ تَقَدَّمَ مِثْلُ هَذِهِ الْآيَةِ فِي سُورَةِ “الْفُرْقَانِ”.
“Dan firman-Nya: “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. An Naba’: 9), yakni: sebagai penghentian gerak, agar kalian mendapatkan ketenangan dari aktivitas yang berulang-ulang dan kesibukan mencari penghidupan di sepanjang siang hari. Dan ayat semisal ini telah disebutkan sebelumnya di Surah Al Furqan (lihat: QS. Al Furqan: 47).” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/302-303, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Lalu Syaikh As Sa’di rahimahullah (w.1376 H) menjelaskan dalam tafsirnya:
﴿وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا﴾ أَيْ: رَاحَةً لَكُمْ، وَقَطْعًا لِأَشْغَالِكُمْ، الَّتِي مَتَى تَمَادَتْ بِكُمْ أَضَرَّتْ بِأَبْدَانِكُمْ…
“”Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. An Naba’: 9), yakni sebagai istirahat bagi kalian dan penghenti kesibukan kalian, yang jika berkepanjangan akan merugikan tubuh kalian…” (Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).
Wallahu a’lamu bishshawab, demikian lanjutan rangkuman beberapa tafsir ulama pada surat An Naba’ ayat 9 semoga bermanfaat. Sampai berjumpa kembali di artikel berikutnya untuk tafsir surat An Naba’ ayat 10 insyaallah.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



