<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Tanya Islam</title>
	<atom:link href="https://tanyaislam.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://tanyaislam.com</link>
	<description>Tanya Jawab Agama Islam dan Konsultasi Syariah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Jun 2026 15:18:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
	<item>
		<title>Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3062/larangan-mencela-sahabat-nabi-%ef%b7%ba-dan-kedudukan-mereka-dalam-islam/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3062/larangan-mencela-sahabat-nabi-%ef%b7%ba-dan-kedudukan-mereka-dalam-islam/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2026 15:17:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3062</guid>

					<description><![CDATA[<p>Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam Di antara prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menjaga hati dan lisan terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Hati dijaga dari kebencian, dendam, dan prasangka buruk kepada mereka. Demikian pula lisan dijaga dari celaan, penghinaan, serta tuduhan yang merendahkan kedudukan mereka. Sikap ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3062/larangan-mencela-sahabat-nabi-%ef%b7%ba-dan-kedudukan-mereka-dalam-islam/">Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam</strong></p>
<p>Di antara prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah menjaga hati dan lisan terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Hati dijaga dari kebencian, dendam, dan prasangka buruk kepada mereka. Demikian pula lisan dijaga dari celaan, penghinaan, serta tuduhan yang merendahkan kedudukan mereka.</p>
<p>Sikap ini bukan sekadar bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu, tetapi bagian dari adab seorang Muslim terhadap orang-orang yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya ﷺ, membela agama-Nya, dan menyampaikan Islam kepada umat setelah mereka.</p>
<p>Allah Ta‘ala menggambarkan sikap orang-orang beriman yang datang setelah para sahabat dengan firman-Nya:</p>
<p class="arab">﴿ وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ﴾</p>
<p>“Orang-orang yang datang sesudah mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” <strong>(QS. Al-Hasyr: 10).</strong></p>
<p>Mencela sahabat bukan perkara ringan. Mereka adalah generasi pilihan Allah yang menemani Nabi ﷺ, menyaksikan turunnya wahyu, membela Islam, meriwayatkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta menyampaikan agama kepada umat setelahnya. Karena itu, mencela sahabat bukan sekadar merendahkan pribadi mereka, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap generasi yang menjadi perantara sampainya agama Islam kepada kita.</p>
<p>Sikap mencela sahabat juga bukan perkara baru. Dalam sejarah Islam, celaan terhadap sahabat telah muncul sejak masa awal, terutama dari sebagian kelompok yang menyimpan kebencian kepada para pembela Rasulullah ﷺ. Mereka tidak berani mencela Nabi ﷺ secara langsung, karena hal itu akan menampakkan keburukan mereka dengan jelas. Maka mereka berusaha merusak citra para sahabat dengan tuduhan-tuduhan buruk, seolah-olah Rasulullah ﷺ dikelilingi oleh orang-orang yang tidak baik. Padahal Allah sendiri telah memuji para sahabat dalam Al-Qur’an.</p>
<p>Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;فمن طعن فيهم أو سبهم، فقد خرج من الدين، ومرق من ملة المسلمين؛ لأن الطعن لا يكون إلا عن اعتقاد مساوئهم، وإضمار الحقد فيهم، وإنكار ما ذكره الله تعالى في كتابه من ثنائه عليهم، وفضائلهم ومناقبهم وحبهم.</p>
<p class="arab">ولأنهم أرضى الوسائل المأثورة، والوسائط من المنقول، والطعن في الوسائط طعن في الأصل، والازدراء بالناقل ازدراء بالمنقول، وهذا ظاهر لمن تدبره وسلم من النفاق والزندقة والإلحاد في عقيدته&#8221;</p>
<p>”Maka siapa yang mencela mereka atau mencaci mereka, sungguh ia telah keluar dari agama dan lepas dari agama kaum Muslimin. Sebab celaan itu tidak muncul kecuali dari keyakinan buruk terhadap mereka, menyimpan kedengkian kepada mereka, serta mengingkari apa yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya berupa pujian, keutamaan, kemuliaan, dan kecintaan kepada mereka.</p>
<p>Karena mereka adalah perantara paling diridai dalam riwayat dan perantara dalam penyampaian agama. Mencela perantara berarti mencela asalnya. Merendahkan pembawa riwayat berarti merendahkan apa yang diriwayatkan. Ini jelas bagi orang yang merenunginya dan selamat dari kemunafikan, kezindikan, serta penyimpangan akidah.” <strong>(Al-Kaba’ir, hlm. 276).</strong></p>
<p><strong>Kedudukan dan Keadilan Para Sahabat dalam Al-Qur’an</strong></p>
<p>Termasuk akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa seluruh sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang adil. Maksud adil di sini adalah bahwa mereka merupakan generasi terpercaya dalam membawa dan menyampaikan agama. Mereka memiliki keutamaan yang sangat besar, meskipun derajat masing-masing sahabat berbeda-beda.</p>
<p>Cukuplah menjadi kemuliaan bagi para sahabat bahwa Allah memilih mereka untuk menemani Rasulullah ﷺ. Nama, sifat, dan keutamaan mereka disebutkan dalam Al-Qur’an dan dibaca oleh umat Islam sampai hari kiamat.</p>
<p>Allah Ta‘ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا ﴾</p>
<p>“Sungguh, Allah benar-benar telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menurunkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.” <strong>(QS. Al-Fath: 18).</strong></p>
<p>Dalam ayat ini, Allah memuji para sahabat yang ikut dalam Bai‘atur Ridwan. Allah mengabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, menurunkan ketenangan kepada mereka, dan meridai mereka.</p>
<p>Ibnu Hazm rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;فمن أخبرنا الله عز وجل أنه علم ما في قلوبهم، ورضي عنهم، وأنزل السكينة عليهم، فلا يحل لأحد التوقف في أمرهم، أو الشك فيهم البتة&#8221;</p>
<p>“Siapa yang Allah ‘Azza wa Jalla telah kabarkan bahwa Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, meridai mereka, dan menurunkan ketenangan kepada mereka, maka tidak halal bagi siapa pun untuk ragu terhadap keadaan mereka atau meragukan mereka sama sekali.” <strong>(Al-Fashl fil Milal wan Nihal, 4/148).</strong></p>
<p>Allah Ta‘ala juga berfirman:</p>
<p class="arab"><strong>﴿ وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴾</strong></p>
<p>“Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” <strong>(QS. At-Taubah: 100).</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;فرَضِيَ عن السابقين عن غير اشتراط إحسان، ولم يرضَ عن التابعين إلا أن يتبعوهم بإحسان&#8221;</p>
<p>“Allah meridai orang-orang yang terdahulu tanpa mensyaratkan ihsan. Adapun terhadap orang-orang yang mengikuti mereka, Allah tidak meridai kecuali jika mereka mengikuti para sahabat dengan ihsan.” <strong>(Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 572).</strong></p>
<p>Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa para sahabat memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Mereka adalah generasi yang Allah pilih untuk mendampingi Rasulullah ﷺ, membela beliau, menjaga sunnah beliau, dan menyampaikan agama kepada umat setelah mereka.</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وكُلُّهم عُدولٌ رَضِيَ اللهُ عنهم، ومتأوِّلون في حُروبِهم وغَيرِها، ولم يُخرِجْ شَيءٌ من ذلك أحدًا منهم عن العدالةِ،… ولهذا اتَّفَق أهلُ الحَقِّ ومن يُعتَدُّ به في الإجماعِ على قَبولِ شَهاداتِهم ورواياتِهم، وكَمالِ عَدالتِهم رَضِيَ اللهُ عنهم أجمعين&#8221;</p>
<p>“Semua sahabat adalah orang-orang yang adil, semoga Allah meridai mereka. Mereka berijtihad dalam peperangan dan selainnya. Tidak ada satu pun dari hal itu yang mengeluarkan mereka dari keadilan. Karena itu, Ahlul Haq dan para ulama yang diperhitungkan dalam ijma‘ sepakat menerima persaksian dan riwayat mereka, serta menetapkan kesempurnaan keadilan mereka, semoga Allah meridai mereka semua.” <strong>(Syarh Muslim, 15/149).</strong></p>
<p><strong>Larangan Mencela Sahabat dalam Sunnah Nabi ﷺ</strong></p>
<p>Sebagaimana Al-Qur’an memuji para sahabat, Rasulullah ﷺ juga memuji mereka dan melarang umatnya mencela mereka.</p>
<p>Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">&#8220;خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم&#8221;</p>
<p>“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka&#8230;” <strong>(HR. Al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2534 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).</strong></p>
<p>Dari Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">&#8220;لا تسبوا أصحابي، فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبًا ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه&#8221;</p>
<p>“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, hal itu tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula separuhnya.” <strong>(HR. Al-Bukhari no. 3673 dan Muslim no. 2540).</strong></p>
<p>Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan para sahabat. Amal orang setelah mereka tidak bisa menyamai amal mereka, karena para sahabat memiliki keistimewaan dalam iman, pengorbanan, perjuangan, dan kedekatan dengan Rasulullah ﷺ.</p>
<p><strong>Hukum Mencela Sahabat</strong></p>
<p>Mencela sahabat tidak berada pada satu tingkatan. Hukumnya berbeda-beda sesuai bentuk celaan, objek yang dicela, dan kandungan tuduhannya.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam <strong>Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 586–587</strong>:</p>
<p class="arab">&#8220;وبالجملة فمن أصناف السابة من لا ريب في كفره، ومنهم من لا يحكم بكفره ومنهم من تردد فيه&#8221;</p>
<p>“Secara umum, di antara jenis orang yang mencela sahabat ada yang tidak diragukan kekafirannya, ada yang tidak dihukumi kafir, dan ada yang diperselisihkan.”</p>
<p>Kemudian beliau merinci hal tersebut menjadi tiga keadaan.</p>
<p><strong>Pertama: Mencela Seluruh Sahabat atau Mayoritas Mereka</strong></p>
<p>Orang yang mencela seluruh sahabat, atau menuduh mereka kafir, murtad, fasik, atau menyatakan mayoritas mereka menyimpang, telah melakukan perkara yang sangat berat. Para ulama menyebutkan bahwa ini termasuk kekufuran, karena mengandung konsekuensi besar.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, hal itu merupakan celaan terhadap para pembawa Al-Qur’an dan Sunnah. Konsekuensinya, celaan tersebut juga kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, hal itu mendustakan nash Al-Qur’an yang menyatakan keridaan Allah kepada para sahabat.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, Imam Malik dan para imam lainnya rahimahumullah mengambil kesimpulan dari firman Allah Ta‘ala tentang para sahabat:</p>
<p class="arab"><strong>﴿ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ﴾</strong></p>
<p>“Agar Allah membuat jengkel orang-orang kafir dengan kekuatan mereka.” <strong>(QS. Al-Fath: 29).</strong></p>
<p>Al-Haitami rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وَمن هَذِه الْآيَة أَخذ الإِمَام مَالك فِي رِوَايَة عَنهُ بِكفْر الروافض الَّذين يبغضون الصَّحَابَة قَالَ لِأَن الصَّحَابَة يغيظونهم وَمن غاظه الصَّحَابَة فَهُوَ كَافِر وَهُوَ مَأْخَذ حسن يشْهد لَهُ ظَاهر الْآيَة وَمن ثمَّ وَافقه الشَّافِعِي رَضِي الله تَعَالَى عَنْهُمَا فِي قَوْله بكفرهم وَوَافَقَهُ أَيْضا جمَاعه من الْأَئِمَّة&#8221;.</p>
<p>“Dari ayat ini, Imam Malik dalam salah satu riwayat darinya mengambil kesimpulan tentang kafirnya kaum Rafidhah yang membenci para sahabat. Ia berkata, ‘Karena para sahabat membuat mereka marah. Siapa saja yang dibuat marah oleh para sahabat, maka ia kafir.’</p>
<p>Kesimpulan ini merupakan dasar pengambilan hukum yang baik, yang didukung oleh makna lahiriah ayat tersebut. Oleh karena itu, Imam Syafi‘i, semoga Allah Ta‘ala meridai keduanya, menyetujui pendapatnya tentang kafirnya mereka. Sejumlah imam lainnya juga menyetujui pendapat tersebut.” <strong>(Ash-Shawa‘iq Al-Muhriqah, hlm. 317; lihat juga: Tafsir Ibnu Katsir, 4/204).</strong></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وأما من جاوز ذلك إلى أن زعم أنهم ارتدوا بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم &#8211; إلا نفرًا قليلًا لا يبلغون بضعة عشر نفسًا &#8211; أو أنهم فسقوا عامتهم، فهذا لا ريب أيضًا في كفره؛ لأنه مكذب لما نصه القرآن في غير موضع، من الرضا عنهم، والثناء عليهم، بل من يشك في كفر مثل هذا فإن كفره متعين&#8230; إلى أن قال: وكفر هذا مما يعلم بالاضطرار من دين الإسلام&#8221;</p>
<p>“Adapun orang yang melampaui hal itu sampai mengklaim bahwa para sahabat telah murtad setelah Rasulullah ﷺ — kecuali sedikit orang yang tidak mencapai belasan orang — atau mengklaim bahwa mayoritas mereka fasik, maka tidak diragukan lagi kekafirannya. Sebab ia mendustakan apa yang ditegaskan oleh Al-Qur’an di banyak tempat, berupa keridaan Allah kepada mereka dan pujian-Nya terhadap mereka. Bahkan orang yang meragukan kekafiran orang seperti ini, maka kekafirannya menjadi pasti&#8230;”</p>
<p>Hingga beliau berkata:</p>
<p>“Kekafiran orang seperti ini termasuk perkara yang diketahui secara pasti dalam agama Islam.” <strong>(Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 586).</strong></p>
<p><strong>Kedua: Mencela Sebagian Sahabat dengan Celaan yang Menyerang Agama Mereka</strong></p>
<p>Jika seseorang mencela sebagian sahabat dengan tuduhan yang menyerang agama mereka, seperti menuduh kafir atau fasik, maka para ulama berbeda pendapat dalam rinciannya. Sebagian ulama mengafirkan pelakunya, sebagian menyatakan fasik, dan sebagian membedakan antara sahabat yang keutamaannya telah disebutkan secara mutawatir dengan sahabat yang tidak sampai pada tingkatan tersebut.</p>
<p>Yang jelas, jika celaan itu ditujukan kepada sahabat yang keutamaannya disebutkan secara mutawatir, seperti para khalifah, lalu pelakunya menghalalkan celaan tersebut atau meyakini benarnya tuduhan itu, maka hal tersebut termasuk kekufuran. Sebab, di dalamnya terdapat pendustaan terhadap perkara yang telah pasti.</p>
<p>Diriwayatkan dari Abu Bakar Al-Marudzi, ia berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;سألت أبا عبد الله عن من يشتم أبا بكر وعمر وعائشة قال: ما أراه على الإسلام قال: وسمعت أبا عبد الله يقول: قال مالك: الذين يشتمون أصحاب رسول الله ليس لهم سهم أو قال: نصيب في الإسلام&#8221;</p>
<p>“Aku bertanya kepada Abu Abdullah, yaitu Imam Ahmad, tentang orang yang mencaci Abu Bakar, Umar, dan Aisyah. Beliau menjawab: Aku tidak melihatnya berada di atas Islam. Aku juga mendengar Abu Abdullah berkata: Malik berkata, ‘Orang-orang yang mencaci sahabat Rasulullah tidak memiliki bagian — atau beliau berkata: tidak memiliki jatah — dalam Islam.’” <strong>(Masa’il Abdullah, hlm. 431).</strong></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;ومن خص بعضهم بالسب، فإن كان ممن تواتر النقل في فضله وكماله؛ كالخلفاء، فإن اعتقد أحقية سبه أو إباحته فقد كفر؛ لتكذيبه ما ثبت قطعا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ومكذبه كافر، وإن سبه من غير اعتقاد أحقية سبه أو إباحته، فقد تفسق؛ لأن سباب المسلم فسوق. وقد حكم البعض فيمن سب الشيخين بالكفر مطلقا &#8211; والله أعلم -&#8220;</p>
<p>“Siapa yang mengkhususkan sebagian sahabat dengan celaan, jika sahabat tersebut termasuk orang yang keutamaan dan kesempurnaannya disebutkan secara mutawatir, seperti para khalifah, lalu ia meyakini benarnya celaan terhadapnya atau bolehnya mencelanya, maka ia kafir. Sebab ia mendustakan sesuatu yang telah pasti dari Rasulullah ﷺ, dan orang yang mendustakan beliau adalah kafir. Namun jika ia mencelanya tanpa meyakini benarnya celaan tersebut atau kebolehannya, maka ia fasik. Sebab mencela seorang Muslim adalah kefasikan. Sebagian ulama menghukumi kafir secara mutlak orang yang mencela dua syaikh, yaitu Abu Bakar dan Umar. Wallahu a‘lam.”</p>
<p>Beliau juga berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;وإن كان ممن لم يتواتر النقل في فضله وكماله، فالظاهر أن سابه فاسق إلا أن يسبه من حيث صحبته لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فإنه يكفر&#8221;</p>
<p>“Jika sahabat tersebut termasuk orang yang keutamaan dan kesempurnaannya tidak disebutkan secara mutawatir, maka yang tampak adalah bahwa orang yang mencelanya adalah fasik, kecuali jika ia mencelanya dari sisi persahabatannya dengan Rasulullah ﷺ, maka ia kafir.” <strong>(Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah, hlm. 19).</strong></p>
<p><strong>Ketiga: Mencela Sahabat dengan Celaan yang Tidak Menyerang Agama dan Keadilan Mereka</strong></p>
<p>Adapun jika seseorang mencela sebagian sahabat dengan celaan yang tidak sampai menyerang agama dan keadilan mereka, seperti menyebut sebagian mereka pelit, pengecut, sedikit ilmu, kurang zuhud, lemah pendapat, lalai, atau semisalnya, maka pelakunya tetap melakukan perbuatan haram. Ia berhak mendapatkan hukuman ta‘zir serta perlu diberi penjelasan dan pemahaman tentang kedudukan para sahabat. Namun, ia tidak langsung dihukumi kafir hanya karena celaan seperti itu.</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;واعلم أن سب الصحابة رضي الله عنهم حرام، من فواحش المحرمات، سواء من لابس الفتن منهم وغيره؛ لأنهم مجتهدون في تلك الحروب متأولون، قال القاضي: وسب أحدهم من المعاصي الكبائر، ومذهبنا ومذهب الجمهور أنه يعزر ولا يقتل، وقال بعض المالكية: يقتل&#8221;</p>
<p>“Ketahuilah bahwa mencela para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah haram dan termasuk perbuatan haram yang sangat keji, baik terhadap sahabat yang terlibat dalam fitnah maupun selainnya. Sebab mereka adalah para mujtahid dalam peperangan-peperangan tersebut dan memiliki takwil. Al-Qadhi berkata: Mencela salah seorang dari mereka termasuk dosa besar. Mazhab kami dan mazhab jumhur menyatakan bahwa pelakunya diberi hukuman ta‘zir dan tidak dibunuh. Sebagian ulama Malikiyah berkata bahwa ia dibunuh.” <strong>(Syarh Muslim, 5/400).</strong></p>
<p><strong>Sikap yang Wajib bagi Seorang Muslim</strong></p>
<p>Kewajiban seorang Muslim adalah mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ, memuliakan mereka, mendoakan mereka, dan menempatkan mereka pada kedudukan yang layak. Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak pula membenci atau berlepas diri dari salah seorang di antara mereka.</p>
<p>Kita menyebut kebaikan mereka, menahan lisan dari perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan meyakini bahwa mereka adalah generasi terbaik umat ini. Mereka adalah manusia terbaik setelah para nabi. Merekalah pembawa agama, penolong dakwah, penjaga sunnah, dan perantara sampainya Islam kepada kita.</p>
<p>Karena itu, mencintai mereka adalah bagian dari agama. Membenci mereka adalah tanda penyimpangan. Menyebut mereka dengan kebaikan adalah adab Ahlus Sunnah. Adapun mencela mereka adalah dosa besar dan jalan yang sangat berbahaya.</p>
<p>Imam Ath-Thahawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">&#8220;ونحب أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا نفرط في حب أحد منهم، ولا نتبرأ من أحد منهم، ونبغض من يبغضهم، وبغير الخير يذكرهم، ولا نذكرهم إلا بخير، وحبهم دين وإيمان وإحسان، وبغضهم كفر ونفاق وطغيان&#8221;</p>
<p>“Kita mencintai para sahabat Rasulullah ﷺ. Kita tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang dari mereka, dan tidak berlepas diri dari seorang pun di antara mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka dan menyebut mereka dengan selain kebaikan. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman, dan ihsan. Membenci mereka adalah kekufuran, kemunafikan, dan pelampauan batas.” <strong>(Syarh Ath-Thahawiyah, hlm. 414).</strong></p>
<p>Semoga Allah meridai seluruh sahabat Rasulullah ﷺ, membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka kepada umat Islam, dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya, bersama Nabi Muhammad ﷺ, para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.</p>
<p>Aamiin.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3062/larangan-mencela-sahabat-nabi-%ef%b7%ba-dan-kedudukan-mereka-dalam-islam/">Larangan Mencela Sahabat Nabi ﷺ dan Kedudukan Mereka dalam Islam</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3062/larangan-mencela-sahabat-nabi-%ef%b7%ba-dan-kedudukan-mereka-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3057/syariat-diturunkan-untuk-menjaga-kemaslahatan-manusia/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3057/syariat-diturunkan-untuk-menjaga-kemaslahatan-manusia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Jun 2026 14:46:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Halal-Haram]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah islam]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih Islam]]></category>
		<category><![CDATA[hifzh al irdh]]></category>
		<category><![CDATA[hifzh an nafs]]></category>
		<category><![CDATA[hifzh an nasl]]></category>
		<category><![CDATA[hukum islam]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu syariat]]></category>
		<category><![CDATA[islam dan kemaslahatan]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[kemaslahatan manusia]]></category>
		<category><![CDATA[maqashid syariah]]></category>
		<category><![CDATA[menjaga jiwa]]></category>
		<category><![CDATA[menjaga kehormatan]]></category>
		<category><![CDATA[menjaga keturunan]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[tujuan syariat islam]]></category>
		<category><![CDATA[ulama islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3057</guid>

					<description><![CDATA[<p>Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia Pendahuluan Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Perkembangan berbagai penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko masih menjadi masalah serius di berbagai negara. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya memberikan larangan, tetapi juga menjelaskan hikmah di balik setiap hukum yang ditetapkan. Dalam kajian Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat), larangan zina dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3057/syariat-diturunkan-untuk-menjaga-kemaslahatan-manusia/">Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia</strong></h2>
<p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Perkembangan berbagai penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS, menunjukkan bahwa perilaku seksual berisiko masih menjadi masalah serius di berbagai negara. Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya memberikan larangan, tetapi juga menjelaskan hikmah di balik setiap hukum yang ditetapkan. Dalam kajian Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat), larangan zina dan segala jalan yang mengantarkannya merupakan bagian dari upaya syariat untuk menjaga jiwa, kehormatan, dan keberlangsungan keturunan manusia.</p>
<p><strong>Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia</strong></p>
<p>Para ulama menjelaskan bahwa syariat Islam bertujuan mewujudkan kemaslahatan dan menolak kerusakan. Di antara tujuan pokok syariat yang disepakati para ulama adalah:</p>
<ol>
<li>Hifzh An-Nafs (menjaga jiwa)</li>
<li>Hifzh An-Nasl (menjaga keturunan)</li>
<li>Hifzh Al-&#8216;Irdh (menjaga kehormatan)</li>
</ol>
<p><strong>Syariat Melindungi Jiwa dari Kehancuran (Hifzh An-Nafs)</strong></p>
<p>Islam sangat memperhatikan keselamatan jiwa manusia. Karena itu, segala sesuatu yang mengancam keselamatan jiwa dilarang atau dibatasi.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا ﴾</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.&#8221;</em> (QS. An-Nisa&#8217;: 29)</p>
<p>Allah juga berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ﴾</p>
<p><em>&#8220;</em><em>D</em><em>an janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.&#8221;</em> (QS. Al-Baqarah: 195)</p>
<p>Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim dilarang melakukan tindakan yang secara sadar mengantarkan dirinya kepada kerusakan dan kebinasaan. Dalam konteks kesehatan modern, perilaku seksual bebas dan berganti-ganti pasangan terbukti menjadi salah satu faktor utama penyebaran berbagai penyakit menular seksual. Oleh karena itu, larangan syariat terhadap zina bukan sekadar aturan moral, tetapi juga perlindungan terhadap keselamatan manusia.</p>
<p><strong>Islam Tidak Hanya Melarang Zina, Tetapi Juga Semua Jalannya</strong></p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا ﴾</p>
<p><em>&#8220;Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.&#8221;</em> (QS. Al-Isra&#8217;: 32)</p>
<p>Perhatikan bahwa Allah tidak hanya mengatakan &#8220;jangan berzina&#8221;, tetapi &#8220;jangan mendekati zina&#8221;. Imam Ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى ذِكْرُهُ: وَقَضَى أَيْضًا أَنْ ﴿ لَا تَقْرَبُوا ﴾ أَيُّهَا النَّاسُ ﴿ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً ﴾ يَقُولُ: إِنَّ الزِّنَا كَانَ فَاحِشَةً، ﴿ وَسَاءَ سَبِيلًا ﴾ يَقُولُ: وَسَاءَ طَرِيقُ الزِّنَا طَرِيقًا؛ لِأَنَّهُ طَرِيقُ أَهْلِ مَعْصِيَةِ اللَّهِ، وَالْمُخَالِفِينَ أَمْرَهُ، فَأَسْوِئْ بِهِ طَرِيقًا يُورِدُ صَاحِبَهُ نَارَ جَهَنَّمَ</p>
<p>&#8220;Allah Yang Mahatinggi berfirman (maknanya): Dan Dia juga menetapkan agar kalian wahai manusia “<em>janganlah kamu mendekati zina;</em> <em>sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.”</em> Maksudnya, zina adalah suatu kekejian yang sangat besar. Dan firman-Nya: “<em>Dan suatu jalan yang buruk.”</em>, maksudnya jalan zina adalah seburuk-buruk jalan. Sebab, ia merupakan jalan yang ditempuh oleh orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dan menyelisihi perintah-Nya. Maka betapa buruknya jalan tersebut, karena ia akan mengantarkan pelakunya ke dalam Neraka Jahanam.&#8221; (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 14/581, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Diantara perilaku yang mengantarkan kepada zina ialah:</p>
<ul>
<li>Khalwat (berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram);</li>
<li>Pergaulan bebas;</li>
<li>Pornografi;</li>
<li>Membuka aurat;</li>
<li>Serta segala bentuk rangsangan yang membangkitkan syahwat menuju perzinaan.</li>
</ul>
<p><strong>Menjaga Kejelasan dan Kehormatan Keturunan (Hifzh An-Nasl)</strong></p>
<p>Salah satu tujuan terbesar syariat adalah menjaga keturunan manusia. Melalui pernikahan yang sah, nasab anak menjadi jelas, hak-haknya terlindungi, dan keluarga dapat dibangun di atas pondasi yang kokoh. Sebaliknya, zina menjadi sebab rusaknya banyak tujuan mulia tersebut.</p>
<p>Diantara hikmah diharamkannya zina adalah:</p>
<ul>
<li>Menjaga kemurnian nasab;</li>
<li>Melindungi hak anak;</li>
<li>Menjaga stabilitas keluarga;</li>
<li>Menghindarkan perselisihan dan permusuhan;</li>
<li>Menjaga kehormatan masyarakat.</li>
</ul>
<p>Karena itu Islam sangat menekankan pernikahan sebagai jalan yang benar dalam menyalurkan kebutuhan biologis manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">« يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ »</p>
<p><em>&#8220;Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah maka hendaklah ia menikah.&#8221;</em> (HR. Nasa’i no. 3210)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa Islam memberikan solusi yang bersih dan terhormat, bukan sekadar melarang.</p>
<p><strong>Menjaga Kehormatan Individu dan Masyarakat (Hifzh Al-&#8216;Irdh)</strong></p>
<p>Kehormatan merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Karena itu syariat mengharamkan segala sesuatu yang merusak kehormatan, baik berupa zina, tuduhan zina, maupun penyebaran perbuatan keji. Allah Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴾</p>
<p><em>&#8220;Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih.&#8221;</em> (QS. An-Nur: 19)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya memerangi perbuatan zina, tetapi juga budaya yang mendorong dan menormalisasikannya. Ketika pergaulan bebas dianggap biasa, maka kerusakan moral akan semakin meluas dan kehormatan masyarakat perlahan terkikis.</p>
<p><strong>Menutup Pintu Kerusakan Sebelum Terjadi</strong></p>
<p>Islam tidak menunggu kerusakan terjadi terlebih dahulu. Karena itu syariat memerintahkan berbagai langkah pencegahan, antara lain menjaga pandangan, menutup aurat, menghindari khalwat, menjaga adab pergaulan, memperbanyak puasa bagi yang belum mampu menikah, memudahkan pernikahan, serta memperkuat pendidikan agama dan akhlak.</p>
<p>Larangan zina dalam Islam bukan sekadar aturan moral, tetapi merupakan bagian dari tujuan besar syariat untuk menjaga kemaslahatan manusia. Melalui larangan zina dan segala jalan yang mengarah kepadanya, Islam berupaya menjaga jiwa (<em>Hifzh An-Nafs</em>), melindungi keturunan dan nasab (<em>Hifzh An-Nasl</em>), serta memelihara kehormatan individu dan masyarakat (<em>Hifzh Al-&#8216;Irdh</em>). Semakin tampak dampak buruk pergaulan bebas dan penyimpangan seksual, semakin jelas pula hikmah syariat dalam melindungi manusia dari kerusakan di dunia dan azab di akhirat. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3057/syariat-diturunkan-untuk-menjaga-kemaslahatan-manusia/">Syariat Diturunkan untuk Menjaga Kemaslahatan Manusia</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3057/syariat-diturunkan-untuk-menjaga-kemaslahatan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 32</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2026 16:34:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3053</guid>

					<description><![CDATA[<p>Surah an Naba’: 32 &#8211; Keindahan Makna Hadaiq dalam Gambaran Surga bagi Orang Bertakwa Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ﴿ “(Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.” [QS. an Naba’: 32]  Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pemilihan kata dalam ayat ini bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi mengandung makna kemenangan, kenikmatan, dan kesempurnaan yang sangat mendalam. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/">Tafsir Surat An-Naba’ 32</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Surah an Naba’: 32 &#8211; Keindahan Makna <em>Hadaiq</em> dalam Gambaran Surga bagi Orang Bertakwa</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>(Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur.</em><em>”</em> [QS. an Naba’: 32]<strong> </strong></p>
<p>Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pemilihan kata dalam ayat ini bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi mengandung makna kemenangan, kenikmatan, dan kesempurnaan yang sangat mendalam. Menariknya, setiap mufassir menyoroti sisi yang berbeda sehingga menghadirkan gambaran surga yang lebih hidup dan menyentuh hati.</p>
<h3><strong>Kemenangan Besar yang Dicari Orang Bertakwa</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَالْحَدَائِقُ: تَرْجَمَةٌ وَبَيَانٌ عَنِ الْمَفَازِ، وَجَازَ أَنْ يُتَرْجَمَ عَنْهُ، لِأَنَّ الْمَفَازَ مَصْدَرٌ مِنْ قَوْلِ الْقَائِلِ: فَازَ فُلَانٌ بِهَذَا الشَّيْءِ، إِذَا طَلَبَهُ فَظَفِرَ بِهِ، فَكَأَنَّهُ قِيلَ: إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ ظَفَرًا بِمَا طَلَبُوا مِنْ حَدَائِقَ وَأَعْنَابٍ، وَالْحَدَائِقُ: جَمْعُ حَدِيقَةٍ، وَهِيَ الْبَسَاتِينُ مِنَ النَّخْلِ وَالْأَعْنَابِ وَالْأَشْجَارِ الْمُحَوَّطِ عَلَيْهَا الْحِيطَانُ الْمُحْدِقَةُ بِهَا، لِإِحْدَاقِ الْحِيطَانِ بِهَا تُسَمَّى الْحَدِيقَةُ حَدِيقَةً، فَإِنْ لَمْ تَكُنِ الْحِيطَانُ بِهَا مُحْدِقَةً، لَمْ يُقَلْ لَهَا حَدِيقَةٌ، وَإِحْدَاقُهَا بِهَا: اشْتِمَالُهَا عَلَيْهَا. وَقَوْلُهُ: ﴿ وَأَعْنَابًا ﴾ يَعْنِي: وَكُرُومَ أَعْنَابٍ، وَاسْتُغْنِيَ بِذِكْرِ الْأَعْنَابِ عَنْ ذِكْرِ الْكُرُومِ</p>
<p>“Maksud dari <em>“hadaiq”</em> (kebun-kebun) adalah penjelasan dan keterangan dari kata <em>“mafaz”</em> (keberuntungan atau kemenangan). Kata itu boleh dijelaskan dengannya, karena <em>“mafaz” </em>merupakan mashdar dari ucapan seseorang: “Si Fulan memperoleh kemenangan dengan ini,” yaitu ketika ia mencarinya lalu berhasil mendapatkannya. Seakan-akan dikatakan: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa terdapat kemenangan terhadap apa yang mereka cari, berupa kebun-kebun dan buah anggur.” Kata <em>“hadaiq”</em> adalah bentuk jamak dari <em>“hadiqah”,</em> yaitu kebun-kebun yang berisi pohon kurma, tanaman anggur, dan pepohonan yang dikelilingi oleh tembok-tembok yang melingkupinya. Karena tembok-tembok itu mengelilinginya, maka kebun tersebut dinamakan <em>“hadiqah”</em>. Jika tidak ada tembok yang mengelilinginya, maka tidak disebut <em>“hadiqah”</em>. Makna <em>“iḥdaq”</em> (pengelilingan) tembok terhadapnya ialah mencakup dan meliputinya. Firman-Nya: <em>“dan buah anggur,”</em> maksudnya ialah kebun-kebun anggur. Penyebutan “buah anggur” sudah mencukupi tanpa harus menyebutkan kata “kebun-kebunnya”. (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/38, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Pada ayat sebelumnya Allah tidak langsung menyebut kenikmatan surga, tetapi terlebih dahulu menyebut “kemenangan”. Seakan-akan Allah ingin menanamkan bahwa semua kelelahan orang bertakwa di dunia tidak pernah sia-sia. Artinya, surga adalah kemenangan hakiki. Orang-orang bertakwa dahulu bersabar meninggalkan maksiat, menahan hawa nafsu, menjaga iman, dan berjuang menaati Allah. Maka, ketika mereka masuk surga, itulah puncak keberhasilan yang selama ini mereka cari.</p>
<h3><strong>Keindahannya Sangat Terjaga</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">هَذَا تَفْسِيرُ الْفَوْزِ. وَقِيلَ: ﴿ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴾ أَيْ: إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ حَدَائِقَ؛ جَمْعُ حَدِيقَةٍ، وَهِيَ الْبُسْتَانُ الْمُحَوَّطُ عَلَيْهِ، يُقَالُ: أَحْدَقَ بِهِ؛ أَيْ أَحَاطَ. وَالْأَعْنَابُ: جَمْعُ عِنَبٍ، أَيْ: كُرُومُ أَعْنَابٍ، فَحُذِفَ</p>
<p>“Ini adalah penafsiran dari makna “kemenangan”. Ada pula yang mengatakan bahwa firman Allah, <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.”</em> maksudnya ialah sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa tersedia <em>“hadaiq”</em> (kebun-kebun), yaitu bentuk jamak dari <em>“hadiqah”</em> (kebun), yakni taman atau kebun yang dikelilingi pagar atau tembok. Dikatakan, <em>“ahdaqa bihi,”</em> artinya “mengelilinginya”. Adapun <em>“al-a‘nab”</em> adalah bentuk jamak dari <em>“‘inab”</em> (anggur), maksudnya kebun-kebun anggur, lalu (kata <em>“hadaiq”</em> (kebun-kebun)) dihilangkan karena sudah dipahami maknanya.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/183, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Penjelasan ini menunjukkan bahwa surga bukan sekadar tempat hijau yang indah. Ia adalah taman yang sempurna, terjaga, nyaman, aman, dan penuh ketenangan. Tidak ada rasa takut kehilangan, tidak ada kerusakan, tidak ada kekurangan, semua kenikmatan di dalamnya benar-benar terpelihara untuk penghuninya.</p>
<h3><strong>Surga Dipenuhi Pepohonan dan Buah yang Menyejukkan Jiwa</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) memberikan penjelasan singkat:</p>
<p class="arab">﴿ حَدَائِقَ ﴾ وَالْحَدَائِقُ: الْبَسَاتِينُ مِنَ النَّخِيلِ وَغَيْرِهَا</p>
<p>“Kebun-kebun,” dan yang dimaksud dengan <em>“hadaiq”</em> ialah taman-taman atau kebun-kebun yang berisi pohon-pohon kurma dan selainnya.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/308, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Pohon kurma disebut karena menjadi simbol kemewahan, kesejukan, makanan, dan kenikmatan bagi masyarakat Arab. Namun Allah tidak membatasi hanya pada satu jenis pohon. Artinya, surga dipenuhi berbagai pepohonan, buah-buahan, dan pemandangan yang melampaui bayangan manusia. Setiap sudutnya menghadirkan kenyamanan dan setiap kenikmatannya menenangkan jiwa.</p>
<h3><strong>Sungai-Sungai Mengalir di Tengah Kebun yang Indah</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">وَفِي ذَالِكَ الْمَفَازِ لَهُمْ ﴿ حَدَائِقَ ﴾ وَهِيَ الْبَسَاتِينُ الْجَامِعَةُ لِأَصْنَافِ الْأَشْجَارِ الزَّاهِيَةِ فِي الثِّمَارِ الَّتِي تَتَفَجَّرُ بَيْنَ خِلَالِهَا الْأَنْهَارُ، وَخُصَّ الْأَعْنَابُ لِشَرَفِهَا وَكَثْرَتِهَا فِي تِلْكَ الْحَدَائِقِ</p>
<p>“Di dalam tempat kemenangan itu, mereka memperoleh <em>“kebun-kebun,”</em> yaitu taman-taman yang menghimpun berbagai jenis pepohonan yang indah dengan aneka buah-buahan, yang di sela-selanya mengalir sungai-sungai. Penyebutan anggur secara khusus disebabkan kemuliaan dan banyaknya buah tersebut di dalam kebun-kebun itu.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1073, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa kenikmatan surga bukan hanya lengkap, tetapi juga indah dipandang, nyaman dirasakan, dan membahagiakan hati. Bahkan aliran sungainya tidak berada jauh dari kebun, tetapi mengalir di tengah-tengahnya. Gambaran ini menghadirkan suasana yang sangat hidup dan menenteramkan.</p>
<p>Ayat ini bukan sekadar gambaran taman yang indah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang kemenangan besar bagi orang bertakwa, tempat yang aman dan terjaga, kebun-kebun yang penuh kenikmatan, sungai-sungai yang mengalir, serta buah-buahan terbaik yang Allah siapkan bagi hamba-Nya. Semua itu adalah balasan bagi orang-orang yang bersabar dalam ketaatan dan menjaga ketakwaan di dunia. Karena itu, ketika Allah berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> [QS. an Naba’: 31]</p>
<p>Maka kemenangan itu bukan kemenangan semu, bukan pujian manusia, bukan kemewahan dunia yang sementara, tetapi kemenangan abadi yang penuh kenikmatan dan tidak pernah berakhir. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/">Tafsir Surat An-Naba’ 32</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3053/tafsir-surat-an-naba-32/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3049/husnul-khatimah-puncak-harapan-orang-beriman-di-akhir-kehidupan/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3049/husnul-khatimah-puncak-harapan-orang-beriman-di-akhir-kehidupan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Jun 2026 04:06:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Adab & Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[akhir kehidupan yang baik]]></category>
		<category><![CDATA[akhir yang baik]]></category>
		<category><![CDATA[amal shalih]]></category>
		<category><![CDATA[cara meraih husnul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah islam]]></category>
		<category><![CDATA[husnul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[husnul khatimah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan akhirat]]></category>
		<category><![CDATA[kematian dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nasihat islam]]></category>
		<category><![CDATA[persiapan kematian]]></category>
		<category><![CDATA[tanda husnul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[tausiyah islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3049</guid>

					<description><![CDATA[<p>Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan Kehidupan dunia, sepanjang apa pun usianya dan sebanyak apa pun kesenangannya, pasti akan berakhir. Setiap manusia akan meninggalkan dunia ini. Ia akan berpisah dari keluarga, sahabat, harta, jabatan, dan semua yang pernah dicintainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3049/husnul-khatimah-puncak-harapan-orang-beriman-di-akhir-kehidupan/">Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan</strong></h2>
<p>Kehidupan dunia, sepanjang apa pun usianya dan sebanyak apa pun kesenangannya, pasti akan berakhir. Setiap manusia akan meninggalkan dunia ini. Ia akan berpisah dari keluarga, sahabat, harta, jabatan, dan semua yang pernah dicintainya.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ ﴾</p>
<p>“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)</p>
<p>Kematian adalah akhir perjalanan dunia, tetapi juga menjadi pintu menuju kehidupan akhirat. Karena itu, seorang muslim tidak hanya perlu memperhatikan bagaimana ia hidup, tetapi juga bagaimana ia akan menutup hidupnya. Sebab, yang paling penting bukan hanya banyaknya amal yang tampak, melainkan keadaan akhir seorang hamba ketika ia menghadap Allah.</p>
<p>Husnul Khatimah, Harapan Setiap Mukmin</p>
<p>Husnul khatimah adalah akhir kehidupan yang baik. Yaitu ketika seorang hamba wafat dalam keadaan beriman, bertauhid, taat kepada Allah, dan berada di atas Islam. Inilah harapan setiap mukmin dan cita-cita setiap muslim.</p>
<p>Di antara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya taufik sebelum wafat untuk melakukan amal saleh. Ia dimudahkan untuk bertaubat, kembali kepada Allah, dan menutup kehidupannya dalam keadaan taat.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">(إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ)</p>
<p>“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah akan menggunakannya.”</p>
<p>Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah menggunakannya, wahai Rasulullah?”</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">(يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ)</p>
<p>“Allah memberinya taufik untuk melakukan amal saleh sebelum kematiannya.” (HR. Imam Ahmad dalam <em>Al-Musnad</em>, 3/120.)</p>
<p>Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu karunia terbesar bagi seorang hamba adalah ketika Allah menutup hidupnya dengan amal saleh. Ia diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum ajal datang, dimudahkan untuk bertaubat sebelum pintu kehidupan tertutup, dan diarahkan kepada kebaikan sebelum berpindah menuju akhirat.</p>
<h2><strong>Para Nabi dan Orang Saleh Memohon Akhir yang Baik</strong></h2>
<p>Karena pentingnya akhir kehidupan, para nabi ‘alaihimussalam pun berwasiat kepada keluarga dan umat mereka agar menjaga iman sampai mati.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾</p>
<p>“Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.’” (QS. Al-Baqarah: 132)</p>
<p>Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga berdoa:</p>
<p class="arab">﴿ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ ﴾</p>
<p>“Wafatkanlah aku dalam keadaan muslim, dan gabungkanlah aku bersama orang-orang saleh.” (QS. Yusuf: 101)</p>
<p>Allah Ta’ala juga mengabadikan doa orang-orang beriman:</p>
<p class="arab">﴿ رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ﴾</p>
<p>“Wahai Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti.” (QS. Ali ‘Imran: 193)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa husnul khatimah bukan perkara ringan. Ia adalah nikmat besar yang harus dimohon kepada Allah dan diusahakan dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>Allah Ta’ala juga mengingatkan orang-orang beriman:</p>
<p class="arab">﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾</p>
<p>“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)</p>
<p>Kematian Adalah Saat yang Sangat Menentukan</p>
<p>Saat kematian datang, manusia berada pada keadaan yang sangat menentukan. Semua angan-angan duniawi terputus. Harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan dunia tidak lagi berguna, kecuali amal saleh yang diterima Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ۝ وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ ۝ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ ﴾</p>
<p>“Maka mengapa ketika nyawa telah sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat.” (QS. Al-Waqi‘ah: 83–85)</p>
<p>Kematian memiliki sakarat yang berat. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, manusia paling mulia, juga merasakan beratnya sakaratul maut.</p>
<p>Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat sebuah bejana kecil berisi air. Beliau memasukkan kedua tangannya ke dalam air, lalu mengusap wajahnya sambil berkata:</p>
<p class="arab">(لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ)</p>
<p>“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Sesungguhnya kematian itu memiliki sakarat.” (HR. Al-Bukhari, no. 4449)</p>
<p>Maka sungguh sakarat ini adalah keadaan yang paling menentukan dalam keadaan apa ia akan wafat apakah husnul khatimah atau sebaliknya.</p>
<p>Pada akhir kehidupan dunia, seorang hamba berada di hadapan kenyataan yang besar. Saat itu, orang yang lalai mulai tersadar. Orang yang durhaka mulai yakin. Semua angan-angan lenyap, dan seluruh impian duniawi menjadi tidak berarti.</p>
<h3><strong>Amal Bergantung pada Penutupnya</strong></h3>
<p>Akhir kehidupan adalah halaman terakhir dari buku amal manusia. Pada halaman itulah tampak tanda kebahagiaan atau kesengsaraan. Karena itu, seorang muslim tidak boleh tertipu dengan amalnya sendiri dan tidak boleh merasa aman dari ujian akhir kehidupan.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">(إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ)</p>
<p>“Sesungguhnya amal itu tergantung pada akhirnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6128)</p>
<p>Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan makna hadis ini:</p>
<p class="arab">(إِنَّ صَلَاحَهَا وَفَسَادَهَا وَقَبُولَهَا وَعَدَمَهُ بِحَسَبِ الْخَاتِمَة)</p>
<p>“Sesungguhnya baik dan rusaknya amal, diterima atau tidaknya amal tersebut, bergantung pada penutup akhirnya.”(<em>Jami‘ Al-‘Ulum wa Al-Hikam</em>, 3/10).</p>
<p>Seseorang sering kali wafat sesuai dengan kebiasaan yang ia jalani. Siapa yang hidup di atas suatu keadaan, dikhawatirkan atau diharapkan ia wafat di atas keadaan itu pula. Orang yang terbiasa hidup dalam ketaatan lebih diharapkan wafat dalam ketaatan. Sebaliknya, orang yang terbiasa hidup dalam maksiat dikhawatirkan wafat dalam keadaan maksiat, kecuali jika Allah menyelamatkannya dengan rahmat-Nya.</p>
<p>Karena itu, para salaf sangat takut terhadap su’ul khatimah. Rasa takut ini bukan karena mereka berburuk sangka kepada Allah, tetapi karena mereka sangat mengenal kelemahan diri sendiri dan sangat mengagungkan perkara akhirat.</p>
<p>Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga pernah menangis ketika sakit menjelang wafatnya. Ketika ditanya apa yang membuatnya menangis, beliau menjawab:</p>
<p class="arab">(أَمَا إِنِّي لَا أَبْكِي عَلَى دُنْيَاكُمْ هَذِهِ، وَلَكِنْ أَبْكِي عَلَى بُعْدِ سَفَرِي وَقِلَّةِ زَادِي، وَإِنِّي أَمْسَيْتُ فِي صُعُودٍ عَلَى جَنَّةٍ أَوْ نَارٍ، لَا أَدْرِي إِلَى أَيَّتِهِمَا يُؤْخَذُ بِي).</p>
<p>“Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak menangisi dunia kalian ini. Akan tetapi, aku menangis karena jauhnya perjalanan dan sedikitnya bekalku. Sungguh, aku kini berada di jalan mendaki yang berujung kepada surga atau neraka. Aku tidak tahu, ke manakah di antara keduanya aku akan dibawa.”(<em>Syarh As-Sunnah</em>, 14/373).</p>
<h3><strong>Jangan Tertipu dengan Amal yang Tampak</strong></h3>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa amal seseorang sangat bergantung pada penutupnya.</p>
<p>Dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">(إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، فَيَدْخُلُ النَّارَ)</p>
<p>“Sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk neraka, hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta, lalu ketetapan mendahuluinya, kemudian ia melakukan amalan penduduk surga, maka ia pun masuk surga. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penduduk surga, hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta, lalu ketetapan mendahuluinya, kemudian ia melakukan amalan penduduk neraka, maka ia pun masuk neraka.” (Muttafaq ‘alaih)</p>
<p>Hadis ini mengajarkan agar seorang muslim tidak tertipu dengan amalnya sendiri, tidak merasa aman dari makar Allah, dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Selama hayat masih dikandung badan, seseorang wajib terus memperbaiki diri, memohon keteguhan iman, dan berusaha agar hidupnya ditutup dengan kebaikan.</p>
<p>Sa‘id bin Jubair rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">(إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا النَّارَ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيَدْخُلُ بِهَا الْجَنَّةَ؛ وَذَلِكَ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَتَكُونُ نُصْبَ عَيْنِهِ وَيُعْجَبُ بِهَا، وَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَتَكُونُ نُصْبَ عَيْنِهِ، فَيَسْتَغْفِرُ اللهَ وَيَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْهَا)</p>
<p>“Sesungguhnya seorang hamba bisa saja melakukan satu kebaikan, lalu karena kebaikan itu ia masuk neraka. Dan seorang hamba bisa saja melakukan satu keburukan, lalu karena keburukan itu ia masuk surga. Hal itu karena ketika ia melakukan kebaikan, kebaikan tersebut selalu tampak di depan matanya, lalu ia merasa kagum dengannya. Sementara ketika ia melakukan keburukan, keburukan itu selalu tampak di depan matanya, lalu ia memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dari keburukan tersebut.”(<em>Amradh Al-Qulub wa Syifa’uha</em>, hlm. 57).</p>
<h3><strong>Menggapai Husnul Khatimah</strong></h3>
<p>Husnul khatimah tidak dapat dibeli dengan harta. Ia juga tidak diraih hanya dengan angan-angan. Siapa yang menginginkan akhir yang baik harus menempuh sebab-sebabnya.</p>
<p>Bagaimana mungkin seseorang berharap husnul khatimah, sementara ia terbiasa meninggalkan kewajiban, menunda taubat, terang-terangan berbuat dosa, atau bahkan mengajak orang lain kepada keburukan?</p>
<p>Bagaimana mungkin seseorang merasa aman, sementara ia hanya berkata, “Allah Maha Pengampun,” tetapi tidak mau kembali kepada Allah? Benar, rahmat Allah sangat luas namun perlu diingat bahwa siksaan Allah jugalah sangat pedih. Dan perlu diketahui bahwa orang yang paling layak mendapatkan rahmat-Nya adalah orang yang bertakwa, bertaubat, dan berusaha taat kepada-Nya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ ﴾</p>
<p>“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat itu bagi orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A‘raf: 156)</p>
<p>Amal saleh dan istiqomah diatasnya adalah jalan menuju husnul khatimah. Seorang muslim hendaknya menjaga shalat, memperbanyak zikir, bersedekah, berbakti kepada orang tua, membantu sesama, dan melakukan kebaikan-kebaikan yang diridhai Allah.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p class="arab">(إِنَّ صَنَائِعَ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوء)ِ.</p>
<p>“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik dapat menjaga seseorang dari kematian atau akhir yang buruk.” (HR. Ath-Thabrani dalam <em>Al-Mu‘jam Al-Kabir</em>, 8/261, dan <em>Al-Mu‘jam Al-Ausath</em>, 1/289. Al-Haitsami berkata dalam <em>Majma‘ Az-Zawa’id</em>, 3/115: “Sanadnya hasan.”).</p>
<p>Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">)وَاعْلَمْ أَنَّ سُوءَ الْخَاتِمَةِ &#8211; أَعَاذَنَا اللَّهُ تَعَالَى مِنْهَا &#8211; لَا تَكُونُ لِمَنِ اسْتَقَامَ ظَاهِرُهُ وَصَلُحَ بَاطِنُهُ، مَا سُمِعَ بِهَذَا وَلَا عُلِمَ بِهِ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَإِنَّمَا تَكُونُ لِمَنْ لَهُ فَسَادٌ فِي الْعَقْدِ، أَوْ إِصْرَارٌ عَلَى الْكَبَائِرِ، وَإِقْدَامٌ عَلَى الْعَظَائِمِ، فَرُبَّمَا غَلَبَ ذَلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى يَنْزِلَ بِهِ الْمَوْتُ قَبْلَ التَّوْبَةِ، فَيَأْخُذُهُ قَبْلَ إِصْلَاحِ الطَّوِيَّةِ، وَيَصْطَلِمُهُ قَبْلَ الْإِنَابَةِ، فَيَظْفَرُ بِهِ الشَّيْطَانُ عِنْدَ تِلْكَ الصَّدْمَةِ، وَيَخْتَطِفُهُ عِنْدَ تِلْكَ الدَّهْشَةِ، وَالْعِيَاذُ بِاللَّهِ)</p>
<p>“Ketahuilah bahwa su’ul khatimah — semoga Allah Ta‘ala melindungi kita darinya — tidak terjadi pada orang yang lahiriahnya istiqamah dan batinnya baik. Hal seperti ini tidak pernah terdengar dan tidak pernah diketahui, segala puji bagi Allah. Su’ul khatimah itu terjadi pada orang yang memiliki kerusakan dalam keyakinan, atau terus-menerus melakukan dosa-dosa besar, serta berani melakukan perkara-perkara (dosa) besar. Bisa jadi hal itu menguasai dirinya hingga kematian datang sebelum ia sempat bertaubat. Maka kematian menjemputnya sebelum ia memperbaiki keadaan batinnya, dan mencabutnya sebelum ia kembali kepada Allah. Pada saat guncangan itu, setan berhasil menguasainya, dan pada saat kebingungan itu, setan menyambarnya. Kita berlindung kepada Allah.” (<em>Ad-Da’ wa Ad-Dawa’</em>, hlm. 167).</p>
<p>Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam memperlakukan hamba-hamba-Nya. Dia menerima amal walaupun sedikit apabila dilakukan dengan ikhlas dan konsisten, lalu membalasnya dengan pahala yang besar. Dan Allah juga membuka pintu perbaikan bagi siapa saja yang ingin kembali kepada-Nya.</p>
<p>Karena itu, seorang hamba tidak boleh berputus asa hanya karena dahulu ia pernah lalai, terlambat memulai kebaikan, atau memiliki banyak kekurangan. Yang lebih penting adalah bagaimana ia memperbaiki akhir hidupnya, menyempurnakan amalnya, dan menutup perjalanan dunianya dengan ketaatan.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3049/husnul-khatimah-puncak-harapan-orang-beriman-di-akhir-kehidupan/">Husnul Khatimah: Puncak Harapan Orang Beriman di Akhir Kehidupan</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3049/husnul-khatimah-puncak-harapan-orang-beriman-di-akhir-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tafsir Surat An-Naba’ 31</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 00:12:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[An-Naba']]></category>
		<category><![CDATA[ayat tentang surga]]></category>
		<category><![CDATA[balasan orang bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kajian tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan takwa]]></category>
		<category><![CDATA[pahala bagi orang bertakwa]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran iman]]></category>
		<category><![CDATA[surat an naba]]></category>
		<category><![CDATA[surga dalam al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tadabbur quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir al quran]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir an naba ayat 31]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir juz amma]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir surat an naba 31]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3044</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31 Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Allah ﷻ berfirman: ﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿ “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan.” [QS. an Naba’: 31] Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan orang-orang yang durhaka, Al-Qur’an langsung mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berlawanan: orang-orang yang bertakwa. Peralihan ini bukan sekadar kontras, tetapi penegasan bahwa jalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/">Tafsir Surat An-Naba’ 31</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Tafsir Ringkas Qur-an Surah an Naba’: 31</strong></h2>
<p><em>Bismillah walhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا ﴿</p>
<p><em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> [QS. an Naba’: 31]</p>
<p>Setelah Allah ﷻ menggambarkan nasib mengerikan orang-orang yang durhaka, Al-Qur’an langsung mengalihkan perhatian kepada kelompok yang berlawanan: orang-orang yang bertakwa. Peralihan ini bukan sekadar kontras, tetapi <strong>penegasan bahwa jalan keselamatan itu nyata dan bisa diraih</strong>.</p>
<h3><strong>Keselamatan Nyata dari Neraka</strong></h3>
<p>Imam ath Thabari رحمه الله (w. 310 H) berkata:</p>
<p class="arab">إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَنْجًى مِنَ النَّارِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَمُخْلَصًا مِنْهَا لَهُمْ إِلَيْهَا، وَظَفَرًا بِمَا طَلَبُوا</p>
<p>“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa terdapat jalan keselamatan dari neraka menuju surga, serta tempat keluar yang menyelamatkan mereka darinya menuju ke sana, dan kemenangan dalam memperoleh apa yang mereka harapkan.” (<em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/37, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>Tafsir ini semakna dengan penjelasan dari Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) dan Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H). (lihat: <em>Jami‘ Al Bayan Fi Ta’wil Ay Al Qur-an</em>, 24/37, cet. Dar Hajar, Kairo).</p>
<p>“Mafaza” bukan sekadar <strong>tempat enak</strong>, tetapi merupakan bentuk proses kemenangan bagi orang yang bertaqwa: selamat dan keluar dari neraka, lalu berhasil masuk surga.</p>
<h3><strong>Mengapa Disebut “Mafazan”?</strong></h3>
<p>Imam al Qurthubi <strong>رحمه الله</strong>  (w. 671 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">ذَكَرَ جَزَاءَ مَنْ اتَّقَى مُخَالَفَةَ أَمْرِ اللَّهِ «مَفَازًا»، أَيْ مَوْضِعَ فَوْزٍ وَنَجَاةٍ وَخَلَاصٍ مِمَّا فِيهِ أَهْلُ النَّارِ، وَلِذَلِكَ قِيلَ لِلْفَلَاةِ إِذَا قَلَّ مَاؤُهَا: «مَفَازَةٌ»، تَفَاؤُلًا بِالْخَلَاصِ مِنْهَا.</p>
<p>“Ia menyebutkan balasan bagi orang yang menjaga diri dari menyelisihi perintah Allah <em>“mafazan”</em> yaitu tempat kemenangan, keselamatan, dan kebebasan dari keadaan yang dialami oleh para penghuni neraka. Oleh karena itu, padang sahara yang sedikit airnya disebut <em>“mafazah”</em> sebagai bentuk optimisme akan keselamatan darinya.” (<em>Al Jami‘ Li Ahkam Al Qur-an</em>, 19/182, cet. Dar Alam Al Kutub, Riyadh).</p>
<p>Kata <em>mafazan</em> mengandung <strong>optimisme</strong>, bahkan di tempat yang tampak mematikan (padang pasir), orang Arab tetap menamainya dengan harapan dan optimisme akan keselamatan darinya.</p>
<h3><strong>Tempat Nikmat atau Proses Selamat?</strong></h3>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) mengatakan:</p>
<p class="arab">يَقُولُ تَعَالَى مُخْبِرًا عَنِ السُّعَدَاءِ وَمَا أَعَدَّ لَهُمْ مِنَ الْكَرَامَةِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، فَقَالَ ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالضَّحَّاكُ مُنْتَزَهًا، وَقَالَ مُجَاهِدٌ وَقَتَادَةُ فَازُوا فَنَجَوْا مِنَ النَّارِ، وَالْأَظْهَرُ قَوْلُ ابْنِ عَبَّاسٍ</p>
<p>“Allah Ta‘ala mengabarkan tentang orang-orang yang berbahagia dan apa yang Dia siapkan bagi mereka berupa kemuliaan dan kenikmatan yang kekal. Maka Dia berfirman: <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em> Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H) dan Adh-Dhahhak <strong>رحمه الله</strong> (w. 105 H) berkata, “Yaitu tempat bersenang-senang.” Mujahid رحمه الله (w. 104 H), Qatadah رحمه الله (w. 117 H) berkata, “Mereka memperoleh kemenangan sehingga selamat dari neraka.” Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Ibnu ‘Abbasرضي الله عنها  (w. 68 H).” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/307, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p>Ada dua sudut pandang yang dinukilkan oleh Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H):</p>
<ol>
<li><strong>Hasil Akhir   :</strong> tempat kenikmatan</li>
<li><strong>Proses           :</strong> selamat dari neraka</li>
</ol>
<p>Dan beliau <strong>رحمه الله</strong> menguatkan: <strong>hasil akhir lebih dominan</strong>.</p>
<h3><strong>Siapa Itu Orang Bertakwa?</strong></h3>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">لَمَّا ذَكَرَ حَالَ الْمُجْرِمِينَ، ذَكَرَ مَآلَ الْمُتَّقِينَ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾، أَيْ: الَّذِينَ اتَّقَوْا سَخَطَ رَبِّهِمْ بِالتَّمَسُّكِ بِطَاعَتِهِ، وَالِانْكِفَافِ عَنْ مَعْصِيَتِهِ، فَلَهُمْ مَفَازٌ وَمَنْجًى، وَبُعْدٌ عَنِ النَّارِ</p>
<p>“Ketika disebutkan keadaan orang-orang yang berdosa, disebutkan pula tempat kembali orang-orang yang bertakwa, Karenanya Dia berfirman, <em>“</em><em>Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan</em><em>.”</em>. Yaitu mereka yang menjaga diri dari kemurkaan Tuhan mereka dengan berpegang teguh pada ketaatan kepada-Nya dan menahan diri dari kemaksiatan. Maka bagi mereka kemenangan, keselamatan, dan jarak dari neraka.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1072, cet. Dar Ibn Al Jauzi, Dammam).</p>
<p><strong>Kemenangan sejati hanya diraih oleh orang yang bertakwa</strong>, yaitu mereka yang menjaga diri dari murka Allah dengan cara:</p>
<ul>
<li>Istiqamah dalam ketaatan;</li>
<li>Menjauhi kemaksiatan.</li>
</ul>
<p>Balasan bagi mereka bukan sekadar kenikmatan surga, tetapi juga keselamatan dari neraka dan keamanan dari azab Allah.</p>
<p>Makna ﴿إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾ adalah kemenangan sempurna bagi orang-orang bertakwa yaitu selamat dari neraka, dijauhkan dari azab Allah, dan dimasukkan ke dalam surga penuh kenikmatan. Kemenangan ini diraih dengan istiqamah dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.</p>
<p>Dengan demikian, takwa bukan sekadar identitas atau pengakuan, tetapi jalan menuju kemenangan terbesar di sisi Allah ﷻ.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab, washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa alihi washahbihi wasallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/">Tafsir Surat An-Naba’ 31</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3044/tafsir-surat-an-naba-31/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Istri Bekerja, Suami Mokondo ?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3040/hukum-istri-bekerja-suami-mokondo/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3040/hukum-istri-bekerja-suami-mokondo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 09:49:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih keluarga islam]]></category>
		<category><![CDATA[hak dan kewajiban suami istri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum bekerja bagi istri]]></category>
		<category><![CDATA[hukum istri bekerja]]></category>
		<category><![CDATA[hukum nafkah keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[hukum suami tidak menafkahi istri]]></category>
		<category><![CDATA[istri mencari nafkah]]></category>
		<category><![CDATA[kajian keluarga muslim]]></category>
		<category><![CDATA[kewajiban nafkah suami]]></category>
		<category><![CDATA[konsultasi rumah tangga islam]]></category>
		<category><![CDATA[nafkah dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga islami]]></category>
		<category><![CDATA[suami mokondo]]></category>
		<category><![CDATA[suami pengangguran]]></category>
		<category><![CDATA[suami tidak bekerja dalam islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3040</guid>

					<description><![CDATA[<p>Hukum Istri Bekerja Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Di tengah tekanan ekonomi hari ini, semakin banyak istri ikut bekerja. Sebagian karena kebutuhan, sebagian karena gaya hidup, dan sebagian lagi karena suami tidak menjalankan perannya. Pertanyaannya bukan lagi boleh atau tidak? tapi di mana posisi yang benar menurut syariat? Nafkah Tetap Kewajiban Suami Allah Ta’ala berfirman: ﴿ ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3040/hukum-istri-bekerja-suami-mokondo/">Hukum Istri Bekerja, Suami Mokondo ?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Hukum Istri Bekerja</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Di tengah tekanan ekonomi hari ini, semakin banyak istri ikut bekerja. Sebagian karena kebutuhan, sebagian karena gaya hidup, dan sebagian lagi karena suami tidak menjalankan perannya.</p>
<p>Pertanyaannya bukan lagi <em>boleh </em>atau<em> tidak? </em>tapi di mana posisi yang benar menurut syariat?</p>
<h3><strong>Nafkah Tetap Kewajiban Suami</strong></h3>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَاءِ ﴾</p>
<p><em>“Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.” </em>(QS. An-Nisa’: 34)</p>
<p>Makna <em>Qawwam</em> mencakup:</p>
<ol>
<li>Kepemimpinan;</li>
<li>Perlindungan;</li>
<li>Tanggung jawab nafkah.</li>
</ol>
<p>Imam Ibnu Katsir  <strong>رحمه الله </strong>(w. 774 H) menjelaskan:</p>
<p class="arab">الرَّجُلُ قَيِّمٌ عَلَى الْمَرْأَةِ، أَيْ هُوَ رَئِيسُهَا وَكَبِيرُهَا وَالْحَاكِمُ عَلَيْهَا وَمُؤَدِّبُهَا إِذَا اعْوَجَّتْ</p>
<p>“Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, yaitu dia adalah orang yang memimpin, yang lebih bertanggung jawab, yang mengatur, dan yang membimbingnya ketika ia menyimpang.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 2/293, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<h3><strong>Fenomena “Mokondo” (Modal Konsumsi Doang)</strong></h3>
<p>Hari ini muncul fenomena laki-laki:</p>
<ul>
<li>Tidak serius mencari nafkah;</li>
<li>Bergantung pada istri;</li>
<li>Tapi tetap ingin dihormati sebagai “pemimpin”.</li>
</ul>
<p>Ini bukan sekadar masalah ekonomi, ini kerusakan pada konsep <em>qawamah</em>. Nabi ﷺ bersabda:</p>
<p class="arab">« وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ »</p>
<p><em>“Laki-laki adalah penanggung jawab dalam keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang-orang yang ada di bawah tanggungannya</em><em>.”</em> (HR. Bukhari no. 7138).</p>
<p>Sehingga laki-laki yang tidak menunaikan nafkah keluarganya, bukan sedang dalam “kesulitan biasa” saja, akan tetapi sedang menelantarkan amanah besar.</p>
<h3><strong>Prioritas yang Tidak Boleh Dibalik</strong></h3>
<p>Allah berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ ﴾</p>
<p><em>“Dan hendaklah kalian (para wanita) tetap di rumah-rumah kalian.”</em> (QS. Al-Ahzab: 33)</p>
<p>Ini bukan larangan mutlak keluar rumah, tapi penegasan bahwa rumah adalah poros utama peran wanita.</p>
<h3><strong>Teladan Generasi Terdahulu</strong></h3>
<p>Asma’ binti Abu Bakr رضي الله عنهما   (w. 73 H) berkata:</p>
<p class="arab">كُنْتُ أَخْدُمُ الزُّبَيْرَ خِدْمَةَ الْبَيْتِ وَكَانَ لَهُ فَرَسٌ وَكُنْتُ أَسُوسُهُ فَلَمْ يَكُنْ مِنَ الْخِدْمَةِ شَىْءٌ أَشَدَّ عَلَىَّ مِنْ سِيَاسَةِ الْفَرَسِ كُنْتُ أَحْتَشُّ لَهُ وَأَقُومُ عَلَيْهِ وَأَسُوسُهُ</p>
<p><em>“Aku dulu melayani Zubair bin ‘Awwam dalam urusan rumah. Dia memiliki seekor kuda, dan aku yang mengurusnya. Tidak ada pekerjaan yang lebih berat bagiku selain merawat kuda itu. Aku biasa mencarikan rumput untuknya, merawatnya, dan mengurusnya.</em><em>”</em> (HR. Muslim no. 2182).</p>
<p>Kisah ini menunjukkan bahwa istri boleh membantu suami sebagai bentuk dukungan, tanpa melupakan peran utamanya di rumah. Namun, ini bukan alasan membebani istri, karena nafkah tetap kewajiban suami. Intinya, rumah tangga yang sehat dibangun dengan saling memahami dan menjaga keseimbangan peran sesuai syariat.</p>
<p>Dunia kerja modern mayoritansnya penuh dengan:</p>
<ul>
<li style="list-style-type: none;">
<ul>
<li>Ikhtilath (Campur-baur antara laki-laki dan perempuan);</li>
<li>Tabarruj (Berdandan dan menampakkan hasilnya);</li>
<li>Tekanan karier.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p>Berdasarkan fakta ini Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz <strong>رحمه الله </strong>(w. 1420 H) menegaskan:</p>
<p>“Jika wajah dan tangan itu dihiasi dengan celak, make-up, dan berbagai bentuk perhiasan, maka membukanya menjadi haram berdasarkan kesepakatan ulama. Karena kebanyakan wanita pada zaman sekarang menghias wajah dan tangannya, maka keharaman membukanya menjadi lebih kuat menurut semua pendapat. Adapun apa yang dilakukan banyak wanita sekarang, seperti membuka kepala, leher, dada, lengan, kaki, bahkan sebagian paha, maka ini adalah kemungkaran yang disepakati keharamannya oleh kaum Muslimin. Tidak ragu lagi bagi orang yang memiliki sedikit pemahaman. Fitnah yang ditimbulkan sangat besar dan kerusakan yang terjadi juga sangat besar.” (https://binbaz.org.sa/fatwas/891/حكم-عمل-المرأة)</p>
<h3><strong>Jika Nafkah Belum Mencukupi</strong></h3>
<p>Tidak semua suami yang kurang nafkah adalah lalai. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿ لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ ۖ وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا ﴾</p>
<p><em>“Hendaklah orang yang mampu, memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.</em><em>”</em> (QS. At-Ṭalāq: 7)</p>
<p>Syaikh as Sa‘di<strong>  </strong><strong>رحمه الله </strong>(w. 1376 H) menjelaskan:</p>
<p>“Lalu Allah menetapkan nafkah sesuai dengan keadaan suami. Maka Allah berfirman: <em>“</em><em>Hendaklah orang yang mampu, memberi nafkah menurut kemampuannya</em><em>,”</em> artinya orang yang kaya memberi sesuai kekayaannya, bukan seperti orang miskin. <em>“Dan orang yang disempitkan rezekinya,”</em> yaitu yang rezekinya terbatas, <em>“</em><em>Hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya</em><em>.”</em>,</p>
<p><em>“Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang, melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya</em><em>.”</em> Ini menunjukkan kebijaksanaan dan kasih sayang Allah, karena setiap orang dibebani sesuai kemampuannya. Allah meringankan bagi yang kesulitan dan tidak membebani kecuali sesuai kemampuan, baik dalam nafkah maupun yang lainnya. <em>“</em><em>Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan</em><em>.”</em> Ini adalah kabar gembira bagi orang yang sedang kesulitan, bahwa Allah akan menghilangkan kesusahan dan menggantinya dengan kemudahan.” (<em>Taysir Al Karim Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan</em>, hlm. 1034, cet. Dar Ibnul Jauzi, Dammam)</p>
<h3><strong>Sikap Seorang Istri:</strong></h3>
<ol>
<li><strong> Menguatkan dengan taqwa dan doa</strong></li>
</ol>
<p>Karena solusi bukan hanya materi, tapi juga memperbaiki hubungan dengan Allah dan memperbanyak doa serta tawakal. (baca: <a href="https://fiqh.islamonline.net/%D9%87%D8%AC%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%AC%D8%A9-%D8%B2%D9%88%D8%AC%D9%87%D8%A7-%D8%A8%D8%B3%D8%A8%D8%A8-%D9%81%D9%82%D8%B1%D9%87/">https://fiqh.islamonline.net/هجر-الزوجة-زوجها-بسبب-فقره/</a>).<strong> </strong></p>
<ol start="2">
<li><strong> Bersabar dan tidak tergesa meminta berpisah</strong></li>
</ol>
<p>Istri dianjurkan bersabar atas kondisi suami yang fakir, selama ia tetap berusaha. (baca: <a href="https://www.islamweb.net/ar/fatwa/118778/">https://www.islamweb.net/ar/fatwa/118778/</a>).</p>
<ol start="3">
<li><strong> Boleh membantu suami sekedarnya, bahkan dengan harta sendiri</strong></li>
</ol>
<p>Istri boleh membantu suami secara finansial. Bahkan boleh memberikan zakat kepada suami yang fakir, jika memenuhi syarat. (baca: <a href="https://islamqa.info/ar/answers/627252">https://islamqa.info/ar/answers/627252</a>).</p>
<ol start="4">
<li><strong> Memahami bahwa nafkah sesuai kemampuan suami, bukan tuntutan mutlak</strong></li>
</ol>
<p>Nafkah tidak harus sama untuk semua orang. Disesuaikan dengan kemampuan suami dan kondisi yang ada (<em>bil ma’ruf</em>). (baca: <a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/21665/">https://binbaz.org.sa/fatwas/21665/</a>).</p>
<ol start="5">
<li><strong> Hidup sederhana dan menyesuaikan kondisi</strong></li>
</ol>
<p>Istri dianjurkan menyesuaikan gaya hidup dengan keadaan suami dan tidak membandingkan dengan standar orang lain atau media sosial. (baca: <a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/21665/">https://binbaz.org.sa/fatwas/21665/</a>).</p>
<ol start="6">
<li><strong> Istri boleh menerima bantuan (zakat) atau memilih berpisah dengan cara baik</strong></li>
</ol>
<p>Jika suami tidak mampu sama sekali dalam jangka panjang, istri boleh menerima bantuan (zakat) atau memilih berpisah dengan cara baik. (baca: <a href="https://islamqa.info/ar/answers/102755">https://islamqa.info/ar/answers/102755</a>)</p>
<p>Nafkah tetap kewajiban suami, sedangkan istri boleh membantu tanpa meninggalkan peran utamanya. Jika nafkah belum cukup, sikap terbaik adalah sabar, saling menguatkan, hidup sesuai kemampuan, dan bertawakal. Intinya, keharmonisan rumah tangga dibangun dengan keseimbangan peran dan ketaatan kepada syariat. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3040/hukum-istri-bekerja-suami-mokondo/">Hukum Istri Bekerja, Suami Mokondo ?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3040/hukum-istri-bekerja-suami-mokondo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 04:51:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<category><![CDATA[adab menyambut jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[amalan setelah haji]]></category>
		<category><![CDATA[doa untuk jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[fiqih haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum acara penyambutan haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum menjamu jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum syar'i penyambutan haji.]]></category>
		<category><![CDATA[hukum syukuran haji]]></category>
		<category><![CDATA[hukum walimah haji]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah haji]]></category>
		<category><![CDATA[islam dan haji]]></category>
		<category><![CDATA[jamaah haji pulang]]></category>
		<category><![CDATA[kajian fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[kajian islam tentang haji]]></category>
		<category><![CDATA[manasik haji]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah menyambut jamaah haji]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi menyambut haji]]></category>
		<category><![CDATA[tuntunan haji sesuai sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[ustadz ammi nur baits]]></category>
		<category><![CDATA[walimah haji dalam islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3034</guid>

					<description><![CDATA[<p>Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan. Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/">Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Bolehkah Menyambut dan Mengadakan Jamuan Makan atas Kepulangan Jamaah Haji</strong></h2>
<p>Kepulangan seseorang dari ibadah haji biasanya menjadi momen yang sangat membahagiakan. Keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat sekitar sering kali ikut menyambut kedatangannya dengan rasa syukur. Di sebagian tempat, penyambutan itu dilakukan dengan kunjungan, ucapan selamat, doa, bahkan jamuan makan.</p>
<p>Lalu, bagaimana hukum merayakan kepulangan jamaah haji dan membuatkan makanan untuknya? Apakah hal seperti ini dibolehkan dalam syariat?</p>
<p>Secara umum, menyambut orang yang datang dari haji, memberi ucapan selamat, dan membuatkan jamuan makan untuknya adalah perkara yang dibolehkan. Bahkan, jika orang yang baru pulang dari haji itu sendiri membuat makanan lalu mengundang orang lain, hal tersebut juga dibolehkan. Maka, apabila keluarga atau masyarakat yang membuatkan makanan untuknya sebagai bentuk penghormatan dan rasa syukur, tentu hal itu juga masuk dalam perkara yang boleh, selama tidak disertai hal-hal yang dilarang.</p>
<p>Dasar kebolehannya adalah karena dalam sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat riwayat yang menunjukkan adanya penyambutan terhadap orang yang datang dari perjalanan. Penyambutan ini tidak hanya terbatas pada perjalanan haji, tetapi juga mencakup perjalanan lain seperti umrah, dagang, jihad, atau safar secara umum.</p>
<p>Dalil tentang Menyambut Orang yang Datang dari Perjalanan</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:</p>
<p class="arab">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ اسْتَقْبَلَتْهُ أُغَيْلِمَةُ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَحَمَلَ وَاحِدًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَآخَرَ خَلْفَهُ.</p>
<p>“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, ‘Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Makkah, anak-anak kecil dari Bani Abdul Muthalib menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari mereka di depan beliau dan yang lain di belakang beliau.’”</p>
<p>Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam <em>Shahih Al-Bukhari</em>, no. 1704, dalam Kitab Al-‘Umrah. Imam Al-Bukhari membuat judul bab untuk hadis ini:</p>
<p class="arab">بَابُ اسْتِقْبَالِ الْحَاجِّ الْقَادِمِينَ، وَالثَّلَاثَةِ عَلَى الدَّابَّةِ</p>
<p>“Bab menyambut orang-orang haji yang datang, dan tiga orang berada di atas kendaraan.”</p>
<p>Pemberian judul bab oleh Imam Al-Bukhari ini menunjukkan bahwa menyambut orang yang datang dari haji termasuk perkara yang dikenal dan memiliki dasar dalam sunnah.</p>
<p>Dalam riwayat lain, Ibnu Az-Zubair pernah berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum:</p>
<p class="arab">وَقَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ لِابْنِ جَعْفَرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ: أَتَذْكُرُ إِذْ تَلَقَّيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَأَنْتَ وَابْنُ عَبَّاسٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَحَمَلَنَا وَتَرَكَكَ.</p>
<p>“Ibnu Az-Zubair berkata kepada Ibnu Ja‘far radhiyallahu ‘anhum, ‘Apakah engkau ingat ketika aku, engkau, dan Ibnu Abbas menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?’ Ibnu Ja‘far menjawab, ‘Ya, lalu beliau membawa kami dan meninggalkanmu.’”(HR. Al-Bukhari, no. 2916).</p>
<p>Dari Abdullah bin Ja‘far radhiyallahu ‘anhu, beliau juga berkata:</p>
<p class="arab">عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ تُلُقِّيَ بِنَا. قَالَ: فَتُلُقِّيَ بِي وَبِالْحَسَنِ أَوْ بِالْحُسَيْنِ. قَالَ: فَحَمَلَ أَحَدَنَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَالْآخَرَ خَلْفَهُ حَتَّى دَخَلْنَا الْمَدِينَةَ.</p>
<p>“Dari Abdullah bin Ja‘far, ia berkata, ‘Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari perjalanan, kami biasa dibawa untuk menyambut beliau.’ Ia berkata, ‘Maka aku bersama Al-Hasan atau Al-Husain dibawa untuk menyambut beliau. Lalu beliau membawa salah seorang dari kami di depan beliau dan yang lain di belakang beliau, sampai kami masuk ke Madinah.’” (HR. Muslim, no. 2428).</p>
<p>Hadis-hadis di atas menunjukkan bahwa menyambut kedatangan orang yang pulang dari perjalanan adalah perkara yang dibolehkan. Jika penyambutan terhadap musafir secara umum dibolehkan, maka menyambut orang yang pulang dari ibadah haji juga dibolehkan, selama tidak disertai perkara yang melanggar syariat.</p>
<p>Jamuan Makan untuk Orang yang Pulang dari Safar</p>
<p>Di antara bentuk penyambutan orang yang datang dari perjalanan adalah membuat makanan untuknya. Dalam istilah fikih, makanan yang dibuat karena kedatangan seseorang dari safar disebut النقيعة (<em>an-naqī‘ah</em>).</p>
<p>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ النَّقِيعَةُ، وَهِيَ طَعَامٌ يُعْمَلُ لِقُدُومِ الْمُسَافِرِ، وَيُطْلَقُ عَلَى مَا يَعْمَلُهُ الْمُسَافِرُ الْقَادِمُ، وَعَلَى مَا يَعْمَلُهُ غَيْرُهُ لَهُ.</p>
<p>“Dianjurkan an-naqī‘ah, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan musafir. Istilah ini digunakan untuk makanan yang dibuat oleh musafir yang baru datang, dan juga untuk makanan yang dibuat oleh orang lain untuknya.”</p>
<p>Kemudian beliau melanjutkan, Di antara dalil yang digunakan dalam masalah ini adalah hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu:</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ سَفَرِهِ نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً.</p>
<p>“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah dari perjalanannya, beliau menyembelih seekor unta atau sapi.” (<em>Al-Majmu‘ Syarh Al-Muhadzdzab</em>, 4/400).</p>
<p>Dalam kitab <em>Manasik Al-Hajj wa Al-‘Umrah fi Al-Islam fi Dhau’ Al-Kitab wa As-Sunnah</em> (hlm. 704), disebutkan:</p>
<p class="arab">يُسْتَحَبُّ جَمْعُ الْأَصْحَابِ وَإِطْعَامُهُمْ عِنْدَ الْقُدُومِ مِنَ السَّفَرِ؛ لِفِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.</p>
<p>“Dianjurkan mengumpulkan sahabat dan memberi mereka makan ketika datang dari perjalanan, berdasarkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”</p>
<p>Kemudian disebutkan hadis Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma diatas.</p>
<p>Keterangan ini menunjukkan bahwa membuat makanan karena kedatangan seseorang dari perjalanan memiliki dasar dalam pembahasan fikih. Karena itu, apabila seorang jamaah haji yang baru pulang membuat makanan dan mengundang orang lain, hal itu dibolehkan. Demikian pula jika keluarga, kerabat, atau masyarakat membuatkan makanan untuk menyambutnya.</p>
<p>Al-Qalyubi rahimahullah menyebutkan beberapa adab ketika seseorang kembali dari perjalanan. Beliau berkata:</p>
<p class="arab">يُنْدَبُ أَنْ يَحُجَّ الرَّجُلُ بِأَهْلِهِ، وَأَنْ يَحْمِلَ هَدِيَّةً مَعَهُ، وَأَنْ يَأْتِيَ إِذَا عَادَ مِنْ سَفَرٍ &#8211; وَلَوْ قَصِيرًا &#8211; بِهِبَةٍ لِأَهْلِهِ، وَأَنْ يُرْسِلَ لَهُمْ مَنْ يُخْبِرُهُمْ بِقُدُومِهِ إِنْ لَمْ يَعْلَمُوا بِهِ، وَأَنْ يَقْصِدَ أَقْرَبَ مَسْجِدٍ فَيُصَلِّيَ فِيهِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةَ الْقُدُومِ، وَأَنْ يُصْنَعَ لَهُ وَلِيمَةٌ تُسَمَّى النَّقِيعَةَ، وَأَنْ يَتَلَقَّوْهُ كَغَيْرِهِمْ، وَأَنْ يُقَالَ لَهُ &#8211; إِنْ كَانَ حَاجًّا أَوْ مُعْتَمِرًا &#8211; تَقَبَّلَ اللَّهُ حَجَّكَ وَعُمْرَتَكَ، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَأَخْلَفَ عَلَيْكَ نَفَقَتَكَ.</p>
<p>“Dianjurkan bagi seseorang untuk berhaji bersama keluarganya, membawa hadiah bersamanya, dan ketika ia kembali dari perjalanan — meskipun perjalanan singkat — ia membawa pemberian untuk keluarganya. Dianjurkan pula mengirim orang untuk memberi tahu keluarganya tentang kedatangannya apabila mereka belum mengetahuinya, menuju masjid terdekat lalu shalat dua rakaat sebagai sunnah kedatangan (dari safar), dibuatkan untuknya jamuan yang disebut an-naqī‘ah, disambut sebagaimana orang lain disambut, dan dikatakan kepadanya jika ia seorang haji atau umrah: ‘Semoga Allah menerima haji dan umrahmu, mengampuni dosamu, dan mengganti nafkahmu.’” (<em>Hasyiyah Al-Qalyubi ‘ala Syarh Al-Minhaj</em>, 2/190).</p>
<p>Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pernah ditanya tentang kebiasaan sebagian masyarakat, khususnya di desa-desa, yang membuat jamuan setelah jamaah haji pulang dari Makkah. Jamuan tersebut terkadang disebut “sembelihan untuk jamaah haji”, “kegembiraan atas kepulangan jamaah haji”, atau “syukuran keselamatan jamaah haji”. Dalam pertanyaan itu juga disebutkan bahwa terkadang acara tersebut disertai sikap berlebihan dan pemborosan.</p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">هَذَا لَا بَأْسَ بِهِ، لَا بَأْسَ بِإِكْرَامِ الْحُجَّاجِ عِنْدَ قُدُومِهِمْ؛ لِأَنَّ هَذَا يَدُلُّ عَلَى الِاحْتِفَاءِ بِهِمْ، وَيُشَجِّعُهُمْ أَيْضًا عَلَى الْحَجِّ، لَكِنِ التَّبْذِيرُ الَّذِي أَشَرْتَ إِلَيْهِ وَالْإِسْرَافُ هُوَ الَّذِي يُنْهَى عَنْهُ؛ لِأَنَّ الْإِسْرَافَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ، سَوَاءٌ بِهَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ، أَوْ غَيْرِهَا.</p>
<p>“Hal itu tidak mengapa. Tidak mengapa memuliakan para jamaah haji ketika mereka datang, karena hal ini menunjukkan penghormatan kepada mereka dan juga dapat mendorong mereka untuk melaksanakan haji. Akan tetapi, pemborosan yang engkau sebutkan dan sikap berlebihan itulah yang dilarang. Sebab, berlebihan itu dilarang, baik dalam kesempatan ini maupun kesempatan lainnya.”</p>
<p>Kemudian beliau menyebutkan firman Allah Ta‘ala:</p>
<p class="arab">وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ</p>
<p>“Janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An‘am: 141).</p>
<p>Allah Ta‘ala juga berfirman:</p>
<p class="arab">إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ</p>
<p>“Sesungguhnya orang-orang yang melakukan pemborosan itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27).</p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah kemudian melanjutkan:</p>
<p class="arab">لَكِنْ إِذَا كَانَتْ وَلِيمَةً مُنَاسِبَةً، عَلَى قَدْرِ الْحَاضِرِينَ، أَوْ تَزِيدُ قَلِيلًا: فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ مِنَ النَّاحِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ، وَمِنَ النَّاحِيَةِ الِاجْتِمَاعِيَّةِ.</p>
<p>“Namun, apabila jamuan itu sesuai, sekadar jumlah orang yang hadir atau lebih sedikit, maka hal itu tidak mengapa, baik dari sisi syariat maupun dari sisi sosial.”(<em>Liqa’at Al-Bab Al-Maftuh</em>, pertemuan ke-154, pertanyaan no. 12).</p>
<p>Dari fatwa ini dapat disimpulkan bahwa yang dilarang bukanlah acara penyambutan atau jamuan itu sendiri, melainkan pemborosan, sikap berlebihan, dan memaksakan diri di luar kemampuan.</p>
<p>Berdasarkan ulasan di atas, mengadakan jamuan setelah kepulangan jamaah haji pada dasarnya termasuk perkara yang dibolehkan, selama tidak diyakini sebagai sesuatu yang wajib atau sebagai bagian khusus dari rangkaian ibadah haji yang harus dilakukan. Jamuan tersebut juga harus dijaga dari penyimpangan, kemaksiatan, sikap berlebihan, pemborosan, dan hal-hal yang memberatkan.</p>
<p>Apabila jamuan itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, penghormatan kepada tamu, penyambutan terhadap orang yang baru pulang dari perjalanan, serta sarana mempererat silaturahmi, maka hukumnya boleh. Terlebih dalam pembahasan fikih dikenal istilah <em>an-naqī‘ah</em>, yaitu makanan yang dibuat karena kedatangan seorang musafir.</p>
<p>Dengan demikian, selama batasan-batasan syariat tersebut dijaga, maka acara penyambutan jamaah haji dan jamuan makan untuknya termasuk perkara yang dibolehkan.</p>
<p>Dan tidak mengapa memberi ucapan selamat kepada orang yang baru pulang dari haji. Ucapan tersebut boleh menggunakan kalimat apa saja selama maknanya baik, dibolehkan dalam syariat, dan berisi doa.</p>
<p>Di antara ucapan yang baik adalah:</p>
<p class="arab">تَقَبَّلَ اللَّهُ طَاعَتَكُمْ</p>
<p>“Semoga Allah menerima ketaatan kalian.”</p>
<p>Atau:</p>
<p class="arab">حَجًّا مَبْرُورًا وَسَعْيًا مَشْكُورًا</p>
<p>“Semoga menjadi haji yang mabrur dan usaha yang diterima.”</p>
<p>Atau:</p>
<p class="arab">تَقَبَّلَ اللَّهُ نُسُكَكَ، وَأَعْظَمَ أَجْرَكَ، وَأَخْلَفَ نَفَقَتَكَ</p>
<p>“Semoga Allah menerima ibadah manasikmu, memperbesar pahalamu,</p>
<p>Ibnu Muflih rahimahullah menyebutkan:</p>
<p class="arab">وَأَمَّا الْحَاجُّ فَسَمِعْنَا عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي قِلَابَةَ، وَأَنَّ النَّاسَ لَيَدْعُونَ.</p>
<p>“Adapun tentang orang yang berhaji, kami mendengar dari Ibnu Umar dan Abu Qilabah bahwa orang-orang mendoakannya.” (Ibnu Muflih, <em>Al-Furu‘</em>, 6/193–194).</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/">Hukum Walimah Haji Menyambut dan Menjamu Jamaah</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3034/hukum-walimah-haji-menyambut-dan-menjamu-jamaah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz M. Faqihudin Ismail, B.A, M.A.]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 22:30:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Haji & Umrah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3030</guid>

					<description><![CDATA[<p>Untukmu yang Baru Pulang Berhaji Betapa cepat hari-hari berlalu. Rasanya baru sekejap kita menanti datangnya Dzulhijjah, lalu hari-hari agung itu pun telah pergi. Musim ketaatan datang membawa peluang amal, lalu berlalu meninggalkan catatan yang kelak akan dibuka di hadapan Allah. Allah Ta’ala berfirman: ﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/">Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</strong></h2>
<p>Betapa cepat hari-hari berlalu. Rasanya baru sekejap kita menanti datangnya Dzulhijjah, lalu hari-hari agung itu pun telah pergi. Musim ketaatan datang membawa peluang amal, lalu berlalu meninggalkan catatan yang kelak akan dibuka di hadapan Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا ۝ اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا﴾</p>
<p>“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan catatan amalnya di lehernya. Dan pada Hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.” <em>[QS. Al-Isra’: 13–14]</em></p>
<p>Sungguh, kaum muslimin baru saja melewati hari-hari yang mulia: sepuluh hari pertama Dzulhijjah, hari Arafah, hari Nahr, dan hari-hari Tasyriq. Pada hari-hari itu, lisan kaum muslimin basah dengan takbir, tahlil, talbiyah, doa, dan zikir. Hati mereka diarahkan untuk mengagungkan Allah, mentauhidkan-Nya, dan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya.</p>
<p>Di hari-hari itu pula, para jamaah haji menunaikan salah satu ibadah terbesar. Mereka berihram dari miqat, berdiri di Arafah dengan penuh harap dan ketundukan, bermalam di Muzdalifah, melontar jumrah, thawaf di Baitullah, dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Itulah perjalanan iman; perjalanan seorang hamba yang datang dengan kelemahan dirinya, lalu berharap pulang membawa rahmat dan ampunan Rabb-nya.</p>
<p>Maka siapa yang dimudahkan oleh Allah untuk berhaji, hendaklah ia bergembira dengan karunia itu; bukan gembira karena bangga, tetapi gembira karena syukur karena sadar itu semua berkat kemudahan dan karunia dari Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾</p>
<p>“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” <em>[QS. Yunus: 58]</em></p>
<p>Haji adalah amal yang sangat utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amal yang paling utama. Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">&#8220;إِيمان بالله ورسوله، قال: ثم ماذا؟ قال: جِهادٌ في سبيل الله، قال: ثم ماذا؟ ‌قال: ‌حَجٌّ ‌مبرورٌ&#8221;</p>
<p>“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Dikatakan, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berjihad di jalan Allah.”</p>
<p>Dikatakan lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” <em>(Muttafaqun ‘alaih)</em></p>
<p>Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:</p>
<p class="arab">«مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ»</p>
<p>“Barang siapa menunaikan haji, lalu tidak berkata kotor dan tidak berbuat fasik, maka ia kembali seperti pada hari ketika ibunya melahirkannya.” (<em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Dan beliau bersabda:</p>
<p class="arab">«الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»</p>
<p>“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (<em>Muttafaqun ‘alaih)</em>.</p>
<p>Jika haji memiliki kedudukan sedemikian agung, maka nikmat dapat menunaikannya harus disambut dengan syukur dengan banyak memuji dan menyebut nama nama Allah dan dijaga dengan istiqamah. Sebab nikmat yang disyukuri akan mengundang tambahan karunia, sedangkan nikmat yang dilalaikan dapat menjadi sebab kerugian.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman setelah menyebutkan penyelesaian manasik:</p>
<p class="arab">﴿فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا﴾</p>
<p>“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau bahkan berdzikirlah lebih banyak dari itu.” <em>[QS. Al-Baqarah: 200]</em></p>
<p>Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:</p>
<p class="arab">»إِنَّ النِّعْمَةَ مَوْصُولَةٌ بِالشُّكْرِ، وَالشُّكْرُ يَتَعَلَّقُ بِالْمَزِيدِ، وَهُمَا مَقْرُونَانِ فِي قَرَنٍ، فَلَنْ يَنْقَطِعَ الْمَزِيدُ مِنَ اللهِ حَتَّى يَنْقَطِعَ الشُّكْرُ مِنَ الْعَبْدِ«</p>
<p>“Sesungguhnya nikmat itu tersambung dengan syukur. Syukur berkaitan erat dengan bertambahnya nikmat. Keduanya terikat dalam satu ikatan. Maka tambahan karunia dari Allah tidak akan terputus, sampai syukur dari seorang hamba itu terputus<em>.” (‘Uddatush Shabirin, hlm. 123)</em>.</p>
<p>Maka pertanyaan besar setelah haji adalah: apa yang berubah dalam diri kita?</p>
<p>Apakah setelah talbiyah berhenti, hati juga berhenti mengingat Allah? Apakah setelah ihram ditanggalkan, ketakwaan juga ikut ditanggalkan? Apakah setelah kembali dari Tanah Suci, seorang hamba kembali kepada kebiasaan lamanya, atau justru memulai hidup baru yang lebih dekat kepada Allah?</p>
<p>Sesungguhnya musim ketaatan bukanlah sekadar hari-hari yang datang lalu pergi. Ia adalah madrasah bagi hati, pintu taubat, dan kesempatan untuk memperbarui janji dengan Allah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾</p>
<p>“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung<em>.” [QS. An-Nur: 31]</em></p>
<p>Tanda seseorang mengambil manfaat dari musim ketaatan adalah ketika bekasnya tampak setelah musim itu berlalu. Salatnya lebih terjaga. Lisannya lebih bersih. Hatinya lebih lembut. Akhlaknya lebih baik. Ia lebih berhati-hati dari dosa, lebih mudah bersimpuh dihadapan Allah, kembali kepada Allah, dan lebih takut menyia-nyiakan amalnya.</p>
<p>Adapun orang yang giat di musim ibadah, lalu setelah itu kembali kepada kelalaian dan maksiat, maka ia seperti orang yang membongkar kembali tenunan yang telah ia pintal sendiri.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا﴾</p>
<p>“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya yang telah dipintal dengan kuat, sehingga tercerai-berai kembali.” <em>[QS. An-Nahl: 92]</em></p>
<p>Karena itu, setelah haji seorang hamba membutuhkan dua hal besar: istiqamah dan istighfar. Istiqamah agar ia tetap berjalan di atas ketaatan. Istighfar karena ia sadar bahwa amalnya selalu memiliki kekurangan.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ﴾</p>
<p>“Maka istiqamahlah kalian menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” <em>[QS. Fussilat: 6]</em></p>
<p>Orang beriman tidak hanya beramal, tetapi juga takut amalnya tidak diterima. Ia tidak tertipu oleh ibadahnya. Ia tidak merasa aman karena banyaknya ketaatan. Ia beramal dengan harap, tetapi juga membawa rasa takut yang mendidik hatinya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ۝ أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ﴾</p>
<p>“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati penuh rasa takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” <em>[QS. Al-Mu’minun: 60–61]</em></p>
<p>Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ayat tersebut, apakah yang dimaksud adalah orang yang mencuri, berzina, dan meminum khamar, sementara ia takut kepada Allah? Maka beliau bersabda:</p>
<p class="arab">»لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَهُمْ يَخَافُونَ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ«</p>
<p>“Tidak, wahai putri Ash-Shiddiq. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang berpuasa, salat, dan bersedekah, namun mereka takut amal-amal itu tidak diterima dari mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3175, dan Ibnu Majah, no. 4198).</p>
<p>Maka janganlah seorang hamba tertipu oleh banyaknya amal. Sebab amal hanya diterima apabila ikhlas karena Allah dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا﴾</p>
<p>“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” <em>[QS. Al-Kahfi: 110]</em></p>
<p>Maka perkara pertama yang harus dijaga setelah haji adalah tauhid kepada Allah. Tidak ada yang disembah selain Allah. Tidak ada yang dimintai doa selain Allah. Tidak ada tempat bergantung dan bertawakal kecuali kepada Allah. Tauhid adalah pokok agama; dengannya amal diterima, dan dengan rusaknya tauhid, amal menjadi terancam.</p>
<p>Setelah tauhid, jagalah tanda-tanda haji yang mabrur: salat yang lebih terjaga, hati yang lebih lembut, akhlak yang lebih baik, lisan yang lebih bersih, harta yang lebih hati-hati, hubungan keluarga yang lebih tersambung, dan kehidupan yang lebih dekat kepada akhirat.</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ditanya, “Apa tanda haji mabrur?” Beliau menjawab:</p>
<p class="arab">«آيَةُ ذَلِكَ أَنْ يَرْجِعَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الآخِرَةِ»</p>
<p>“Tandanya adalah seseorang kembali dalam keadaan lebih zuhud terhadap dunia dan lebih merindukan akhirat<em>.” (Lathā’if al-Ma‘ārif, hlm. 125).</em></p>
<p>Mendawamkan ketaatan memiliki pengaruh besar bagi hati. Ia menyambungkan hati dengan Allah, melatih jiwa di atas kebaikan, dan membuka pintu cinta Allah kepada hamba-Nya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:</p>
<p class="arab">»وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِي لَأُعِيذَنَّهُ«</p>
<p>“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberinya. Dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, sungguh Aku akan melindunginya.” <em>(HR. Al-Bukhari, no. 6502).</em></p>
<p>Seorang hamba harus selalu bertakwalah kepada Allah, melaksanakan ketaatan kepadaNya, menjaga ibadah baik yang wajib maupun sunnahnya. Jangan sampai Allah melihat kita berada di tempat yang Dia larang, dan jangan sampai Allah tidak mendapati kita di tempat yang Dia perintahkan. Sesungguhnya Allah mengetahui pandangan mata yang berkhianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada.</p>
<p>Selain itu, seorang mukmin harus berbaik sangka kepada Allah. Ia berharap amalnya diterima, dosanya diampuni, dan rahmat Allah meliputi dirinya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman dalam hadis qudsi:</p>
<p class="arab">«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي»</p>
<p>“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku<em>.” (Muttafaqun ‘alaih).</em></p>
<p>Namun husnuzan kepada Allah bukan alasan untuk terus bermaksiat. Husnuzan yang benar adalah yang melahirkan taubat dan amal saleh. Adapun orang yang tenggelam dalam dosa, melampaui batas Allah, lalu berkata, “Aku berbaik sangka kepada Rabb-ku,” maka itu bukan husnuzan, melainkan angan-angan yang menipu.</p>
<p>Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:</p>
<p class="arab">»إِنَّ قَوْمًا أَلْهَتْهُمُ الأَمَانِيُّ حَتَّى خَرَجُوا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا لَهُمْ مِنْ حَسَنَةٍ، يَقُولُ أَحَدُهُمْ: إِنِّي أُحْسِنُ الظَّنَّ بِرَبِّي. وَكَذَبَ&#8230; وَلَوْ أَحْسَنَ الظَّنَّ لَأَحْسَنَ العَمَلَ«</p>
<p>“Sesungguhnya ada suatu kaum yang dilalaikan oleh angan-angan, hingga mereka keluar dari dunia dalam keadaan tidak memiliki satu pun kebaikan. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sesungguhnya aku berbaik sangka kepada Rabb-ku.’ Ia telah berdusta. Seandainya ia benar-benar berbaik sangka kepada Allah, niscaya ia akan memperbaiki amalnya.” <em>(At-Tadzkirah bi Ahwāl al-Mautā wa Umūr al-Ākhirah, hlm. 128).</em></p>
<p>Musim haji mungkin telah berlalu, tetapi ibadah tidak pernah selesai selama nyawa masih berada di badan. Seorang mukmin adalah hamba Allah di setiap waktu: dalam salatnya, zikirnya, akhlaknya, amanahnya, pekerjaannya, keluarganya, lisannya, hartanya, dan seluruh jalan hidupnya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p class="arab">﴿وَمَا خَلَقْتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾</p>
<p>“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” <em>[QS. Adz-Dzariyat: 56]</em></p>
<p>Maka alangkah indahnya bila seseorang pulang dari haji dengan hati yang lebih tunduk, akhlak yang lebih lembut, pikiran yang lebih jernih, dan hidup yang lebih dekat kepada Allah. Itulah buah haji yang berbekas.</p>
<p>Karena itu, tetaplah bermuhasabah. Perbanyaklah istighfar setelah amal, sebagaimana Allah memerintahkan istighfar di akhir rangkaian haji:</p>
<p class="arab">﴿ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾</p>
<p>“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak, yaitu Arafah, dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” <em>[QS. Al-Baqarah: 199]</em></p>
<p>Maka teguhlah di atas ketaatan setelah berhaji. Jagalah tauhid. Rawatlah salat. Lembutkan hati. Bersihkan lisan. Perbaiki akhlak. Perbanyak zikir, syukur, dan istighfar. Mohonlah kepada Allah agar amal diterima dan hati diteguhkan.</p>
<p>Sebab ukuran sebenarnya bukanlah seberapa besar semangat seorang hamba di awal perjalanan, tetapi seberapa jujur ia menjaga ketaatan hingga akhir kehidupan.</p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/">Untukmu yang Baru Pulang Berhaji</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3030/untukmu-yang-baru-pulang-berhaji/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3020/apakah-puasa-arofah-menghapus-dosa-besar/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3020/apakah-puasa-arofah-menghapus-dosa-besar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 05:14:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[amalan hari arafah]]></category>
		<category><![CDATA[apakah puasa arafah menghapus dosa besar]]></category>
		<category><![CDATA[dosa besar dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[dosa kecil dan dosa besar]]></category>
		<category><![CDATA[fikih puasa sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[hadits puasa arafah]]></category>
		<category><![CDATA[hukum puasa arafah]]></category>
		<category><![CDATA[keistimewaan puasa arafah]]></category>
		<category><![CDATA[keutamaan puasa arafah]]></category>
		<category><![CDATA[pahala puasa arafah]]></category>
		<category><![CDATA[penghapus dosa dalam islam]]></category>
		<category><![CDATA[penjelasan ulama tentang puasa arafah]]></category>
		<category><![CDATA[puasa arafah dan dosa besar]]></category>
		<category><![CDATA[puasa arafah menghapus dosa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa sunnah dzulhijjah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3020</guid>

					<description><![CDATA[<p>Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar? Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Puasa hari ‘Arafah termasuk amalan yang sangat agung. Nabi ﷺ (w. 11 H) bersabda: « صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ » “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3020/apakah-puasa-arofah-menghapus-dosa-besar/">Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Puasa hari ‘Arafah termasuk amalan yang sangat agung. Nabi ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">« صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ »</p>
<p>“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim no.1162).</p>
<p>Namun muncul pertanyaan penting, <em>“Apakah keutamaan ini mencakup dosa besar juga? Ataukah hanya dosa-dosa kecil?</em>” Jawaban masalah ini perlu dipahami dengan hati-hati agar seseorang tidak salah paham lalu merasa aman terus-menerus melakukan dosa besar hanya karena berpuasa ‘Arafah.</p>
<p><strong>Yang Dihapus oleh Puasa ‘Arafah: Dosa Kecil atau Dosa Besar?</strong></p>
<p>Allah <strong>ﷻ</strong> berfirman:</p>
<p class="arab">﴾ إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ ﴿</p>
<p>“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil).” (QS. An-Nisa: 31)</p>
<p>Ayat ini menunjukkan adanya perbedaan antara <em>Kaba`ir</em> (dosa besar) dan <em>Shagha`ir</em> (dosa kecil), Dimana menghindari <em>Kaba`ir </em>menjadi syarat agar <em>Shagha`ir </em>bisa dihapus.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله (w. 728 H) mengatakan:</p>
<p class="arab">وَقَدْ ثَبَتَ عَنْ النَّبِيِّ ﷺ (ت. 11 هـ) أَنَّهُ قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً، وَلَكِنْ إِطْلَاقُ الْقَوْلِ بِالتَّكْفِيرِ لَا يَقْتَضِي تَكْفِيرَ الْكَبَائِرِ بِغَيْرِ تَوْبَةٍ، فَإِنَّ النَّبِيَّ ﷺ (ت. 11 هـ) قَالَ: “الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ”. وَمَعْلُومٌ أَنَّ الصَّلَاةَ أَعْظَمُ مِنَ الصِّيَامِ، وَأَنَّ صِيَامَ رَمَضَانَ أَعْظَمُ مِنْ صِيَامِ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَلَمْ يُكَفِّرْ ذَلِكَ إِلَّا مَعَ اجْتِنَابِ الْكَبَائِرِ، كَمَا قَيَّدَهُ النَّبِيُّ ﷺ (ت. 11 هـ) ، فَكَيْفَ يُظَنُّ أَنَّ صَوْمَ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ تَطَوُّعًا يُكَفِّرُ الزِّنَا وَالسَّرِقَةَ وَشُرْبَ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرَ وَالسِّحْرَ وَنَحْوَ ذَلِكَ؟! هَذَا لَا يَكُونُ</p>
<p>“Terdapat (hadits) shahih dari Nabi ﷺ (w. 11 H)  beliau bersabda, puasa hari Arafah dapat menghapus dua tahun, dan puasa hari ‘Asyura dapat menghapus satu tahun, akan tetapi penyebutan secara umum bahwa ia dapat menghapuskan, hal itu tidak harus menghapus dosa-dosa besar tanpa taubat. Karena Nabi ﷺ (w. 11 H)  bersabda dalam shalat Jumat ke jumat, Ramadan ke Ramadan dapat menghapus dosa diantara keduanya kalau menjauhi dosa besar. Dan diketahui bahwa shalat itu lebih agung dibandingkan puasa dan puasa Ramadan itu lebih agung dibandingkan puasa ‘Arafah, tapi dia tidak dapat menghapuskan dosa kecuali dengan menjauhi dosa besar sebagaimana Nabi ﷺ (w. 11 H)  memberi batasan. Bagaimana seseorang menyangka bahwa puasa sunah sehari atau dua hari dapat menghapuskan (dosa) zina, mencuri, meminum khamar, judi, sihir dan semisalnya? Hal ini tidak mungkin.” (<em>Fatawa Misriyah</em>, 1/254).</p>
<p>Maka amalan-amalan shalih seperti shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, Ramadhan, termasuk juga puasa ‘Arafah, menjadi sebab gugurnya dosa kecil selama dosa besar dijauhi.</p>
<p><strong>Kenapa Dosa Besar Tidak Cukup dengan Puasa ‘Arafah?</strong></p>
<p>Karena dosa besar memiliki konsekuensi yang lebih berat. Contoh dosa besar syirik, zina, riba, durhaka kepada orang tua, dan semisalnya. Dosa-dosa seperti ini tidak cukup hanya dengan puasa sunnah, sedekah, atau amal ringan lainnya. Harus ada <strong>taubat yang sungguh-sungguh</strong>. Kalau tidak, seseorang bisa terjatuh pada sikap tertipu dengan amalnya sendiri.</p>
<p>Imam Ibnu Katsir رحمه الله (w. 774 H) menjelaskan dalam tafsir surah At-Tahrim: 8 terkait syarat taubat nasuha:</p>
<p class="arab">وَلِهَذَا قَالَ الْعُلَمَاءُ: التَّوْبَةُ النَّصُوحُ هِيَ أَنْ يُقْلِعَ عَنِ الذَّنْبِ فِي الْحَاضِرِ، وَيَنْدَمَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْهُ فِي الْمَاضِي، وَيَعْزِمَ عَلَى أَلَّا يَفْعَلَهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ. ثُمَّ إِنْ كَانَ الْحَقُّ لِآدَمِيٍّ رَدَّهُ إِلَيْهِ بِطَرِيقِهِ.</p>
<p>“Karena itu para ulama mengatakan: Taubat nasuha adalah seseorang meninggalkan dosa tersebut pada saat ini, menyesali dosa yang telah lalu di masa lampau, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa depan. Kemudian jika dosa itu berkaitan dengan hak manusia, maka ia harus mengembalikan hak tersebut dengan cara yang semestinya.” (<em>Tafsir Al Quran Al ‘Azhim,</em> 8/169, cet. Dar Thayyibah, Riyadh).</p>
<p><strong>Jangan Salah Paham dengan Keutamaan Arafah</strong></p>
<p>Sebagian orang terlalu percaya diri, <em>“Nanti puasa ‘Arafah saja, dosa-dosa selesai.”</em></p>
<p>Ini pemahaman yang berbahaya. Puasa ‘Arafah adalah peluang besar untuk mendapatkan ampunan Allah, tetapi bukan “jaminan otomatis” bagi pelaku dosa besar yang tidak mau bertaubat. Justru seorang mukmin setelah mendengar keutamaan ini:</p>
<ul>
<li>Semakin takut kepada Allah;</li>
<li>Semakin semangat meninggalkan maksiat;</li>
<li>Semakin serius memperbaiki diri.</li>
</ul>
<p>Puasa ‘Arafah adalah ibadah yang sangat agung, keutamaannya adalah dapat menghapus dosa 1 tahun lalu dan 1 tahun depan. Namun penjelasan para ulama menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah <strong>dosa-dosa kecil</strong>.</p>
<p>Adapun dosa besar membutuhkan taubat nasuha, penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Maka jangan menjadikan keutamaan puasa ‘Arafah sebagai alasan meremehkan dosa besar. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em> </em><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3020/apakah-puasa-arofah-menghapus-dosa-besar/">Apakah Puasa Arofah Menghapus Dosa Besar?</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3020/apakah-puasa-arofah-menghapus-dosa-besar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Puasa Arafah Bertepatan dengan Hari Jum&#8217;at</title>
		<link>https://tanyaislam.com/3016/ketika-puasa-arafah-bertepatan-dengan-hari-jumat/</link>
					<comments>https://tanyaislam.com/3016/ketika-puasa-arafah-bertepatan-dengan-hari-jumat/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ustadz Dhiaurrahman, Lc]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 13:59:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa arafah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://tanyaislam.com/?p=3016</guid>

					<description><![CDATA[<p>KETIKA PUASA ARAFAH TEPAT DI HARI JUM’AT Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du. Setiap kali Hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat, hampir selalu muncul perdebatan yang berulang di tengah kaum Muslimin, “Tidak boleh puasa Jumat sendirian.”, “Harus digabung Kamis atau Sabtu.”, “Kalau tidak digabung, puasanya makruh bahkan tidak boleh.” Padahal permasalahan ini telah dijelaskan para ulama sejak dahulu. Kekeliruan biasanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3016/ketika-puasa-arafah-bertepatan-dengan-hari-jumat/">Ketika Puasa Arafah Bertepatan dengan Hari Jum’at</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>KETIKA PUASA ARAFAH TEPAT DI HARI JUM’AT</strong></h2>
<p><em>Bismillah, walhamdulillah washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Setiap kali Hari Arafah bertepatan dengan hari Jumat, hampir selalu muncul perdebatan yang berulang di tengah kaum Muslimin, <em>“Tidak boleh puasa Jumat sendirian.”</em>, <em>“Harus digabung Kamis atau Sabtu.”</em>, <em>“Kalau tidak digabung, puasanya makruh bahkan tidak boleh.”</em></p>
<p>Padahal permasalahan ini telah dijelaskan para ulama sejak dahulu. Kekeliruan biasanya muncul karena tidak membedakan antara:</p>
<ul>
<li>Puasa Jumat yang <strong>SENGAJA DIKHUSUSKAN</strong>,<br />
dengan</li>
<li>Puasa yang <strong>BERTEPATAN</strong> dengan hari yang memang disyariatkan.</li>
</ul>
<p>Dan Hari Arafah termasuk hari yang memang memiliki keutamaan khusus dalam syariat.</p>
<p><strong>Larangan Mengkhususkan Hari Jumat untuk Puasa</strong></p>
<p>Terdapat hadits shahih dari Nabi ﷺ (w. 11 H):</p>
<p class="arab">« لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، إِلاَّ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ »</p>
<p>“Janganlah kalian (sengaja) berpuasa pada hari Jumat kecuali jika kalian berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.” (HR. Bukhari no. 1985).</p>
<p>Dalam hadits lain Nabi ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">« وَلاَ تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الأَيَّامِ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ »</p>
<p>“Janganlah kalian mengkhususkan hari Jumat di antara hari-hari lainnya untuk berpuasa, kecuali jika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa salah seorang di antara kalian.” (HR. Muslim no. 1144).</p>
<p>Hadits-hadits ini menunjukkan adanya larangan mengkhususkan hari Jumat untuk puasa sunnah. Namun para ulama menjelaskan, larangan tersebut berlaku bila seseorang sengaja memilih hari Jumat semata karena itu hari Jumat. Adapun bila puasa itu bertepatan dengan sebab syar‘i lain, maka tidak masuk dalam larangan. (lihat: <em>Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab</em>, jilid 6, hlm. 479).</p>
<h3><strong>Larangan Berlaku Bila Jumat Sengaja Dikhususkan</strong></h3>
<p>Imam Nawawi رحمه الله (w. 676 H) menjelaskan dalam <em>Syarh Shahih Muslim</em>:</p>
<p class="arab">قَالَ أَصْحَابُنَا (يعني الشافعية): يُكْرَهُ إفْرَادُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ فَإِنْ وَصَلَهُ بِصَوْمٍ قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ أَوْ وَافَقَ عَادَةً لَهُ بِأَنْ نَذَرَ صَوْمَ يَوْمِ شِفَاءِ مَرِيضِهِ، أَوْ قُدُومِ زَيْدٍ أَبَدًا، فَوَافَقَ الْجُمُعَةَ لَمْ يُكْرَهْ</p>
<p>“Ashab kami (yakni ulama madzhab Syafi’i) mengatakan: dimakruhkan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa. Namun jika ia menyambungnya dengan puasa sehari sebelumnya atau sesudahnya, atau bertepatan dengan kebiasaan puasanya, seperti ia bernazar untuk berpuasa pada hari sembuhnya orang sakitnya, atau hari kedatangan si Fulan secara terus-menerus, lalu ternyata bertepatan dengan hari Jumat, maka hukumnya tidak makruh.” (<em>Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab</em>, jilid 6, hlm. 479).</p>
<p>Karena itu para ulama memberi beberapa pengecualian, di antaranya jika bertepatan dengan puasa Arafah, Asyura, puasa sunnah rutin, qadha, nadzar, kaffarah, atau puasa yang memang disyariatkan pada waktu tertentu.</p>
<h3><strong>Jika ‘Arafah Jatuh di Hari Jumat</strong></h3>
<p>Jika ‘Arafah jatuh di hari Jumat, apakah puasanya harus ditambah dengan puasa Kamis?</p>
<p>Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz رحمه الله (w. 1420 H) ditanya terkait hal ini, maka beliau menjawab:</p>
<p class="arab">صَامَهُ لِأَجْلِ مَا هُوَ الْجُمُعَةُ، صَامَهُ لِأَنَّهُ يَوْمُ عَرَفَةَ، مَا فِيهِ بَأْسٌ</p>
<p>“Ia berpuasa bukan karena hari itu adalah hari Jumat, tetapi karena itu adalah Hari Arafah, maka tidak mengapa.”</p>
<p>Kemudian beliau berkata:</p>
<p class="arab">إِذَا صَامَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فَهُوَ أَفْضَلُ مَعَ الْجُمُعَةِ، كَالسُّنَّةِ يَصُومُ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ، فَإِذَا صَامَ مَعَهُ الْخَمِيسَ يَكُونُ أَكْمَلَ وَأَطْيَبَ</p>
<p>“Jika ia juga berpuasa pada hari Kamis bersama Jumat, maka itu lebih utama; sebagaimana sunnahnya seseorang berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Maka apabila ia berpuasa Kamis bersamanya, itu lebih sempurna dan lebih baik.”  (<a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/22106/حكم-صوم-الجمعة-يوم-عرفة-أو-عاشوراء">https://binbaz.org.sa/fatwas/22106/حكم-صوم-الجمعة-يوم-عرفة-أو-عاشوراء</a>)</p>
<p>Sehingga tidak masalah melakukan puasa yang memang disyari’atkan dan bertepatan pada hari Jum’at, namun akan lebih baik lagi jika ditambah pula dengan puasa di hari Kamisnya.</p>
<h3><strong>Penyebab Munculnya Syubhat Ini</strong></h3>
<p>Sebagian orang hanya membaca hadits larangan puasa Jumat secara umum, namun tidak menyimak bagaimana penjelasan dan rincian dari para ulama. Akibatnya, muncul anggapan, <em>“Puasa Jumat mutlak haram” </em>atau<em> “Arafah wajib digabung Kamis.”</em></p>
<p><em> </em>Padahal para ulama telah membedakan antara puasa Jumat karena mengagungkan Jumat<br />
dengan puasa Jumat karena bertepatan dengan ibadah lain yang memang disyariatkan. Ini dua perkara yang berbeda.</p>
<h3><strong>Bagaimana Jika Ingin Ditambah Kamis atau Sabtu?</strong></h3>
<p>Menambahkannya dengan Kamis atau Sabtu tentu baik dan lebih keluar dari khilaf. Namun itu bukan syarat sah ataupun syarat bolehnya puasa ‘Arafah. Sehingga jika berpuasa Kamis-Jumat maka ini lebih aman (lihat: <a href="https://binbaz.org.sa/fatwas/22106/حكم-صوم-الجمعة-يوم-عرفة-أو-عاشوراء">https://binbaz.org.sa/fatwas/22106/حكم-صوم-الجمعة-يوم-عرفة-أو-عاشوراء</a>), akan tetapi jika hanya berpuasa di hari Jumat saja karena Arafah, maka tetap diperbolehkan dan tidak sampai makruh (lihat: <em>Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab</em>, jilid 6, hlm. 479).</p>
<h3><strong>Keutamaan Puasa Arafah Tetap Berlaku</strong></h3>
<p>Nabi ﷺ (w. 11 H) bersabda:</p>
<p class="arab">« صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ »</p>
<p>“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim no. 1162).</p>
<p>Karena itu, jika nantinya bertepatan dengan hari Jum’at, tidak sepantasnya seorang muslim meninggalkan puasa ‘Arafah hanya karena syubhat yang tidak dipahami secara utuh.</p>
<p>Jika Hari ‘Arafah jatuh pada hari Jum’at, maka boleh berpuasa Jum’at saja tanpa harus digabung Kamis atau Sabtu. Karena larangan dalam hadits berlaku bagi orang yang <strong>sengaja mengkhususkan</strong> hari Jum’at untuk puasa, sedangkan puasa ‘Arafah memiliki sebab syar‘i tersendiri yang dikecualikan oleh para ulama. Oleh sebab itu, kaum muslimin tidak perlu ragu untuk melaksanakan puasa ‘Arafah meskipun bertepatan dengan hari Jum’at. <em>Wallahu a&#8217;lamu bishshawab.</em></p>
<p><em> </em><em>Washallallahu ‘ala nabiyyina muhammad, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.</em></p><p>The post <a href="https://tanyaislam.com/3016/ketika-puasa-arafah-bertepatan-dengan-hari-jumat/">Ketika Puasa Arafah Bertepatan dengan Hari Jum’at</a> first appeared on <a href="https://tanyaislam.com">Tanya Islam</a>.</p>]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://tanyaislam.com/3016/ketika-puasa-arafah-bertepatan-dengan-hari-jumat/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
