Tafsir An Naba’ Ayat 5: Ancaman Keras bagi Pengingkar Hari Kiamat
Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.
Insyaallah kali ini penulis berusaha merangkum beberapa tafsir dari para ulama untuk surah An Naba’ ayat ke 5, semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:
ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
“Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An Naba’: 5).
Imam Ath Thabari rahimahullah (w. 310 H) menuturkan dalam tafsirnya:
وَذُكِرَ عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ مُزَاحِمٍ فِي ذَلِكَ مَا: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ: ثَنَا مَهْرَانُ، عَنْ أَبِي سِنَانٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ: ﴿كَلَّا سَيَعْلَمُونَ﴾ الكُفَّارُ، ﴿ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ﴾ المُؤْمِنُونَ، وَكَذَلِكَ كَانَ يَقْرَؤُهَا
“Dan disebutkan dari Adh Dhahhak bin Muzahim dalam masalah ini: Telah menceritakan kepada kami Ibn Humaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahran, dari Abu Sinan, dari Tsabit, dari Adh Dhahhak, bahwa ia berkata: “Sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An Naba’: 4), maksudnya adalah orang-orang kafir. “Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An Naba’: 5), maksudnya adalah orang-orang mukmin. Demikianlah ia (Adh Dhahhak) biasa membaca ayat tersebut.” (Jami‘ Al Bayan ‘an Ta’wil Ay Al Quran, 24/260, cet. Dar Hijr, Kairo).
Kemudian Imam Al Qurthubi rahimahullah (w. 671 H) menyampaikan:
“Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An Naba’: 5), maksudnya: Sungguh, mereka benar-benar akan mengetahui kebenaran dari apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ berupa Al-Qur’an dan apa yang beliau sampaikan kepada mereka tentang kebangkitan setelah kematian.
Adh Dhahhak berkata: “Sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.” (QS. An Naba’: 4), maksudnya adalah orang-orang kafir akan mengetahui akibat dari pendustaan mereka. Sedangkan “Kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An Naba’: 5), maksudnya adalah orang-orang mukmin akan mengetahui akibat dari pembenaran mereka. Ada pula yang mengatakan sebaliknya (yakni: yang pertama bagi mukmin, yang kedua bagi kafir).
Hasan Al Bashri berkata: “Itu adalah ancaman setelah ancaman.”
Mayoritas qurra’ (ulama ahli qiraat) membaca kedua kalimat itu dengan huruf ya (سَيَعْلَمُونَ: kelak mereka mengetahui) dalam bentuk kalimat berita, mengikuti firman Allah Ta‘ala: “يَتَسَآءَلُونَ” (mereka saling bertanya-tanya?) dan هُمْ فِيهِ مُختَلِفُونَ (mereka perselisihkan tentang ini).
Sedangkan Hasan Al Bashri , Abul ‘Aliyah dan Malik bin Dinar membaca keduanya dengan huruf ta (سَتَعْلَمُونَ: kelak kalian mengetahui).” (Al Jami‘ li Ahkami Al Quran, 22/247, cet. Dar ‘Alam Al Kutub, Riyadh).
Selanjutnya Imam Ibnu Katsir rahimahullah (w. 774 H) mengatakan:
ثُمَّ قَالَ تَعَالَى مُتَوَعِّدًا لِمُنْكِرِي الْقِيَامَةِ: ﴿كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ ○ ثُمَّ كَلاَّ سَيَعْلَمُونَ﴾ وَهَذَا تهديدٌ شَدِيدٌ وَوَعِيدٌ أَكِيدٌ.
“Kemudian Allah Ta’ala berfirman mengancam para pengingkar
hari kiamat:“Sekali-kali tidak; Kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; Kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An Naba’: 4-5). Ini adalah bentuk ancaman yang sangat keras dan peringatan yang sangat tegas.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/243, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).
Lalu Syaikh As Sa’di rahimahullah (w.1376 H) menjelaskan dalam tafsirnya:
… وَلِهَذَا قَالَ: ﴿كَلَّا سَيَعْلَمُونَ ○ ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ﴾ أَيْ: سَيَعْلَمُونَ إِذَا نَزَلَ بِهِمُ الْعَذَابُ مَا كَانُوا بِهِ يُكَذِّبُونَ حِينَ ﴿يُدَعُّونَ إِلَى نَارِ جَهَنَّمَ دَعًّا﴾، وَيُقَالُ لَهُمْ: ﴿هَذِهِ النَّارُ الَّتِي كُنتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ﴾.
“Dan karena itu Allah berfirman: “Sekali-kali tidak; Kelak mereka akan mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak; Kelak mereka akan mengetahui.” (QS. An Naba’: 4-5), yakni, mereka akan mengetahui kebenaran (yang mereka dustakan itu) ketika azab turun kepada mereka atas apa yang dahulu mereka dustakan.
Yaitu “Pada hari mereka didorong ke neraka Jahannam dengan sekuat-kuatnya.” (QS. Ath Thur: 13), lalu dikatakan kepada mereka:
“Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya.” (QS. Ath Thur: 14)” (Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, hlm. 926, cet. Dar Ibn Hazm, Beirut).
Wallahu a’lamu bishshawab, demikian beberapa tafsir ulama pada surat An Naba’ ayat 5 semoga bermanfaat. Sampai berjumpa kembali di artikel berikutnya untuk tafsir surat An Naba’ ayat 6 insyaallah.
Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad waalihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



