Tafsir An Naba’ Ayat 3: Misteri di Balik “Mengapa Manusia Berselisih tentang Berita Agung?”
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Insyaallah kali ini penulis berusaha merangkum beberapa tafsir dari para ulama untuk surah An Naba’ ayat ke 3, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
ٱلَّذِی هُمۡ فِیهِ مُخۡتَلِفُونَ
“Yang mereka perselisihkan tentang ini.” (QS. An Naba’: 3)
Imam Ath Thabari rahimahullah (w. 310 H) menjelaskan:
“Yakni sesuatu yang mereka berselisih pendapat tentangnya antara orang yang mempercayainya dan orang yang mendustakannya. Itulah makna dari perbedaan mereka (yakni perbedaan pandangan antara membenarkan dan mengingkari).” Kemudian beliau melanjutkan: “Maksudnya: yaitu sesuatu yang mereka berbeda pendapat tentangnya, mereka terbagi menjadi dua, kelompok yang membenarkannya dan kelompok yang mendustakannya. (Seakan-akan) Allah ﷻ berfirman menyebutkannya (tentang perselisihan mereka): Maka, pertanyaan mereka satu sama lain adalah tentang berita besar yang memiliki sifat seperti ini. Seperti yang kami katakan itu, juga telah disampaikan oleh para ahli tafsir.
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mihran, dari Sa’id, dari Qatadah, tentang ayat (QS. An Naba’: 3), yakni: kebangkitan setelah kematian. Maka manusia pun terbagi menjadi dua kelompok mengenainya: kelompok yang mempercayai dan kelompok yang mendustakan. Adapun tentang kematian, mereka semua mengakuinya karena mereka menyaksikannya secara langsung. Namun, mereka berselisih tentang kebangkitan setelah kematian.
Telah menceritakan kepada kami Bisyr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, tentang ayat (QS. An Naba’: 3), manusia menjadi dua golongan: satu golongan membenarkan dan golongan lainnya mendustakan. Adapun kematian, maka seluruh manusia mengakuinya karena menyaksikannya, tetapi mereka berselisih pendapat mengenai kebangkitan setelah kematian.
Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Abdil A‘la, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Tsaur, dari Ma‘mar, dari Qatadah, tentang ayat (QS. An Naba’: 3), beliau berkata: “Ada yang mempercayai dan ada yang mendusta-kan.” (Jami‘ Al Bayan ‘an Ta’wil Ay Al Quran, 24/215-216, cet. Dar Hijr, Kairo).
Kemudian Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menyampaikan:
“Artinya: ‘Mereka saling berbeda pendapat: ada yang membenarkan dan ada yang mendustakan.’
Diriwayatkan dari Abu Shalih dari Ibnu ‘Abbas: “Yang dimaksud adalah Al Quran”, buktinya firman Allah:
○ قُلْ هُوَ نَبَأٌ عَظِيمٌ ○ أَنْتُمْ عَنْهُ مُعْرِضُونَ
“Katakanlah: “Berita itu adalah berita yang besar, (67) yang kamu berpaling daripadanya. (68)” (QS. Shad: 67-68).
Karena Al Quran itu merupakan naba’ (berita) dan khabar (kabar), dan ia adalah naba’ yang agung derajatnya.
Dan diriwayatkan dari Sa‘id dari Qatadah: “Yang dimaksud adalah kebangkitan setelah mati.”
Diriwayatkan dari Adh Dhahhak dari Ibnu ‘Abbas: “Dan itu berkaitan dengan perbedaan kaum Yahudi yang menanyakan banyak hal kepada Nabi ﷺ. Maka Allah Sang Maha Tinggi memberitahunya tentang perselisihan mereka, kemudian mengancam mereka….” (Al Jami‘ li Ahkam Al Quran, 19/213-214, cet. Dar Al Kutub Al ‘Ilmiyyah, Beirut).
Selanjutnya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) mengatakan:
“Qatadah dan Ibnu Zaid berkata: An Naba’ Al ‘Azhim (berita besar) adalah: “kebangkitan setelah kematian”.
Dan Mujahid berkata: “Itu adalah Al Quran”.
Namun yang paling tampak (lebih kuat pendapatnya) adalah pendapat yang pertama, karena firman Allah (QS. An Naba’: 3), yakni manusia terhadapnya terbagi menjadi dua kelompok: ada yang beriman kepadanya dan ada yang kafir (mengingkarinya)”. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/305, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Syaikh As Sa’di rahimahullah (w.1376 H) menyatakan:
“Kemudian Allah menjelaskan tentang apa yang mereka saling bertanya-tanya, dengan firman-Nya (QS. An Naba’: 2-3), yaitu tentang berita besar yang telah banyak terjadi perselisihan di antara mereka mengenai hal itu, dan meluas perbedaan mereka dalam bentuk pendustaan dan sikap menganggap mustahil.
Padahal, itu adalah berita yang tidak menerima keraguan dan tidak mengandung kesamaran sedikit pun. Akan tetapi, orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Rabb mereka tidak akan beriman,
meskipun telah datang kepada mereka segala macam ayat (tanda kekuasaan Allah), hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.” (Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Manan, hlm. 933, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Riyadh).
Wallahu a’lamu bishshawab, demikian beberapa tafsir ulama pada surat An Naba’ ayat 3 semoga bermanfaat. Sampai berjumpa kembali di artikel berikutnya untuk tafsir surat An Naba’ ayat 4 insyaallah.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



